
"Aira!" bentak Alvin sembari menarik tangan gadis itu.
"Lepas!" bentak Aira sembari meronta. Ia tak takut pada Alvin atau tentang nama belakangnya. Damara. Ia hanya ingin sendiri dan tak perlu dikenali. Aira sudah terbiasa hidup dengan sepi dan juga sendiri.
"Maaf ...." Alvin membawa gadis itu ke dekapan. Mengusap punggung Aira yang sudah tak lagi meronta. Gadis itu menangis di dalam pelukannya.
Ray dan Baim membeku saat melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu. Mereka terdiam masih dengan menatap Alvin dan Aira yang berpelukan.
Alvin terkesiap saat Aira ternyata pingsan di dalam pelukannya. Mengangkat tubuh gadis itu ala bridal, Alvin lantas berjalan menuju ruang kesehatan. Sepanjang jalan semua orang yang melihat tercengang. Bagaimana mungkin seorang Alvin memberikan gadis culun sebuah perhatian?
Saat sampai di ruang kesehatan, remaja itu lantas bertanya, "Dia kenapa?" Alvin menatap sang petugas kesehatan. Wajahnya tak berekspresi sama sekali. Menatap Aira dengan tatapan tak terbaca lalu kembali menatap seorang wanita dengan jas putih di hadapannya.
"Aira hanya kelelahan. Lemah karena gak makan di tambah—sepertinya ada sesuatu yang membuatnya tertekan. Tapi berdasarkan pemeriksaan kesehatan. Dia baik-baik aja."
"Kalau gitu gue tinggal dulu cari makan buat dia," sahut Alvin datar kemudian pergi dari sana.
Alvin keluar dan terlonjak kaget saat melihat Ray dan Baim menatapnya dengan kedua alis yang bertaut. Lelaki itu menghiraukan, lantas kembali berjalan melewati keduanya. Baim tentu saja tak hanya diam. Ia bertanya, "Ada apa sih Vin?"
__ADS_1
"Apanya?" tanya balik Alvin sembari terus berjalan ke kantin. Wajah itu masih datar seperti biasa. Hingga Ray maupun Baim tak mampu menangkap apa isi hati sahabatnya.
"Lo kenapa tiba-tiba mutusin Adel terus jadian sama Aira?" Baim berucap dengan nada tak terima. Baginya yang begitu menghormati makhluk bergender perempuan. Hal ini sangat tidak pantas di lakukan pada Adelia yang juga merupakan teman mereka.
"Lo gak mikirin perasaan Adel apa?" Baim lanjut mengomel dengan nada tak suka. Ia benar-benar tak mengerti apa yang membuat Alvin bersikap seperti ini.
"Vin, lo lakuin ini karena taruhan kemarin yaa?" Pertanyaan dari Ray mampu menghentikan langkah Alvin. Remaja itu tak menjawab, namun kedua sahabatnya sudah mengerti bahwa dugaan itu memang benar.
***
Aira mengerjapkan mata sembari menekan pelipisnya. Ia menatap wanita yang sedang berkaca mata di hadapannya.
"Tadi cowok kamu yang bawa. Kamu pingsan sih. 'kan udah kakak bilang jangan terlalu kelelahan dan jaga kesehatan."
Aira hanya terdiam karena teringat kembali apa yang terjadi di kantin. Ia memegang wajahnya yang mungkin masih ada bekas ludahan Adelia. Satu bulir bening jatuh di sudut matanya. Hingga ibu jari seseorang mengusap air mata di pipi Aira.
Gadis itu mengangkat kepala dan terkesima menatap Alvin di hadapannya. Ia membuang muka dengan mengerjap bingung sebab debaran tak biasa di dada. Sedekat ini dengan Alvin Dennis Damara.
__ADS_1
Alvin yang duduk di tepi ranjang Aira kemudian berkata, "Makan dulu yaa."
Aira menatap Alvin yang tak memiliki ekspresi sama sekali. Gadis itu menghela napas kasar lalu berujar, "Lo ngapain sih kek gini?"
"Kasian Adelia, lo aneh banget yaa sampai bentak dia gitu dan—"
Ucapannya terhenti saat merasakan tatapan tajam dari Alvin. Remaja itu menatap Aira dengan mata tajam kemudian berucap dengan nada mengancam.
"Diam dan makan ini!"
"Lo--"
"Diem atau gue cium?!"
Aira membulatkan matanya dengan sempurna
***
__ADS_1
Part selanjutnya akan di up jika banyak yang like dan komentar 😌