My Nerd Girlfriend

My Nerd Girlfriend
MNG {42}


__ADS_3

"Gue khawatir. Ternyata dia malah jalan sama si culun," gerutu Alvin kesal.


Matanya menyorot tak suka. Benar-benar marah pada Aira yang pergi tanpa memberitahunya. Memangnya sehebat apa lelaki itu sampai Aira ingin menjadikan Kevin selingkuhan nya?


Pemikiran konyol dan tak masuk akal terus muncul di permukaan otak Alvin Dennis Damara. Kecemburuan membuatnya buta.


Sementara Ray terdiam cukup lama. Menatap jam di pergelangan tangannya.


"Aira gak mungkin pergi sampai jam segini."


Semua orang di sana menatapnya. Pun beberapa dari mereka yang memakan daging bakar serta jagung bakar. Acara barbekyu hampir kacau karena mood sang tuan muda Damara. Pemilik Villa.


"Sok tau banget lu anying!" ejek Baim sembari memutar bola mata.


"Iya, emangnya lo siapa? jadi tau banget siapa Aira. Bisa aja dia emang perempuan murahan 'kan?"


"Aqila!" teriak Adelia mengingatkan. Terlihat Alvin menatap tajam Aqila.

__ADS_1


"Lo kalau punya mulut di jaga!" bentak Ray dengan sorot mata tajam.


"Lo yang harusnya gitu!" balas Aqila tak mau kalah. "Lo 'kan yang tadi nuduh Adel apa-apain Aira?!"


"Udah-udah!" lerai Adelia. Gadis itu terdiam sejenak.Kemudian Ray yang masuk ke villa. Tak berapa lama ia keluar.


"Gue pinjam mobil lo dulu!" ucap Ray pada Baim. Ia memang tak membawa mobilnya.


"Lo mau kemana udah tengah malam gini!" seru Baim dengan nada kesal. Bukan kesal karena mobilnya ingin dipinjam. Sebagai sahabat. Mereka tak pernah hitung-hitungan apalagi cuma meminjam. Tapi karena benar-benar heran. Kemana Ray di jam hampir tengah malam? di kawasan puncak yang begitu dingin seperti sekarang?


"Mau cari Aira. Gue khawatir sama dia."


"Cih! sok sok an khawatir," ledek Baim lalu kembali berkata, "Alvin yang cowoknya aja santuy aja tuh!"


Ray melirik Alvin dengan tatapan tak terbaca. Kemudian berkata dengan intonasi pelan tapi penuh penekanan. "Karena Aira adek tiri gue. Gue yakin sekarang dia gak baik-baik aja. Apalagi kita gak tau gimana sikap Kevin yang sebenarnya."


Setelah berkata, Ray meluncur pergi ingin meninggalkan Villa. Meninggalkan semua temannya yang terpaku dan membisu. Juga Alvin yang dibuatnya terkesiap.

__ADS_1


"***** baru tau gue! kalian tau?" tanya Baim setelah mereka sejenak terdiam.


"Pantesan gue sering mergokin Ray ngeliat Aira. Kayak ngawasin aja gitu," imbuh Baim lagi.


"Ray! gue ikut!" teriak Adelia sembari berlari. Ia sejak tadi juga khawatir pada gadis itu. Tapi terlalu gengsi untuk mengakui.


Ray menghentikan mobil yang ingin keluar gerbang. Membiarkan Adelia masuk lalu mereka meluncur. Menyusuri sekitar puncak di tengah malam. Cukup mengerikan.


Sementara Alvin ikut menyusul di belakang. Di dalam mobil Alvin ikut pula Sisil dan Aqila. Lita ingin masuk tapi ditahan Baim.


"Lo disini temenin gue," ucap Baim dengan nada manja. Lita melototkan matanya tapi ia kalah tenaga.


Karena Alvin buru-buru. Ia langsung menginjak pedal gas. Sembari berusaha menelpon salah seorang kenalan. Ingin melacak ponsel Aira ada di mana. Karena saat itulah Alvin menyadari. Bahwa ia teramat cuek menjadi lelaki. Seharusnya dirinya tau dimana Aira lewat ponsel gadis itu. Menjadi pacar yang seharusnya menjaga bukan suka menuduh yang tidak-tidak.


"*Aira ...."


***

__ADS_1


Next? like nya yaa🙏*


__ADS_2