
๐ธ๐ธ๐ธ
Katanya hal biasa kalau menunggu seseorang yang disayang. Samudra memegang sebuah buku yang dilipat berdiri menunggu Kinan di depan koridor kelasnya, menunggu dengan diam dan tak banyak bicara. Beberapa junior lalu lalang di depannya, sebagian berdecak kagum, dan sebagian lagi mengatakan ketampanan Samudra dengan lantang. Seakan mereka tidak mempunyai saraf malu.
Samudra membaca sebuah buku, sebenarnya tidak begitu menarik. Membaca buku hal yang biasa dan dapat dilakukan siapa saja. Namun yang membuat Kinan memusatkan perhatiannya yaitu karena judul buku yang dibaca Samudra, yakni Belajar Menjadi Pacar yang Baik. Membuat Kinan tertawa melihatnya. Tadi malam Samudra memang sempat melihat beberapa buku yang terletak di rak dekat televisi rumahnya. Buku itu berada di sana, buku yang dibeli Galih sebelum keberangkatannya ke Jepang.
Kalau diingat-ingat, Galih membeli buku ini dikarenakan dia yang pernah naksir cewek. Aisyah, nama yang sangat islami. Katanya dia mengikuti perempuan ini hingga ke sebuah toko buku saking penasarannya. Beberapa menit pandangan mereka bertemu. Galih yang gelagapan akhirnya memutuskan mengambil sebuah buku yang tidak tahu apa judulnya lantas membayarnya ke kasir, dan buku itu malah sampai ke tangan Samudra, pacarnya.
"Kamu daritadi nungguin aku, sambil baca buku itu?" tanya Kinan dengan tangan yang sudah pasti menunjuk kepada buku yang di pegang Samudra.
Kinan menahan tawanya menganggap lucu apa yang dilakukan Samudra.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Nggak papa,"
Gadis itu tersenyum polos, lalu menggeleng pelan. Tangannya mengusap rambut Samudra pelan, tubuhnya yang pendek membuat Kinan berjinjit menggapai daun yang jatuh di kepala Samudra. Mengetahui maksud gadisnya, Samudra kemudian menundukkan kepalanya. Memudahkan Kinan menggapai daun tersebut.
"Ada daun di kepala kamu. Lama ya nunggunya?" Kinan membuang daun tersebut kebawah memandang Samudra lekat.
"Lumayan. Kamu mau makan atau ke ruang olahraga?" tawar Samudra.
Kinan menggeleng untuk kedua kalinya. Makan? dia masih kenyang karena tadi sarapan sebelum kemari. "Aku belum lapar, ke ruang olahraga mau ngapain?"
Tidak biasa Samudra mengajaknya ke ruangan olahraga. Seingat Kinan tidak ada hal yang penting di sana, tidak ada pertandingan, ataupun perlombaan yang diselenggarakan antar fakultas.
"Dinul, Danang, sama Raka lagi main basket. Siapa tahu kamu bosan cuman ke kantin.Jadi aku ajak ke sana,"
Jawaban Samudra membuat Kinan kebingungan. Sejak kapan cowok itu memperhatikan kebosanannya. Samudra tidak pernah melakukan hal itu. "Mau, sekalian ajarin aku main basket ya?"
"Iya." jawabnya singkat.
Kinan menarik lengan Samudra bergelayut manja di sana, membuat Samudra tersenyum tipis. "Tas kamu!" perintahnya.
"Buat apa?" tanya Kinan lalu memberikan tas pandanya kepada Samudra.
Samudra lalu menyampirkan di pundaknya. Kemudian beranjak berjalan menyusuri koridor, namun langkahnya tertahan oleh gadisnya yang kini melepaskan lengan Samudra.
"Aku aja yang bawa tasnya." ucap Kinan melirik ke kanan dan ke kiri kala beberapa orang memperhatikan mereka.
__ADS_1
Samudra tampak cuek, cowok itu berjalan, kini bergantian menarik telapak mungil Kinan. Menyusuri tangga yang akan membawanya menuju ruang olahraga.
"Dra, aku aja yang bawa. Dilihatin banyak orang, malu, masa kamu bawa tas panda aku yang cewek banget." gerutu Kinan dengan pandangan tak lepas dari Samudra.
"Samudra," panggilnya ketika suaranya diabaikan oleh cowok itu. Samudra berdiri di undakan yang lebih tinggi di banding Kinan. Membuat Kinan lebih leluasa memperhatikan cowok keras kepala di depannya.
"Tas ini punya siapa?" tanya Samudra setelah mereka diam untuk saling menatap masing-masing.
"Aku," Jawab Kinan dengan polosnya.
"Kamu siapa?" tanya Samudra pada akhirnya.
Samudra bingung dengan Kinan, dia tadi membaca buku tersebut. Dan di sana tercantum bahwa menjadi pacar yang harus pengertian. Sekarang Samudra begitu pengertian membawakan tas gadisnya. Namun Kinan malah tidak setuju dengan apa yang ia lakukan, pada dasarnya Samudra tidak harus percaya semua akan apa yang disampaikan buku itu. Kini dia mengerti. Membawakan tas tampaknya bukan sesuatu yang pengertian. Persetanan!
"Kinan," Jawabnya lagi sesuai harapan Samudra.
Lantas keduanya hanya saling tatap, "Pacarnya siapa?" tanyanya dengan nada tegas tak luput dari karakter Samudra.
Kinan mengernyit heran, apa hubungannya tas dengan pacar? tapi pada akhirnya dia menjawab juga.
"Samudra,"
"Pintar."Samudra tersenyum bangga kala namanya di sebut oleh Kinan. Dia mengacak rambut Kinan.
"Hubungannya, ini pacar tas aku. Jadi biar aku yang bawa. Nggak ada yang larang aku bawa tas pacarku sendiri." ucap Samudra cuek.
Disisi lain Kinan tersipu malu saat Samudra menaiki undakan tangga selanjutnya menuju kelantai atas, tak lupa dengan genggaman tangannya yang menarik Kinan yang berwajah seperti udang rebus untuk berjalan beriringan bersamanya.
"Samudra kamu belajar kata-kata romantis dari mana?" tawa Kinan meledak.
"Dari buku abangmu." jawab Samudra pendek.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Danang masih saja sibuk melakukan slam dunk ketika Dinul dan Raka sudah begitu letih. Keduanya duduk di pinggir lapangan dengan dua botol minuman. Masing-masing dari mereka sudah menghilangkan rasa lelah dengan sebotol air.
Sebuah telpon berdering di dekat Raka. Disana tertera nama Ayunda, cewek manis yang beberapa hari menelponnya juga. Memang beberapa minggu ini hubungan Ayunda dengan Raka mungkin agak akrab.
Raka mengambil ponselnya, "Kenapa Yu?" Raka meneguk satu kali lagi minumnya.
"Kamu dimana? aku mau balikin jaket kamu," ucap Ayu memberitahukan maksudnya.
Jaket coklat Raka memang masih berada di tangan gadis itu. Raka mengambil tutup botol yang tergeletak di tanah kemudian menutupnya dengan satu tangan saja. Lantas menjauhkan botol itu dari hadapannya.
"Di ruang olahraga, kamu kesini aja." ucap Raka.
__ADS_1
"Oh, oke. Tunggu aku sebentar ya. Maaf merepotkan." Tak berapa lama Ayu mematikan sambungan telponnya.
Di dekat ring basket Danang menepuk dirinya dengan hebat, ketika dia melakukan triple point dari jarak yang sangat jauh.
"Lo lihat nggak tuh tadi," sorak Danangl
dengan membanggakan dirinya.
Dinul melihatnya bagaimana Danang melakukannya. Kemampuan Danang memang sedikit lebih baik dari pada Dinul. Namun Dinul tidak ingin mengakuinya.
"Alah, gitu juga gua juga bisa." enteng Dinul.
Mendengar jawaban Dinul, Danang melemparkan bola basket ke arah Dinul. "Coba, begayaan." ejek Danang.
Dinul mendribble basket dengan semangat melirik Danang dengan tajam. "Lo lihat nih ya!" tantang Dinul kemudian melompat dengan tinggi sembari melemparkan bola dengan sangat kencang.
Nyaris!
itulah yang Dinul rasakan kala bola malah tidak masuk ke ranjang, namun jatuh ke bawah lapangan mengundang tawa dari Danang.
"Cupu, Ku tak percaya kata-katamu." tawa Danang menggelegar.
"Bentar-bentar jari gua kepleset, lo harus lihat lagi!" bujuk Dinul ketika Danang semakin meremehkannya. Dia berdalih, dan mencoba terus menerus.
Raka menggeleng tak percaya dengan Dinul yang berdiri di tengah lapangan. Samudra datang bersama Kinan memasuki lapangan. Cowok itu tampak menyuruh Kinan duduk tak jauh dari tempatnya. dibelakang mereka Ayunda menampakkan batang hidungnya. Membuat Raka berdiri dari duduknya.
Cowok blasteran jawa-kalimantan itu menghampiri Ayunda. "Ini, Ka. Makasih banget ya!" Ayunda menyerahkan jaket coklat milik Raka yang sudah dicuci bersih dengan bau parfum aroma citrus menguar hebat.
"Santai aja." ucap Raka.
Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Ayunda mengusap matanya pelan. Gugup mengatakan maksudnya. Dia kemudian memberanikan diri.
Ayunda menundukkan kepalanya kebawah. Berdehem pelan. "Kaโ Kamu, mau nggak jadi pacar ku?" ucap Ayunda dengan satu tarikan napasnya gugup.
Ayunda menembaknya? benarkah?
Semuanya terdiam tak terkecuali Raka yang ditembak dengan tanpa aba-aba, Dinul dan Danang yang tadinya bercanda mendadak memusatkan dirinya kehadapan Raka. Sedangkan Kinan membesarkan matanya, kala mata miliknya bertemu dengan mata Nadhira.
Nadhira mendengarnya bersama Nissa โgadis yang ingin menjumpai Samudra, dia bertemu dengan mata kelam milik cowok itu. Raka. Tapi dia tidak bisa bergerak seakan terpaku dengan keadaan.
Mungkinkah dia menunggu jawaban cowok itu?
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
__ADS_1