My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Posessive Prince | Part 37


__ADS_3


🌸🌸🌸


Empat hari berlalu setelah pertengkaran mereka di kamar rumah sakit. Hingga saat ini tidak ada tanda-tanda Calvin akan menjenguknya lagi setelah hari itu. Gadis itu mendesah lelah bercampur rasa penyesalan yang besar. Tetapi Anehnya, Amara tidak tahu mengapa dia menyesal setelah mengatakan kata teman diantara hubungannya dengan Calvin. Padahal yang diucapkannya hari itu sudah sesuai dengan perintah hatinya. Dia juga sudah sangat yakin!


Ketidakhadiran Calvin di hidup Amara malah membuat gadis itu lebih sering melamun dan menyendiri, dia juga merasa kesepian. Walau sesekali ayah maupun ibunya mengajaknya bercanda untuk menghiburnya. Namun tetap saja hidupnya malah semakin terasa hampa. Dia sedih melihat kedua orangtuanya yang seakan tidak lelah untuk mengusahakan pengobatan dirinya. Mulai dari uang, waktu hingga apapun diusahakan oleh mereka.


"Bun, Amara boleh nanya nggak?" tanya Amara menatap bubur yang hampir sedikit lagi akan kandas.


Wanita paruh baya itu menyelipkan rambut anaknya sebelum mengangguk. "Kamu mau tanya apa?" Dia menyapu bersih bubur yang ada di mangkuk kemudian menyuapi Amara sekali lagi sebelum meletakkan mangkuk itu di atas meja.


"Kemarin Amara berantem dengan Calvin. Bukan jenis berantem yang pukul-pukulan sih, lebih tepatnya kami marahan karena beberapa hal. Calvin menyatakan perasaannya padaku tetapi aku hanya menganggapnya teman. Lalu Amara mengatakan itu dengan tegas bahwa hubungan kami tidak bisa melangkah terlalu jauh, apa Amara salah Bun?" Dapat Amara lihat ekspresi sedikit terkejut dari bundanya. Setelah penat bertanya-tanya dari kemarin, akhirnya terjawab sudah mengapa Calvin akhir-akhir ini tidak menjenguk anak semata wayangnya.


"Kamu nggak salah, setiap perasaan orang kan tidak bisa kita paksa begitu saja. Calvin mencintai Amara tetapi Amara tidak mencintai Calvin. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, sayang." ucap bundanya sambil mengelus rambut Amara dengan sayang.


Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Memang mendengar ucapan bundanya dia tersentak. Seakan ada sebuah bom besar yang menimpa kepala mungilnya. Apakah seperti ini yang dirasakan Samudra sekarang? ketika, Amara memaksakan diri untuk dicintai kembali oleh pria itu?


"Tapi Bun, semenjak hari itu perasaan Amara selalu gelisah. Pasti Calvin benci Amara sekarang?"


Lagi Renata hanya tersenyum samar, berdehem lalu mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Sayang, perlu kamu ketahui ada dua hal yang tidak boleh kamu lupakan. Mengucapkan kata maaf saat melakukan salah dan terimakasih ketika merasa telah di tolong. Kalau Amara merasa perlu minta maaf ke Calvin. Lakukan!"


Perlukah dia meminta maaf kepada Calvin, setelah perbuatan cowok itu kepadanya. Dia memang tidak bisa mentolelir sifat Calvin. Menciumnya dengan paksaan bukanlah tindakan yang dapat Amara benarkan. Tetapi hatinya mengikis ego dirinya sendiri. Karena sampai detik ini Amara tidak ingin Calvin pergi menjauh darinya. "Dengan meminta maaf, tidak akan membuat orang yang berkedudukan tinggi jatuh harkat martabatnya. Begitupun sebaliknya, maaf tidak akan membuat orang rendah menjadi tinggi, sayang. Kalau dengan maaf kamu bisa menyelesaikan masalah, mengapa tidak Amara coba?" imbuh bundanya.


Bundanya memang benar. Salah satu cara berdamai dengan Calvin yaitu dengan minta maaf karena perkataan kasarnya kemarin. Seharusnya Amara tahu bahwa Calvin masih menyimpan rasa untuknya. Dia harusnya menghargai hal itu, bukan menyuruh pria itu berhenti. Bukankah Calvin juga memiliki hak untuk mencintai seseorang? begitupun dengan Amara yang juga memiliki hak untuk menolak perasaan Calvin.


"Terimakasih, Bunda, Amara ngerti sekarang harus melakukan apa." Cewek yang duduk di atas kasur pasien itu langsung mengangguk setuju diselingi dengan senyumnya yang manis.


"Sama-sama, sayang, atau kamu mau bunda yang mengabari Calvin untuk datang kemari?" Penawaran bundanya memang terdengar bagus. Amara menggigit bibirnya untuk beberapa saat ketika akhirnya menggeleng pelan. Ini masalahnya dan dia tidak bisa membawa bunda ke dalam masalahnya dengan Calvin. "Nggak perlu Bun. Amara yang akan menghubungi pria itu sendiri." tolaknya.


"Calvin itu anak yang baik. Dia juga sayang kamu banget. Bunda bahkan kagum dengan pria itu yang rela nungguin anak bunda seharian tanpa tidur. Dia bahkan lupa makan kalau nggak bunda ingatkan." komentar bundanya tak luput bersamaan tatapan teduhnya yang menghipnotis Amara.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk setuju. Dia memang baik, tetapi seberapa keras Amara mencoba untuk menyukainya perasaan itu sama sekali tidak pernah terbentuk. Kata orang cinta itu tumbuh karena terbiasa. Amara selalu bersama Calvin. Pagi, siang, sore,hingga malam waktunya hanya bersama cowok itu. Tetapi mengapa tidak ada perasaan cinta yang tumbuh diantara mereka. Bukankah akan menjadi sederhana jika dia mencintai Calvin dan membiarkan Samudra mencintai gadisnya sekarang? Sayangnya, dia tidak bisa. Hatinya tidak bisa dia atur untuk jatuh cinta pada siapa.


"Bunda nggak nolak loh, Nak, dapat menantu seperti Calvin."imbuhnya dengan kerlingan mata yang membuat Amara tanpa sadar tersipu malu.


"Kami hanya berteman, nggak lebih dari itu, Bun." gerutu Amara.


"Semua memang diawali dari pertemanan, Amara. Memangnya Bunda dengan ayahmu dulu bukan teman? Kami berteman hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Jadi nggak menutup kemungkinan kamu dan Calvin bisa bersama." kekeh Bundanya.


"Aku nggak suka Calvin, Bunda. Lagipun kita sudah berteman sejak lama, Amara nggak pernah sekalipun jatuh cinta ke Calvin."


Sementara bundanya masih saja menatap terus menerus anaknya. Dia terkekeh pelan untuk kedua kalinya. "Menurut Bunda malah nggak begitu. Kamu sudah jatuh cinta pada Calvin jauh sebelum kamu mengetahuinya. Karena kamu sama sekali tidak menyadarinya, Amara." Ucap bundanya menyentuh pelan hidung gadis itu.


"Kenapa begitu?" tanya Amara dengan tatapan polosnya.


"Buktinya kamu takut kehilangan Calvin dalam hidup kamu. Apalagi kalau bukan cinta?"


🌿🌿🌿



Galih Hendrawan Pratama memakai kaos putih dengan perpaduan celana jins yang membuatnya semakin tampan. Tak heran banyak gadis yang curi-curi pandang dengannya.


Diujung sana seorang gadis dengan masih menggunakan pakaian dress berwarna hijau lumut menghampirinya dari kejauhan. Awalnya tampak goresan lengkungan di bibir Galih. Namun setelah beberapa detik dia langsung menggantikan senyuman itu dengan tatapan menganga. "Abang, kenapa harus pulang ke Indonesia segala sih dari Jepang?"ucap Kinan langsung tanpa pikir panjang setelah bertatap muka dengan Galih langsung.


Galih tentu saja merasa sudah gila. Teramat gila karena mengira Kinan akan mengucapkan kata kata rindu. Tapi itu nukan kalimat betapa rindunya adiknya pada dirinya. Melainkan kalimat pengusiran secara halus membuat batin Galih terluka. "Dek," panggilnya dengan nada yang sulit dipercaya.


"Apaan?" Kinan hanya melirik sekilas dan membantu Galih menarik koper kecilnya yang berwarna biru tua.


"Ini abang pulang loh, setelah berkelana jauh di Jepang. Mengarungi Samudra, melewati perbatasan rusia hingga sampai di Indonesia. Kamu nggak kangen sama abang? peluk abang dulu gitu?" ucapnya di lebay-lebaykan.


Kinan hanya mendengus malas. "Nggak, gara-gara harus jemput abang di bandara Kinan tahan ngantuk. Lagipun pasti abang bau karena lama di pesawat."

__ADS_1


Dua kali kalimat penusuk itu membuat Galih semakin dilanda rasa sedih. "Yah, parah banget ini mah. Yaudah abang balik lagi aja deh ke Jepang kalo gitu." ucap Galih dengan raut wajahnya yang sedih. Dia menarik kopernya berniat berbalik menuju terminal keberangkatan lagi.


"Yaudah gih balik lagi sana. Dadah abang," ucap Kinan melambaikan tangannya setelah itu berbalik meninggalkan Galih yang sok keren di sana.


Galih dibuat tambah melongo oleh adik semata wayangnya. Dia kemudian menggeret dua kopernya lagi dengan kesulitan mengejar Kinan yang benar-benar serius dengan ucapannya.


"Kinan! Kinan!" teriak Galih memanggil adiknya.


"Buruan jalannya bang!" Kinan tertawa kecil melihat abangnya yang kesusahan.


Sial sekarang adiknya mulai bisa berlaku tidak sopan terhadapnya. Pasti ini karena ulah Samudra yang membuat Kinan terjerumus pertemanan yang salah. Ngomong-ngomong dimana pria itu? Galih sudah begitu kangen dengan Samudra.


🌿🌿🌿


TBC



**HOLA READERSS. AKUU BALIK LAGIII. PART INI PEMANASAN UNTUK PART KEDEPANNYA. JANGANN BOSEN BACA MY POSESSIVE PRINCE KARENA KALAU KALIAN BOSEN? GIMANA AKU BISA LANJUTIN CERITA INIIII :((


MAAF NGILANGNYA SAMPAII LAAAAAMAAAAAAAAA BANGEEEEEEETTTTTT. SEKALI LAGI AKU MINTA MAAF. TAPI UNTUK KEDEPANNYA DOAIN AKU BISA LANGSUNG NGETIK 3 PART UNTUK KALIAN AGAR BISA NEBUS KESALAHAN KUU YANG NGILANG HAMPIR 1 BULAN.


JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN SERTA TIP UNTUK CERITA INIIII. I LOVE YOU SO MUCH. SIAP UNTUK BERTEMU SAMUDRA KEMBALI???


YUKK INTIP TERUS KISAH MY POSESSIVE PRINCE.


OH IYA GUYS, DOAIIN MY POSESSESIVE PRINCE DITERIMA KONTRAK YAAAA.


Salam,


Melni ❀❀❀❀**

__ADS_1


__ADS_2