My Nerd Girlfriend

My Nerd Girlfriend
MNG {31}


__ADS_3

"Ray?"


Lelaki tampan dengan wajah yang lebam-lebam itu mengangkat wajah. Terkesiap saat melihat Aqila di hadapannya.


"Ngapain lo?" tanya Ray dengan nada kesal.


"Terserah gue dong ngapain di sini. Emang nih atap punya lo apa?!" Aqila menjawab ketus. Kemudian menatap pemandangan seluruh sekolah dari atap.


Di sini lah tempatnya menghilangkan kekesalan sebelum pulang ke rumah. Aqila adalah putri satu-satunya dari dua orang selebriti ternama di Indonesia. Tingkah laku dan karakternya di ciptakan oleh kedua orang tua.


Aqila selalu di tuntut untuk berbuat yang seharusnya. Kedua orang tuanya yang public figure tapi dia juga harus di tuntut menjadi seperti itu. Itu sebabnya ia kadang kesal dan malas untuk pulang. Lebih sering menghabiskan waktu di atap sekolah bahkan berjam-jam lamanya.


Suara ponsel berbunyi. Aqila mendengus kesal saat melihat siapa yang menelponnya.


"Qila masih ada pelajaran tambahan Mommy."


Lama Aqila diam sembari mendengarkam ocehan sang mama. Ia menduga bahwa mamanya sedang syuting. Karena itu akhirnya memutuskan sambungan dan tak lagi menanyakan. Padahal biasanya, sang mama memastikan dengan menelpon pihak sekolah.


Entahlah, Aqila lelah. Lelah saat segala privasinya harus di lihat oleh semua mata di Indonesia. Sejak bayi, segala tumbuh kembangnya di lihat orang lain. Memang Aqila sudah menjadi selebriti remaja tapi ia memilih untuk tak menerima job film. Hanya beberapa iklan, photoshop, atau pemotretan.


"Pintar boong lo?"


Aqila tersentak dan baru ingat bahwa ada Ray di sana. Ia hanya diam hingga Lelaki itu mendekat dan berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Capek gue jadi anak mereka," keluh Aqila. Ray menyipitkan mata karena tak peduli dengan keluhan gadis itu.


"Harus jaga image. Jaga diri. Jangan berhubungan sama sembarang orang. Kalau bisa punya pacar aktor. Dan seabrek peraturan lain." Aqila kembali mengoceh.


Ray hanya diam. Malas menanggapi.


"Enak lo ya lahir dari keluarga biasa," lanjut Aqila yang membuat Ray mendelikkan mata. Baik apanya? karena keluarga, ia tak bisa membuat Aira bersamanya.


"Tapi tetap aja sih dari keluarga berada," imbuh Aqila karena berpikir Ray tersinggung dengan kata 'keluarga biasa'.


"Enak apanya!" Ray mengusap kasar wajahnya.


"Banyak enaknya!" sahut Aqila dengan menggedikan bahu.


Sekarang Aqila ikut menghadap Ray.


"Ambilin obat di UKS. Buat ini!" Ray menunjuk wajahnya kemudian kembali berkata dengan nada percaya diri yang luar biasa, "Susah kalau muka ganteng gue ini gak sembuh sampai besok. Kasiaan fans gue. Gak mau buat mereka khawatir."


Aqila memutar bola mata sembari mencebikkan bibirnya. "Ya udah minta obati aja sama salah satu fans lo!"


"Gak mauu," sahut Ray dengan nada di buat manja. "Maunya sama lo!" Memasang wajah memelas dengan sorot mata menggoda.


"Jangan pernah berpikir lo bisa luluhin gue cuma dengan wajah dan nada manja! gue gak sama kayak cewek mainan lo lainnya!"

__ADS_1


Aqila melangkah pergi sembari mengerjap gugup. Sementara Ray menautkan kedua alisnya. "Apaan coba? orang beneran minta tolong malah di tinggalin."


Aqila mendengarnya. Tanpa berkata gadis itu menuju UKS dan membawa beberapa obat serta kompresan untuk Ray. Di bangku atap sekolah, Aqila mengobati lebam Ray.


"Tadi gue denger sesuatu waktu Adelia sama Aira di UKS," ucap Ray.


"Kapan?" tanya Aqila yang tak percaya. Tak mungkin jika Adelia berani menganggu Aira lagi. Karena gadis itu sudah menjadi pacar Alvin dan tak bisa disentuh oleh siapapun


"Udah cukup lama. Yang gue pikirin dari tadi. Kenapa Adelia setuju aja temenan sama Aira?" Menurut Ray. Sangat aneh saat seorang Adelia yang suka berbuat seenaknya justru berteman dengan Aira.


Lelaki itu tersadar saat tangan Aqila terhenti. Gadis itu membeku dengan sorot mata yang tak ia mengerti.


Sementara Aqila mengerjap kaget. Kemudian berkata dengan nada di buat meyakinkan, "Mungkin aja Adel udah capek dan memilih menerima keadaaan. Dari dulu kita semua tau. Hubungan Alvin sama Adelia kayak sahabatan aja bukan pacaran."


Ray merasa ada yang di sembunyikan dari gelagat Aqila. Ia lantas bertanya, "Kalian ngerencanain sesuatu yaa buat ngerjain Aira?"


Aqila memutar bola mata, "Terserah kalau lo ngira gitu. Tapi lo 'kan tau kalau Adel gak mungkin nyakitin Aira karena sekarang dia udah jadi pacar Alvin."


"Tapi Adelia memang nekat dan cerdik. Menjadi lawan yang berselimut teman. Lebih berbahaya dari musuh yang kelihatan." Aqila membatin.


Aqila tau pemikiran Adelia. Gadis itu pasti tengah bersiap melindungi diri sendiri agar nanti saat terjadi sesuatu sama Aira. Dia tak akan jadi salah satu tersangka.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like nya ❤


__ADS_2