
🌸🌸🌸
Jangan tanyakan perasaan Ayunda kini yang menatap Raka dengan jantung rasa ingin copot. Dia juga tidak menyangka akan menjadi se agresif ini dan meminta Raka menjadi pacarnya. Suara detak itu semakin mengecam kala Raka bukannya menjawab malah mendekatinya sambil berbisik. Ketika suara itu terdengar, Ayunda sudah memosisikan dirinya untuk menerima segalanya.
"Tunggu gue diparkiran," ucapnya.
Bukannya menjawab Raka malah menggantungnya dengan ucapan seperti itu. Ayunda mengangguk pasrah kemudian berjalan dengan tersenyum, kemudian dia meninggalkan lapangan yang membuat Dinul dan Danang terheran-heran.
Raka mendekatkan diri, melangkah menuju Nadhira yang masih saja diam di tempatnya. Dia sudah percaya diri sekali ketika Raka seakan melangkah ke arahnya. Namun harapannya pupus ketika Raka malah memilih Nissa sebagai partner bicaranya.
"Lho, lo yang kemarin kan. Mau ngapain?" Sedikit berbasa-basi namun matanya masih melihat Nadhira yang memilih bungkam.
Ditanya oleh salah satu primadona kampus membuat Nissa agak gelagapan. "Oh, m—mau ketemu kak Kinan," jawabnya pelan.
Raka kemudian mengangguk-angguk lantas menarik tangan Nadhira menggenggam jari-jarinya erat. Membuat sang empu terkejut, dan marah. "Ngapain? lepasin tangan gue!" gerutu Nadhira melepaskan diri dari genggaman Raka.
Raka tidak menjawab pertanyaan Nadhira. "Udah nggak butuh Nadhira kan? Gue bawa cewek gue ya." ucapnya kemudian membawa Nadhira keluar dari sana.
"Gue duluan." Teriak Raka ketika melihat Danang dan Dinul masih saja memperhatikannya.
Kinan sudah ingin beranjak membela Nadhira. Namun langkahnya di halangi Samudra, yang membuat Kinan harus rela untuk tidak ikut campur dalam masalah mereka.
"Tapi, Dra." bantahnya ketika mata Samudra semakin menolaknya untuk berbicara.
Samudra yakin ini saatnya Raka menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan. Dia yakin temannya itu lebih gentlemen dari sekedar yang ia tahu.
"Mau main basket kan?" tanya Samudra sambil mengambil bola basket dari tangan Dinul mendribble nya kemudian memasukkannya ke ring persis seperti yang dilakukan Danang tadi bedanya jarak Samudra lebih jauh sedikit.
Danang dan Dinul lebih memilih untuk duduk di dekat Kinan ketika Samudra malah sudah menguasai lapangan. Sedangkan Nissa malah diam seperti oranh bodoh di sana, Kinan yang menyadari kemudian melambaikan tangannya.
"Ada apa?" tanya Kinan ketika Nissa mengangguk hormat layaknya gaya junior ke arah senior.
"Mau ngabarin acara edu expo nya di gedung graha kak." Kinan mengangguk.
"Oh. Aku tahu kok, ada lagi?" Nissa merasa malu saat Kinan mengatakan dia sudah mengetahuinya. Dia buru-buru menggeleng.
__ADS_1
"Nggak ada, Makasih, Kak." Dia pergi dari hadapan Kinan, tak luput melihat Samudra yang sudah basah akan keringat. Ketampanan Samudra membuat Nissa tidak bisa melepaskan airliur kedalam tubuhnya sendiri.
Cowok itu benar-benar tampan. Hanya saja sayang, dia bukan miliknya. Betapa beruntungnya cewek bernama Kinan itu memiliki pacar nyaris sempurna seperti Samudra
Kinan memperhatikan gerakan lihai Samudra ketika Nissa sudah benar-benar pergi. Samudra memang setampan itu. Keringat yang bercucuran itu membasahi rahang wajahnya.
"Ngeliatinnya ngedip, Nan. Bahaya kalau nggak ngedip," canda Dinul dengan tawa kecilnya menyela pikiran Kinan yang kini tertarik oleh Samudra.
"Jangan bercandain cewek gue." ucap Samudra melemparkan bola basket ke arah Dinul. Untungnya cowok itu langsung sigap mengambilnya.
Kinan tersenyum manis,Dinul meletakkan bola basket di atas paha Danang dan yang melap tubuhnya menggunakan handuk kecil. Sontak bola basket langsung jatuh kebawah, membuat dia mendapatkan satu jitakan dari Danang.
"Ampun baginda Raja," pinta Dinul, mengundang tawa dari Kinan.
"Mau main basket?" tanya Samudra lembut membuat Dinul merasa diabaikan. Kinan memandang Samudra lekat di bawah sinaran lampu. Dia mengangguk, kemudian mencoba memantulkan bola yang tadi diambil oleh Samudra.
Samudra membiarkan Kinan bermain sendiri mencoba memasukkan bola kedalam ring, yang berulang kali gagal. Mata Samudra menatap Dinul dan Danang yang masih bertengger manis duduk di sana, melihat Kinan memainkan bola basket. Samudra tidak suka!
"Lo berdua ngapain masih di sini?" usir Samudra terang-terangan.
"Eh?" ucap Danang dengan bibir sudah tak terbentuk lagi akibat kaget.
"Pergi ke kantin sana," Tusuk Samudra kedua kalinya. Dia betul-betul tak mau berbagi untuk Kinan. Awalnya memang Samudra ingin menghampiri mereka. Namun kala melihat Kinan yang ditonton Dinul dan Danang dia jadi kesal sendiri, dan tidak terima.
"Asatatang, Kita diusir cyin. Mentang-mentang ekye jomblo." ucap Danang mengikuti gaya banci.
"Sakit tapi tidaks berdarah, Pacar lebih penting dari pada aku." timpal Dinul dengan aksen bulenya. Membuat keduanya mengambil tas lalu beranjak dari sana.
"Dasar Samudra bucin," sorak Danang yang membuat Samudra hanya diam dan Kinan melihatnya.
Kinan memberhentikan memantul bola, lalu menghadap Samudra yang menampilkan raut datarnya. Kebingungan, kala Dinul dan Danang sudah pergi menjauh mereka. Heran, tinggal mereka berdua saja yang ada di dalam lapangan in door ini.
"Dinul, Danang kenapa Dra? Kok mereka pergi?" tanya Kinan.
"Menstruasi," ucap Samudra kesal.
Samudra mengambil bola basket yang ada di tangan Kinan lalu melemparnya, dan masuk lagi. Perubahan suasana hati Samudra tidak di mengerti Kinan. Dia ingin tertawa sebenarnya kala Samudra mengatakan menstruasi.
__ADS_1
Namun diurungkan, Kinan mengambil bola yang ada di tangan Samudra kemudian melompat tinggi mencoba memasukkan ke dalam ring. Tapi tidak masuk lagi. Dia memang sedikit payah dengan basket.
"Posisi kamu salah sayang," ucap Samudra akhirnya memosisikan dirinya di belakang Kinan. Dia menyentuh kedua tangan mencontohkannya dengan benar.
"Saat kamu ingin melempar ke ring, fokus kamu jangan ke ring tapi lihat kotak putih yang ada di sana. Sentuh dengan bola, dan bola kamu akan masuk. Tangan kamu harus kuat, posisinya harus betul siap." Samudra kemudian melempar bola basket disana bersama tangan Kinan.
Bola itu tepat mengenai kotak putih, lalu masuk ke dalam ring. Kinan berteriak heboh. "Hah? Wow. masuk!"
"Oh gitu, aku baru tahu." lanjutnya.
Samudra mengusap kepala Kinan tersenyum kecil melihat gadisnya.
"Coba," perintah Samudra, Beberapa kali Kinan mencoba kadang gagal, kadang berhasil. Kinan bergerak menjauh dari posisi nya semula. Mendribble nya kemudian berlari memasukkan bola. Namun bola tidak masuk.
"Dra, gendong dong." pinta Kinan mengambil bola yang tidak masuk, tangannya diulurkannya layaknya anak balita yang minta di gendong ayahnya.
Samudra menuju Kinan menggendong wanita itu agar memasuki bola ring dengan mudah.Dia memegang ring tersebut lalu memasukkan bola dengan kedua tangannya. Kinan tertawa kencang.
"Yey masuk." teriaknya lagi, Kinan berpegangan dibahu Samudra agar tidak jatuh.
Samudra masih menatapnya dalam kala Kinan menunduk kebawah. Kemudian menurunkannya dari gendongan cowok itu, menatap mata itu dengan teduh.
"Kalo kamu jadi bola basket, aku ngga mau jadi pemain yang merebutin kamu," ucap Kinan kala Samudra hanya menatapnya saja.
Alis pria itu terangkat. "Memangnya kenapa?"
Kinan mengehela napas, "aku mau menjadi ring basket aja karena kamu akan datang kepadaku apapun yang terjadi." imbuhnya membuat Samudra yang tersipu malu sekarang.
🌿🌿🌿
TBC
__ADS_1