My Nerd Girlfriend

My Nerd Girlfriend
MNG {9}


__ADS_3

"Tinggal sendiri?"


Pertanyaan dari Alvin tak membuat Aira berpindah posisi dan terus memejamkan mata. Sekarang, mereka berdua sudah ada di apartemen Aira.


Pacar barunya berhasil memaksa Aira agar diantar ke tempat tinggal gadis itu. Tubuh yang kurang sehat membuat Aira tak sanggup menolak. Untuk pertama kalinya, ia hidup bergantung pada orang lain dan sial, orangnya adalah Alvin.


Selama ini, Aira selalu sendiri dan berusaha menjaga pola makan dan kesehatan karena jika sakit, ia sendiri akan kesusahan. Aira membuka mata saat merasa ada orang di sebelahnya.


"Kalau pusing, pindah ke kamar aja," ucap Alvin datar. Sorot mata tajam itu menatap Aira tak berekspresi sama sekali.


Aira tak menjawab dan lebih memilih memejamkan mata kembali. Sementara Alvin, kembali berdiri dan menelusuri apartemen Aira yang sangat mewah.


Remaja tampan itu tak menduga bahwa Aira memiliki apartemen semewah ini dan hanya tinggal sendiri. Setidaknya itu dugaan Alvin saat ini. Lelaki itu menuju dapur dan mengambil mineral di lemari pendingin. Bersikap seolah ia adalah tuan rumah.


Saat kembali ke sofa, ternyata Aira sudah terlelap. Lelaki itu kemudian mengangkatnya ke kamar. Perlahan, ia merebahkan tubuh gadis itu dengan lembut seolah tubuh Aira mudah terluka. Alvin mengambil kacamata yang masih terpasang di wajah pacar barunya kemudian menatap dalam wajah Aira yang terlelap nyaman.


Cantik juga


Alvin menggelengkan kepala sembari menelan saliva.


***


"Gue diminta cuma pacaran sama Aira selama dua bulan aja."


Pengakuan Alvin membuat kedua sahabatnya membulat sempurna. Dengan masih memakai seragam, ketiga cogan itu memilih nongkrong di tempat biasa mereka bertemu.


"Kok Daniel bisa minta gitu sih?" tanya Ray sembari mengerjap tak percaya.

__ADS_1


"Itu masuk akal kok," sahut Baim dengan wajah santai. Alvin dan Ray menatapnya.


"Gue pernah denger, Daniel suka sama Adel. Mungkin sengaja biar lo mutusin dia," jelas Baim.


Alvin menautkan alisnya. Entah tak suka atau karena ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Ray nampak gelisah dan terlihat begitu tak suka atas tindakan sahabatnya. Sialnya, dirinya sendiri yang mendorong Alvin ke hubungan seperti ini.


***


Pagi harinya, Aira begitu tak bersemangat ke sekolahnya. Kehidupan yang monoton dan membosankan milik Aira nyatanya sudah dirampas paksa oleh Alvin Dennis Damara.


Seperti awal menginjakkan kaki di sekolah. Ada begitu banyak tulisan di mading sekolah yang berisi fitnah. Tentang Aira yang mengganggu hubungan orang dan merebut Alvin dari Adelia atau berita palsu tentang Aira yang ternyata pelakor juga. Katanya.


Aira tentu saja kesal namun bersikap seolah tak peduli. Saat sampai di kelas ia duduk di kursinya dan tak menyangka ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya. Selama ini, Aira sendiri duduk di pojokan kelas. Meski begitu, ia termasuk siswi berprestasi. Juara kedua dan juara pertama jelas selalu di menangkan oleh Adelia.


"Gue duduk di sini gak papa 'kan?" tanya gadis di sebelahnya dengan sopan.


"Boleh," sahut Aira singkat.


Keduanya kemudian saling berbincang meski agak canggung. Aira yang duduk sedikit terkejut saat mendapat lemparan sampah entah dari mana. Sampah itu berbentuk gelas dan cairan bau di dalamnya membuat semua orang di kelas ingin muntah.


"Busuk emang! kayak kelakuannya!" celetuk salah satu siswi.


"Perusak hubungan orang, emang sekarang udah gak punya malu!"


"Jijik!"


"Busuk!"

__ADS_1


Semua orang di kelas 11A melempari Aira dengan sampah-sampah mereka. Gadis itu membeku di tempat sembari memejamkan mata hingga seorang lelaki menghalangi tubuhnya.


Semua yang melempari Aira dengan sampah melihat lelaki itu dengan mata membulat sempurna. Saat tak terdengar keributan lagi, Aira membuka mata.


"Gak papa?" tanya Alvin datar seperti biasa.


Aira menganggukkan kepala. Alvin kemudian menatap satu persatu para wanita yang melempari sampah ke pacarnya.


"Kalian berani banget yaa?" Alvin berucap dengan nada datar. Namun terdengar seperti ancaman serta ditambah suasana mencekam. Hening, semua orang di sana seolah menjadi patung.


Ketakutan itu menghampiri masing-masing mereka karena ciri khas Alvin yang tak meninggikan suaranya meski dalam keadaan marah. Hal itu membuatnya terlihat menyeramkan. Sebab, sorot mata yang memang mengancam.


"Gue cuma ngebela Adelia sebagai sesama wanita!" sahut Aqila yang baru saja datang di sana.


"Oh, jadi kalian biang keladinya?" Alvin menatap tajam Aqila serta Lita. Ia menjeda ucapannya sesaat lalu kembali berucap, "Sejak kapan kalian semua berhak ngatur hidup Alvin Dennis Damara?"


Alvin meraih tangan Aira dan menautkan jemari mereka. Kemudian melangkah hingga di depan Aqila dan Lita. Sementara Adelia entah kemana.


Dengan intonasi yang dipastikan di dengar semua orang, Alvin berkata penuh penekanan, "Sekali lagi, ada yang ngelakuin hal ini sama Aira. Gue pastiin kalian cuma tinggal nama!"


TBC


Seneng banget ada yang komen minta kelanjutannya, hehe. Gue bakalan tiap hari up kalau gak sibuk dan memang ada yang minta. Meski dikit banget like gak papa.


Jangan lupa likenya yaa ❤


Banyakin komentarnya dan tambahin vote nya kalau ada 😌

__ADS_1


__ADS_2