My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 7


__ADS_3


🌸🌸🌸


Mata kuliah perpajakan akhirnya berakhir juga siang ini. Mendesah lelah Kinan berjalan menyusuri koridor depan kelas menuju kantin fakultas sambil mengetik sebuah pesan kepada Nadhira beserta mamanya. Hari ini mamanya pulang dari surabaya setelah pergi keluar kota cukup lama untuk tugas menemani ayahnya yang mengawasi pengerukan kapal di surabaya.


To Nadhira : Aku pesen nasgor duluan, samper ke kantin aja.


Setelah berjalan cukup lama tiba juga dia di Kantin fakultas. Disana ada beberapa deret meja yang tak terhitung jumlahnya, membuat Kinan bergerak memilih meja paling ujung dekat pintu yang menampakkan bagian luar taman. Didekat pintu kaca ada sebuah banner dengan tulisan Kawasan Tanpa Merokok. Kinan melirik semua area menggunakan matanya, siang ini kantin tidak begitu ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa junior masih mengikuti ujian semester bulan ini. Kinan menaruh yang sedari tadi digendongnya ke atas meja. Beranjak memesan sebuah nasi goreng lengkap dengan telur dan tomat kesukaannya.



Seorang gadis dengan pakaian kemeja berkerah kotak-kotak hijau sudah sampai setelah Kinan memesan dua nasi goreng untuk mereka. Nadhira duduk di kursi tepat dihadapan Kinan.


"Gimana hubungan kamu sama Samudra? Udah gak berantem?" Tanya Nadhira mengambil sebuah sendok yang tergeletak tidak jauh dari piringnya.


Kinan tidak langsung menjawab. "Kenapa aku gak lihat kamu kemarin pas jenguk Samudra?"


"Aku ikut seminar proposal di Bandung, Nan. Waktu Samudra pinjam bajuku itu lagi buru-buru buat packing."


"Loh kamu udah di acc sama Pak Wayan."


Nadhira mengangguk polos, menampilkan raut tak bersalah.


"Kamu sibuk pacaran mulu sih, sampai gak tahu kalau aku udah ikut seminar proposal." Sindir Nadhira.


"Makanya kamu terima Raka biar kita double date. Biar kamu gak jones amat."


"Dih, begitu amat. Kapan-kapan hangout bareng yuk. Kita nonton drakor sampai pagi, udah lama gak main sama kamu gara-gara skripsi."


"Mau-mau aja aku mah. Tapi kan daku belum dapat approve dari Pak Edy." tutur Kinan menampilkan raut sedih.


Nadhira terkekeh pelan memusatkan perhatiannya ke Kinan sambil menepuk bahu gadis itu.


"Suruh Samudra aja sih yang ngerjain. aku jamin lancar jaya skripsimu. Otak cowokmu itu kan encer," usul Nadhira.


Kinan menggeleng tanda tidak setuju. Diamemang pusing dengan skripsi namun itu adalah tanggung jawabnya untuk menyelesaikan. Tidak bisa dong dia menyerahkan tugasnya kepada Samudra. Walau tahu skripsi cowok itu sudah kelar dan sudah di terima juga oleh pihak universitas. Samudra memang pintar tidak mengherankan jika cowok itu bisa kuliah sambil kerja di perusahaan ayahnya.

__ADS_1


"Duh gak deh, mana mau aku llibatin Samudra. Nanti Pak Edy bisa gak bernyawa lagi gara-gara tuh orang ngamuk."


"Samudra bukan psikopat juga kali, Nan." Bantah Nadhira tak lupa diselingi senyuman kecil


Mendengar skripsi gadis itu jadi teringat kejadian kemarin di toko buku. Seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai sepupu Samudra sedikit mengusik Kinan untuk bertanya kepada Nadhira.


"Kemarin aku sama Samudra ke toko buku."


"Terus?" Nadhira berbicara sambil mengunyah nasi goreng dihadapannya.


"Aku gak tahu, tapi yang pasti ada seorang cowok yang ngenalin diri sebagai sepupunya Samudra, namanya Calvin. Belum sempat aku mau jabat tangan dia. Samudra langsung narik aku dan kita pulang gitu aja." Ucap Kinan pelan.


Mendadak Nadhira langsung menghentikan acara makannya.Dia memutar otak, Calvin Wijaya, cowok blasteran German dan Indonesia. Setelah enam tahun tidak kembali ke tanah air mengapa pria itu tiba-tiba saja memutuskan untuk menemui Samudra.


"Sebenarnya Calvin itu siapa? "tanya Kinan memicingkan matanya penuh menyelidik.


"Dia sepupu kami, anak tante Layla yang baru balik dari Aussie." Jelas Nadhira.


Merasa tidak puas Kinan hanya diam tanpa menanggapi berharap Nadhira akan memberikan penjelasan lebih dalam. Tetapi gadis itu tidak mendapatkan jawaban apa-apa setelahnya.


🌿🌿🌿


Ketiga nya  kini  sedang  berada  di rumah Raka, sudah  hal yang lumrah  jika  tempat cowok  itu dijadikan  bascamp teman-temannya. Selain  karena  rumah Raka sepi  karena  orang tuanya  telah bercerai, Rumah itu juga gudangnya makanan bagi mereka  karena cowok itu walau tinggal  sendiri selalu  siap sedia untuk kebutuhan dirinya.


"Ka gua haus nih boleh lah ambilin  minum," Pinta  Dinul  tidak tahu  diri padahal  sedang berkunjung  ke rumah orang.


"Lo kira gue pembantu apa? Ogah banget," Gerutu  Raka sambil  melirik  Samudra  yang  kini  sedang  memainkan XBox  bersama  Danang.


"Lo tahu kan perumpamaan Tamu itu adalah Raja. Gue Raja di rumah ini loh, jadi sebagai anak buah lo harus mematuhi gue." Dinul  tersenyum  bangga.


Melihat Dinul  yang tersenyum  Raka merasa  kesal diambilnya  bantal yang sedari tadi ia pangku lalu melemparkannya  ke Dinul.


"Ngomong nih sama bantal  gue," ucap Raka sinis.


"Gue Raja nih," Teriak Dinul  ketika Raka beranjak  meninggalkannya mengambil  sebuah gitar.


"Bodo amat, gak ngurus."

__ADS_1


Kalah lagi-kalah  terus, Itulah alasan  mengapa  Danang  tidak  ingin  bermain  XBox  bersama Samudra. Pria itu pasti akan selalu menang  entah  itu bermain  —Grand Theft  auto  V, Mark  of The Ninja, Halo 3, Gears  of War atau permainan  yang kini sedang ia mainkan  yakni Racing Games. Tampaknya  dia terlalu cupu  sampai  kalah begitu padahal  hanya bermain  mobil  saja. Entah  Samudra  yang terlalu  pandai  memainkannya  atau dia yang tidak bisa bermain? keduanya  tampak sama saja merugikan  untuk  Danang.


"Udahan  ah gak mau main lagi kalah mulu gue," sungut Danang  menjauhkan stick dari tangannya.


"Cupu  sih gak bisa  main," ejek  Samudra.



"Astagfirullahaladzim Samudra, Sudah  punya  pacar  kamu  jadi begini  ya. Gak  menyangka  aku," ucap  Danang sambil  mengelus dadanya  melihat  Samudra.


Mendengar  jawaban  Danang cowok  itu  hanya diam  dan malas menjawab.


Raka menghampiri  mereka berdua  sambil membawa  sebuah gitar dengan beberapa  senar yang putus. Ditangannya ada sebuah  bungkus  senar yang kemarin di belinya.


"Dra, Pasangin  senar gitar gue dong." Pinta Raka dengan  senyum malu-malu.


Kemarin  cowok  itu membeli  dua senar baru Merk  D'Addario kemarin  di pusat  perbelanjaan. Senar gitar akustik yang satu ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi kualitasnya. D’Addario merupakan  salah satu senar gitar yang terdepan dan terbaik dalam untuk  gitar  akustik  miliknya.


Tadinya  Raka berniat  untuk memasangnya sendiri. Alih-alih terpasang  senar itu malah putus untung saja  tidak mengenai  matanya kalau tidak bisa buta dia.


"Mana sini?"


Raka menyodorkan  gitar  akustiknya  ke tangan Samudra  sekaligus bersamaan  senar  yang dibelinya. Belum sempat membuka plastik bungkus senarnya. Suara Dinul membuat Samudra tidak bisa menahan untuk melirik teman smpnya.


"Dra, Calvin  udah balik dari Aussie?"


"Cewek  lo lagi sama Calvin  nih, liat?" Dinul  menyodorkan sebuah  foto  dari  akun  Instagram  milik  Calvin  yang diikutinya.


Raka yang menyadari kekesalan Samudra menimpuk Dinul dengan bantal. "Bacot nih anak kompor banget," gerutu Raka.


"Kok gue di lempar bantal sih?" kesal Dinul.


Melihat  foto  yang ada di sana Samudra tahu  betul bahwa dari posturnya  itu adalah Kinan. Sialan Kinan membohonginya.


🌿🌿🌿


TBC

__ADS_1



Jangan lupa Vote dan Komen 😘😘


__ADS_2