My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 36


__ADS_3


🌸🌸🌸


"Kamu kok ngelamun dari tadi! mikirin apaan, deh?" Kinan menatap Samudra yang hanya duduk diam di sofa rumahnya.


Lo tahu kan, Dra, gimana rasanya dibohongi? nggak enak. Sama kayak makan mangga muda rasanya sepet. Hal itu juga yang bakal Kinan rasain kalau misalnya dia tahu keadaannya tapi bukan dari lo.


Suara Dinul yang sama sekali tidak ada bagus-bagusnya layaknya kaset rusak terus bergema di kepala Samudra. Dia mau menceritakan segalanya. Tapi tidak sekarang juga di saat dia sudah menyadari perasaannya terhadap Kinan.


Cewek itu paling benci kalau di bohongi. Kalau sudah kecewa maka tamat sudah riwayat kita sebagai laki-laki. Ya. Samudra mengerti bahwa jujur memang diatas segala-segalanya. Namun lidahnya tidak bisa langsung menceritakan Amara. Karena dia bersalah! Samudra mengaku salah ketika pernah memanfaatkan diri Kinan sebagai pelarian semata dari Amara.


Lagipun, itu sudah menjadi masalah lampau. Sekarang setelah dua orang itu datang di dalam keadaan yang sama. Samudra barulah menyadari bahwa, Dia takut kehilangan gadis mungil ini. Semua pikiran buruk menghantui Samudra. Kinan meninggalkannya. Membencinya. dan membuangnya begitu saja tanpa pikir panjang jika tahu tentang apa yang terjadi.


"Samudra? Kok malah tambah bengong kayak burung beo gitu sih?" tanya Kinan memukul pelan pundak cowok itu.


Tanpa aba-aba Samudra langsung menarik Kinan ke dalam pelukannya. Menyimpan bau rambut gadis itu di dalam ingatannya. Siapa yang akan tahu tentang masa depan? Jika Kinan suatu saat meninggalkan Samudra. Setidaknya bau gadis itu masih melekat dalam memorinya.


"Dihh, kok malah meluk-meluk gini. Kamu kenapa sih aneh banget?"


Kinan memberontak di dalam pelukan Samudra. Karena tindakan Samudra kini sekarang membuat jantungnya tidak bisa berjalan dengan normal. Hembusan napas Samudra bahkan terasa di lehernya, terasa menggelitik, dan membuat tubuh Kinan meremang.


"Aku kan nggak meluk pacar orang lain, Nan. Masa nggak boleh?"


"Kebiasan deh manjanya kumat." kata Kinan dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kalau dihitung pakai matematika. kamu sesayang apa sama aku, Nan?"


"Nggak bisa dihitung."


"Kenapa emang?"


"Soalnya cinta aku ke kamu nggak terhingga sih." Kinan terkikik geli berkata demikian. Membuat Samudra tersenyum simpul dengan hati berbuncah.


Samudra langsung menjepit hidung cewek itu pelan. Merasa kesal karena di permainkan oleh Kinan. Dan dia meringis kecil karena perlakuan Samudra. Kinan hendak melepas pelukan Samudra.

__ADS_1


"Kalau misalnya ada cowok punya mantan yang sakit-sakitan. Kamu sebagai ceweknya yang sekarang, bakalan lepasin cowok itu buat mantannya nggak?" kata Samudra tidak membiarkan Kinan lepas darinya.


Perubahan mood Samudra cukup drastis setelah dia berbicara di parkiran kampus dengan Dinul sebelum cowok itu memasuki mobil.Kinan memang penasaran apa yang di bicarakan Dinul ketika melihat wajah Samudra yang tegang dengan buku-buku jarinya mengepal. Anehnya, raut wajahnya malah sedikit menunjukkan kesedihan. Selama di mobil cowok itu juga tidak banyak bicara. Dia hanya diam dan mengendarai mobilnya hingga ke rumah Kinan kini.


"Kenapa nanya gitu?" Kinan memicingkan matanya.


"Nanya aja, aku mau tahu pendapat kamu." ujar Samudra kalem.


Kinan menatap Samudra dengan pandangan selidik penuh curiga. Tapi sayangnya cewek itu sama sekali tidak menemukan hal aneh dari raut wajah Samudra.


Akhirnya dia hanya mengangguk-angguk saja. "Hmm, tergantung keadannya sih. Kalau aku bisa mengalah mungkin lebih baik aku mundur. Kasihan juga dia udah sakit-sakitan begitu."


Samudra langsung tegang di tempatnya. Seperti apa yang dia duga benar adanya. Kinan pasti akan melepaskan Samudra dengan mudah. Ditambah lagi, dulu cewek itu terpaksa berpacaran dengannya.


"Dinul punya mantan sakit-sakitan?" tanya Kinan.


"Nggak, Kenapa emang?"


Kerutan di dahi Kinan semakin banyak. Lantas, Samudra untuk apa menanyakan hal itu. "Terus cowok yang kamu maksud siapa dong?"


Kinan berohria mendengarnya. "Rada aneh aja kamu nanya tapi nggak ada spesifik menuju ke seseorang. Ngomong-ngomong kamu di parkiran sama Dinul ngomongin apa dong kalau bukan itu?"


"Cuman masalah cafe yang bakal dibuat bareng anak-anak." jawab Samudra.


"..." Kinan hanya diam mendengarkan.


Samudra tidak mau menceritakan sepenuhnya tentang percakapannya dengan Dinul. Dia juga tidak berbohong menjawab pertanyaan Kinan. Karena mereka memang sempat membicarakan masalah cafe yang akan dirintis bersama Raka dan Danang. Samudra yang tertutup membuat Kinan juga tidak bisa menanyakannya lebih lanjut. Setiap orang memang berhak memiliki suatu rahasia yang dia simpan seorang diri. Jadi Kinan mencoba memaklumi walaupun ia ingin mengorek lebih dalam.


"Maafin aku, Ya?" Wajahnya tampak memelas dengan air mata diujung sudut matanya. Kinan tersentak kaget. Samudra bukanlah pria cengeng yang dengan gampangnya mengeluarkan air mata. Walaupun tidak begitu kentara tangisannya. Dia tahu Samudra kini menahan diri untuk tidak menangis.


Dahi Kinan mengernyit. Menciptakan kerutan berlipat-lipat di dahinya. "Memangnya kamu ada salah? Kenapa minta maaf?"


"Aku cuma mau minta maaf aja ke kamu,"


"Kamu kesambet apaan sih, Dra? jangan aneh gini dong! creepy tau nggak." Kinan beranjak dari pelukan Samudra.

__ADS_1


"Pokoknya aku minta maaf ke kamu, dan kamu harus maafin." kata Samudra dengan wajah seriusnya.


Sedang Kinan terkekeh geli mendengar Samudra yang memaksa untuk di maafkan. Bukan Samudra namanya kalau tidak memaksa apapun dari Kinan.


"lah ngapain minta maaf ke aku? Kalau kamu aja maksa harus di maafin. Lagi pun, Maaf itu cuman berlaku sama orang yang ngelakuin kesalahan, Dra." kekeh Kinan.


Kini giliran Samudra yang tersentak dengan ucapan Kinan. Maaf hanya berlaku bagi orang yang melakukan kesalahan. Benar. seratus persen semua orang akan setuju dengan apa yang diucapkan Kinan. Tapi mengapa wajah Samudra malah dipenuhi bulir keringat sebutir jagung. Membuat Kinan semakin penasaran. Maklum. Perasaan wanita kan lebih tajam dari silet. Bisa melukai dirinya sendiri. Pernah dengarkan pikiran negatif akan membunuh mu secara perlahan. Jadi Kinan mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Atau kamu udah melakukan kesalahan, makanya minta maaf?" gurau Kinan.


Iya dia melakukan kesalahan, hanya saja kesalahan itu hanya Samudra yang tahu. Dia tidak ingin Kinan tahu kebenarannya, karena salah paham seperti itu akan sulit dia selesaikan.


"Aku, aku nggak melakukan apapun." ucap Samudra dengan terbata-bata.


Kinan mengangguk lebih dari sekali ditambah dengan senyuman kecil di pipinya yang manis. "Iya aku tahu. Cuman bercanda doang, nggak usah tegang gitu mukanya." Gurauan Kinan mengusik ketenangan Samudra begitupun dengan Kinan yang juga kebingungan dengan Samudra yang langsung pucat pasi.


🌿🌿🌿


TBC



Honestly, **It's hard to writing this episode. jujur aja aku ngerasa cerita My Posessive Prince ini terkesan membosankan. Bab ini juga nggak seru. I know its weird. Terlalu memaksakan? Ya kan?


Aku nggak tahu bakalan bisa lanjutin cerita ini apa nggak. Soalnya aku takut ngecewain pembaca dengan konfliknya yang nggak jelas.


I'm feeling so bad. Karena ini ceritanya sangat jelek, menurutku. Maaf curcol disini, karena aku nggak tahu mau curhat sama siapa selain sama pembaca.


Tapi aku mencoba untuk bisa terus menyelesaikan cerita ini. Tolong bantuannya untuk tetap menyemangati. Karena aku ngerasa down banget buat nulis.


salam,


Melni


Jangan lupa TETAP STAY SAFE EVERYONE**.

__ADS_1


__ADS_2