My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 11


__ADS_3


🌸🌸🌸


"Mama, Hari ini Kinan tidur di rumah Dhira,"


"Yaudah, sampaikan salam mama untuk Tante Sekar."


"Oh iya, Jangan lupa telpon abang kamu. Kemarin dia sudah rewel banget. Minta di telpon kamu."


"Siap Komandan," balas Kinan sebelum mengakhiri sambungan telponnya dengan mamanya —Miranda—.


Galih Hanung Nugroho, biasa dipanggil Galih, atau Gal abang Kinan yang kini menetap di Jepang untuk melanjutkan S2nya. Sudah berapa lama Kinan tidak berinteraksi dengan sang Kakak. Kalau tidak salah akhir januari ini, hampir sebulan. Pantas saja Galih mendadak rewel, selain bawel abangnya itu juga sedikit posesif seperti Samudra.


Kinan jadi ingat saat pertama kali gadis itu memberi tahu Galih tentang Samudra yang menjadi pacarnya. Abangnya itu marah besar, mengamuk, menyuruhnya putus, katanya laki-laki tidak ada yang benar. Namun setelah bertemu Samudra. Malah dia yang mati-matian mendukung hubungan mereka. Terkadang Kinan tidak mengerti.


"Mau pulang atau makan dulu?" Tawar Nadhira tak luput sebuah tentengan dengan goodiebag yang dibawanya keluar dari toko pakaian.


Jika wanita berbelanja hanya dua yang mungkin dilakukan yakni —mencari diskon, dan berkeliling untuk mencari yang murah— hal itu sudah dilakukan Kinan dan Dhira sampai berputar sepuluh kali.


"Pulang aja yuk, udah hampir jam tujuh, Samudra nanti marah." jawab Kinan.


Mendengar Samudra akan marah, buru-buru Nadhira mengangguk. Dia memang tidak ingin berurusan dengan Samudra. Kinan mengetikkan sebuah pesan meminta untuk di jemput.


Mereka menunggu Samudra di depan pintu masuk. Terlihat beberapa orang sedang bermain grabwheels membuat Kinan tersenyum kecil kala melihat anak kecil yang hampir jatuh.


Mungkin sesekali dia akan mencobanya bersama Samudra, Pikir Kinan.


Setelah menunggu beberapa menit dua buah motor menghampiri mereka. Samudra dengan motor ninja kawasaki warna hitam dan Raka dengan Ninja warna putih.


Kinan sudah menaiki motor Samudra, sedangkan Nadhira hanya diam di sana tanpa berniat menaiki motor Raka.


"Gue titip Dhira sama lo,"


Motor Raka persis di samping Samudra memudahkan Samudra untuk bertatap mata dengan temannya. Dhira mengkode Kinan lewat tatapan matanya. Dia tidak mau pulang bersama Raka.


Kinan hanya bisa meringis, "Maaf, Dir."


"Nan, kok lo gitu sih, gue gak mau balik sama Raka," gerutu Nadhira.


Kinan merasa bersalah namun Samudra yang tidak membawa mobil membuat Nadhira terpaksa harus pulang bersama Raka.


"Gue duluan, Lo anter Dhira pulang." perintah Samudra, lalu pergi dari sana meninggalkan Raka dan Dhira.

__ADS_1


Suasana di mall tampak begitu ramai.


"Naik," ucap Raka padat, jelas, namun masih bisa di mengerti.


"Gue pulang pake go-Car aja. Lo gak usah repot-repot." ketus Dhira membuka aplikasi go-car di ponselnya.


Melihat gadis itu yang keras kepala Raka langsung mengambil alih ponsel berlogo apel itu dari tangan Nadhira.


"Balikin ponsel gue," perintah Nadhira.


"Kalau gue nggak mau?" tantang Raka.


"Gue bakal aduin ke pihak polisi, lo mencuri ponsel gue."


"Nggak takut, sama sekali, tuh." acuh Raka kemudian menyimpannya di kantong celananya.


"Gue nggak main-main. Balikin ponsel gue Raka." Kesal Nadhira


Raka tersenyum usil, "Ambil nih di kantong celana gue,"


Nadhira bergidik ngeri, Sudah gila cowok di hadapannya ini.


"Mau lo apaansih?"


"Lo pulang bareng gue, baru gue balikin ponselnya."


Keduanya sudah berada di atas motor, Nadhira duduk sedikit menjauhi Raka. Saat mendengar Samudra ingin menjemput Nadhira dan Kinan, dengan inisiatif Raka llangsung menawarkan diri untuk ikut.


"Pegangan,"


Nadhira hanya diam dia berpegangan di jok motor. Sama sekali tidak ingin bersentuhan dengan Raka. Dia juga masih kesal dengan cowok itu yang tiap hari selalu main mata dengan wanita.


"Gue gak ada apa-apaan sama Ayunda. Kalo lo mau tahu," jelas Raka membenarkan helmnya sebelum melesat pergi meninggalkan area mall.


Dalam hati Nadhira bertanya untuk apa cowok itu memberitahunya? Dia sama sekali tidak butuh penjelasan Raka. Mau ada apapun dengan wanita itu juga Nadhira tidak peduli.


"Nggak peduli," Dengus Nadhira.


🌿🌿🌿


Tubuh gadis di hadapannya merintih kesakitan membuat Calvin tidak tega melihatnya. Dia memang tidak merasakan namun rasa sakit yang di rasakan Amara masuk ke dalam sukmanya.


"Sakit, Amara nggak kuat, Bun." Seluruh tubuh Amara terasa kaku, dan berdenyut. Rasa sakitnya menusuk ke semua tubuhnya.

__ADS_1


Dokter memeriksanya, dan menanganinya dengan baik. Tetapi tetap saja rasa sakitnya tidak berkurang sama sekali. Semua menatap iba Amara,membuat Amara membenci dikasihani.


"Bagaimana Dok?" Tanya Renata.


Anaknya terus merintih membuat Renata menggenggam erat tangan Amara, berharap dapat memberikan sebuah kekuatan untuk anaknya. Calvin hanya bisa diam. Dia pun tidak dapat berbuat apa-apa.


"Kita harus segera melaksanakan kemoterapinya, Jika tidak kanker ini akan semakin parah."


Om Seto berbincang mengenai seluruh pengobatan Amara sambil mengantar dokter itu keluar dari sana. Amara masih saja merintih kesakitan.


Melihat anaknya seperti itu, hatinya begitu sakit. Anak yang dikandungnya selama sembilan bulan, harus menderita seperti ini. Renata tidak bisa melihat Amara seperti ini. Jika dia bisa menukarkan hidupnya dengan Amara. Dia bahkan rela. Dia mau. Biarkan saja dia yang sakit. Tapi bukan anaknya.


"Kamu kemoterapi besok, bunda sudah nggak bisa dibantah lagi." Suara Renata bernada tinggi, mengisyaratkan bahwa tanpa persetujuan Amara dia mau tidak mau harus mengikuti kemoterapi itu.


"Amara nggak mau," teriaknya.


Gadis itu benar-benar keras kepala. Dia tidak mau menjadi botak. Dia tidak mau kehilangan rambutnya. Dia tidak ingin kemoterapi. Apakah tidak ada cara lain untuknya? mengapa dia terlalu di persulit seperti ini. Bahkan jika disuruh minum obat hingga tiga puluh pil dia lebih memilih hal itu dari pada harus menjadi botak.


"Bunda nggak mau kamu bantah lagi, Mara." tegas Renata kemudian keluar dari ruangan takut melihat reaksi anaknya yang kecewa.


Amara menangis sesegukan dengan kondisi kesakitan setengah mati di sana Calvin menitikkan air matanya. Jangan katakan dia lemah. Karena cowok itu memang lemah. Pada akhirnya dia tidak sanggup melihat Amara yang tersiksa seperti itu.


"Ra, jangan nangis,Please." pintanya dengan wajah sudah berurai air mata.


Baru kali ini setelah sekian lama, Dia menangis kembali, dan hanya Amara yang dapat membuatnya seperti ini.


"Aku nggak mau ikut kemoterapi, Vin. Aku nggak mau jadi botak. Ak—"


Calvin mendekat ke arah Amara menggenggam tangan gadis ikal itu yang kini wajahnya pucat pasi dengan mata berair. Calvin menyentuh rambut Amara kemudian menyelipkannya kebelakang telinga gadis itu.


"Ra, Kamu harus tahu bahwa hanya kemoterapi jalan satu-satunya untuk kamu. Kalau kamu tidak mau botak sendirian? aku akan menemani kamu botak sama-sama, Ra. Aku nggak peduli, bahkan aku akan membelikan wig paling bagus di dunia ini untuk kamu. Amara nggak akan pernah botak di dalam kamusku," ucap Calvin air matanya jatuh sekali lagi.


Dia tidak bisa menahan tangisnya. Tidak dapat dipungkiri Amara begitu merasa tersentuh dengan ucapan Calvin. Dia pada akhirnya mengangguk, hanya itu yang dapat Amara lakukan.


"Vin, jangan pernah tinggalin aku seperti Samudra, aku mohon. Aku cuma punya kamu." lirih Amara.


Calvin mengangguk mengerti memeluk cewek itu dengan lembut seakan Amara adalah wanita berharga yang pernah ia miliki. Bahkan dalam hatinya sebelum Amara mengucapkan hal itu. Dia sudah berjanji untuk menjaga Amara setelah Samudra pergi meninggalkan gadis ini.


Pandangan Calvin mengartikan segalanya, membuat Amara percaya bahwa cowok itu tidak akan meninggalkannya. Samudra aku mau kamu di sini, bahkan setidaknya sehari sebelum kematianku. Aku mau kamu.


"Vin, maafin aku yang nggak bisa balas perasaanmu." bisik Amara dengan suara yang hampir tidak terdengar di atas dada Calvin.


🌿🌿🌿

__ADS_1


TBC



__ADS_2