
"Kantin yuk!"
Aira mendongak dan menatap kaget Adel serta Lita dan Aqila. Mereka mengajak Aira ke kantin? yang benar saja?
Aira menatap Sisil. Terlihat gadis itu juga kaget. Aira kemudian menyetujui. Ke lima gadis itu menuju kantin.
Sesekali, Adelia berbicara pada Aira mengenai pelajaran yang baru saja mereka lakukan. Karena keduanya hanya beda tipis saja dalam hal kecerdasan. Baik Adelia dan Aira terlihat langsung akrab dan nyambung.
Sepanjang perjalanan menuju kantin. Semua orang menatap ke lima gadis itu. Tidak, lebih berfokus pada Aira dan Adelia yang terlihat tertawa saling bercanda ria.
Sementara Sisil, Lita dan Aqila juga terlibat pembicaraan mengenai hal lainnya. Ketiga gadis itu tak secerdas Aira dan Adelia. Jadi jelas pembahasan mereka teramat berbeda.
Sesampainya di kantin. Mereka memesan satu meja. Masih asik dengan pembahasan sebelumnya. Hingga ucapan Sisil membuat ke lima orang itu terdiam.
"Gue kemaren lihat Baim sama cewek lain."
Sesaat, Lita tertegun. Kemudian memasang senyum palsu dan bertanya kapan. Saat Sisil menjawab, gadis itu berkata bahwa yang di lihat Sisil adalah sepupu Baim.
Namun, sebenarnya Lita tak tau sama sekali. Ia berusaha menyembunyikan meski dengan sorot mata berkaca-kaca. Beberapa hari ini, sikap Baim memang berubah. Kadang membentaknya. Juga mengajukan banyak alasan saat di ajak jalan.
Kemudian, ke lima gadis itu makan siang. Hingga kedatangan Alvin, Ray dan Baim membuat perhatian mereka teralihkan.
__ADS_1
Alvin menghentikan suapan pertama Aira pada makanannya. Lalu menyuap makanan itu ke mulutnya. Gadis itu lantas memberengut kesal. Tapi tak berkomentar.
"Pelit amattt!" dengus Alvin sembari mencubit pipi Aira. Lelaki itu kemudian tersenyum menatap Adelia. Dengan sorot mata, Alvin berterima kasih sebab tau dari Ray bahwa Adelia mau menerima hubungannya bersama Aira.
Senyuman dari Adelia membuat Alvin semakin senang. Akhirnya, semua baik-baik saja. Begitu pikirnya. Pembahasan mereka kemudian berlanjut tentang liburan sehabis ujian kenaikan kelas.
"Gimana kalau liburan ke Villa Alvin aja?" tanya Baim dengan senyuman sempurna. Semua orang menatap Alvin.
"Iya, di Villa Alvin kan banyak kamarnya. Terus pemandangannya indah juga. Dekat lagi sama kebun teh yang hijau banget anjiirr!" Adelia menimpali.
"Boleh. Pakai aja. Tapi kayaknya gue gak ikut karena-"
"Ya udah fix, kita kesana yaa!" ucap Baim yang membuat semuanya bersorak bahagia.
"Tapi harus ngelewatin ujian naik kelas dulu," keluh Sisil yang membuat semua jadi terdiam dan menurunkan bahu lemas.
"Apaan sih lo! lagi bahagia malah di ingatin ujian!" protes Aqila yang membuat Sisil nyengir lebar.
"Santai aja kali Qila!" sahut Adel dengan nada santai biasa. Aqila mencebikkan bibirnya.
"Lo sih enak punya otak pintar. Lah gue?" ucap Aqila dengan nada keluhan.
__ADS_1
Lita menganggukkan kepala lalu berkata, "Iya, bantuin kek gitu. Ajarin kita. Ada in belajar sama-sama. 'kan masih dua minggu lagi waktu ujiannya."
"Gue sih mau aja. Tapi susah kalau ngajarin kalian sendirian," sahut Adelia dengan raut wajah malas.
"Kan ada Aira?" Sisil berucap spontan
"Oh iya!" seru Adelia kemudian kembali berkata, "Mau gak Ra bantuin temen lainnya?"
Aira menatap Aqila dan Lita yang memasang raut wajah memelas. "Oke deh."
Semua orang mengembuskan napas lega mendengar persetujuan Aira. Gadis itu kembali berkata, "Kita belajarnya di mana?"
"Di apartemen kamu aja," sahut Alvin.
"Lho kamu ikut juga?" tanya Aira. Alvin dan dua lelaki lainnya menganggukkan kepala.
"Ya udah kalau gitu." Aira berucap dengan senyuman sempurna.
TBC
Jangan lupa like nya ❤❤
__ADS_1