My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 17


__ADS_3


🌸🌸🌸


Seorang gadis duduk bersama pacarnya di sofa ruang tengah rumahnya dengan kepala menunduk. Gadis bernama Kinan itu terlalu takut untuk melihat Samudra yang sudah bersedekap dada, siap untuk menginterogasinya selama beberapa menit ke depan.


Kinan mungkin tidak akan segugup ini jika sang mama tak mengatakan tentang dirinya yang pernah menyukai Arga waktu dulu.Bagaimana dia akan siap menerima amukan Samudra. Terakhir kali gara-gara teman SMA meminta nomor telpon saja Samudra marah besar hingga membanting semua yang ada di kamarnya. Tidak lucu kan jika Kinan harus ikut dibanting juga oleh Samudra saat ini.


"Jelaskan!" Kinan pikir Samudra akan bertanya lebih dalam tentang Arga.


"Aku memang sempat menyukai Bang Arga, Tapi itu dulu saat masih SMA." Kinan menatap Samudra sesekali kemudian menundukkan kepalanya lagi.


Melihat reaksi Samudra yang masih diam, Kinan tahu Samudra ingin dia mmemberikan informasi yang lebih dalam lagi tentang Arga.


"Bang Galih sibuk dengan skripsinya waktu itu, jadi terkadang Bang Arga yang menemaniku belajar untuk menghadapi Ujian Nasional. Karena aku merasa ada yang menggantikan sosok Bang Galih, Aku jadi nyaman dengan Bang Arga." Ucap Kinan dengan nada tersendat, namun masih bisa menetralkan dirinya.


Samudra semakin kesal mendengar ucapan Kinan walau ia ingin tahu. Mendengar Kinan yang nyaman dengan orang lain, rasanya Samudra ingin membunuh Arga detik itu juga.


"Terus kamu masih suka sama dia?" tuding Samudra membuat Kinan tidak suka di sudutkan. Samudra pasti akan marah beberapa detik kemudian jika Kinan tidak menggeleng dengan cepat.


"Nggak suka lagi, Dra. Waktu itu cuman cinta monyet doang," dalih Kinan matanya enggan Melihat Samudra.


Samudra mencoba mencari celah kebohongan dari mata Kinan namun dia sama sekali tidak menemukannya, untuk hari ini mungkin Samudra dapat bernapas lega, tapi jika Kinan berdekatan dengan Arga sekali lagi mungkin jangan tanyakan nasib Arga ke depannya. Samudra sudah pasti menghabisi laki-laki itu.


"Tatap mata aku kalau kamu sedang berbicara sama aku, sayang." Desis Samudra meninggalkan aura menyeramkan disana walau kata sayang masih terpaut dari ucapannya.


Sudah sangat sering Samudra mengingatkan Kinan bahwa dia benci diabaikan, selain itu beberapa peringatan kecil dari Samudra juga sering Kinan abaikan membuat Samudra tidak bisa menahan kekesalannya. Dilain sisi, suasana seperti ini terkadang menguras emosi Kinan. Dia menyukai Samudra di saat tertentu. Terkadang Samudra bisa berubah sangat manis dalam beberapa waktu, namun bisa juga berubah sangat kejam jika ada sesuatu yang mengusik batinnya. Samudra akan marah dan mencurigainya berlebihan yang membuat Kinan di saat sepert itu tidak tahan untuk pergi dari Samudra.


"Kamu tahu kan aku suka wanita penurut? Aku nggak suka kamu dekat dengan pria lain, sayang." Titah Samudra dengan setiap penekanan bak semua yang di ucapakannya harus di dengarkan Kinan.


Samudra sangat Posesif. Itu dalam benak Kinan. Jika Samudra suka mengekang berbanding terbalik dengan Kinan yang tidak suka di kekang. Dia benci jika Samudra harus membatasi pergaulannya.

__ADS_1


"Tapi bang Arga cuman nganterin aku pulang saja, Samudra, aku nggak ngapa-ngapain!" tegas Kinan, mendadak dia tidak bisa mengontrol emosinya mendengar penuturan Samudra yang seolah menuduhnya.


Dia hanya diantar Arga pulang satu kali, memangnya dia harus di marahi karena hal itu? Dia tahu dirinya milik Samudra, tetapi apa harus Kinan membatasi diri hanya karena Samudra yang cemburu tingkat akut. Terlebih itu bukan pria lain, Arga adalah teman abangnya dulu yang sering main ke rumahnya, bahkan dia jauh lebih dekat dengan Kinan sebenarnya dari pada Samudra.


"Jadi kamu belain dia ? Iya? Sialan Arga." Bentak Samudra.


Bagian mana dari ucapan Kinan yang membela Arga, dia sama sekali tidak membela Arga namun Samudra yang berada dalam mode cemburunya membuat cowok itu malah menafsirkan banyak hal lain sekarang. Kinan terlalu letih untuk membalas bentakan Samudra dia tidak mengiyakan dan juga tidak menyanggah apa yang dikatakan Samudra. Diamnya Kinan mengakibatkan Samudra semakin menggeram kesal.


"Apa aku harus patahin kaki kamu Kinan, agar kamu terus bergantung sama aku dan nggak pergi sama cowok lain?" Samudra menekuk wajahnya menampilkan aura serius membuat Kinan ketakutan dengan rencana cowok itu.


"Kamu gila?" Kinan balik membentak Samudra yang kini memaku dirinya dengan tawa kecil yang menyeramkan.


"Aku memang gila karena mencintai kamu! Aku nahan diri untuk nggak mukul Arga sialan itu, karena aku tahu kamu benci kalau aku berantem. Tapi Aku nggak bisa nahan itu, Kinan." Suara Samudra berapi-api ada sorot kesedihan dalam matanya.


Jika tadi dia tidak ingat Kinan ketakutan saat dia memukul Calvin waktu itu. Samudra pasti sudah langsung menerjang Arga, memukulnya hingga cowok itu tidak bisa bernapas. Namun, Samudra tahu pasti seandainya dia memukul Arga, Kinan pasti akan membencinya.


Dia melampiaskan kekesalannya lewat kepalan tangan yang membuat telapaknya memerah, Samudra hanya diam, agar rasa emosinya dapat dia netralkan. Mungkin dia bisa tidak semarah ini kalau-kalau Miranda tidak berkata Kinan pernah menyukai Arga.


Mendengar kata-kata Samudra membuat Kinan tersentuh, layaknya ABG —anak baru gede, yang baper tingkat dewa hanya dengan kata-kata. Salahkan hatinya yang begitu mudah tersentuh oleh kata-kata. Pada akhirnya, Kinan mendekatkan dirinya ke arah Samudra, dia sedih melihat Samudra yang seperti itu, tangannya menyentuh kedua pipi cowok itu menyalurkan rasa percaya pada Samudra.



"Gimana bisa aku pergi dari hidup kamu? Kalau kamu seposesif ini sama aku, Samudra." gerutu Kinan dengan sedikit ejekannya.


Tak berapa lama Kinan tersenyum, pelan-pelan Samudra dapat menetralkan emosinya. Dalam setiap hubungan beradu cekcok adalah hal yang biasa. Bagaimana sikap kita menghadapinya itulah poin penting dari segalanya. Mungkin Kinan bisa saja membentak Samudra kembali, namun ketika amarah dibalas dengan rasa amarah yang sama perkara mereka tidak akan pernah selesai. Mungkin saat ini Kinan harus menjadi air yang memadamkan api dalam diri Samudra. Setidaknya mengalah tidak akan membuat dirinya malu.


"Tapi aku masih marah sama kamu," Cibir Samudra.


Kinan memberanikan diri untuk mempertemukan bibir mereka. Dia gugup sekali, ketika napas Samudra beradu dengan aroma mint milik nya. Dengan gerakan cepat, Kinan menempelkan bibirnya selama dua detik kemudian melepasnya. Membuat Samudra berjengit kaget.


__ADS_1


Setelah melakukannya Kinan malah merasa bodoh sendiri."U—udah nggak ma—marah kan? Aku ma—mau masak dulu ke dapur." ucap Kinan kemudian dia melesat pergi secepat kilat menuju kamarnya bukan ke area dapur.


Samudra terkekeh geli, dia menyentuh bibirnya sedangkan matanya tak lepas dari pergerakan Kinan yang kini mendaki undakan tangga dengan terburu-buru. Rasanya dia ingin marah setiap saat kalau seperti ini caranya.


🌿🌿🌿


TBC



**Jangan lupa vote dan komen ya. Terus ada yang mau disampein nggak buat


Samudra


Kinan


Amara


Calvin


Rakha


Nadhira


Sikembar Dinul sama Danang?


atau Arga?


YUK KOMEN DIBAW**AH 👇👇


**salam,

__ADS_1


Melni pacar kw nya Samudra**.


__ADS_2