
πΈπΈπΈ
Kinan duduk dibangku halte yang kini menjadi tempatnya berlindung dari guyuran air yang turun. Hujan semakin lebat ketika suara riaknya semakin berisik. Sebuah mobil putih keluaran terbaru berhenti di hadapan Kinan.
Seorang pria turun dari sana dengan keadaan basah kuyup. Air perlahan turun dari rambutnya, baju putihnya juga ikut basah mencetak kotak segi enam yang membuat Kinan meneguk ludahnya. Bukannya menyapa Kinan, cowok itu langsung bersandar di dada gadisnya. Kedua tangannya merelung erat perut Kinan, dan membenamkan kepalanya ke dalam celah leher yang membuatnya nyaman.
"Samudra, kamu hujan-hujanan? Kenapa basah kuyup?" Tanya Kinan ketika wajah merah Samudra menatap matanya.
Samudra sama sekali tidak ingin melepaskan relungan tangannya dari pinggang Kinan. Cowok itu menggeleng sebagai tanda jawaban darinya.
Baju basah Samudra membuat pakaiannya ikut basah. Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria yang tengah memeluknya kini? Cowok itu semakin memeluk erat Kinan, dia seakan tidak ingin melepas gadisnya.
"Dra, baju kamu basah, harus banget nempel-nempel kayak gini, bajuku ikut basah lho ini."Gerutu Kinan ketika Samudra terus saja menempel pada gadis itu.
"Sayang, pusing." Desah Samudra dengan nada manjanya.
"Kok pusing, kamu demam?" Kinan refleks menempelkan punggung tangannya ke dahi Samudra setelah itu gantian ke dahinya. Merasakan suhu normal yang sebenarnya. "Bawa baju ganti nggak di mobil?" tanya Kinan.
Samudra mengangguk. "Yaudah, ganti baju dulu yuk. Nanti kamu masuk angin lagi." Ucap Kinan hendak melepaskan relungan tangan Samudra.
"Nggak mau, masih mau peluk kamu. Kamu kenapa lama banget bimbingannya?" Samudra semakin memperdalam kepalanya di ceruk leher gadis itu. Jika tadi perasaannya kacau kini rasanya dia lega setelah mengatakan hal itu pada Amara.
Samudra memang sempat menjadikan Amara sebagai pusat dunianya dulu. Namun sekarang tidak lagi, dia sama sekali tidak ingin melelaskan Kinan. Perasaaan yang dimiliki Samudra untuk gadis ini begitu besar.
"Emang lama ya? Aku ngerasa ini yang paling cepet malah." waktu terasa begitu sempit karena dia senang pak Edy sebentar lagi mengapproval skripsinya. Artinya, dia akan semakin cepat untuk menuju gedung wisudanya.
"Lama, aku kangen." Ucap Samudra.
Kinan bergidik ngeri, tumben sekali cowok dihadapannya ini bertingkah kelewat manja seperti ini.
"Kamu kenapa jadi manja banget gini?" heran Kinan membenarkan tatanan rambut Samudra. "Lepas ya, ganti baju di mobil abis itu pulang." imbuh Kinan.
"Yaudah kalo gitu cium aku dulu," pinta Samudra menjahilinya.
Pertanyaan santai Samudra membuat Kinan gugup, dia melirik kiri dan kanan memastikan. Syukurlah tidak ada orang yang berlalu lalang, kalaupun ada masih jauh dari tempat mereka berdiri.
__ADS_1
Cowok mengapa bisa begitu mudah mengatakan yang dia inginkan? membuat Kinan mendesah karena Samudra yang kadang tidak tahu tempat untuk meminta hal-hal yang aneh-aneh.
"Nggak mau," tolak Kinan membekap mulutnya membuat Samudra terkekeh geli.
Jika Kinan mengatakan iya, sebuah keajaiban tentunya untuk Samudra.Rasanya begitu tidak mungkin jika Kinan menerima permintaannya tadi. Kinan adalah orang yang menjunjung tinggi harga diri tak heran, jika Samudra selalu di nomor duakan untuk segala prioritasnya.
Kadang Samudra berpikir Kinan tidak menyukainya. Empat tahun mereka berpacaran sama sekali Kinan tidak pernah mengucapkan kata cinta dari bibirnya.
"Kalau nggak mau, berarti biarin kayak gini aja seharian,"keluh Samudra menarik Kinan ke dadanya menumpukan dagunya ke atas kepala gadis itu.
"Dra lepas, baju kamu basah." gerutu Kinan, kini jadi dia yang terlihat seakan-akan memeluk Samudra. Cowok itu hanya diam, dia tidak membalas ucapan Kinan. Samudra sibuk memikirkan yang terjadi hari ini. Bertemu Amara setelah empat tahun semenjak kejadian itu. Samudra semakin meresapi perasaannya.
Dia bahkan mencoba membandingkan, Ketika dirinya memeluk Amara hanya ada rasa kasihan yang timbul. Namun saat Kinan yang berada dalam relung tubuhnya, mengapa dia merasakan kenyamanan? Mungkinkah ini yang dinamakan benar-benar jatuh cinta?
Kinan terus menarik baju Samudra, menyuruh cowok itu melepaskannya. Tapi Samudra malah mempererat pelukan mereka, hingga keduanya diam untuk beberapa detik.
"Kinan," panggil Samudra.
"Kenapa?"Kinan mendongakkan kepalanya menatap cowok itu. Bola matanya yang hitam pekat seakan menenggelamkan Samudra.
"Kamu hari ini cantik banget," puji Samudra.
Samudra kesambet setankah? kenapa dia menjadi aneh begini? Kinan melongo mendengar ucapan Samudra yang mau tak mau membuat pipinya bersemu merah.
Samudra menyentil ujung hidung Kinan, "Maksud kamu aku juga cantik gitu?" sewot Samudra memanyunkan bibirnya.
Melihat wajah Samudra yang seakan tidak terima dikatakan cantik mengundang tawa dari Kinan. Sudah lama dia tidak bercanda seperti ini dengan pria dihadapannya. Biasanya Samudra pasti akan bertingkah serius dan selalu posesif jika menyangkut apapun tentang Kinan.
"Bercanda, kamu paling ganteng se jagat bumi." ucap Kinan dengan menggunakan bahasa hiperbolanya dan memberikan dua jempolnya.
Samudra mengacak rambut gadis itu gemas. Dia menempelkan bibirnya dengan bibir gadis itu tiba-tiba. "Aku sayang kamu." singkat, pendek, jelas. Namun bisa membuat jantung Kinan bergetar mendengarnya.
Bukannya tersipu, Kinan malah mencubit Samudra membuat cowok itu meringis. "Kok kamu cium aku sih? kamu ngambil kesempatan dalam kesempitan ya,"
"Aku kan lagi pusing." bela Samudra memanfaatkan penyakit pusingnya untuk membela diri.
"Hah, terus apa hubungannya? emangnya aku bisa ngilangin pusing kamu?" gerutu Kinan tidak terima.
Samudra tertunduk kalem dia tidak berani menatap Kinan yang kini mencak-mencak dihadapannya siap menerkam Samudra karena berlaku sembarangan. Lah abis Samudra refleks melihat bibir pink gadisnya.
__ADS_1
"Itu obatnya biar nggak tambah pusing," gumam Samudra dengan suara yang masih bisa di dengar Kinan.
"Idih, teori dari mana kayak gitu? Kalau kamu pusing kita ke dokter sekarang!" seru Kinan.
Samudra bergidik ngeri kala Kinan menyuruhnya ke dokter. Jujur saja pria itu benci untuk berhubungan dengan rumah sakit. Apalagi dengan jarum suntik, dia lebih baik menahan pusing berjam-jam saja dari pada bertemu dengan si manis tajam itu.
"Ayo," Kinan sudah bersiap menarik tangan Samudra.
"Aku udah sembuh," tolak Samudra kemudian masuk ke dalam mobil lari dari hadapan Kinan.
Kinan melihatnya geleng-geleng kepala, dia menyusul Samudra masuk kedalam mobil. Pria itu dengan cepat mengganti bajunya yang basah. Sedangkan Kinan memperhatikannya dengan bersedekap dada.
"Kamu nggak ada bedanya sama keponakkanku yang umurnya lima tahun. Takut ketemu jarum suntik." Ejek Kinan ketika Samudra sudah siap mengendarai mobilnya menjauh dari sana.
"Hmm, cupu." Kinan semakin menyudutkan Samudra.
Mendengar ucapan Kinan, Samudra membuka kembali seatbeltnya yang sudah terpasang mendekatkan dirinya kehadapan Kinan membuat gadis itu menahan napas.
"Kamu mau ngapain?" tanya Kinan ketika wajah Samudra semakin dekat darinya.
Cowok itu masih sama mendekatkan wajah mereka, bibir Samudra hampir mengenai bibir lembut itu lagi. Kinan buru-buru menutup matanya. Hembusan angin yang ditiup Samudra membuat Kinan membuka matanya kembali. Cowok itu sengaja meniup wajah gadisnya.
"Kamu mau tahu perbedaannya? aku bisa buat kamu mengandung anakku sekarang sayang. Sedangkan ponakan kecilmu itu nggak akan bisa." Gerutu Samudra.
πΏπΏπΏ
TBC
**MENURUT KALIAN APA YANG BAKAL KINAN LAKUIN KALO KETEMU AMARA NIH?
COBA KOMEN KALIAN MAU KISAH SAMUDRA SAMPAI BERAPA CHAPTER?
A. 40-60
B. 60-80
C. 80-120
__ADS_1
D. LEBIH DARI 120
E. TAMATIN AJA SEKARANG DI CHAPTER 30**.