
🌸🌸🌸
Mata kuliah perpajakan akhirnya berakhir juga siang ini. Mendesah lelah Kinan berjalan menyusuri koridor depan kelas menuju kantin fakultas sambil mengetik sebuah pesan kepada Nadhira beserta mamanya. Hari ini mamanya pulang dari surabaya setelah pergi keluar kota cukup lama untuk tugas menemani ayahnya yang mengawasi pengerukan kapal di surabaya.
To Nadhira : Aku pesen nasgor duluan, samper ke kantin aja.
Setelah berjalan cukup lama tiba juga dia di Kantin fakultas. Disana ada beberapa deret meja yang tak terhitung jumlahnya, membuat Kinan bergerak memilih meja paling ujung dekat pintu yang menampakkan bagian luar taman. Didekat pintu kaca ada sebuah banner dengan tulisan Kawasan Tanpa Merokok. Kinan melirik semua area menggunakan matanya, siang ini kantin tidak begitu ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa junior masih mengikuti ujian semester bulan ini. Kinan menaruh yang sedari tadi digendongnya ke atas meja. Beranjak memesan sebuah nasi goreng lengkap dengan telur dan tomat kesukaannya.
Seorang gadis dengan pakaian kemeja berkerah kotak-kotak hijau sudah sampai setelah Kinan memesan dua nasi goreng untuk mereka. Nadhira duduk di kursi tepat dihadapan Kinan.
"Gimana hubungan kamu sama Samudra? Udah gak berantem?" Tanya Nadhira mengambil sebuah sendok yang tergeletak tidak jauh dari piringnya.
Kinan tidak langsung menjawab. "Kenapa aku gak lihat kamu kemarin pas jenguk Samudra?"
"Aku ikut seminar proposal di Bandung, Nan. Waktu Samudra pinjam bajuku itu lagi buru-buru buat packing."
"Loh kamu udah di acc sama Pak Wayan."
Nadhira mengangguk polos, menampilkan raut tak bersalah.
"Kamu sibuk pacaran mulu sih, sampai gak tahu kalau aku udah ikut seminar proposal." Sindir Nadhira.
"Makanya kamu terima Raka biar kita double date. Biar kamu gak jones amat."
"Dih, begitu amat. Kapan-kapan hangout bareng yuk. Kita nonton drakor sampai pagi, udah lama gak main sama kamu gara-gara skripsi."
"Mau-mau aja aku mah. Tapi kan daku belum dapat approve dari Pak Edy." tutur Kinan menampilkan raut sedih.
Nadhira terkekeh pelan memusatkan perhatiannya ke Kinan sambil menepuk bahu gadis itu.
"Suruh Samudra aja sih yang ngerjain. aku jamin lancar jaya skripsimu. Otak cowokmu itu kan encer," usul Nadhira.
Kinan menggeleng tanda tidak setuju. Diamemang pusing dengan skripsi namun itu adalah tanggung jawabnya untuk menyelesaikan. Tidak bisa dong dia menyerahkan tugasnya kepada Samudra. Walau tahu skripsi cowok itu sudah kelar dan sudah di terima juga oleh pihak universitas. Samudra memang pintar tidak mengherankan jika cowok itu bisa kuliah sambil kerja di perusahaan ayahnya.
__ADS_1
"Duh gak deh, mana mau aku llibatin Samudra. Nanti Pak Edy bisa gak bernyawa lagi gara-gara tuh orang ngamuk."
"Samudra bukan psikopat juga kali, Nan." Bantah Nadhira tak lupa diselingi senyuman kecil
Mendengar skripsi gadis itu jadi teringat kejadian kemarin di toko buku. Seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai sepupu Samudra sedikit mengusik Kinan untuk bertanya kepada Nadhira.
"Kemarin aku sama Samudra ke toko buku."
"Terus?" Nadhira berbicara sambil mengunyah nasi goreng dihadapannya.
"Aku gak tahu, tapi yang pasti ada seorang cowok yang ngenalin diri sebagai sepupunya Samudra, namanya Calvin. Belum sempat aku mau jabat tangan dia. Samudra langsung narik aku dan kita pulang gitu aja." Ucap Kinan pelan.
Mendadak Nadhira langsung menghentikan acara makannya.Dia memutar otak, Calvin Wijaya, cowok blasteran German dan Indonesia. Setelah enam tahun tidak kembali ke tanah air mengapa pria itu tiba-tiba saja memutuskan untuk menemui Samudra.
"Sebenarnya Calvin itu siapa? "tanya Kinan memicingkan matanya penuh menyelidik.
"Dia sepupu kami, anak tante Layla yang baru balik dari Aussie." Jelas Nadhira.
Merasa tidak puas Kinan hanya diam tanpa menanggapi berharap Nadhira akan memberikan penjelasan lebih dalam. Tetapi gadis itu tidak mendapatkan jawaban apa-apa setelahnya.
🌿🌿🌿
Ketiga nya kini sedang berada di rumah Raka, sudah hal yang lumrah jika tempat cowok itu dijadikan bascamp teman-temannya. Selain karena rumah Raka sepi karena orang tuanya telah bercerai, Rumah itu juga gudangnya makanan bagi mereka karena cowok itu walau tinggal sendiri selalu siap sedia untuk kebutuhan dirinya.
"Ka gua haus nih boleh lah ambilin minum," Pinta Dinul tidak tahu diri padahal sedang berkunjung ke rumah orang.
"Lo kira gue pembantu apa? Ogah banget," Gerutu Raka sambil melirik Samudra yang kini sedang memainkan XBox bersama Danang.
"Lo tahu kan perumpamaan Tamu itu adalah Raja. Gue Raja di rumah ini loh, jadi sebagai anak buah lo harus mematuhi gue." Dinul tersenyum bangga.
Melihat Dinul yang tersenyum Raka merasa kesal diambilnya bantal yang sedari tadi ia pangku lalu melemparkannya ke Dinul.
"Ngomong nih sama bantal gue," ucap Raka sinis.
"Gue Raja nih," Teriak Dinul ketika Raka beranjak meninggalkannya mengambil sebuah gitar.
"Bodo amat, gak ngurus."
__ADS_1
Kalah lagi-kalah terus, Itulah alasan mengapa Danang tidak ingin bermain XBox bersama Samudra. Pria itu pasti akan selalu menang entah itu bermain —Grand Theft auto V, Mark of The Ninja, Halo 3, Gears of War atau permainan yang kini sedang ia mainkan yakni Racing Games. Tampaknya dia terlalu cupu sampai kalah begitu padahal hanya bermain mobil saja. Entah Samudra yang terlalu pandai memainkannya atau dia yang tidak bisa bermain? keduanya tampak sama saja merugikan untuk Danang.
"Udahan ah gak mau main lagi kalah mulu gue," sungut Danang menjauhkan stick dari tangannya.
"Cupu sih gak bisa main," ejek Samudra.
"Astagfirullahaladzim Samudra, Sudah punya pacar kamu jadi begini ya. Gak menyangka aku," ucap Danang sambil mengelus dadanya melihat Samudra.
Mendengar jawaban Danang cowok itu hanya diam dan malas menjawab.
Raka menghampiri mereka berdua sambil membawa sebuah gitar dengan beberapa senar yang putus. Ditangannya ada sebuah bungkus senar yang kemarin di belinya.
"Dra, Pasangin senar gitar gue dong." Pinta Raka dengan senyum malu-malu.
Kemarin cowok itu membeli dua senar baru Merk D'Addario kemarin di pusat perbelanjaan. Senar gitar akustik yang satu ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi kualitasnya. D’Addario merupakan salah satu senar gitar yang terdepan dan terbaik dalam untuk gitar akustik miliknya.
Tadinya Raka berniat untuk memasangnya sendiri. Alih-alih terpasang senar itu malah putus untung saja tidak mengenai matanya kalau tidak bisa buta dia.
"Mana sini?"
Raka menyodorkan gitar akustiknya ke tangan Samudra sekaligus bersamaan senar yang dibelinya. Belum sempat membuka plastik bungkus senarnya. Suara Dinul membuat Samudra tidak bisa menahan untuk melirik teman smpnya.
"Dra, Calvin udah balik dari Aussie?"
"Cewek lo lagi sama Calvin nih, liat?" Dinul menyodorkan sebuah foto dari akun Instagram milik Calvin yang diikutinya.
Raka yang menyadari kekesalan Samudra menimpuk Dinul dengan bantal. "Bacot nih anak kompor banget," gerutu Raka.
"Kok gue di lempar bantal sih?" kesal Dinul.
Melihat foto yang ada di sana Samudra tahu betul bahwa dari posturnya itu adalah Kinan. Sialan Kinan membohonginya.
🌿🌿🌿
TBC
__ADS_1
Jangan lupa Vote dan Komen 😘😘