
Seorang lelaki tampan berwajah khas Korea nampak menyeret dua sahabatnya. Tangan kanan menyeret lengan Alvin sementara tangan kiri untuk menyeret Ray.
Baim mendudukkan kedua lelaki itu satu persatu di bangku dekat lapangan basket. Ia mengambil posisi di tengah. Suasana sudah mulai sunyi karena sudah jam pulang.
Baim berdehem pelan kemudian berucap dengan nada keluhan, "Kalian kenapa sih kek gini?"
Alvin memasang wajah datar sembari menatap ke sembarang arah. Tak peduli pertanyaan dari Baim. Sementara Ray mendengus kesal.
"Woy!" Baim berteriak sembari menyenggol kedua sahabatnya.
"Apaan?!" Ray menyahut spontan kemudian kembali berucap dengan bentakan, "Gak usah sok ngatur gue deh lo! perlu gitu gue jelasin setiap hal, perlakuan, dan sikap gue?!"
"Lagian gak guna temenan sama temen yang suka nusuk dari belakang!"
Ray melangkah ingin pergi namun terhenti saat Alvin berucap dengan nada merendahkan serta raut wajah percaya diri, "Maksud lo apaan!"
"Bukannya udah jelas 'kan lo sendiri yang ganggu hubungan gue!!"
Rahang Alvin mengeras saat mengingat Ray yang datang bersama Aira. Napasnya kian memburu seiring detak jantung yang semakin cepat pula. Hingga ucapan Ray membuatnya terkesima.
"Gue udah suka duluan sama Aira!" Ray terus melangkah. Memangkas jarak antara dirinya dan lelaki bernama Alvin Dennis Damara.
"Lo pikir kenapa selama ini gue gak pacaran dan nolak semua cewek yang deketin gua?!"
Baim terkesiap dengan mulut yang menganga.
__ADS_1
"Gak perlu banyak bacott!" ucap Alvin dengan sorot mata tajam bak elang.
"Apaan?!" Ray semakin meninggikan suaranya hingga seperti teriakan. Dengan gaya menantang ia kembali berucap dengan nada pelan, "Lo yang bacot!"
"Manusia cuma punya satu mulut dan dua tangan. Jadi jangan banyak bacot dan lebih baik baku hantam!!"
Bugh!
Satu pukulan tepat di pipi kanan. Ray terhuyung karena dadakan dan tak ada persiapan. Namun tubuhnya sigap merespon tindakan.
Bugh!
Satu pukulan di pipi kiri Alvin. Mereka kembali berkelahi seperti sebelumnya. Sementara Baim masih terdiam dengan mata yang terus mengamati kedua sahabatnya.
"Alvin!"
"Eh!" Baim mencekal lengan Aira. Menggelengkan kepala lalu berkata, "Gak usah ikut campur. Biarin aja mereka."
Baim memang sengaja tak melerai karena begitulah sikap lelaki biasanya. Jika sudah puas melampiaskan kekesalan, tak akan ada lagi perang dingin, drama atau hal lainnya.
"Tapi kasian!" ucap Aira dengan raut wajah panik. Melihat ke sekitar dan sekolah sudah sangat sunyi. Mungkin para guru juga sudah pulang. Gadis itu ingat satpam kemudian melangkah pergi tapi lengannya kembali dicekal Baim.
Baim sudah menebak pikiran Aira yang ingin memanggil satpam. Belum sempat berujar. Terdengar kembali teriakan.
"Alvin!!"
__ADS_1
Adelia berlari dengan raut wajah panik. Matanya membesar saat melihat Ray menindih Alvin dan terus memberi pukulan. Tak lama kemudian, Alvin kembali bisa memimpin pertarungan. Ia menindih tubuh Ray dan memberi beberapa pukulan.
"Woy! lerai dong!" Adelia berucap dengan nada kesal dan gemas pada Baim.
"Biarin aja! kalian jangan ikut campur ya. Ini bahaya." Baim bersedekap di dada.
"Gak!" Adelia dan Aira melangkah maju. Ingin melerai.
"Eh jangan!"
Aira lebih dulu meraih lengan Alvin daripada Adelia. Gadis itu mendengus kesal menatap Aira. Kemudian terkesiap mereka saat Ray kembali memukul Alvin.
Spontan Adelia memegang lengan Ray. Melerai perkelahian memang harus dua-duanya di pisahkan dan dipegang.
Namun, kedua lelaki itu masih terbakar amarah dan sekali sentakan. Ray membuat Adelia tersungkur. Begitu juga Alvin yang membuat Aira tersungkur.
"Kan udah di bilangin bahaya!" Baim berteriak spontan saat melihat Adelia dan Aira.
Ray dan Alvin tersadar
"Aira!" seru Ray
"Ra!" seru Alvin.
"Adelia!" seru Aira saat melihat kening gadis itu berdarah. Adelia mengerjapkan mata karena rasa pusing yang tiba-tiba mendera.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa like nya❤