My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 5


__ADS_3


🌸🌸🌸


Samudra tengah berada di kantin kampus bersama Dinul dan kedua sahabatnya. Sebenarnya Samudra tidak ingin datang hari ini ke kampus kalau bukan karena Kinan yang menyuruhnya. Tadi pagi sekitar pukul sembilan Kinan menelpon Samudra mengatakan dengan lirih bahwa Skripsinya harus direvisi lagi oleh Pak Edy. Dosen gadisnya menyuruh Kinan untuk membeli beberapa buku untuk menunjang skripsinya —Salah satunya Akuntansi keuangan berdasarkan SAK berbasis IFRS karya Hans Kartikahadi dan Roska VII Sinaga. Andai saja dia tidak ditahan oleh Kinan agar tidak membobol Pak Edy, dosen satu itu pasti sudah tamat riwayatnya oleh Samudra karena sudah menyusahkan pacarnya.


Kinan ingat betul saat Samudra begitu kesal dengan Pak Edy kala Kinan menceritakan bagaimana Skripsinya dibuang ke tong sampah. Samudra sudah ingin menghampiri dosen itu dan mengajaknya ribut, pasalnya gara-gara skripsi sialan yang ditunda pak Edy lah Kinan sampai menangis. Dan karena dosen itu juga Samudra harus menahan diri untuk mengundur melamar pernikahan mereka. Edy Sialan!


Cowok berkacamata putih dengan tulang warna hitam disebarang sana adalah Raka, memakai pakaian kemeja coklat yang dipadukan dengan celana hitam tanpa motif sedang menimpali Dinul yang melemparkan guyonan. Sedang Samudra terlalu sibuk dengan pikiran dan telponnya membalas sms Kinan mengatakan bahwa cowok itu sedang berada di kantin fakultas.


"Gua kemarin lihat lo jalan sama Ayunda, kenceng juga lo bro," Gusti kemarin memang melihat Raka pergi makan berdua dengan Ayunda, cewek yang seminggu lalu ditaksir oleh Raka. Dengar-dengar sih Raka adalah seorang playboy.


"Jadi Fuckboy yee. Tiap hari ganti goncengan mulu." Timpal Danang.


Raka meringis mendengarnya. Apa-apaantuh fuckboy, tidak disangka padahal kemarin Raka hanya mengantar Ayunda pulang kerumahnya karena cewek itu kemarin menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang. Dengan niatnya baik akhirnya dia menawarkan Ayunda untuk ikut tumpangannya. Raka tidak berniat sama sekali untuk langsung nge gas seperti itu, tapi apa daya jika ada kesempatan mengapa harus di sia-siakan?


"Gua cuman nganterin pulang padahal, Anjr." Ucap Raka dengan tampang ekspresinya yang sedikit nyolot.


"Sambil menyelam minum aer—" Dinul mengambil gorengan mencomotnya.


"Cakep!" Danang merebut gorengan Dinul.


"Kepala lo cakep, gua gak lagi ngepantun."


"Loh, kirain." dengan santainya Danang kembali mengambil gorengan Dinul.


Raka terkekeh pelan, "Gak jelas lo berdua."


"Tangan lo ngapain nyomot gorengan gua?" Dinul memukul tangan Danang yang berniat mengambil gorengan miliknya.


"Bagi dikit sih, bos. Pelit amat, orang pelit kuburannya sempit." Danang mulai menakut -nakuti Dinul.


"Kok lo doain kuburan gua sempit?" Sinis Dinul.


"Bukan doain bos. Tapi emang begitu kata nenek gua. Ya kan Dra?" Danang melirik Samudra yang masih berkutat dengan ponselnya.


"Mana gua tau, itu kan nenek lo." balas Samudra dengan kalem matanya sama sekali tidak menatap Danang dan masih terus fokus terhadap ponselnya.

__ADS_1


"Karena gua baik hati ambil nih semua. Gak usah pake disisain.Gua ikhlas," Dinul menyerahkan kantong berisi gorengan itu ketangan Danang. Lalu beranjak ingin memesan es teh manis karena merasa haus.


Dengan senang hati Danang mengambil kantong yang diserahkan Dinul. "Tumben temen lo baik, Rak."


"Lah anjr, isinya cabe rawit doang!" Danang ngambil potongan cabe rawit yang tergeletak dikantong. Memamerkannya kepada Raka.


Dinul yang berdiri disana tertawa menggelegar, Sedang Raka ikut menimpali tawa temannya. "Temen gua tuh, baik banget kan?"


"Kurang ajar. Ikhas kepalamu, Sini lo!" Danang mengejar Dinul, namun cowok itu langsung berlari menghindar. akhirnya mereka berdua kejar-kejaran seperti tom and jerry.


Samudra hanya melirik sekilas ketiga temannya yang kapasitas otaknya tidak sampai se inchi.


"Permisi Kak," Ucap gadis berkulit sawo matang dengan rambut tergerai panjang berwarna hitam sedang berdiri menatap Samudra.


"Kenapa dek?" Tanya Raka.


"Itu kak saya mau ngomong sama Kak Samudra," Merasa dipanggil Samudra mendongakkan kepalanya melihat gadis sawo matang itu.


"Duh, banyak banget fans lu Dra. Iri gua," Ucap Raka.


Samudra hanya melirik malas Raka, "Ada apaan nyari gua?"


"Kenapa harus gua?" Samudra menatap tidak suka kepada cewek itu.


Samudra bukanlah orang yang suka dengan keramaian apalagi mengisi acara seminar. Cowok itu tidak terlalu suka dengan acara seperti itu, buang-buang waktu, menurutnya.


"Kita udah diskusiin di BEM kak, karena kakak kuliah sambil kerja di perusahaan. Jadi kayaknya Kakak cocok buat ngisi seminar fakultas." Sebisa mungkin Nissa tidak gugup.


Nissa tahu bahwa Samudra merupakan orang yang kritis, dan akan sangat sulit untuk membujuk orang seperti Samudra ikut didalam acaranya. Tapi karena tidak ada yang berani lagi selain dirinya untuk berhadapan dengan Samudra, Nissa harus memaksimalkan diri untuk meyakinkan Samudra agar dapat ikut di acara edu expo.


"Gua gak mau," Putus Samudra.


"Kinan?" Sapa Raka ketika melihat Kinan sedang berjalan kearah mereka.


Dinul yang kini sedang kejar-kejaran dengan Danang memberhentikan aksi mereka. Danang menjitak Dinul cukup keras, karena kesal Dinul mengembalikan jitakan Dinul. Seperti sampai matahari tenggelam mereka berdua tidak akan menghentikan aksinya.


Samudra melirik gadisnya yang kini sedang menyusuri tangga kebawah menghampiri mereka. Samudra berdiri mengabaikan Nissa yang ada disana, bukankah tadi sudah jelas Samudra menolak ajakan gadis itu?

__ADS_1


Pria cepak itu berjalan menghampiri Kinan sebelum gadisnya sampai. Diliriknya tali sepatu Kinan yang terlepas. Samudra paham betul pasti Kinan tidak akan mmembenarkan tali sepatunya. Sudah hal yang lumrah jika Kinan malas mengikat tali sepatu yang copot. Samudra pernah bertanya mengapa gadis itu berlaku begitu Kinan hanya menjawab dirinya terlalu malas untuk berjongkok hanya untuk mengikat kembali.


Langkah Kinan berhenti kala Samudra berjongkok dihadapannya. Kinan terpaku melihat Samudra yang lansung mengambil alih tali sepatu gadis itu.



"Kamu ngapain ? gak usah diiketin Samudra." Ucap Kinan menyentuh punggung leher Samudra.


Kinan malu melihat Dinul, Danang dan Raka yang kini tengah menatap perempuan itu geli. Astaga pasti mereka akan berpikir hal - hal yang buruk tentang dirinya.


"Kalau tidak diikat nanti kamu jatuh, sayang." balas Samudra sambil mengikat Sampul tali sepatu Kinan dengan santai.


Kinan mmenyelipkan rambutnya yang berjatuhan, "Padahal aku bisa sendiri, tau." ucapnya.


Samudra berdiri menatap Kinan dengan senyum mulusnya.


"Kak setidaknya boleh bagi nomor gak. siapa tau kakak berubah pikiran?" Suara Nissa menginterupsi Kinan dan Samudra.


Kinan yang tidak mengerti hanya melirik Samudra dengan mata berkedip. Samudra melihat Kinan setelah itu beralih menatap Nissa tajam.


"Sekali gua bilang enggak, Tetep enggak." Sinis Samudra lalu menggenggam tangan Kinan ingin pergi dari sana.


"Pake nomor telpon ku aja ya? Nanti kalo Samudra berubah pikiran, aku hubungi kamu." Kinan menyerahkan nomor ponselnya.


Nissa langsung mencatatnya dengan cepat mmemindahkan nomor telpon kakak tingkatnya.


"Makasih,Kak." Ucap Nissa kemudian membungkuk pelan dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua karena Samudra menatapnya sinis.


"Kenapa kamu ka—" belum sempat Samudra protes Kinan sudah menyuruh cowok itu diam dengan mmemotong ucapannya .


"Hari ini jadikan temenin aku ke toko bukunya?" tanya Kinan.


Samudra mengangguk. Kinan langsung merangkul Samudra pergi dari sana setelah izin dengan teman-temannya.


"Duluan ya," Ucap Kinan.


🌿🌿🌿

__ADS_1


TBC



__ADS_2