
Alvin mengerjapkan mata. Saat mata itu terbuka sepenuhnya, hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Sorot mata tajam lelaki itu berubah muram. Sudah beberapa minggu Aira sangat acuh padanya. Saat ditanya, Aira mengatakan ia hanya sangat sibuk untuk persiapan olimpiade. Tapi Alvin merasa ada yang janggal dari sikap Aira pada dirinya. Ingin tau namun Alvin sendiri terlalu gengsi untuk menanyakan apa salahnya.
Namun, Pikirannya selalu teringat seorang Aira. Pun saat baru terbangun di pagi hari. Keributan di luar membuat Alvin tersadar. Remaja itu melirik jam dinding lalu memeriksa apa yang terjadi. Sesuai dugaan, keributan dari kedua orang tuanya. Tuan dan Nyonya Damara.
Sorot mata terluka terpancar jelas di mata hitam Alvin Dennis Damara. Semua anak perceraian mungkin berpikir bahwa perceraian orang tua adalah kenyataan terburuk yang harus di terima.
Tapi bagi Alvin, mungkin itu bisa menjadi awal kebahagiaan bagi keluarga mereka. Sayangnya, keluarganya selalu seperti ini sedari dulu. Entah sampai kapan, Alvin sudah tak tahan.
Karena anak broken home bukan hanya mereka yang memiliki orang tua bercerai tapi bagi anak seperti Alvin yang terjebak dalam hubungan atau keluarga toxic. Sebuah keluarga yang seharusnya tempat aman dan nyaman. Tapi bagi Alvin. Mereka teramat menyakitkan dan simbol dari penderitaan.
"Aira ...." Bernada keluhan dan sorot mata kerinduan. Alvin benar-benar sudah tak tahan.
***
"Aira ...."
Aira tersentak dan mengerjap kaget saat melihat Alvin sudah duduk di hadapannya. Hanya terhalang meja.
"Masih sibuk yaa?" tanya Alvin dengan nada keluhan.
__ADS_1
Aira mengganggukkan kepala kemudian berkata, "Lusa berangkat."
Alvin menatap Aira dengan sorot mata memelas. Dengan nada pelan, ia kembali melanjutkan ucapan. "Sebenarnya ada apa?"
Aira yang mulai sibuk dengan bukunya. Tersadar dan kembali menatap lelaki di hadapannya.
"Gak papa," sahutnya.
"Kalau ada masalah. Tolong ngomong Aira. Kita selesaikan baik-baik semuanya. Jangan terus berpura-pura dengan bilang 'gak papa'. Bisa gak sih jujur sedikit aja?" Alvin berucap dengan nada kesal yang tertahan. Ia tak mau menjadi sorotan orang-orang di sekitar, karena itu dirinya menjaga nada ucapan.
Aira terdiam menatap Alvin. Dahinya berkerut tak suka. Merasa muak atas segalanya. Berdecak pelan sembari mengerjap heran.
"Ra ...." ucap Alvin pelan namun penuh tekanan.
Nada hinaan dan tatapan merendahkan membuat Alvin terkesiap sejenak.
"Ok, jangan berpura-pura. Jadi lebih baik akhiri aja ini semuanya. Muak banget tau gak!" Aira berucap dengan nada tinggi kemudian berdiri. Meninggalkan Alvin yang membeku karenanya.
***
"Kan udah di bilang, makanya jadi cewek abang aja yaa?" Ray berucap setelah mendengar curhatan Aira mengenai Alvin.
__ADS_1
Aira terbatuk-batuk. Menatap tajam Ray di hadapannya. Saat kecil, dua anak itu teramat dekat dan akrab. Sebab pernikahan kedua orang tua mereka. Namun ternyata Ray memiliki perasaan lebih pada Aira dan menyatakan perasaannya saat mereka masih sekolah menengah pertama.
Aira tak bisa menerima dan sejak itu. Keduanya semakin jauh. Seolah ada dinding besar yang menghalangi mereka.
"Ra ... Abang serius." Ray berucap dengan tegas. Ia tau sejak dulu. Bahwa secara hukum negara maupun agama. Hubungan keduanya bukanlah hubungan terlarang.
"Abang ...." keluh Aira dengan isakan tertahan. Jujur, ia juga teramat merindukan Ray. Tapi hanya sebatas Abang bukan pasangan. Ia suka bermanja dengan Ray sejak kecil. Pelindungnya.
Pelindung, tapi itu dulu. Aira membuang muka dan menatap hujan di luar. Lewat dinding kaca di kafe itu, Aira melihat rintikan hujan. Namun terlintas bayangan bagaimana pembullyan yang di lakukan Adelia dan teman-temannya. Ray selalu di sana dan tak pernah membantunya.
Lucunya, ia membiarkan diri sendiri di bully karena berharap suatu saat Abangnya akan kembali. Tapi sekarang tidak lagi.
"Dek ...." ucap Ray pelan. Aira menatapnya dan setetes bening jatuh dari mata gadis itu.
"Abang mau kita kayak dulu. Tertawa sama-sama. Terus-"
Tawa sumbang Aira tak membuat Ray melanjutkan ucapannya. Menautkan alis sembari menatap Aira yang masih tertawa. Hingga gadis itu kemudian berkata, "Sejak dulu. Hubungan kita hanya sebatas kakak dan adik. Bukan hubungan antara lelaki dan wanita."
Aira menghela napas kasar kemudian kembali berujar, "Lagian, Aira gak punya perasaan apa apa selain rasa sayang dari adik untuk abangnya."
TBC
__ADS_1
Jangan lupa likenya. Kasih vote nya kalau ada. Banyakin juga komentarnya ❤