My Nerd Girlfriend

My Nerd Girlfriend
MNG {36}


__ADS_3

Adel memejamkan mata untuk menahan rasa sakit saat Aira mengobati lebam di punggung bawahnya. Perlakuan yang lembut dan hati-hati seolah tubuhnya adalah kaca yang jika keras sedikit saja akan terjadi keretakan dan Adel akan terluka.


"Udah, di mana lagi Del?" tanya Aira sembari mengedipkan mata. Berusaha mengusir air mata. Ia begitu tak tega saat melihat lebam kebiruan di punggung bawah Adelia. Lebam itu bahkan membengkak. Pun lebam lain di yang hanya berwarna merah. Tak sampai biru.


"Udah. Nanti gue obatin sendiri aja," sahut Adelia dengan sorot mata yang tak di mengerti Aira.


"Lama bangeet sih Alvin," keluh Aira dengan nada kesal.


"Lo gak cemburu Ra?" tanya Adelia.


Aira menggelengkan kepala sembari menarik kedua sudut bibirnya hingga sempurna.


"Gak, lo bukan cuma sahabat Alvin. Tapi juga temen gue Del. Gue percaya sama lo. Lagian dalam hal ini, gue yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan kalian."


Adelia terkesiap dengan kedua bola mata yang membola.


"Bahkan, gue harap kalian bisa sama-sama lagi." Aira menatap ke sembarang arah. Ada rasa sakit yang teramat dalam saat mengatakan hal itu. Ia tak bisa memungkiri. Bahwa ada yang tersayat di hatinya sendiri. Sakit sekali.


Adelia termenung. Tak menyangka bahwa Aira berencana seperti itu.


"Tapi tenang aja. Gue mau temenan lo bukan cuma karena mau bantu kalian balikan."

__ADS_1


Aira menatap dalam Adelia. Gadis itu masih terdiam dengan sorot mata yang tak ia mengerti


"Tapi juga karena bener-bener pengen temenan sama Lo. gue iri kalau setiap tahun lo terus yang dapar juara kelas. Lo hebat!" Aira terkikih geli. Mati-matian berusaha menggeser posisi Adelia sebagai juara pertama. Tapi ia tak bisa.


"Dan gue berharap, lo semakin hebat dengan bersikap berani."


Kali ini, Adelia tak mengerti. Hingga ucapan Aira selanjutnya mampu membuat ia membeku.


"Harus berani ngambil keputusan. Apalagi tentang hubungan. Hubungan toxic bukan cuma pacaran del. Tapi juga hubungan sama orang tua. Itu racun, dan lo harus bisa adil sama diri sendiri."


"Gak usah sok deh lo!" bentak Adelia dengan nada angkuh. Ia mengedipkan mata untuk menghalau air mata yang ingin meluncur dari tempatnya.


Adelia menatap Aira dengan raut wajah terpana.


Mampu kah Adelia menyakiti seseorang yang bahkan sangat mengkhawatirkan dirinya terluka?


***


"Woy! sialan setaannn!"


Ray maupun Sisil tersentak saat teriakan itu begitu menggema di telinga mereka.

__ADS_1


"Yaa ampun! kemana yang lainnya?!" Aqila membentak dengan nada tinggi. Menatap dua makhluk manusia yang baru saja bercumbu mesra.


Sisil nampak tersipu malu. Sementara Ray berdecak tak suka. "Apaan sih lo! ganggu aja."


Ray menatap Sisil yang memperbaiki kancing bajunya. Sementara Aqila menggelengkan kepala dengn sorot mata merendahkan.


"Dasar cowok! pikirannya selangkangannn aja!"


"Apa sih!" Dahi Ray berkerut dalam tanda tak suka. Lalu kembali berkata, "Kita gak ngapa-ngapain kok!"


"Cuma nyicip doang. Secelup dua celup."


Aqila membelalakkan mata. Begitu juga dengan Sisil. Mata gadis itu menyorot kecewa. Lalu pergi dari sana tanpa sepatah kata.


"Sialan lo yaa jadi cowok!"


Ray menggedikkan bahu acuh. Tak peduli, meskipun tau bahwa Sisil tersinggung dengan ucapannya. Menganggap perempuan hanya mainan saja. Tapi lelaki itu tak peduli. Lagi pula masih banyak wanita yang mengantri demi untuk tidur dengannya.


"Suatu saat, lo bakalan ngerasain gimana rasanya jadi mereka!" Aqila berucap tegas.


TBC

__ADS_1


__ADS_2