My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Posessive Prince | Part 39


__ADS_3


🌸🌸🌸


Alis Samudra menukik tajam layaknya perosotan yang benar-benar curam. Dia mengekspresikan ketidaksukaan lewat tatapan mata yang semakin tajam. Tapi yang ditatap dengan pandangan sinis hanya tersenyum seakan tidak pernah terjadi masalah apapun diantara mereka. Bukankah pria itu sudah berjanji untuk tidak mengusiknya lagi? Ternyata sampah seperti Calvin memang sulit dipercaya.


Samudra pasti akan langsunh pergi keluar dari ruangan itu taat kala Granpa Lucas yang berdeham memaksanya untuk duduk terlebih dahulu. Samudra mendengus, jenis dengusan yang Calvin tahu bahwa sepupunya ini bisa saja memukul wajahnya sekarang.


"Duduklah! Banyak hal yang ingin kubicarakan pada kalian." suaranya masih sama, aksen dingin yang diseret penuh ancaman.


Wajah Calvin terlihat begitu rileks dibanding Samudra yang memang sudah kaku sejak lahir. Lucas melangkah mendekati kedua anak itu, seulas senyum samar menghiasi wajahnya.



"Astaga! Tidak bisakah kalian bertingkah akur di depan ku? Aku seperti tidak dihargai menjadi grandpa!" Lucas berucap memecahkan keheningan , masih tanpa emosi, "Aku saja bahkan merinding merasakan atmosfer yang kalian ciptakan."


Samudra tidak menyadari dia sedang diamati melalui sudut mata Lucas yang terus memperhatikan gerak-geriknya. Lucas berjalan ke arah sofa besar yang berada di hadapan mereka. Dia sedikit melonggarkan dasi merah marunnya yang terasa mencekik ditambah aura Samudra yang terlihat tidak suka berbasa basi membuat Lucas benar-benar pasrah kepada dua orang ini.


"Mengapa cucuku harus bertengkar seperti ini, Tuhan? Apa yang telah aku lakukan di masa lalu? Sehingga, membuat dua anak ini tidak akur." Kepalanya benar-benar pening karena kelakuan dua cucunya yang bahkan hanya saling diam. Padahal mereka berdua dulu sangat akur seperti anak kembar.


"Jangan salahkan, Calvin." Dengan suara pelan, Calvin memberi pernyataan apa yang menganggu benaknya.


"Lantas, aku harus menyalahkan siapa? Kalian berdua memang salah!" gerutu Lucas. Dan seketika itu juga, pandangan Lucas yang panas langsung membeku, berubah dingin dan keras. Bahkan bibirnya pun menipis bak menahan amarah. "Sudah, lupakan saja!" imbuhnya.


Lucas mengambil sebuah minuman beralkohol rendah untuk menenangkan tubuhnya. Samudra masih diam, namun dari tatapannya dia seakan ingin pergi dari sini.


"Setelah Pacific Kreston terkenal hingga Asia. Aku ingin membuka beberapa anak cabang bidang perhotelan dibangun di daerah kawasan eropa. Kamu pasti tahu Samudra bagaimana euro ikut mempengaruhi perkembangan ekonomi dunia. Jika kita bisa mengepakkan sayap hingga Inggris, dengan mata uang nomor satunya poundsterling. Aku rasa Kreston akan berada di posisi aman hingga tujuh generasi." komentar Lucas dipenuhi wajah berbinar tidak seperti Samudra yang kelihatannya kurang setuju. Dia bukan tidak setuju dengan rencana kakeknya. Namun mendengar eropa yang dijadikan target, apakah kakeknya berencana untuk mengirimkannya ke benua itu? Kalau iya Samudra harus menolak keras. Persetan dengan perusahaan, mereka sudah kaya.

__ADS_1


Samudra mengangkat alisnya, "Jika grandpa berencana mengirim Samudra ke Eropa. Samudra menolak keras!" Dia mana sanggup jika harus berpisah jauh dari Kinan.


"Baiklah! aku tidak akan mengirimmu ke sana. Aku akan memilih Calvin untuk menangani perusahan cabang di Eropa. Tapi dengan satu syarat, bagaimana?" otak bisnis kakeknya memang tidak bisa dilepaskan. Menurutnya setiap dia memberi harus dibalas dengan keuntungan yang akan dia dapat.


Samudra berdiri, melangkah maju untuk pergi dari ruangan ini. Tipikal dirinya yang keras kepala. Tapi kakeknya lebih keras kepala dari Samudra. "Jika kamu melangkahkan kaki keluar sedikit saja dari sini. grandpa akan menjamin untuk tidak memberi restu pada gadis bernama Kinan!" ucapnya dengan penekan disetiap kata yang terucap.


Samudra terpaku ketika ancaman hubungannya dijadikan senjata oleh kakek tua itu. Tangannya mengepal erat. Samudra mengerjapkan matanya kemudian membukanya lagi setelah di rasa dia cukup bisa menangani amarahnya.


"Bagaimana bisa seperti itu, Grandpa?" Suaranya tertahan ditenggorokan ketika menyadari Calvin yang masih menggunakan tameng wajah santainya. Samudra bahkan tidak mengerti apa yang di rencanakan cowok itu. Tapi kelihatannya mereka memang bekerja sama untuk mengepung dirinya. Kali ini Samudra mendesis pelan tak bisa membantah.


"Aku Grandpa mu. Tentu saja bisa jika aku menginginkannya." ejek Lucas dengan menaruh gelas alcohol yang sudah kandas itu keatas meja.


"Nggak usah nolak lah, Dra." timpal Calvin dengan wajah songongnya.


"Lo bisa diam?" sinis Samudra, mengingatkan Calvin agar tidak mengusik ketenangannya.


Ada sedikit senyum penuh kelegaan ketika Samudra sudah pasrah. Jujur saja mengancam anak ini dibutuhkan akting yang kuat. Lucas memang tidak bisa mengirim Samudra untuk pergi ke Eropa. Namun untuk Calvin tentu saja bisa. Maka dari itu dia dan Calvin terikat beberapa perjanjian.


Calvin akan dia jadikan bidak caturnya untuk mengurus perusahan di eropa. Sedangkan Samudra tetap di sini. Karena Lucas tahu bahwa pria itu pasti akan melakukan banyak cara jika dia dipisahkan dari Kinan. Hal itu membuat Lucas lebih memilih cara aman untuk mengganti Calvin.


"Mudah saja. Kamu hanya perlu mengajari Calvin bagaimana caranya berbisnis serta bernegosiasi untuk melakukan kerjasama antara perusahaan kita dan perusahaan besar travelling di sana." jelas Lucas dengan nada santai. Samudra menelan ludah, menyadari bahwa tidak mungkin hanya satu yang diminta lucas sebagai persyaratan. Dia tahu Lucas merupakan orang cerdik. "Lalu, Kalian harus tinggal bersama di apartemen yang sudah Grandpa siapkan." lanjutnya.


Benar saja ketika Lucas menambahkan persyaratan di sana. Samudra menggeram kesal, sial! Dia tinggal bersama dengan sepupu menyebalkannya ini? Grandpanya pasti sudah sangat gila sekarang. Dewa Zeus bahkan tahu betapa Samudra ingin menyuruh hiu untuk memakan Calvin.


Tinggal bersama merupakan neraka bagi Samudra. Dia benci sepupunya itu. Ditambah lagi wajah Calvin malah semakin senang dengan senyuman bak mentari indah. Jenis senyuman seperti anak kecil yang diberikan permen lolipop.


"Grandpa!" Nada suara Samudra terdengar lebih keras. "Kalau disuruh mengajarkan dia, Samudra masih bisa terima. Tapi untuk tinggal bersama? Bagaimana mungkin?" gerutu Samudra.

__ADS_1


"Tenang aja, sepupuku Samudra. Gue mau kok tinggal bareng lo!" kekeh Calvin geli diiringi tatapan mengejek.


Lucas beranjak dari kursinya. "Beristirahatlah! Dan jangan menolak setelah kamu menyetujuinya, Samudra." ucapnya.


Kalimat itu penuh nada memerintah yang otoriter. Dan sebelum Samudra memprotes serta memberikan reaksi, Grandpanya sudah membanting keras pintu di depannya. Sial!


Tatapan Samudra beralih ke arah Calvin yang kini menatapnya penuh minat seperti seekor harimau mendapatkan daging segar. "Lo pasti yang ngerencanaiin ini semua?" tebak Samudra.


Calvin terkekeh pelan, "Kapan kita mulai pelajarannya, Sepupuku Samudra?" tanya Calvin yang mengabaikan pertanyaan Samudra sembari merangkul bahu sepupunya dengan sok akrab.


Samudra melepaskannya dengan kasar kemudian mendengus pelan. Dia benci bersaudara dengan Calvin!


🌿🌿🌿


TBC



HALOOOO, MAAAPP ALURNYA SEDIKIT LAMBAT YAA. TAPI AKUU JANJI SETELAH INI MOMEN KINAN DAN SAMUDRA BAKALAN BUAAAANYAAAAAK BANGETT.


KALIAN JANGAN BOSEN-BOSEN BUAT BACAAAA MY POSESSIVE PRINCE, OK?


JANGAN LUPA BUAT VOTE, KOMEN, DAN SPAM NEXT.


YUKKK SEMANGATIINN AKU BUAT UPDATE EPISODE SELANJUTNYA. KARENA EPISODE BERIKUTNYA AKAN BERTEMU SAMUDRA DAN KINAN.


With love,

__ADS_1


Melni


__ADS_2