My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 22


__ADS_3


🌸🌸🌸


Tidak ada urusannya antara dia dan Raka. Mengapa cowok itu masih saja menggenggam erat tangannya? Nadhira menghentakkan tangan dengan keras. Melepaskan genggaman cowok itu agar dia mengerti.


Buku-buku jari Raka mengeras kala tidak mengerti dengan pikiran Nadhira. Dia mengunci tatapan cewek itu lewat matanya yang tajam, membuat sang empu kebingungan untuk berbicara. Raka benar-benar tidak mengerti bagaimana pikiran Nadhira berjalan. Dia di tembak seorang wanita di hadapan gadis itu! bagaimana bisa reaksi Nadhira tidak kesal sama sekali.


"Ngapain lo bawa gue kesini?" Tempat yang lumayan sepi di lobi dekat lift. Raka memang sengaja membawa Nadhira menjumpai Ayunda. Dia ingin gadis itu tahu bahwa Raka menolaknya mentah-mentah.


"Gadis itu nunggu gue di parkiran." jelas Raka.


Lantas? Nadhira harus menjawab apa? Mengapa cowok itu memberitahunya. Itu bukan urusannya sama sekali. Dia bukan siapa-siapa pria itu. Dan Gadis yang dimaksud itu Nadhira sudah tahu bahwa itu Ayunda. Cewek yang mengumumkan berita murahan yang sebenarnya belum teruji kebenarannya.


"Bukan urusan gue!" Nadhira beranjak pergi namun Raka menariknya masuk ke dalam lift kemudian menekan tombol lift untuk segera menutup pintu. Sial! lantai olahraga memang sedikit penghuni. Memudahkan Raka untuk berbicara dua mata dengannya. Diperparah lagi oleh Raka yang tak kunjung menekan tombol nomor, karena cowok itu sudah menguncinya dengan kedua tangannya. Mengurung Nadhira.


"Minggir!" perintah Nadhira kala Raka masih saja mengurungnya.


"Gue bilang ming—" Terkejut! Nadhira benar-benar tidak bisa merasakan lantai lift yang dipijaknya. Matanya memejam erat kala Raka malah menempelkan bibir mereka. Memaksa Nadhira mengikuti apa yang dianggapnya benar.


Raka menyentuh bibir mungil itu, menelisik ke dalam langit-langit cewek itu. Dia melakukannya dengan brutal kala Nadhira tersadar apa yang dilakukan pria itu salah.


Melihat Nadhira yang mulai terbatuk-batuk membuat Raka melepaskan bibir cewek itu dengan keadaan tak rela. Satu detik! dua detik! Dan detik ketiga, tamparan keras sudah melekat pada wajah Raka.


"Brengsek!" teriak Nadhira.


"Yes! I am," Raka tersenyum getir melihat Nadhira yang sudah meloloskan satu air mata miliknya.


"Lo ngambil first kiss gue!" Nadhira sibuk memukul Raka dengan sisa tenaga yang dia punya.


Raka menahan kedua tangan yang mengarah kepadanya. Lalu dia mengusap air mata yang membasahi pipi Nadhira dengan usapan lembut seakan wajah itu merupakan barang berharga yang harus dia jaga. Pria itu menempelkan hidungnya untuk bersanding dengan Nadhira. Aroma mint menguar kuat memenuhi rongga hidung Nadhira. Dia terdiam.


"Dan pria brengsek yang lo sebut ini, lagi kesal, dengan cewek yang dia suka. Cewek itu ngeliat gue ditembak sama cewek lain. Tapi dia hanya diam aja gue jadi milik orang lain." Lanturan yang diucapkan Raka membuat Nadhira berpikir keras.


Nadhira meneguk ludahnya kasar, pura-pura tidak mengerti.


"Maksud lo?"


"Gue sayang sama lo." ucap Raka pada akhirnya.

__ADS_1


Bukannya merasa tersipu, Nadhira malah tertawa kencang mendengarnya. Menganggap apa yang di ucapkan Raka adalah lelucon yang begitu menggelitik. Dia benar-benar memegang perutnya, tidak tahan dengan ekspresi Raka yang malah menyipitkan matanya.


"Haha, sebagai adik?mungkin itu yang lo maksud dengan kata sayang." ucap Nadhira kemudian menerobos keluar dari kukungan Raka.


Dentingan Lift membuat pintu terbuka. Di sana Dinul dan Danang saling tatap menatap, sesekali melihat pasangan dihadapannya. Raka melihat duo kembar itu dengan tatapan tajam. Seolah mengartikan, Berani masuk nyawa lo taruhannya.


"H—Hai Dir," Sapa Dinul melambaikan tangannya. Sedangkan Nadhira hanya tersenyum tipis. Dia membuang pandangannya kebawah enggan melihat mereka berdua.


"Lo berdua nggak mau masuk?" ucap Nadhira dia baru saja ingin menutup pintu lift dengan berdoa kedua orang ini akan masuk. Syukurlah sebelum pintu tertutup Dinul dan Danang sudah masuk terlebih dahulu. Dia melihat Raka di pojok sudut lift mengeluarkan aura menyeramkan.


"M-mau." Kakinya melangkah bersamaan dengan Dinul.


"Hai Ka," ucap Danang dan Dinul bersamaan ketika melihat Raka bersedekap dada.


Raka hanya diam, Membuat Dinul dan Danang mulai merasakan aura permusuhan antara mereka.


"Harusnya kita nggak usah masuk tadi," Dinul menyenggol lengan Danang kala Raka menilainya dari atas hingga ke bawah.


"Mana gue tahu," gerutu Danang.


Raka mendengus kasar, ego laki-lakinya terluka,


Pelan-pelan nomor lantai lift itu bergerak turun, hingga mencapai lantai satu. Selama perjalanan lift keempat orang itu hanya diam, Dinul dan Danang juga hanya ikut saling tatap-menatap pasangan sejoli ini.


Ting! Pintu lift terbuka, Raka keluar terlebih dahulu. Diikuti dengan Dinul dan Danang sedangkan cewek itu hanya bergerak diam menatap punggung cowok itu semakin menjauh. Nadhira tidak ikut turun dia menutup pintu lift dengan cepat.


Dia hanya bisa menangis di sana.


🌿🌿🌿


"Ka, lo ngapain Nadhira. Kok wajahnya pucet banget pas kita ketemu." tanya Danang ketika Raka masih saja berjalan menuju pintu keluar kampus.


"Tanya aja sama tuh cewek,"jawab Raka meninggalkan keduanya yang terheran-heran. Tidak biasanya Raka menyebut Nadhira tanpa panggilan nama.


Raka berjalan, dia mendorong pintu melangkah menuju ketempat yang seharusnya dari tadi dia tuju. Ayunda benar-benar menunggunya sesuai yang diperintahkannya. Cewek itu tersenyum teduh di dekat mobil sport putih miliknya. Dia melambaikan tangannya.


Panggil dia playboy, kala dia juga membalas senyum itu. Langkahnya menarik dia menuju Ayunda. Tangan Raka tergerak membelai rambut cewek itu dengan lembut.


"Hai, sudah lama nunggunya?" tanya Raka mencium punggunh tangan Ayunda lembut. Dia membukakan pintu mobilnya mempersilahkan cewek itu masuk.

__ADS_1


"Lumayan," jawabnya dengan suara imut miliknya.


"Maaf, sayang." ucap Raka mengusap kedua kalinya rambut gadis itu. Kemudian dia menutup pintu mobil . Lantas masuk ke dalam kursi pengemudi, lalu mengambil seatbelt bersiap mengendarai mobil.


Ayunda memilin tangannya kasar, tidak mengerti dengan apa jawaban Raka. Dia menatap pria itu lamat-lamat, ketika Raka menatapnya balik. Ayunda langsung mengalihkan pandangannya. Membuat Raka terkekeh dengan kelakuan lucu cewek itu.


"Ada apa?" tanya Raka pada akhirnya sesekali dia melihat pandangan kedepan memperhatikan jalanan yang dilaluinya.


"E— gimana dengan yang tadi?" Ucapan Ayunda yang tanpa jeda dengan aksen yang lucu mengundang gelak tawa Raka.


Ayunda memanyunkan bibirnya kala Raka malah tertawa. "Kok ketawa?Aku ditolak ya?" ucap Ayunda.


"Memangnya kapan aku bilang nggak?" tanya Raka menyipitkan matanya.


"Jaaaaadiii?"


"Jawabanku Iya." Ucap Raka, membuat Ayunda berteriak histeris mendengarnya. Sedangkan Raka hanya tersenyum getir.


"Mau kencan hari ini?"


Ayunda mengangguk heboh, "Mau,"


Mobil bergerak membelah jalanan ibu kota. Kadang kita tidak bisa membuat semesta sejalan dengan kemauan kita. Raka menyadari, harapan dengan Nadhira sudah pupus sejak lama kala dia yang mengakhiri dengan tangannya sendiri.


🌿🌿🌿


TBC



**Maaf banget nggak ada Samudra dan Kinan.


Ada yang kangen sama mereka berdua?


JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENNYA. PENULIS TIDAK AKAN BERARTI TANPA PEMBACA😁


Salam,


Melni author kesayangan Samudra**.

__ADS_1


__ADS_2