My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 24


__ADS_3


🌿🌿🌿


Samudra keluar dari gedung Graha dengan kaki panjangnya. Handphonenya bergetar, sebuah pesan masuk dari gadis yang ditunggu-tunggu pria jangkung itu. Sebelum ia melakukan seminarnya, dia sempat mengirimi pesan kepada Kinan. Cewek itu malah tidak datang ke gedung Graha untuk menemaninya. Bukan karena tidak mau, acara edu expo campus begitu tabrakan dengan jadwal pak Edy yang sedang kosong.


Pria itu sempat marah kepada Kinan lantaran dirinya harus pergi sendiri ke tempat ini. Terlebih lagi Kinan seakan menunjukkan bahwa Edy lebih penting daripadanya. Namun tadi malam lewat telpon Kinan berusaha menjelaskan, bahwa Pak Edy akan keluar kota tiga hari ke depan. Jadi Kinan terpaksa harus ikut bimbingan terlebih dahulu baru menemui Samudra.


Kinan : Aku selesai bimbingan sore mungkin, Nanti kamu jemput aku di gedung fakultas?


Samudra mendengus malas membaca jawaban Kinan. Dia mengetikkan balasan sambil berjalan menuju cafe di depan Graha.


Samudra : Iya.


Dia mematikan ponselnya, namun suara notifikasi itu berbunyi lagi namun bukan dari gadis itu melainkan room chatnya bersama ketiga sahabatnya. Samudra membuka pesan.


Dinul : Oi


(12. 20 p.m)


Dinul : Kok sepi sih


(12. 25 p.m)


Raka : Ha?


(12.25 p.m)


Dinul : @Raka Mana aja lo Ka?


(12.26 p.m)


Raka : Sibuk masa depan


(12.26 p.m)


Dinul : Sok sibuk bngst.


(12.26 p.m)


Danang : Wkwk, masa depan bersama pacar baru.


(12.26 p.m)


Raka : Jelas, gak kek kamu jomblo bau tanah.


Danang : JARI TENGAH 🖕


Dinul : Hah? lo jadian sama siapa Ka? Nadhira? eh jangan-jangan Ayunda lagi.


(12.27 p.m)


Danang : @Raka @Raka @Raka.


(12.27 p.m)


Raka : Ayunda


(12.27 p.m)


Danang : Sudah kudunggga. Peje lah, traktir cafe depan graha.


(12.28 p.m)


Dinul : Mantap, Kuy lah.


(12. 28 p.m)


Raka : Pala kao mantap.


(12.28 p.m)


Dinul : Jahat kali mulut abang ni, tak lempar ke neraka ya.


(12.28 p.m)


Raka : Gua lempar balik. Kelar.


(12.29 p.m)


Samudra : .


(12.29 p.m)


Danang : ?


(12.29 p.m)


Samudra : Peje bngst @Raka

__ADS_1


(12.29 p.m)


Dinul : wkwkwk, Kok ngegas, Bebih Samudra nggak boleh kasar. Kakak Dinul nggak suka ya.


(12.30 p.m)


Danang : @Raka Dengan ini kami meminta jatah #Demoforourlife


Raka : Keroyokan. YODAH GECE, MAKAN LEBIH DARI LIMA PULUH RIBU USUS LU GUA JUAL!


(12.30 p.m)


Samudra : Ok.


(12.30 p.m)


Dinul : Otw dari kamar mandi sayang :*


(12.31 p.m)


Danang : Ahsiaaaaaap Komandan 👮‍♂️


(12.32 P.m)


Ruangan chat itu di keluarkan Samudra sebelum mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam kantong celananya. Otaknya dengan cepat mengirimkan impuls lewat dendrit agar dapat melangkahkan kakinya.


Tiga buah pintu kaca menghiasi awal design interior cafe ini, penataannya dengan kayu putih membuatnya sedikit unik. Mata Samudra langsung di manjakan olehnya.



Dia hendak masuk ke dalam Cafe namun cowok itu mengurungkannya. Melihat suasana cafe yang ramai membuat Samudra malas untuk masuk ke dalam, tak begitu heran keadaannya lumayan ramai. Mungkin karena hari ini adalah acara edu expo tersebut, membuat Howine cafe ini terlihat sesak dan penuh. Pada akhirnya Samudra memilih untuk duduk di kursi depan halaman yang tersedia.


"Mau pesan apa kak?" Seorang pelayan menghampiri Samudra yang langsung di balas tatapannya oleh laki-laki itu.


"Croissant dan Americano," Ucapnya singkat.


Pelayan itu mengangguk ketika mendengarnya. "Ada lagi, kak?"


Samudra berpikir sebentar kemudian menggeleng. Seorang cowok langsung mengambil alih tempat dihadapannya, Membuat Samudra kaget. Sebelum pelayan itu beranjak menuju dapur.


"Latte nya satu," ucap Calvin yang membuat Samudra menyipitkan matanya.


Pelayan itu kemudian mengangguk sambil mencatat tambahan pesanan. Kemudian pergi dari hadapan mereka. Samudra menatap Calvin tajam. Cowok yang kini berkontak mata langsung dengannya tidak pernah menuruti kata-kata Samudra untuk menjauh dari hadapannya.


"Nunggu siapa Dra?" tanya Calvin sok akrab dia melihat jalan dari berbagai sisi.


"Bukan urusan lo."Ucap cowok jangkung itu.


Haruskah Calvin mengakui adanya kebetulan kali ini? Dia pergi bersama Amara lantas bertemu Samudra setelahnya dengan alasan membeli minum. Siapa yang akan percaya hal itu? Bukankah itu terdengar konyol dan aneh?


Tentu saja itu bukan sesuatu aneh lagi kala dia memang sengaja mengatur pertemuan ini. Semesta mungkin akan memuji kepintarannya, ketika Dia benar-benar merendahkan diri kepada ketiga teman SMA nya dulu agar dapat memancing Samudra ke sini.


Calvin mendengus, "Udaranya dingin banget ya, mau hujan nih."


Jujur Calvin tidak bisa berkata apapun selain keadaan di sini. Ini pertama kalinya dia kembali duduk di satu bangku yang sama dengan cowok itu. Dia benar-benar canggung.


"Siapa yang ngizinin lo untuk nampilin muka di hadapan gue?" Ketus Samudra.


"Gue haus Dra," ucap Calvin memberengut tersenyum kaku kepada saudara sepupunya.


Kali ini biarkan Samudra yang tertawa mengejek, "Lo mau ngemis disini minta minum ke gue? Menjijikan."


Calvin hanya diam ketika kata-kata menjijikan itu terlempar ke wajahnya seakan air liur yang sudah sepantasnya dia dapatkan. Kata-kata pedas cowok itu sama sekali tidak membuat Calvin merasa kesal.


"Kalau gue menjijikan lo apa, Dra? Munafik?" ejek Calvin dengan wajah sombongnya.


Omongan Calvin cukup mengusik jiwa Samudra. Cowok itu beranjak dari duduknya, agar amarahnya tidak terpancing kemudian.


Tetapi Calvin adalah Calvin, yang selalu mendesak Samudra. Dia tidak berhenti sampai sana, Calvin langsung tertawa kencang membuat seluruh orang menatapnya dan menjadikan dirinya sebagai poros mata mereka. Seakan Cowok itu memiliki daya gravitasinya sendiri.


"Mau kabur ? lantas menghindar?" Ejek Calvin untuk kedua kalinya.


Samudra masih menatap ke depan jalan tanpa berniat menatap cowok yang kini semakin mengejeknya. "Tutup mulut lo!" Ucap Samudra tajam.


"Yang gue bilang bener kan?" Ucap Calvin dengan nada semakin merendahkan.


"Lo masih suka sama Amara tapi ngebohongin hati sendiri. Apa sebutan yang pantas selain munafik kira-kira?" Lanjut Calvin. Wajahnya dibuat semenarik mungkin untuk akting berpikir. "Lo pikir gue nggak tahu? Kinan cuman lo jadiin pelarian dari Amara kan? Malangnya, cuman jadi Cewek bayang-bayang." Dengus Calvin.


Satu pukulan sudah mendarat di pipi Calvin kala dia terlalu omong besar. Pelakunya ialah Samudra. Ketika Calvin membawa Kinan dalam permasalahannya. Maka artinya cowok itu sedang cari masalah. Nama Kinan adalah hal yang paling berharga.Jangan salahkan Samudra jika amarahnya terpancing saat ini.


Semua pengunjung di sana telah heboh, Beberapa dari mereka hanya sibuk melihat tanpa membantu. Petugas sekuriti pun juga tidak ingin ikut campur. Mereka semua tidak berguna.


Pukulan itu terus menghujam layaknya sang sniper mengeluarkan pelurunya. Calvin terlentang di sana. Untung saja Dinul dan Raka beserta Danang menghentikkan kembali pertengkaran dua orang itu.


"Dra berhenti! lo jadi tontonan semua orang!" Ucap Dinul yang coba menghentikan Samudra.


Samudra tidak mendengarkannya, dia masih saja memukul tubuh lelaki dibawahnya ketika Calvin masih saja tertawa di sana.


"Lo sebut nama Kinan satu kali lagi, gue nggak akan main-main buat nganterin lo ke neraka!" Ucap Samudra akhirnya. Dia melepaskan kerah baju cowok itu.

__ADS_1


"Jangan berbicara seolah-olah lo mencintai dia, Dra!" Calvin tertawa untuk sekian kalinya. Dia meludahi tanah di sampingnya, membuang rasa asin yang mengontaminasi lidahnya. Darah segar itu tetap saja mengalir di sudut bibir Calvin.


"Itu lebih terdengar munafik di telinga gue." Calvin tetap saja berbicara.


"Vin, nggak usah di terusin lah," tentang Raka ketika Samudra kembali mengepalkan tangannya. Bersiap menutup pembicaraan ini dengan kekerasan.


"Ini saatnya dia tahu, Ka." Calvin berdiri menjauh dari tanah. Dia bangun. Menghampiri Samudra berdiri dengan jarak satu meter dari cowok itu.


"Lo nggak terima ? Pukul gue! Gue ngakuin semua dosa gue sekarang Dra. Pukul gue!" tantang Calvin.


"Dulu memang gue begitu iri dengan lo yang selalu dibanggain kakek sebagai cucu terbaiknya. Apa-apa lo dapetin dengan mudah. Lo sok otoriter, berkuasa, dan berkehendak sesukanya. Kala itu gue rasanya mau balas dendam ke lo. Mengambil Apa yang menjadi kesayangan lo." Ucap Calvin kala matanya menatap tajam pria dihadapannya.


Mereka tumbuh bersama, Calvin yang periang dengan Samudra dingin seperti es batu. Keduanya saling melengkapi, bahkan ada beberapa dari mereka mengira bahwa Calvin dan Samudra beradik-kakak. Saking dekatnya hubungan mereka.


Tapi siapa sangka rasa iri malah tumbuh dihati Calvin kala dia sering dibanding-bandingi cowok dihadapannya.


"Gue sengaja ngedeketin Amara. Tapi emang gue terlalu bodoh. Api yang gue mainin malah ngebakar diri gue sendiri. Gue jatuh cinta sama dia, kejadian saat itu nggak gue sengaja. Tapi sayangnya dihati dia cuman ada lo," tutur Calvin.


Raka semakin gelisah melihat Calvin yang kini seakan ingin menyelesaikan semuanya. Ini bukan penyelesaian melainkan awal dari permasalahan. Karena hanya Raka yang mengetahui akhir dari ucapan Calvin saat ini.


"Sengaja ataupun nggak. Lo pikir gue bisa maafin pengkhianat kayak lo? Nggak usah membual didepan gue. Muntah gue dengar ucapan lo."


"Gue tahu kesalahan nggak selamanya dapat pengampunan." Ucap Calvin pada akhirnya."Tapi cewek itu nggak salah, apa pantes lo ikut ngehukum dia. Amara udah cukup terhukum saat ini dengan beban yang di tanggungnya." imbuh Calvin.


Samudra tertawa getir. Menghukumnya? Hah, dia pikir dirinya juga tidak ikut merasakan apa yang mereka perbuat? Hanya cewek itu ? lantas bagaimana dengan perasaannya dulu saat tahu Amara berkhianat padanya.


"Gue udah kasih dia ke lo, itu kan yang lo mau." dengus Samudra.


"Mau gue, lo ketemu dia sekali kali, dan gue nggak akan pernah menganggu lo lagi." Calvin berusaha bernegosiasi.


"Gue nggak mau."Tolak Samudra.


Persetanan pembicaraan ini semakin panjang! Samudra beranjak pergi dari hadapan Calvin namun langkahnya kembali tertahan.


"Kenapa? Lo takut perasaan itu bakalan runtuh ketika lo ketemu Amara?"


"Gue nggak punya perasaan apa-apa sama dia." Ucapan pendek Samudra malah membuat Calvin memukul ingin memukul cowok itu.


Benarkah Kinan lebih dicintai Samudra saat ini? Calvin sudah cukup menahannya, Hatinya berbisik kata maaf berulang kali kepada gadis itu.


"Benarkah?" ejek Calvin. "Kalau gue katakan dia mengidap penyakit kanker apa lo mau lihat dia sekarang di taman Graha?" lanjut Calvin.


Samudra mengernyitkan dahinya, menuntut penjelasan. Ucapan Calvin serasa batu yang dilempar keras mengenai kepalanya. Seperti Halilintar yang menumbangkan pohon. Amaranya sakit kanker? Gadis periang itu bagaimana bisa?


"M—ma—ksud lo?" Ucap Samudra terkejut.


"Dia di vonis terkena kanker darah dua tahun yang lalu." Jelas Calvin.


Bukannya mendengarkan jawaban Calvin, Samudra kembali menerjang tubuh lelaki dihadapannya. Kali ini lebih membabi buta, dia menumpahkan segala amarah di sana.


"Anjng, Kenapa lo baru ngomong sekarang?" Samudra terus memukul wajah Calvin yang sudah memar itu. Meluapkan perasaan amburadulnya.


Calvin hanya diam, dia meneteskan air matanya tanpa di ketahui Samudra. Raka dan Dinul kembali menengahi kedua pria itu.


"Bisa nggak lo jangan pakai kekerasan Dra?" Ucap Raka yang menyadari mata Samudra berkaca-kaca.


"Lo tahu tentang Amara?" tusuk Samudra dalam mengabaikan ucapan Raka.


Samudra bukan tanpa dasar menuduh cowok itu. Hanya saja Raka yang selalu berbicara penuh tekateki tak ayal membuat Samudra kini mencurigainya.


"Gu—Gue, Maaf Dra." Raka tergagap. Dia hanya bisa diam tanpa berbicara panjang.


"Bangst! SIAPA LAGI YANG TAU DIANTARA KALIAN SEMUA?" Teriak Samudra semakin kencang.


Dinul dan Danang menunduk kaku kemudian mengacungkan tangan mereka perlahan-lahan memancing amarah Samudra.


🌿🌿🌿


TBC



**APA PERASAAN KALIAN BACA PART INI?


A. BINGUNG?


B. KECAMPURADUK RASA GADO-GADO?


C. MAU MARAH AJA?


D. NAMPAR SAMUDRA?


E. NUNGGU KINAN**?


**SIAPA YANG BINGUNG SAMA SAMUDRA? ANGKAT TANGANMU!!!


KANGEN KINAN NGGAK? MAU TAU KELANJUTANNYA? VOTE SAMA KOMEN DULU YUK!


salam,

__ADS_1


Melni yang terombang ambing hidupnya karena Samudra**.


__ADS_2