
"Alvin ...."
Aira terkesima saat melihat Alvin berdiri tepat di hadapannya.
"Jangan pergi Ra ...." ucap Alvin pelan dengan mata berkaca-kaca. Mengingat perkataan Ray, bahwa Aira akan pindah sekolah. Lelaki itu tak dapat menahan diri lagi untuk tak bertemu gadisnya.
Sementara Aira yang ada di hadapannya menautkan kedua alis bingung.
"Maaf ...." Alvin menatap Aira dengan sorot mata memelas. Lalu meraih pinggang gadis berkacamata itu dan mendekapnya erat. Memejamkan mata lalu kembali berkata, "Aku terlalu malu untuk bertemu kamu."
"Aku gagal melindungi Airaku." Nada suara Alvin yang bergetar membuat Aira mengusap punggung lelaki itu. Ya, Alvin merasa harga dirinya terinjak saat melihat Kevin berhasil menyentuh leher Aira. Padahal dirinya hanya sampai bibir saja. Lelaki itu begitu geram pada dirinya sendiri dan merasa malu untuk bertemu sang kekasih.
"Gak papa. Aku udah biasa kok dicuekin kamu." Aira berucap dengan nada sindiran. Sangat kesal pada Alvin yang kerap cuek padanya. Hanya awal pacaran saja, mulut lelaki itu begitu manis layaknya gula.
Alvin mengurai pelukan lalu menatap dalam mata Aira dan berkata, "Aku kek gitu karena berusaha mengendalikan diriku Ra."
Aira mengerjap bingung sembari menatap mata tajam Alvin. Lelaki itu lalu meraih tengkuk Aira dan mengecup lama bibir manisnya.
Melumatt dengan lembut seolah takut bibir gadisnya akan terluka. Kemudian melepaskan saat merasa Aira kehabisan napas.
Membawa Aira ke sofa. Alvin lalu memeluk lagi tubuh yang begitu ia rindukan.
"Jangan pindah yaa. Aku janji bakalan lindungin kamu kali ini dan selamanya sampai kita tua nanti."
"Siapa yang mau pindah?" tanya Aira bingung.
"Ini rapi kek gini, kamu mau kemana?"
"Supermarket." Aira menjawab spontan.
__ADS_1
Alvin menatap Aira sejenak lalu mendengus kesal saat menyadari bahwa Ray mengerjai.
"Sialan!"
Aira yang ikut mengerti jadi tertawa sendiri. Lalu berhenti dan menatap wajah Alvin dari samping. Tanpa sadar, tangannya bergerak memeluk tubuh lelaki itu. Tanpa kata, hanya sikap yang mengungkapkan betapa Aira rindu Alvinnya.
Mengusap kepala Aira yang ada di dadanya. Alvin lalu berkata, "Aku mau ngomong sesuatu Ra."
Aira berdehem saja sebagai sahutan. Ia terlihat memejamkan mata nyaman. Pelukan yang ia rindukan akhirnya kembali Aira rasakan.
"Aku mau nikahin kamu."
Aira membulatkan matanya dengan sempurna. Mendongakkan kepala lalu berkata, "Kita masih kelas dua SMA. Jangan ngadi-ngadi!"
"Aku gak peduli," sahut Alvin cepat. Raut wajahnya yang serius membuat Aira menelan saliva.
"Aku mau nikah muda. Kayaknya seru Ra." Alvin berucap dengan senyuman.
"Seru apanya?!" Aira kesal jadinya. Lalu kembali berkata, "Jangan nganggap pernikahan itu permainan aja."
Alvin mendekat pada gadis itu. "Aku tau pernikahan bukan permainan. Tapi dengan menikah muda kita bisa menghindari zina." Alvin dengan bangga mengatakan alasan klasik yang sekarang semua orang katakan.
"Oh jadi nikah cuma buat jadi teman tidur gitu?" Aira memicingkan mata dan memberengut kesal.
"Sana pergi. Cari aja perempuan lain!" Aira yang selalu memiliki pemikiran panjang berkata dengan berapi-api.
Alvin menggaruk kepala karena bingung. Mengikuti Aira yang berjalan ke arah kamarnya. "Bukannya gitu Ra. A-aku-"
"Stop Vin!" Aira berucap tegas. Menatap dalam mata Alvin Dennis Damara.
__ADS_1
"Aku gak mau nikah di usia sedini ini. Apalagi dengan alasan hanya untuk menghindari zina. Aku masih mampu menjaga kehormatanku!"
"Tapi aku gak mampu!" Alvin menyahut cepat. "Gak ada laki-laki yang bisa nahan diri terus dekat sama orang yang dia cintai tanpa merasakan sesuatu yang selalu mendorongnya untuk menyentuh gadisnya!"
Aira mengerjap kaget.
"Ra, jangan pernah berpikir. Aku ngajakin nikah karena mau jadiin kamu pembantu atau pemuas nafsu. Aku cuma mau ... melindungi kamu."
Aira terdiam cukup lama lalu berucap dengan setengah berteriak, "Pokoknya gak mau!"
Alvin mengusap kasar wajahnya. Lalu menarik salah satu sudut bibirnya. Ia sudah bertekad ingin menikahi Aira. Dan semua orang tau, tak ada yang mampu menolak keinginan Alvin Dennis Damara.
Hari itu dan hari berikutnya. Aira selalu resah mendengar rengekan Alvin yang ingin menikah. Benar-benar menyebalkan, pikir Aira. Tapi sejujurnya, gadis itu mulai mempertimbangkan.
"Ayo nikah!" bisik Alvin saat mereka di kantin. Mengedipkan mata menggoda. Aira menahan tawa.
Perlahan, gadis itu mendekatkan bibirnya ke telinga Alvin dan berucap pelan penuh penekanan, "Hayuk lah!"
Alvin membelalakkan matanya.
TAMAT
Maap yaa akhirnya kek gini. Cerita mereka selanjutnya saat menikah akan Zaraa publish nanti. Btw, maap juga kalau novel ini cringe terus gak ada yang bikin baper gitu. Ternyata Zaraa gak berbakat di genre teenlit gengs hehe :)
Jadi, mau bikin versi mereka yang chicklit (Menikah) deh. Tapi liat dulu nanti. Kira-kira ada yang menantikan kisah rumah tangga mereka gak yaa?
Terima kasih juga sama pembaca yang udah apresiasi karya Zaraa yang ini❤
Maaf juga kalau banyak plot hole yaa. Zaraa masih pemula soalnya ^_^
__ADS_1