My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 9


__ADS_3


🌸🌸🌸


Dinul tidak memukulnya. Hal itu tidak terjadi sama sekali seperti yang diperintahkan Samudra. Cowok itu bersama Raka dan Danang malah mengobati lukanya. Calvin melihat sekitar kamarnya menatap langit-langit Dia sudah menutupi luka-lukanya karena hari ini Calvin harus menjenguk Amara di rumah sakit.


Bau obat-obatan menguar menembus indra penciuman Calvin ketika sampai di sebuah ruangan VIP bernomor delapan belas.



Suara bergaduh sangat mengusik Calvin untuk cepat membuka pintu warna coklat dihadapannya. Di sana seorang gadis dengan pakaian pasien —berwarna biru— terlihat beradu debat dengan orang tuanya. Air mata bahkan sudah membasahi wajah gadis itu.


"Amara tidak mau ikut kemoterapi, Bun." Teriaknya meronta-ronta.


"Kamu harus ikut Sayang, biar cepat sembuh. Bunda mohon ya?"


Amara terisak-isak, "Vin, aku nggak mau ikut kemoterapi kamu tahu kan? bantu aku Vin ngomong sama bunda," Mata Amara melihat Calvin yang berdiri tegang di depan pintu.


Dua tahun lalu, Amara di vonis memiliki penyakit kanker darah sel putih. Calvin mengetahui hal itu ketika gadis di depannya terisak menangis. Amara tidak mempunyai siapapun untuk berbagi selain Samudra dan Calvin. Dulu apapun yang ia alami selalu Amara ceritakan kepada Samudra. Namun semenjak ke perawanannya di renggut oleh Calvin ketika cowok itu tidak menguasai dirinya sendiri. Hidupnya hancur, Samudra meninggalkannya begitu saja. Tanpa mau mendengarkan penjelasannya sama sekali.


"Bun kita keluar dulu saja, biarkan Calvin yang berbicara kepada Amara. Mungkin saja dia bisa merubah pikirannya." Ucap Seto —ayah Amara— menggiring ibunya keluar dari ruangan.


"Om percaya sama kamu, Vin." timpalnya lagi memegang bahu Calvin kemudian kedua orang tua itu benar-benar pergi dari sana.


Amara masih terisak-isak, posisinya duduk dengan kedua kaki ditekuk. Wajahnya di tenggelamkan di atas kedua tumitnya. Jantung Calvin serasa di remas-remas, melihat Amara yang kini terlihat rapuh. Andai dia tidak mabuk malam itu, Amara pasti masih tertawa bersama Samudra.


"Vin jangan paksa aku buat kemoterapi. Aku nggak mau." Pinta Amara mengusap air mata yang bertengger di pipinya.


Calvin melangkah lebih dekat ke tempat Amara di sebuah ranjang hijau yang cantik. Dia duduk di samping gadis itu mengelus kepala Amara dengan lembut.


"Ra, Kamu tidak ingin sembuh?" tanya Calvin.


Amara menggeleng, "Aku mau. Tapi aku nggak mau jadi botak Vin. Samudra pasti nggak bakal suka aku lagi."


"Kalau Samudra tahu keadaan kamu. Dia pasti akan marah, Ra."


"Jangan beri tahu Samudra, Vin. Aku nggak mau dia tahu, aku penyakitan." Tatapan sendu itu membuat Calvin tidak tahan lagi untuk memukul Samudra.


Seandainya dia tidak menyukai Amara waktu itu. Persahabatan mereka serta hubungan Amara dan Samudra akan baik-baik saja. Cowok bodoh itu membuat Calvin berada di antara penyesalan yang besar. Dia tahu dulu sifatnya begitu egois hingga membuat semua orang terluka.


"Aku mau tidur, Vin. Kamu harus janji untuk tidak bilang ke Samudra, ya." Ujar Amara sambil mengerahkan jari melengkung kanannya sebagai pertanda janji mereka.


"Baiklah," angguk Calvin.


Calvin tersenyum kemudian mmenautkan jari kelingking mereka berdua. Amara tidur dengan Calvin yang menyelimuti tubuh gadis itu. Cukup lama Calvin menunggu Amara terlelap. Mata teduh itu menutup sempurna membuat Calvin di gerogoti rasa bersalah.


"Ra, maafin aku." ucapnya mencium kening gadis itu pelan.

__ADS_1


Calvin beranjak keluar pelan-pelan takut mengganggu Amara yang sudah terlelap.Dia menutup pintu keluar dari ruangan itu, dengan wajah penuh iba.


"Apakah dia mau kemoterapi, Vin?" tanya wanita paruh baya yang menenggelamkan wajahnya di dada suaminya


Calvin menggeleng, "Maaf om dan tante. Amara masih tidak mau di bujuk."


"Yah, jika Amara seperti ini, bunda takut dia tidak sembuh." isaknya.


Layaknya seorang suami yang sigap. Om seto langsung mmemeluk istrinya menguatkan. mengelus pelan rambut sang istri memberikan rasa tenang pada sang istri.


"Kita coba besok ya, Bun. Biarkan Amara istirahat dulu. Tuhan pasti memiliki rencana besar yang tidak terduga untuk kita. Kita harus selalu mendoakan yang terbaik untuk Amara, Bun." melihat keduanya hati Calvin benar-benar tersentuh.


Saat Calvin sudah keluar ruangan, Amara membuka matanya. Dia menyudahi akting pura-pura tidur, Amara sengaja agar Calvin tidak memaksanya. Dia juga tidak menduga akan mendengar permintaan maaf Calvin beberapa menit yang lalu. Dalam hatinya sejak jauh-jauh hari Amara sudah memaafkan tindakan Calvin waktu itu. Walau sesuatu yang retak tidak bisa dikembalikan, Amara tidak ingin menyalahkan Calvin.


"Bukan salah kamu Vin, semua sudah takdir. Aku tahu memang kemoterapi jalan satu-satunya untukku. Tapi aku tidak mau rambut ku hilang, Vin. Karena Samudra sangat menyukai potongan rambutku."


Amara ingat betul bagaimana Samudra selalu menyentuh rambutnya dengan lembut. mengatakan Dia sangat menyukai potongan bob miliknya. Sejak itu dia tidak pernah mengganti potongan rambutnya sendiri. Amara berusaha agar Samudra terlihat nyaman bersamanya. Tidak disangka disaat masa tersulit gadis itu Samudra tidak berada di sampingnya.


"Samudra tidak bisakah kamu memberikan aku kesempatan satu kali lagi?" imbuhnya kemudian sebelum terisak kembali mengingat cowok itu.


🌿🌿🌿


Raka benar-benar terkejut ketika Samudra membuka pintunya dengan kasar. Samudra masuk ke rumah Raka seakan dia yang mempunyai rumah. Dia langsung duduk di atas sofa tanpa berkata apa-apa, membuat Raka menghela napas kesal.


"Astaga Bos, berasa rumah sendiri, Tuan rumahnya ada di sini lho. Pencet bel dulu kenapa sih." gerutu Raka.


"Maaf bos, lo boleh pake apapun di sini. Ngeri juga ditatap begitu."


"Hari ini gue nginep di rumah lo." Balas Samudra.


Setelah mengantar Kinan pulang Samudra memang memutuskan untuk ke rumah Raka kembali. Dia ingin tidur di sini saja dari pada di kamarnya. Samudra tahu dia pasti akan membuka kenangan bersama Amara jika tidur di kamarnya saat ini.


Samudra terkekeh geli ketika mengingat Amara apalagi mendengar suara Calvin yang menyeru Amara tidak bersalah. Menurut Samudra keduanya sama saja, sama-sama seorang pengkhianat yang ulung.


Jika bisa dikatakan Samudra benar-benar membenci Amara sampai ke akar-akarnya. Dia tidak suka wanita itu.


"Dra bukannya apa-apa nih. Gue cuman kasih saran aja. Ada baiknya lo dengerin penjelasan Calvin." Nasehat Raka.


"Gue gak mau bahas dia," ketus Samudra.


"Dra jangan lo pikir gue bego ya. Lo masih cinta sama Amara kan?" dengus Raka.


"Jangan sok tahu deh lo,"


"Lo pikir gue bego, Dra." Umpat Raka mulai sedikit emosi.


Raka memang tahu bahwa Samudra masih mencintai Amara. Untuk apa dia masih menyimpan foto Amara rapat-rapat di kamarnya? untuk apa juga Samudra masih menyimpan sebuah gelang dari Amara? Dia masih mencintainya namun tidak mengakuinya.

__ADS_1


"Kita semua tahu Dra, Lo macarin Kinan karena sosok Amara ada di diri cewek itu." Ucap Raka telak.


"Nggak usah bahas Amara." Samudra terlihat mulai emosi juga. Dia tidak mengiyakan juga tidak membantah ucapan Raka.


Keduanya saling bersitegang membuat atmosfer di rumah itu tidak kondusif. Samudra sadar dia terlalu terbawa emosi menghadapi Raka saat ini.


"Ka, Gue gak mau denger tentang mereka berdua dulu." lanjut Samudra.


"Kita gak bisa lari dari masalah terus-menerus, Dra. Lo cowok setidaknya bersikap tegas buat Amara." Balas Raka


Samudra hanya diam tidak berani menyangkal.


"Tenangin diri lo dulu, kalo mau tidur di kamar atas aja, gue mau tidur duluan." timpal Raka.


Cowok itu berjalan menyusuri tangga, hari ini sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi antara Samudra dengan Raka. Sebenarnya Raka juga tidak ingin ikut campur urusan Samudra. Namun ketika mereka mengobati Calvin dan cowok itu mengatakan keadaan Amara yang mengidap penyakit kanker membuat Raka sedikit terenyuh.


Dia tidak bisa membiarkan Samudra berada di lubang penyesalan ketika Amara di renggut suatu hari nanti. Raka ingin Samudra kembali dengan Amara. Akan tetapi dia juga tidak bisa mmembiarkan Kinan terluka juga. Raka memang memilih untuk bungkam tentang penyakit Amara. Jika Kinan mengetahui tentang Amara, akankah gadis itu melepas Samudra? memikirkannya membuat Raka merasa iba kepada cewek itu.


"Ka," panggil Samudra sesaat ketika Raka memberhentikan langkahnya.


"Kalau gue mencintai dua gadis secara bersamaan, mana yang harus gue pilih ?"lirih Samudra.


Membuat Raka terdiam juga di tempatnya.


🌿🌿🌿


TBC



**jangan lupa Vote dan Komennya. Menuju konflik guys 😆😆




Amara ❤Samudra




Kinan ❤ Samudra



__ADS_1


pilih mana**?


__ADS_2