
Tubuh Aira bergetar hebat saat bibir Kevin menyentuh lehernya. Menyusuri leher jenjangnya. Aira mengigit bibir bawahnya. Kemudian berkata, "Gue mau nanya!"
Dia harus mengalihkan perhatian Kevin agar tak menyentuhnya. Aira memejamkan mata saat Kevin menatapnya. Lelaki itu menatap Aira dengan sorot mata mendamba tapi terlihat menjijikkan di mata Aira. Karena di sorot mata itu tersirat sebuah sinar dari mata lelaki yang ingin memilikinya.
"Lo suka gue?" tanya Aira dengan bibir gemetar. Berusaha menahan rasa takutnya yang luar biasa. Ia tak akan menjadi gadis seperti di film ataupun cerita. Yang terus berkata 'lepaskan saya!' padahal seorang penculik tak akan melakukan itu.
Kevin menganggukkan kepala dan berkata, "Kamu cantik waktu gak pakai baju."
Aira membelalakkan mata. Kapan Kevin melihatnya tanpa busana? yang benar saja? Sekarang tubuhnya masih tertutup busana meskipun agak kacau.
"Kamu lupa yaa Sayang?" Kevin menarik kedua sudut bibirnya.
Aira berusaha menahan wajahnya agar tak memiliki raut wajah jijik. Ia berusaha tersenyum dan berkata, "Iya kapan yaa?"
Kevin lelaki yang pendiam tapi tak banyak yang tau. Bahwa seseorang yang pendiam bisa lebih mematikan.
"Waktu O2SN. Kamu ganti baju di loker laki-laki waktu itu. Terus kita gak sengaja ketemu." Kevin berucap dengan raut wajah malu-malu.
Aira memutar otaknya. Yang benar saja! itu terjadi saat mereka masih kelas satu SMA. Waktu itu, ia berpikir bahwa tak ada siapa-siapa di sana. Karena ingin menghindari bullyan Adelia dan dua temannya yang sering membully ia di ruang ganti. Aira ke tempat laki-laki.
__ADS_1
Tak menyangka bahwa ini Boomerang bagi dirinya. Gadis itu menatap Kevin yang ternyata menatap dadanya. Rasa ingin mengumpat terus muncul tapi Aira menahannya.
"Kevin ...."
"Iya?" Kevin menatap Aira dengan sorot mata mendamba. Berbinar-binar.
"Bisa tolong lepas. Sakit." Aira berucap memelas. Berharap setidaknya ikatan di tangan terlepas. Tentu kakinya juga.
"Enggak. Nanti Aira kabur." Kevin tersenyum lagi. Senyuman yang menyeramkan.
"Ya Tuhan!" lirih Aira dalam hati.
"Haus!" ucap Aira spontan. Kevin terdiam sejenak lalu mengecup bibir Aira cukup lama. Gadis itu berontak dengan sekuat tenaga diringi buliran air mata yang perlahan merembes di pipinya.
***
Beberapa remaja keluar dari sana. Pencarian hampir sejam tapi mereka hanya menemukan ponsel Aira.
Sisil yang sejak tadi memainkan ponselnya angkat bicara. "Gue pernah denger. Anak-anak gosip tentang Kevin."
__ADS_1
"Kevin anak bungsu dari salah satu pejabat Indonesia. Bapaknya walikota tapi ibunya gila. Dan yang paling penting. Villa keluarga mereka katanya juga ada di daerah ini."
"Lo yakin?" tanya Ray. Bukan apa-apa. Ia tak ingin membuang waktu untuk hal sia-sia. Takut bahwa Kevin melukai adiknya.
"Gak. Tapi apa salahnya kita coba. Mungkin emang benar Aira di bawa ke sana," sahut Sisil.
Semua setuju. Mereka menuju villa keluarga Kevin meski Sisil sendiri tak yakin info yang ia dapat valid atau tidak.
Sesampainya di sana. Mereka terperangah. Villa itu terlihat seperti bangunan terbengkalai. Mengerikan dan juga terkesan menyeramkan.
"Masa ini villanya?" tanya Aqila penuh keraguan.
"Gue gak yakin," sahut Sisil kemudian.
"Tapi feeling gue iya. Biasanya tempat kayak gini emang dijadiin tempat penculikan." Sahutan dari Adelia. Di iringin tangannya yang mengambil kayu dan menghantam keras kunci gembok gerbang villa.
Ray mendekat dan membantu Adelia. Alvin dan teman lainnya berdoa. Semoga dimanapun Aira. Gadis itu baik-baik saja.
***
__ADS_1
Next? udh 3 kali up nih Zaraa😭
likenya woy jan pelit dong😭