My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 27


__ADS_3


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Suara deringan lagu justin bieber membuat Samudra menjauh dari posisinya. Samudra menggerutu kesal dan tak sesekali dia mengumpati orang diseberang sana yang mengganggu aktivitasnya.


Ketika ponsel Kinan bergetar dia langsung mendorong Samudra ke tempatnya hingga pria itu menggerutu. Sedangkan kini malah terbalik, dialah yang bersedekap dada cemburu melihat Kinan membalas telpon dari Galih.


"Ya bang Gal, kenapa?" ucap Kinan dengan menggigit bibirnya.


Satu kata, mati, terakhir kali Kinan lupa mengabari Galih abangnya itu marah besar. Kini jika dia yang langsung ditelpon Galih berarti akan ada bencana besar yang datang. Kinan semakin resah di tempatnya kala Galih diam untuk beberapa menit.


"Bagus, Lupakan saja aku jadi abangmu." ucap Galih dengan nada dangdut yang ia tambahkan.


"Eโ€” Kinan lupa ngabarin. Abang kan tahu sendiri aku lagi sibuk skripsi." dalih Kinan ketika dia sudah mulai tahu bahwa Galih akan marah.


Diujung sana Galih sudah berdecak kesal, sebelum dia benar-benar menyumpah serapah adik mungilnya. Galih tahu sekali bahwa keberadaannya di Jepang membuat Kinan lebih leluasa. Sebenarnya oke-oke saja jika Kinan tinggal sendiri, dia tahu adiknya tidak akan macam-macam. Namun bisakah Galih percaya dengan Samudra?


Maaf pemirsa, dia tidak bisa sama sekali. Jiwa keabangannya meronta untu melindungi gadis perawan itu. Memang ikatan saudara itu sangat kuat, bahkan lebih kuat dari sebuah besi yang mudah korosi. Jika tadi Galih tidak menelpon detik itu juga, apa yang akan terjadi dengan Kinan ? Pasti di luar dugaannya.


"Kamu sibuk skripsi atau sibuk dengan Samudra sampai lupa ngabarin abang?"


Kinan cengengesan mendengar pertanyaan itu. Dia tidak mau menjawab karena lebih memilih jalur aman . Jika dia banyak bicara sekarang, Galih pasti langsung pulang bulan ini juga. Dan Kinan terlalu malas jika harus dikekang dua sumo yakni Samudra dan siapa lagi kalau bukan Galih satunya.


"Abang cukup tahu loh kamu sekarang lebih sayang sama Samudra ketimbang Abang, kecewa abang sama kamu Dek." kesal Galih dengan wajahnya yang cemberut.


Lebay banget nih abang gue, ingin rasanya Kinan mengatakan hal itu namun dia tidak bisa ketika Galih bisa saja menghasut papanya untuk tidak memberikan uang jajan bulan ini. Tapi kalo dipikir-pikir nggak papa sih, papanya tidak memberikan uang jajan, toh dia masih ada Samudra sebagai sumber pemasokan uangnya. Huh, tapi memikirkannya membuat Kinan merasa menjadi cewek matre yang haus akan uang.


"Apasih bang, gak usah menggedekan masalah deh. Siapa suruh ke Jepang segala buat lanjutin S2?"


"Ya Abang kan masih mau jadi orang sukses, Nan. Kamu kenapa nggak dukung abang begitu? Kalau abang sukses kan kamu juga yang bangga. Iya kan?." gerutu Galih diujung sana.


"Hmmm," Kinan hanya berdehem memanyunkan bibirnya membuat Samudra menjepitnya dengan tangan cowok itu.


Kinan melotot kala Samudra melakukannya, namun Samudra hanya tersenyum evil dan langsung merebut ponsel gadis itu ketangannya.


"Kamu nggak diapa-apain sama Samudra atlantis itu kan? Nggak di *****-***** kan?" tanya Galih membuat Samudra kesal mendengarnya.

__ADS_1


Jadi selama ini Galih memanggilnya dengan panggilan seperti itu? Kurang ajar pria yang satu itu, namanya Samudra Derya yang artinya lautan Samudra. Mengapa pria itu dengan mudahnya mengganti menjadi altantis.


"Kinan jawab kamu jangan diem aja. Jantung abang setiap hari mau copot kalau mikirin kamu sama dia. Udah abang bilang nggak usah pacaran!" Gerutu Galih.


"Menurut lo?" timpal Samudra mengajak ribut.


"Samudra?"Suara cowok ini tentu saja dikenal Galih. Dia tahu itu pasti Samudra, musuh bebuyutannya yang terpaksa dia terima menjadi calon adik ipar karena Kinan yang memintanya. "Gue peringatin ke Lo jangan sentuh adek gue, seujung kuku pun, nggak boleh." imbuh Galih dengan nada teriak. Dia benar-benar harus mengancam Samudra untuk tidak berbuat hal aneh kepada Kinan.


Samudra tertawa keras, "Emangnya lo bisa apa kalo gue diam-diam ngelakuinnya?"


"Nggak terima ya gue kalo adek kesayangan gue, Kinan, lo *****-***** apalagi sampe buat dia nangis. Lo bakalan berurusan sama gue." Ancam Galih dengan nada sungguh-sungguh.


"Yah, sayangnyaโ€”" Samudra sengaja menggantung ucapannya membuat Galih penasaran di sana.


"Sayangnya apaan?" tembak Galih langsung ke intinya. Samudra semakin tidak bisa menahan senyumnya ketika si bodoh Galih sudah masuk ke perangkapnya.


"Gue udah tidur bareng adek lo," bisik Samudra dengan suara kecilnya tapi masih sanggup di dengar Galih. Samudra langsung mematikan sambungannya setelah mengucap hal ambigu seperti itu membuat Galih mencak-mencak di sana dan menyumpah serapah Samudra.


Kinan masih saja melihat reaksi Samudra yang tersenyum aneh. Dia kebingungan apa yang diobrolkan Samudra bersama Galih tadi.


"Bang Galih ngomong apa?" tanya Kinan ketika Samudra malah memakai kembali seatbelt nya.


Cewek itu mengernyitkan dahinya membuat Samudra mengurungkan kembali untuk mengendarai mobilnya. Dia menatap wajah kekasihnya yang kini di liputi rasa penasaran.


"Mau makan atau langsung pulang sekarang?" tanya Samudra.


"Kamu tadi bilang apaan sama bang Galih, kok abang ngasih emoticon marah?" tanya Kinan lagi ketika tidak mendapat jawaban dari Samudra.


"Aku bilang kita udah tidur bareng," jawab Samudra kemudian cubitan kecil langsung menyengat ujung kulit dermisnya. Membuat Samudra mengaduh sakit, lebih tepatnya berpura-pura kesakitan.


"Hah? Kamu gila ya? Gimana kalo bang Galih ngadu ke mama tentang kita yang aneh-aneh." kesal Kinan ketika Samudra tetap santai saja di posisinya.


"Kita kan cuman tidur doang," dalih Samudra polos membuat Kinan semakin marah ditempatnya.


Kinan yakin cowok itu pasti sengaja mengatakan hal itu kepada Galih agar cowok itu dapat langsung mengikat dirinya lewat hasutan Galih tentu saja. Aduh, gawat jika mamanya tahu, dia kepingin pura-pura pingsan saja lah di tempatnya.


"Menurut kamu kayak gitu, kalo bang Galih nangkepnya bukan itu gimana dong?"

__ADS_1


"Yaudah kita nikah aja langsung," Ucap Samudra dengan santainya. Kelewat santai malah membuat darah Kinan mendidih.


Nikah kan bukan persoalan segampang itu? perlu niat, komitmen, dan mental tentu saja buat menghadapinya. Bagaimana Kinan bisa mengatakan iya ketika dia saja masih berumur dua puluh dua tahun. Dia bahkan masih berencana untuk mengambil gelar magisternya.


"Aku aja belum sidang Skripsi, belum wisuda. Yakali langsung nikah gitu aja!"


Samudra mengangguk-angguk mengerti, "Ooh, jadi kalau kamu udah wisuda kita langsung nikah, gitu?"


"Ya nggak gitu juga kali," tolak Kinan secepatnya.


"Trus?" tanya Samudra lagi sedangkan Kinan bingung ingin menjawab apa ketika Samudra terlihat seperti mengintimidasinya.


"Tunggu bang Galih nikahlah," gumam Kinan.


Samudra tersenyum ketika mendengarnya, apalagi gadis itu mengucapkan dengan pipi yang digembungkan membuat Samudra ingin menggigit pipi gadis itu. Dia mengacak rambut gadisnya membuat Kinan harus merapikan sendiri.



"Kinan," panggil Samudra menatap dalam mata gadisnya.


Kinan menoleh menatap Samudra yang kini sudah memasang mimik serius. Dia menghembuskan napas dalam hampir tiga kali. "Tolong percaya aku apapun yang terjadi, dan jangan pernah berniat pergi dari hidupku." ucapnya.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


TBC


Kinan marah nggak ya kalo tahu Samudra peluk Amara?


Menurut kalian gimana nih?


A. Mereka berantem berdua


B. Biasa aja masalah sepele


C. Kinan minta putus


D. Nggak tahu terserah Author yang cantik aja.

__ADS_1


MOHON MAAP LAMA UPDATE, LAGI SIBUK ๐Ÿ™๐Ÿ™ JANGAN LUPA LIKE NYA. 25 LIKE 10 KOMEN? TRIPLE UPDATE (DI KETIK HARI SABTU) DI REVIEW MANGATOON NYA NGGAK TAHU YA. MAU NGGAK? WKWKWKWK.



__ADS_2