
"Bang Ray?"
Aira mengerjap kaget saat melihat Ray sudah siap di depan pintu apartemennya. Remaja tampan itu berkata, "Berangkat bareng ya."
Aira menautkan alis bingung namun tak dapat berkutik saat Ray menarik tangannya menuju mobilnya. Keduanya menuju sekolah dengan hening di sekitar mereka.
"Hari ini jadi berangkat Dek?"
Aira menatap Ray sembari menganggukkan kepala. Memang hari ini gadis itu akan berangkat menuju kota tempat di adakannya olimpiade nasional. Namun terlebih dahulu ke sekolah. Selain ada yang di urus mengenai keberangkatan mereka, Aira dan anak-anak perwakilan SMAN 1 Tunas Bangsa juga harus berangkat bersama.
"Udah sarapan Dek?"
"Panggil Aira aja," sahut Aira dengan nada kesal. Entah mengapa ia cukup muak dengan panggilan 'Dek' yang keluar dari mulut Ray Gilbert Ibrahim.
Ray memang setahun lebih tua. Namun mereka sekelas karena dulu Ray sempat sakit parah dan harus mengulang kelasnya setahun dari seharusnya.
"Maaf ...." ucap Ray pelan dengan sorot mata Kecewa. Pandangannya lurus ke depan memperhatikan jalan.
Tak lama, mereka sampai di sekolah. Beberapa siswi terpekik kaget saat melihat Aira turun dari mobil Ray. Bisik-bisik gosip mulai bertebaran.
__ADS_1
Aira menghiraukan mereka karena dirinya tau. Bagaimanapun hidupmu, akan selalu ada yang tak suka dan mengomentari hidupmu dengan sesuka hatinya. Mereka segelintir orang yang menyebalkan dan diciptakan mungkin untuk mengisi neraka. Pikir Aira.
Gadis itu menuju kantor, tempat beberapa teman perwakilan berbagai bidang pelajaran sudah hadir di sana dan bersiap berangkat. Termasuk Adelia. Langkah gadis itu terhenti tepat di depan pintu kantor saat mendengar suara berisik dari arah belakangnya.
Aira berbalik dan mata gadis berkacamata itu membulat sempurna. Di depannya, Alvin dan Ray saling memukul dan menendang. Namun lebih mendominasi Alvin.
Tubuh Aira terjatuh saat Adelia keluar dari ruang kantor dan memekik menatap Alvin. Pujaannya. Sementara Aira meringis pelan. Hingga sebuah tangan membantunya berdiri.
"Gak papa Ra?" tanya Kevin.
"Iya, thanks Vin," sahut Aira dengan senyuman paksa. Menatap kembali Alvin dan Ray yang sudah berhasil di lerai. Sorot mata khawatir terpancar di mata gadis itu ketika melihat dua lelaki di hadapannya. Wajah keduanya terlihat penuh lebam dan luka.
***
Mereka berada di ruang BK. Seorang guru wanita yang terlihat cantik dan rapi menatap intens Alvin. Untuk mendengar penjelasan.
Sementara Alvin hanya diam. Wajah lelaki itu datar meski penuh dengan lebam. Luka di sudut bibirnya dan terasa perih, ia hiraukan. Pikirannya terus mengulang perkataan Ray tadi. Ucapan yang membuat dirinya tak tahan untuk melayangkan pukulan.
"Kenapa lo berangkat sama Aira?" tanya Alvin saat itu. Ia melirik Aira yang berjalan di depan mereka. Namun ia yakin, gadis itu tak mendengar mereka.
__ADS_1
"Ngapain nanya? bukannya kalian udah putus yaa?" Ray bertanya balik dengan nada acuh.
"Kata siapa kami udah putus?" Alvin menahan tangan Ray. Namun lebih seperti cengkraman dari pada cekalan biasa.
"Kan udah lebih satu hari dari perjanjian lo sama Daniel." Ray menyentakkan tangan Alvin dengan kasar lalu kembali berjalan. Ingin menyusul Aira namun ternyata Alvin kembali menghalanginya.
"Lo suka sama Aira?" Alvin bertanya dengan nada penuh tuduhan. Alih-alih menyangkal Ray justru tertawa.
"Kalau iya kenapa? Lo gak punya hak untuk ngelarang siapapun deket sama Aira."
"Tapi lo sahabat gua!!" Alvin menatap tajam Ray dengan napas memburu. Menahan emosi yang mulai menguasai diri.
"Jangan bilang lo deketin Aira cuma karena masa lalu kita!" Alvin kembali berucap dengan tangan terkepal erat.
"Iya. Memang karena itu!"
Saat itulah. Alvin tak tahan lagi untuk tak melayangkan pukulan. Ia mungkin akan menahan jika Aira kembali menjalin hubungan. Tapi tak akan membiarkan gadis itu kembali dipermainkan.
TBC
__ADS_1
Maaf baru up, sibuk banget Zaraa 😭
Makasih yang udah dukung dan masih baca sampai part ini. Jangan lupa like yaa❤