
"Sayang bangeet aku Ra." Tangan Alvin mengusap puncuk kepala Aira dengan lembut sembari menatap dalam mata gadis itu.
Aira mengerjap gugup kemudian berdiri dan ingin melangkah pergi. Hingga tangan Alvin mencekal lengannya. Lelaki itu bertanya, "Mau kemana?"
Aira menelan saliva. Karena grogi dirinya lupa berpamitan ingin ke toilet. "Mau ke toilet bentar."
"Mau ku temenin?" tanya Alvin sembari berdiri. Aira menggelengkan kepala.
"Gak usah. Gak papa. Bentar aja." Aira beranjak pergi menuju toilet yang berjarak sangat dekat dengan kantin. Gadis itu masuk dan menatap dirinya di cermin. Hingga perlahan kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman sempurna di susul lompatan kecil tanda kegirangan khas remaja jatuh cinta.
Aira menutup wajahnya yang tersipu lalu menatap pintu. Seorang gadis yang merupakan mantan Alvin muncul dari situ. Aira terdiam dan bersikap acuh. Adelia juga nampak tak melihat Aira atau mungkin memang sengaja menghiraukannya.
"Ya ampun keringetan banget yaa habis main sama mantan," ucap Aqila dengan ketus. Adelia tersipu sementara Aira menautkan alis tak suka.
Dahi Aira berkerut heran kemudian mengingat Alvin juga berkeringat sebelum datang ke kantin. Pikiran buruk menghampirinya.
"Iya, mainnya masih hot kek dulu. Sama aja ternyata. Jadi mantan apa enggak!" Adelia berucap sembari melirik Aira. Matanya menyorot puas melihat raut wajah Aira yang gusar.
"Main apaan?" tanya Lita yang selalu saja loading lama. Aqila melototkan mata padanya.
__ADS_1
"Yaa main. Olahraga gitu," sahut Adelia sembari tersipu.
"Idihh! kita aja gak ada pelajaran olahraga hari ini. Olahraga ranjang maksud lo ya!!" seru Aqila sembari tertawa.
Aira pergi dari sana. Tak lupa dengan pikiran buruk yang sudah menghampirinya. Sementara Adelia dan dua temannya kembali tertawa. Puas meracuni otak Aira yang terlihat seperti wajahnya. Sangat polos dan mudah di tipu daya.
***
Aira melirik Alvin yang masih duduk di sebelahnya. Lelaki itu asik main game dan sepertinya tak menyadari bahwa Aira sudah duduk di sebelahnya.
Gadis itu menggelengkan kepala pelan. Berusaha mengusir pikiran yang buruk tentang pacarnya. Baru beberapa hari menjalin hubungan rasanya tak pantas Aira langsung menanyakan karena itu berarti tak ada kepercayaan.
Beberapa menit. Pikiran Aira semakin gusar dan tak fokus pada cerita yang ia baca. Gadis itu kembali menatap Alvin yang masih asik dengan ponselnya. Terdengar helaan kasar dari Aira. Di susul tangan Alvin yang mengambil tangannya. Menggenggam erat jemari Aira meskipun mata masih tertuju pada ponsel di tangannya.
Satu kecupan singkat di punggung tangan Aira membuat gadis itu terpana. Alvin kembali main game namun dengan satu tangan yang tertaut dengan tangan Aira. Gadis itu tersipu.
"Vin ...." ucap Aira spontan sembari mengerjap gugup. Alvin hanya berdehem pelan sebagai sahutan.
"Vin ...." Aira berucap dengan nada keluhan. Alvin menoleh dan menatap gadis manis di sebelahnya. Aira sudah mengerai rambutnya meskipun mata cantik kecokelatan itu masih memakai kacamata. Kecantikan Aira sudah membuat Alvin terpana.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Alvin lembut.
Aira berpikir ingin bertanya tentang sesuatu yang disebut Adelia. Tetapi yang ia dapati justru dirinya menggelengkan kepala kemudian berkata, "Gak papa."
Alvin memicingkan mata. Lalu kembali mengecup punggung tangan Aira. Kali ini cukup lama.
Sikap Alvin membuat Adelia yang melihat dari kejauhan semakin terbakar api kecemburuan. Mendengus pelan, Adelia berucap dengan nada meyakinkan. "Gue bakalan pastiin, Aira harus ngalamin yang namanya pemerkosaan!!"
Aqila dan Lita saling pandang.
TBC
Jangan lupa like nya ^_^
banyakin komentarnya 😁
Kasih vote nya kalau ada 😉
Terima kasih atas apresiasi
__ADS_1
dari kalian semua ❤