
🌿🌿🌿
Semilir angin menggantikan dialog yang tercipta diantara kedua insan manusia itu. Amara meneguk ludahnya kasar berkali-kali. Dia tidak percaya bahwa Samudra berdiri di depannya kini.
Perasaannya kacau dan dia sama sekali tidak bisa menata detak jantungnya untuk kembali normal. Samudra melangkah menghampirinya dengan tatapan marah membuat Amara tak bisa melanjutkan ucapannya.
"S—Samudra?" Lirih Amara.
Samudra mendengus malas, "Waktu empat tahun nggak membuat lo melupakan nama gue kan?"
Amara menekan besi pegangan kursi rodanya ketika pertanyaan Samudra terlontar. Napasnya terhenti di ujung tenggorokan, Dia menghembusnya secara perlahan. Sesekali Amara menggigit bibirnya ketika mereka berdua saling terdiam.
Ucapan Samudra terdengar kasar di telinga Amara. Selama ini cowok itu sama sekali tidak pernah menggunakan bahasa lo-gue untuk berbincang padanya. Amara tahu Samudra kini sedang membuat tembok tinggi diantara mereka. Menjelaskan siapa dia dan siapa cowok dihadapannya sekarang.
"Kenapa lo harus datang kembali di saat gue sudah memutuskan untuk melupakan semua tentang lo Amara?" Samudra tertawa getir melihat cewek itu yang hanya bisa memilin jari mungilnya.
Tingkahnya selalu seperti itu dan tidak pernah berubah. "Maaf, aku nggak tahu kamu ada di sini, Dra." ucapnya dengan wajah tertunduk.
"Maaf setelah segalanya sudah hancur? Bahkan gue harus tahu dari orang lain tentang penyakit lo!" Teriak Samudra dengan perasaannya yang ikut kacau ketika Amara mulai menitikkan air matanya.
Gadis itu ingin memeluk Samudra, bersandar di dadanya ketika dia kini juga sudah tidak mampu menanggung semua beban yang ditimpakan kepada dirinya. Amara semakin menggigit bibirnya dalam ketika dia sudah yakin bahwa Samudra pasti tahu tentang penyakitnya.
"Sialan! Kenapa lo nggak pernah ngasih tahu gue?" Umpat Samudra dengan mudahnya.
__ADS_1
Samudra ingin marah, melampiaskan semua rasa kepada cewek yang kini memenuhi bola matanya. Namun apa daya, cewek itu bahkan sudah tidak berhak untuk dia sentuh kembali. Samudra sama sekali tidak bisa memeluk Amara ketika hatinya dan raganya sudah menjadi milik Kinan.
Di saat seperti ini kenapa gadis itu kembali setelah empat tahun ia nantikan kabarnya. Sekarang semua sudah terlambat, Samudra tidak bisa menjadi pria brengsek yang dengan mudahnya berkhianat hanya karena rasa kasihannya?
"Ngasih tahu Kamu?" tawa Amara terdengar pedih, "Memangnya kalau aku kasih tahu kamu apa yang akan berubah Dra?Nggak ada."imbuh Amara. Nadanya begitu rendah menatap mata kelam Samudra yang kini sudah terbakar api amarah.
Bagaimana dia bisa sanggup memberitahu Samudra tentang penyakit ketika cowok itu pernah berkata jangan muncul di hadapannya lagi apapun alasannya. Amara tahu bentuk kekecewaan Samudra begitu besar sehingga Amara sama sekali tidak bisa menampakkan diri di hadapan cowok itu.
Amara terluka selama empat tahun memendam perasaan kerinduan kepada cowok dihadapannya. Hubungan mereka yang berakhir tragis membuat Amara harus menyadari posisinya sekarang.
Dia tidak ingin mengusik Samudra lagi. Tapi mengapa Tuhan harus mempertemukan dia dengan cowok itu lagi?
"Ketika aku sudah berusaha pelan-pelan melupakan kamu empat tahun belakangan ini. Kamu datang dengan keadaan seperti ini. Kamu mengundang rasa kasihan dalam diriku Ra!" bentak Samudra.
"Apa yang kamu harapkan kembali ke Jakarta saat masih banyak pengobatan bagus di luar negeri?"sapaan cowok itu berubah menandakan Samudra melunakkan bahasanya.
"Cukup Dra!" Rintihnya ketika Samudra malah memancarkan bumerang kepadanya kembali.
"Kamu mau rasa kasihan dari aku karena melihat kamu kayak gini? Lalu kita balikan seperti dulu begitu? Maaf Ra aku nggak bisa." Ucapan cowok itu terdengar lirih antara sedih dan mengejek menjadi satu.
Hati Amara benar-benar hancur mendengar Samudra dia mengerti maksud ucapan itu. Samudra sudah mencintai orang lain, dan itu bukan dirinya. Dia harus bereaksi seperti apa ketika mulut cowok itu yang berbicara bahwa hati Samudra sudah tidak memiliki ruang tempat untuk dirinya sekarang.
Dia menangis melepaskan rasa kekecewaannya. Amara mencintai cowok itu, kenapa dia harus menjadi milik orang lain? Kenapa semesta tidak berpihak kepadanya? Kenapa dia harus kehilangan Samudra? Kenapa dia harus menderita penyakit sialan ini?
Dia benci keadaan ini ketika dia tidak bisa menyeruakan Tuhan tidak adil. Amara membungkam mulutnya menahan kesedihannya. Ketika Samudra tetap tidak bergeming dari tempatnya. Cowok itu sama sekali tidak ingin memeluk Amara seperti dulu ketika gadis itu menangis.
__ADS_1
"Ada seseorang yang perasaannya harus aku jaga. Aku mencintainya lebih dari apapun, dan dia segalanya untukku, Ra. Aku memang kacau mendengar kamu sakit seperti ini. Tapi apa yang bisa aku perbuat Amara? kamu bukan milikku lagi seperti dulu. Memeluk kamu bukan tugas aku lagi. Aku nggak berhak menahan air mata kamu untuk tidak jatuh."
Dia hancur mendengar ucapan itu. Amara benci kenyataan Samudra tidak lagi memprioritaskan dirinya. Dia tidak mau Samudra memilih orang lain. Amara sama sekali tidak terima.
Awan yang tadinya sudah nampak mendung kini benar-benar menurunkan rintikan hujan itu. Di sana Amara kembali menangis lebih kencang. Sedang Samudra kini mulai memeluk gadis itu di bawah guyuran hujan.
Air hujan itu turun melindungi Amara. Menutup air matanya yang jatuh dari matanya. Namun bibirnya tidak bisa berhenti untuk tidak bergetar. Samudra semakin memeluk cewek itu erat menyalurkan kekuatannya.
"Kamu pasti bohong Dra. Siapa gadis yang bisa menggantikan aku Samudra?" isak Amara dalam tangisnya.
Tubuhnya sudah basah namun dia sama sekali tidak peduli. Amara menangis semakin dalam dia meremas kemeja Samudra, menyalurkan rasa sedihnya. Namun Samudra hanya bisa mengusap bahu gadis itu. Dia tidak bisa mengkhianati Kinan lebih dari ini.
"Aku masih mencintai kamu Samudra. Aku nggak mau kehilangan kamu. Kenapa Dra? Kenapa kamu harus setega ini sama aku?" Rintih Amara pilu.
Samudra hanya diam dia terus menenangkan Amara. Ketika dirasanya gadis itu sudah tenang Samudra melepaskan pelukan itu. Air hujan menetes dari rambut gadis itu, matanya yang sembab membuat Samudra tidak bisa berlama-lama seperti ini.
"Ini resiko yang harus kita tanggung masing-masing. Kita nggak bisa bersama lagi ibarat membaca buku dua kali. Akhir cerita kita pasti akan sama saja, Amara." ucap Samudra.
Semakin Samudra lama di sini, menatap Amara yang terguyur oleh hujan. Dia pasti akan semakin mengecewakan dua gadis di dalam hidupnya. pada akhirnya Samudra lebih memilih mengambil ponselnya, mendial nomor yang harus dia tuju.
"Gue udah menuhin permintaan lo. Jemput cewek lo disini, gue nggak bisa nganterin dia pulang." ucap Samudra membuat Calvin terdiam diujung sana.
Samudra mematikan ponselnya kemudian membalikkan badannya meninggalkan Amara. Gadis itu melihat punggung itu menjauh dibawah guyuran hujan. Kepergiannya semakin membuat hati amara sakit.
🌿🌿🌿
__ADS_1
TBC