
🌿🌿🌿
Berkali-kali Kinan meneguk ludahnya kasar nyatanya dia masih gugup melihat Samudra yang terus menatap Arga dengan pandangan tidak bersahabat. Gadis itu memberhentikan langkahnya, berdiri, membiarkan Samudra semakin mendekat ke arah Arga dan dirinya.
Kinan semakin panik, dia takut Samudra langsung memukul Arga di tempatnya seperti apa yang terjadi pada Calvin beberapa hari yang lalu. Untungnya ketakutan Kinan tidak terjadi sama sekali.
Samudra hanya diam dengan tatapan mata tidak lepas dari Kinan. Sedangkan Arga balas menatap cowok dihadapannya dengan tidak suka juga.
"Bang Arga, kenalin ini Samudra, pacarku." Kinan sengaja mempertegas kata pacar di sana agar Samudra tidak memikirkan hal yang tidak-tidak tentang dirinya yang diantar pulang oleh Arga.
Melihat reaksi Samudra yang hanya diam, Kinan mencoba tersenyum kaku mencairkan suasana yang malah ditangkap Samudra seperti kode genit untuk Arga. Memikirkannya membuat Samudra semakin kesal dengan Kinan.
Arga tidak menangkap kata aapapun selain kata pacar di sana. Jadi cowok ini yang menjadi pacar Kinan? Dari segi wajah Arga mengaku kalah memang dengan Samudra. Tetapi dari segi umur Samudra tentu kalah dari Arga yang sudah mapan.
"Ini Arga,keponakkannya Pak Edy sekaligus temannya Bang Galih waktu SMA." Jelas Kinan yang membuat Arga langsung mengulurkan tangannya.
"Arga Dramawan,"
Uluran tangan Arga sama sekali diacuhkan oleh Samudra. Pandangan Samudra langsung lurus melihat Kinan dengan tangan yang terkepal kuat, Kinan melihat itu dia mulai ketakutan dengan Samudra.
"Dra, itu kak Ar—" belum sempat Kinan menyelesaikan ucapannya.
Miranda —Mama Kinan, keluar dari rumah dengan pakaian rapi, tampak membawa koper. Menghentikkan kesitegangan di halaman rumah, dengan Arga yang menatap tangannya yang tergantung menerima uluran tangan Samudra. Merasa diacuhkan Arga langsung menarik kembali tangannya.
Dalam hati Kinan bertanya-tanya, mau apa mamanya berpakaian seperti ini?.
"Arga? MasyaAllah, sudah lama tante nggak ketemu kamu." Teriaknya histeris layaknya ibu-ibu arisan.
Arga memang sudah dianggap seperti anak oleh Miranda sejak berteman dengan Galih, putra pertamanya. Dulu memang Arga sering menginap bersama dengan Galih di rumah mereka. Sering bertemu mudah jatuh cinta katanya. Jadi itulah sebabnya Kinan sempat menyukai Arga.
Selain itu Arga dulu suka menjemput Kinan jika Galih sedang sibuk dengan skripsinya. Sedangkan ayahnya seperti tidak memiliki waktu libur untuk mengurus keluarga kecil mereka. Membuat Kinan sedikit tidak rela juga jika Samudra harus mengurus perusahaan besar milik papanya.
Ayahnya saja yang hanya pengusaha kecil pengerukkan kapal di Surabaya bisa berbulan-bulan tidak dia temui. Bagaimana dengan Samudra yang memiliki perusahaan dengan cabang banyak, seperti pertambangan. Akankah Kinan jarang melihat Samudra nanti ketika mereka sudah menikah?
__ADS_1
"Dulu padahal masih piyik-piyik (Dibaca: kecil) lulusan SMA main di sini. Sekarang udah gagah banget,"
mendengar kata piyik-piyik milik tante Mira membuat Arga tidak kuasa menahan tawanya.Dari dulu hingga sekarang bahkan Tante Mira tidak berubah, membuat Arga benar-benar beruntung dianggap anak olehnya.
"Lagi liburan semester, Tan. Arga kesini hanya mengantar Kinan saja," Senyum teduh khas Arga bahkan tidak hilang dari benak Miranda.
Miranda jadi terkikik sendiri ketika melihat Samudra yang kini menampilkan wajah manyunnya. Anak itu pasti kesal dengan Arga yang kebetulan dulu dekat sekali dengan Kinan. Kira -kira jika Arga menyukai Kinan? mana yang akan dia pilih menjadi menantu ya? Samudra sang Ceo atau Arga si spesialis dokter yang tampan ?
"Mama ngapain sih ketawa sendiri?" Kinan menatap dengan pandangan aneh kepada sang mama.
Samudra merasa di acuhkan dengan kehadiran Arga. "Lho memangnya kenapa? Ketawa kan belum dilarang oleh pihak pemerintah. Iya kan Samudra?"
Merasa namanya di sebut Samudra langsung tersenyum, "Iya Mah." jawab Samudra.
Semenjak Kinan berpacaran dengan Samudra hampir empat tahun. Tidak heran jika Samudra memanggil mamanya dengan sebutan mah, selain untuk mengakrabkan diri. Mamanya juga ingin Samudra tidak merasa canggung nanti setelah menikah dengan Kinan.
"Memang belum dilarang, tapi ketawa sendiri disangka orang gila mah." gerutu Kinan yang membuat mamanya langsung mencubit pinggang anak ggadisnya
"Kamu ngatain Mama?" kesal Miranda menatap putri bungsunya.
Semenjak anaknya berpacaran dengan Samudra. Kinan sseolah bergantung dengan cowok itu, biasanya dia akan bergantung dengan Galih. Namun semenjak Galih pergi ke Jepang, posisinya digantikan oleh Samudra. Sebenarnya Miranda cukup senang yang menjadi menantunya adalah Samudra bukan pria lain. Dia cukup percaya dengan Samudra yang terlihat bertanggung jawab.
"Duh, bisanya ngadu sama pacarmu itu." ejek Miranda.
Kinan terkekeh pelan membuat Samudra tidak mengerti dengan kebiasaan dua orang ibu dan anak ini. Samudra memang cukup dekat dengan Miranda ketimbang mamanya yang lebih suka gila kerja dari pada memperhatikannya.
Tidak memungkiri sosok Miranda membuat Samudra merasakan kehangatan kkeluarga
"Arga pulang dulu ya, Tante." Cowok itu kembali mengutarakan ucapannya yang dibalas anggukan oleh Miranda. "Kapan-kapan main lagi ke sini ya, kalau Tante sudah pulang dari Surabaya."
Arga membalas ucapan Miranda dengan anggukan yang sama. Kemudian, Matanya melirik Kinan, "Aku pulang dulu, Nan." lanjut Arga.
"Eh Iya? Hati-hati, Bang.Makasih tumpangannya." Ucap Kinan yang langsung di balas tatapan tajam Samudra.
Arga berjalan menuju mobilnya, menyalakan mesin, kemudian pergi meninggalkan pekarangan rumah. Tak lama supir pribadi mamanya juga menghampiri mereka, lebih tepatnya mamanya.
__ADS_1
"Mobil nya sudah siap, Nyonya." Ucap Mang Ujang sambil membawa koper milik Miranda.
Tadi Miranda memang mendapat pesan dari suaminya untuk pergi ke Surabaya ada beberapa hal yang harus dia urus untuk membantu suaminya di sana. Sekaligus karena papanya Kinan yang sulit untuk pulang ke Jakarta membuat Miranda harus memilih meninggalkan Kinan untuk menghilangkan rasa kangen dengan suaminya.
"Mama pergi dulu beberapa hari. Kamu di rumah baik-baik. Papa belum bisa pulang akhir bulan ini." Kinan mengangguk pasrah karena ditinggal lagi.
"Titip anak tante ya Dra, jangan sampai lecet lho." ucap Miranda dengan tatapan kjahilnya
"Tentu, Tante." jawab Samudra.
Dari tadi Samudra hanya diam saja, membuat Kinan semakin ketakutan. Apalagi hanya sisa mereka berdua saja yang di sini. Mamanya pergi ke Surabaya dan Arga sudah meninggalkan pekarangan rumah.
Matilah dia kali ini. Apalagi mamanya yang tiba-tiba melontarkan kalimat sialan saat mereka mengantar Miranda.Kejahilan ibu dua anak itu membuat Kinan harus ketar-ketir sendiri di tempatnya. Karena Miranda malah melemparkan bom api kepada Samudra.
"Oh iya, Kinan pernah suka sama Bang Arga lho, Samudra."
"Mah, apaansih." gerutu Kinan dengan tatapan melototnya.
"Mama cuman kasih tahu, siapa tahu nanti Samudra malah gagal jadi mantu Mama. Gara - gara bang Arga, cinta monyetmu." Ucap Miranda sebelum benar -benar pergi dari rumahnya.
Mendengar ucapan Miranda. Samudra langsung menatap Kinan yang kini susah untuk melontarkan kata-kata. Duh dia bakal menghadapi kemarahan Samudra dua kali lipat kalau begini caranya. Sudah keluar dari kandang Harimau, kenapa jadi masuk ke kandang buaya?
Jadi Kinan sempat jatuh cinta sebelum bertemu dengannya? Sialan! Batin Samudra kesal.
🌿🌿🌿
TBC
**Jangan lupa vote dan komennya. kalian mau Samudra marahnya kayak gimana nih? coba komen di bawah, terus mau nggak Amara muncul kembali?
Pertanyaan terakhir.
Kalau saya buat cerita Raka sama Nadhira kira-kira ada yang setuju nggak**?
__ADS_1