My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 29


__ADS_3


🌸🌸🌸


"Amara nggak mau minum obatnya. Bunda nggak bisa maksa Amara." Marahnya melempar semua makanan yang ada di rak.


Emosi Amara kini kurang stabil setelah bertemu dengan Samudra, dia benar-benar benci ketika mengetahui perasaan lelaki itu bukan untuknya. Dia tidak mau itu terjadi, namun dia sudah tahu itu akan terjadi. Tapi dirinya sama sekali tidak bisa melakukan apapun.


Semua suster membereskan barang yang beberapa sudah menjadi pecahan kaca. "Siapa yang ngajarin anak Bunda jadi pembangkang seperti ini?" balasnya sengit.


Dia sama sekali tidak terpikir bahwa anaknya akan tumbuh menjadi seorang pembangkang seperti ini. Dahinya berkerut membuat sang empu yang ditatap langsung mengalihkan tatapannya. Amara tidak mau menatap mata sang bunda.


"Kamu harus minum obat kalau nggak mau terus sakit kayak gini. Memangnya Kamu nggak mau sembuh?" tanya bundanya.


Amara menggeleng kuat dia benar-benar kesal lantas membuang barang-barang lagi di tempatnya.


"Keluar, Bunda, semuanya keluar." teriaknya.


Untuk apa dia harus sembuh? Dia hanya manusia tidak berguna di muka bumi ini. Berpenyakitan. Sehingga membuat kedua orang tuanya setial hari harus mengeluarkan uang untuk membayar biaya rumah sakit. Toh kalau dia mati, bukannya itu menguntungkan. Tidak akan ada lagi biaya rumah sakit kedepannya membuat Amara tertawa getir. Bahkan Samudra juga sudah tidak mempedulikannya. Jadi buat apa dia harus hidup?


Diujung pintu Calvin melihat kejadian itu, namun dia sama sekali tidak bisa mendekati ranjang Amara setelah kejadian dua minggu yang lalu. Amaranya marah besar, dia benar-benar membenci Calvin karena telah membawa gadis itu ke hadapan Samudra.


Calvin keluar dari kamar itu, duduk di kursi penunggu pasien. Dia benar-benar bingung bagaimana harus meminta maaf kali ini. Semua masalah yang coba dia selesaikan selalu berakhir gagal, dan masalah kecil itu malah menjadi besar. Dia memang terlalu bodoh menjadi seorang pria. Kedua tangannya disapukan ke wajahnya layaknya seorang yang frustasi.


Suara sepatu yang beradu dengan lantai membuat Calvin bisa mendengar bahwa Samudra sudah datang ke tempat ini. Cowok itu berdiri tidak jauh darinya.


"Gue sama sekali nggak percaya dengan ancaman kayak gitu, lo bisa dateng ke sini." Calvin mendengus geli menatap Samudra.


Sedangkan yang ditatap hanya memutar mata malas melihat kelakuan pria dihadapannya. Kalau tidak ingat ini adalah rumah sakit, dia tidak akan membiarkan mulut lelaki itu tersenyum sekalipun. Karena Samudra membenci pria dihadapannya.


"Semua yang berhubungan dengan Kinan adalah prioritas gue." balas Samudra memmbuat Calvin menggeram marah mendengarnya namun pelan-pelan langsung dia samarkan menjadi ucapan mengejek.


"Masa sih? Gue yakin hari ini lo pasti berbohong ke Kinan tentang kedatangan lo ke sini."


Kepalan ditangan Samudra semakin mengerat. Buku-buku jarinya memerah menahan emosi yang siap meletup kapan saja jika Calvin terus memancingnya seperti ini.


"Itu bukan urusan lo! Gue peringatin ke lo Vin, Tutup mulut lo sebelum gua benar-benar nggak peduli sama gadis lo sedikitpun." gertak Samudra membuat Calvin teringat tentang Amara setelahnya.


Suara pecahan kaca terdengar lagi membuat keduanya tersentak. Samudra yang berdiri di sana langsung membuka pintu mengabaikan Calvin yang tak menjawab ucapannya sama sekali. Di sana sepasang mata hazel itu membulat besar terkejut melihat Samudra.


"A—Ama—ra bilang keluar, Bun. Aku nggak mau minum obat." teriaknya lagi membuat Bundanya kewalahan hingga mereka semua yang berada di ruangan itu harus terpaksa keluar dari sana.


Bundanya menangis melihat kelakuan Amara, membuat wanita paruh baya itu tidak menyadari kehadiran Samudra. Pria itu melihat wanita paruh baya yang dikenalnya kini bertompang dada ke arah suaminya.

__ADS_1


"Buat apa kamu kesini lagi?" teriakan Amara membuat Samudra menyadari bahwa dirinya harus bertemu dengan gadis di hadapannya.


Samudra memungut pecahan vas bunga kaca tersebut ke atas meja, mengabaikan ucapan Amara.


"Ngapain kamu kesini, Samudra? Aku nggak butuh rasa kasihan kamu. Pergi!" teriak Amara menunduk tak berani melihat sepasang bola mata hitam itu.


"Minum obatnya, nggak usah bertingkah seperti anak kecil, Amara." tegas Samudra menyerahkan obat beserta minum yang masih utuh di sana.


"Tahu apa kamu tentang aku? mengatakan tingkahku seperti anak kecil. Kamu yang bertindak kekanak-kanakkan Samudra. Kamu mengasingkan aku layaknya aku virus. Kamu bahkan nggak membiarkan aku menjelaskan semua yang terjadi saat itu." tantang Amara ketika ucapan Samudra menyulut emosinya.


Samudra hanya diam ketika gadis itu melampiaskan emosinya ke dadanya. Menangis kembali di hadapannya membuat Samudra harus tahan banting dengan air mata Amara kali ini.


"Kam—u Egois!" teriak Amara membuat Samudra hanya diam saja lagi untuk kesekian kali.


"Keluarkan semua amarah kamu, sebelum aku membalasnya." balas Samudra.


Amara menyusut ketika mendengar suara seksi pria itu. Dia seketika diam dan menghentikan tangisnya membuat Samudra mengartikan ini saatnya lah pria itu membalas ucapan gadis di depannya.


"Kamu butuh penjelasan dari aku, kenapa aku nggak menemui kamu Amara selama empat tahun belakangan ini?" tanya Samudra.


Pertanyaan ini merupakan awal dimana Samudra akan memperjelas semuanya. Dia benar-benar tidak bisa membiarkan Amara berada di sebuah harapan. Dia tidak ingin kelakuannya disalah artikan gadis itu.


Anggukan Amara membuat Samudra membuka mulutnya.


"Tapi kejadian itu hanyalah salah paham, aku nggak— maksudku Kami tidak sengaja melakukannya. Calvin mabuk waktu itu." jelas Amara mencoba membuat Samudra mengerti.


"Penghianatan tetap saja nggak bisa aku terima. Walau kalian nggak sengaja sekalipun. Aku maafin kamu, tapi nggak mencintai kamu seperti dulu." Ucap Samudra seiring dengan jatuhnya air mata Amara.


Dengan terpaksa pria itu harus menghapus air mata yang jatuh di pipi Amara. "Belajarlah mencintai Calvin, karena dia sayang kamu dengan tulus."


Gerakan Samudra membuat Amara diam di tempatnya ditambah dengan ucapan lelaki itu membuat Amara tidak bisa berkutik. Samudra mengambil kembali obat di sana kemudian menyerahkan kepada gadis dihadapannya.


"Minum obat kamu, dan setelah itu pergi tidur. Aku harus pulang." ucap Samudra melepaskan diri dari Amara. Pria itu ingin pergi setelah menyerahkan minuman itu ke arahnya. namun lengannya dicegah oleh Amara.


"Jangan pergi,Dra. Temani aku sebentar saja sampai aku tidur." ucap Amara melunakkan emosinya.


Gadis itu sepakat dengan Samudra untuk meminum obatnya kali ini. Namun dia meminta untuk Samudra tidak meninggalkannya. Amara memandang dengan gaya memohon yang pada akhirnya Samudra setujui.


"Baik, minum obat kamu, setelah itu tidur." ucapnya.


Samudra duduk di tepi ranjang Amara menatap gadis itu meminum obatnya. Setelah itu Amara pura-pura tertidur di kamarnya. Sedang Samudra hanya memperhatikan saja hingga gadis itu benar-benar tertidur.


lima jam berlalu dengan hari yang semakin berlarut, mereka berada didalam ruangan tersebut. Siapa yang menyangka Samudra malah ikut tertidur juga di ranjang bersama dengan Amara.

__ADS_1


Suara gemercikan hujan dengan petir yang saling beradu membuat Amara terusik dengan ketenangannya. Dia terbangun dan melihat jam yang kini menunjukkan pukul sepuluh malam.


Amara melihat ke samping ranjang seorang pria tidur dengan nyamannya disana. Samudra tertidur seperti bayi besar membuat Amara tersenyum. Dia sama sekali tidak bisa percaya. Ini seperti mimpi melihat Samudra kembali tidur di sampingnya, walau tidak benar-benar disamping seperti dulu.


Melihat sebuah kesempatan Amara mendekatkan wajahnya berniat buruk untuk memanfaatkan keadaan Samudra yang tertidur. Bibirnya bahkan sangat dekat dengan pipi pria itu. Jantungnya dag-dig dug dia ketakutan melakukannya. Amara menghembuskan napasnya pelan-pelan takut mengganggu Samudra.


Namun suara petir dan bunyi notifikasi ponsel yang kencang menggagalkan rencananya. Amara merasa malu sekali, dia seperti wanita murahan saja berniat mencium pipi laki-laki itu saat pria itu tidak sadar.


Amara melihat notifikasi ponsel Samudra diatas nakas. Namun dia tidak bisa membukanya ketika tahu ponsel pria itu terkunci. Amara mencoba semua kemungkinan kunci mulai dari nama pria itu hingga ke tanggal jadian mereka. Namun hasilnya nihil.


Tetapi matanya melihat tangan Samudra dengan tingkat kecerdasaan yang melebihi batas. Amara menggunakan sidik jari Samudra untuk membuka kuncinya pelan-pelan.


Kinan : Dra, aku takut banyak petir di sini. Nggak bisa tidur. Dirumah nggak ada orang sama sekali. Aku takut. 😭


(10.12 P.M)


Mata amara mengernyit melihat pesan itu. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah gadis itu yang kini mengisi ruang hati Samudra. Suatu rencana jahat masuk kedalam pikirannya. Tanpa disadari gadis itu mengambil potret dirinya dengan Samudra. Dia menautkan jemarinya kepada Samudra dengan posisi yang mungkin saja akan membuat Kinan salah paham.



Setelah mengirimkannya Amara kemudian mematikan ponsel Samudra, dia kembali tidur dengan posisi kedua tangan mereka bertautan. Apa yang terjadi besok? dia tidak peduli, bahkan Amara berharap Kinan akan memutuskan Samudra besok.


🌿🌿🌿


TBC



**SIAPA YANG MAU HUJAT AMARA? SILAHKAN DIHUJAT DIBAWAH.


SIAPA YANG MAU HUJAT SAMUDRA? SILAHKAN DIHUJAT JUGA.


GIMANA KIRA-KIRA REAKSI KINAN?


A. BIASA AJA


B. MARAH BESAR, TRUS MINTA PUTUS


C. NAMPAR SAMUDRA


D. BENCI SAMUDRA AJA ABIS ITU BAIKAN


E. JAWAB SENDIRI SUKA-SUKA KALIAN**.

__ADS_1


__ADS_2