
"Biar gue tebak, lo taruhan dengan percaya diri kalau bapaknya bakalan kalah." Aqila berucap setelah berhenti tertawa. Alvin mengangguk spontan. Aqila tergelak lagi.
"Biasa aja kali! Gak usah takut gitu lah. Negara kita 'kan negara demokrasi," ucap Alvin tenang.
"Kita emang gunain sistem demokrasi. tapi sistem cuma sebuah sistem. Sistem bisa kurop dan sangat rusak kalau sekelompok orang menguasainya. Kenyataan sebenernya, pemilu hanyalah formalitas," ucap Adelia dengan berapi-api.
"Bener tuh, Demokrasi gak sesederhana soal memilih yang suka dan gak suka. Rakyat gak berani mengeluarkan pendapat secara terbuka. Sekali ada yang punya pendapat berbeda, para penguasa yang licik melemparkan mereka ke penjara," sambung Aqila dengan serius.
__ADS_1
"Wait, maksud kalian apaan coba?" tanya Ray yang merasa keberatan saat waktu istirahat malah mendengar diskusi dengan tema demokrasi.
"Bukannya gitu. Permasalahannya adalah suara rakyat gak pernah satu dalam suatu masyarakat yang besar dan beragam, makanya susah banget ngebuat seluruh warga untuk bersepakat dalam hal apa pun. Inilah penyebab sistem demokrasi yang murni menjadi sulit untuk terwujud," sahut Alvin yang membuat Ray mendengus kesal karena diabaikan.
"Semua warga negara punya hak untuk berekspresi, Tapi harus toleran dan gak menabrak hukum yang udah ditetapkan negara," sambungnya sembari menatap Aqila yang tadi menyuarakan bahwa pendapat yang berbeda akan masuk penjara.
Adel menghela napas kemudian berkata. "Dalam buku itu, Hatta menuliskan ketertindasan demokrasi Indonesia. Dia mengkritik demokrasi yang dijalankan secara terpimpin. Dia kecewa dengan gaya Sukarno yang one man show, flamboyan, dan mempermainkan tata negara. Hubungan kedua "orang besar" ini pun, semakin renggang meskipun gak sampai putus. Buku yang ditulis Hatta itu pun akhirnya dilarang beredar."
__ADS_1
Alvin mengerjapkan matanya. Ingin menyanggah lagi tapi tak bisa. Itu kenyataan tapi yang sebenarnya ingin ia tunjukkan dan sangat tak sependapat adalah tentang keleluasaan rakyat dalam memilih pendapat. Mana ada orang yang melontarkan pendapat secara terbuka dan berbeda malah masuk penjara? Omong kosong darimana? Pikirnya.
"Contoh kekumuhan demokrasi Indonesia masa kini itu sebenarnya sudah tampak nyata di depan pelupuk mata. Pemilihan umum sekarang udah makin gak bermutu. Berhamburannya pemberian uang sebelum rakyat masuk ke bilik pemilu sudah bukan lagi menjadi rahasia. Persaingan kampanye yang mengakibatkan masyarakat terbelah dan saling memaki juga terjadi. Devisa negara terisap sangat besar untuk menjalankan segala aktivitas yang sebenarnya hanya merupakan sebuah formalitas yang kerap telanjur dikenal di publik disebut sebagai demokrasi." Lita menimpali.
"Jadi sebenarnya kalian ngomong apa si?" tanya Baim yang menggaruk kepalanya padahal tak gatal sama sekali.
"Cuma ingetin kalau Alvin siap-siap kalah besok. Karena biasanya pejabat yang sebelumnya Sulit digulingkan," sahut Adelia.
__ADS_1
Ke enam remaja itu kembali berdiskusi. Kadang berdebat. Hal yang biasa terjadi di sekolah ini. Bagi mereka, saling bertukar pendapat adalah hal yang menyenangkan. Begitu pula saat menyatakan argumen yang kuat dan tak ada yang bisa membantahnya. Namun, Alvin sudah tak konsentrasi lagi mengingat apa yang di katakan Daniel tadi.