My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 8


__ADS_3


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Matahari pelan-pelan menghilangkan teriknya yang ditutupi awan. Seorang gadis berhenti di depan gedung kampus ekonomi bisnis depan taman. Nadhira sudah pamit duluan karena ingin menjemput mamanya yang pulang dari turki setelah liburan panjang meninggalkan temannya di sini.


Dia hendak mengetikkan sebuah pesan kepada Samudra agar menjemputnya sekarang. Namun pria dengan kaos Navy menghampirinya dan menepuk pundaknya pelan.


"Hai Kinan? Masih ingat gue kan?"


Merasa di panggil Kinan menoleh melihat sosok itu. Dahinya sedikit berkerut menandakan dia tengah mencoba mengingat -ingat sesuatu, ralat lebih tepatnya, โ€”Dia bingung bercampur rasa kagetโ€”.


"Calvin, Sepupunya Samudra yang kemarin bertemu di toko buku kalau lo lupa." Ucap Calvin mengingatkan.


"Ada apa ya?" tanya Kinan to the point.


"Bisa ngomong sebentar, ini masalah antara Samudra dan gue."


Ragu-ragu Kinan menjawab ajakan Calvin. Di satu sisi dia ingin mengiyakan, Tetapi di sisi lain Kinan takut jika Samudra tahu.


"Maaf tapi aku mau pulang sekarang," tolak Kinan.


"Sebentar aja bahkan tidak sampai lima menit." paksa Calvin.


"Sebenarnya gue mau minta bantuan lo agar Samudra mau ketemu gue. Gue tahu lo bukanlah orang jahat. Jadi, gue mohon!" imbuh Calvin menambahkan.


Jika dia menerima Calvin saat ini perempuan itu takut Samudra akan mengetahuinya. Apalagi sosok Samudra yang membenci jika Kinan berdekatan dengan lawan jenis akan membawa Kinan berada pada sebuah masalah yang rumit.


"Gue tidak akan membiarkan Samudra tahu. Kalau itu yang lo takutkan." Ucap Calvin seakan mengetahui isi kepala Kinan.


Dia memasukkan telepon yang sejak tadi di genggamnya ke dalam tas, mengurungkan niatnya untuk memberi pesan kepada Samudra.


"Kamu bisa ngomong di sini. Kalau tidak mau, aku pergi." Pada akhirnya Kinan menyetujui.


Calvin menghela napas. Kemudian berhendak mengambil tangan Kinan berniat menggenggam tangan wanita itu. Gadis itu menghindar menjauhkan tubuhnya ke belakang. Tetapi gerakan cowok itu sudah di tangkap kamera oleh seseorang yang disuruhnya dengan gaya seolah-olah sedang menyentuh Kinan.


"Gak usah macem-macem sama aku, Calvin. Aku bisa telepon Samudra sekarang." Suara Kinan sedikit bergetar karena takut.


Calvin mendekat memperpendek jaraknya dengan Kinan membuat gadis itu semakin mundur ke belakang.


"Telepon saja, itu yang memang gue tunggu. Adukan sama pacar lo agar dia cepat sampai di sini." Calvin ingin menyentuh rambut Kinan. Lewat siluet matanya Calvin sudah melihat Samudra yang berdiri ta jauh dari Kinan. Sengaja memancing kekesalan cowok itu.


Belum sempat tersentuh rambut hitam Kinan.Sebuah pukulan sudah mendarat di pipi kananya, tak ayal membuat Calvin sedikit meringis kesakitan.

__ADS_1


Seorang cowok yang membelakangi Kinan memukul Calvin terus menerus menyalurkan rasa amarahnya. Entah dia marah karena Kinan yang berinteraksi dengan cowok itu atau karena kejadian pengkhianatan lima tahun yang lalu.


Di bawah sana Calvin sama sekali tidak memukul Samudra balik. Dia hanya diam di pukuli seakan pasrah menerima keadaan. Samudra tampak tidak peduli, cowok itu terus melayangkan bogem mentahnya ke arah Calvin. Matanya sudah memerah menahan amarah dan siap membunuh lawan di bawahnya.


"Samudra?" Kinan tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.


Dinul,Danang, dan Raka tidak bisa membiarkan situasi ini melihat Samudra yang sudah terbakar amarah. Jika dibiarkan Bisa-bisa Samudra menjadi pembunuh dan mendekam di penjara.


"Dra udahan lo bisa bunuh Calvin," Raka menahan tubuh Samudra mencoba menghentikkan agar tidak memukul Calvin kembali yang kini sudah babak belur akibat berdarah di area wajah dekat sudut bibirnya. Pipinya juga sedikit bonyok berwarna kebiruan.


Jika Raka menahan tubuh Samudra, Dinul memegang tangan cowok itu memisahkan mereka berdua lebih tepatnya menahan Samudra untuk tidak memukul kembali.


Kinan yang melihat kejadian itu seketika terdiam. Jantungnya berdetak kencang, baru kali ini dia melihat seseorang berkelahi di depan matanya apalagi cowok itu Samudra.Pacarnya.


Samudra menetralkan emosi disana setelah lepas dari Calvin, sedangkan Calvin masih tertawa keras di sana. Walau sebetulnya tidak ada hal lucu hingga membuat dia tertawa.


"Cuman segini doang yang lo bisa? Katanya altet taekwondo kemana kemampuan lo? udah hilang?" Tantang Calvin sekaligus mengejek. Benar-benar cowok itu masih sanggup berbicara padahal luka sudah bertengger di wajahnya.


"Mulut lo bisa diem gak sih? Lo mau mati sama Samudra?" bukan Samudra yang menjawab melainkan Raka yang kini menatap nyalang Calvin.


Samudra mengabaikan Calvin, berjalan menuju Kinan yang hanya diam di tempat. Mata pria itu menunjukkan aura permusuhan. Samudra kesal karena Kinan terus saja mengabaikan perintahnya.


"Kamu tahu kan aku paling benci sama orang yang berbohong?" Ucap Samudra menusuk Kinan dengan tatapannya.


"Aku kecewa sama kamu Kinan."


"Lo tahu gak gue tadi udah pegang tangan dia. Kasihan deh," Ejek Calvin membuat Samudra terbakar oleh emosi lagi.


"Kita Pulang," putus Samudra mencoba mengabaikan Calvin di sana yang bergumam tidak jelas.


Samudra menggenggam tangan Kinan, ingin membawanya pergi dari situ.


"Kenapa lo gak pukul gue seperti ini lima tahun yang lalu?" teriak Calvin memberhentikan langkah Samudra.


Calvin menatap punggung Samudra. "Lo emang cowok cupu, yang bisanya mengambek seperti anak cewek." ucapnya lagi membuat Samudra terpancing untuk berbalik menatap Calvin.


"Gue bukan cewek, mulut lo bisa diam nggak?" bantah Samudra.


"Vin udah diam, lo bisa buat Samudra ngamuk lagi." Ucap Danang menengahi mereka berdua.


"Nggak, gue gak bisa. Karena si cupu ini sok kuat. Dia tahu semua salah gue, tapi nutup mata seolah-olah gue gak salah."


"Mau lo apa? " tantang Samudra balik.

__ADS_1


"Berhenti nyalahin Amara, cewek itu gak salah dra. Lo bisa pukul gue,"


Samudra mendengus malas mendengar racauan Calvin.


"Nul, lo atlet karate kan? pukul Calvin sampai mati sesuai permintaan dia." perintah Samudra kepada Dinul, lalu pergi begitu saja menggenggam tangan Kinan.


Jangan tanyakan bagaimana perasaan gadis itu. Dia bahkan kebingungan. Kinan bahkan mulai penasaran apa yang terjadi antara Calvin dengan Samudra lima tahun yang lalu.


Samudra membukakan pintu mobil. Kinan masuk begitu juga Samudra masuk setelahnya. Pria itu hanya diam dan menggenggam stir mobil dengan kuat hingga buku-buku jarinya terlihat memerah. Raut wajahnya tegang menampilkan suasana yang tak bersahabat.


Tidak terasa air mata mendadak jatuh dipelupuk matanya. Samudra melirik memberhentikan mobilnya ke samping. Terkejut karena Kinan mendadak menangis.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Samudra.


Kinan menyentuh pipinya yang basah, dia bahkan tidak sadar dirinya menangis. Sebenarnya apa yang dia tangisi. Samudra baik-baik saja, tidak terluka sama sekali. Lantas?


"Sayang, Aku benci di abaikan." ucap Samudra kedua kali kala Kinan hanya diam saja di tempatnya.


Kinan menggeleng, "Aku takut."


"Apa yang kamu takutkan?" ucap Samudra mencoba menetralkan emosinya berusaha melembutkan suaranya.


"Kamu marah karena Calvin tadi. Bukan aku yang mendekati dia Samudra. Dia duluan, aku juga sudah berusaha menghindar agar dia tidak menyentuh aku. Akโ€”" jelas Kinan dengan wajah menunduk takut. entah mengapa dia takut Samudra salah paham.


"Aku memang marah, tapi hari ini aku biarkan. Kamu jangan pernah bertemu dia lagi." perintah Samudra.


Kinan mengangguk, kemudian Samudra menjalankan mobilnya lagi membelah jalanan ibu kota menuju rumah Kinan.


setelah itu tidak ada percakapan apa-apa. hening. Kinan melihat kaca jendela untuk waktu beberapa lama. Sesekali melirik Samudra yang fokus dengan mobilnya.


"Samudra?" panggilnya.


Merasa dipanggil Samudra menoleh ke Kinan. "Kenapa?"


"Siapa itu Amara?" tanyanya pelan.


Samudra tidak langsung menjawab. "Bukan urusan kamu," ucap Samudra akhirnya membuat Kinan diam di tempat. Karena cowok itu mendadak merubah raut wajahnya.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


TBC


__ADS_1


VOTE nya dulu yuk sama komennya ๐Ÿ˜„


__ADS_2