
🌸🌸🌸
Bibirnya benar -benar sudah di kuasai Samudra. Kinan kewalahan, untuk bernapas saja dia sangat sulit, Samudra melakukannya dengan lembut namun sedikit intensif membuat Kinan tidak mampu mengimbangi.
Melihat Kinan yang kehabisan napas, Samudra akhirnya melepaskan bibirnya dari bibir Kinan. Ciuman mereka bahkan hanya berlangsung dalam waktu tiga menit dan lucunya Kinan sudah terlihat seperti seorang penderita asma yang membutuhkan banyak pasokan udara. Dia butuh oksigen untuk memenuhi paru-parunya yang di renggut oleh Samudra.
Jarak keduanya masih terlalu dekat, namun tidak menutup kemungkinkan Kinan untuk sedikit bernapas sejenak.
Samudra tertawa pelan merasa gemas dengan gadisnya, di tangkupnya wajah Kinan dengan kedua tangannya memegang pipi gadis itu.
"Sayang kamu bakal mati kalau nggak bernapas kayak tadi," Samudra menempelkan dahi mereka, membuat Kinan tidak mampu menahan aura panas di tubuhnya yang kini pelan-pelan menjalar ke pipinya, membuat rona merah timbul di sana.
Kinan memang menahan napas sejak ciuman itu berlangsung. Katakan dia bodoh karena sudah menginjak hampir dua puluh satu tahun masih begitu amateur dengan hal yang dilakukan mereka.
Bagaimana tidak? Ini ciuman ketiganya bersama Samudra. Tidak mungkin dia langsung menjadi pandai. Dia masih terlalu polos, dan lugu akan masalah ini. Sejenak Kinan merasa malu, karena bisa-bisanya menghitung kejadian ciumannya.
"Dra, aku malu banget," Kinan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Samudra mengusap-usap rambut Kinan dengan gemas, tingkah Kinan yang seperti ini mengingatkan Samudra dengan Amara.
Dia tidak mau melihat Samudra, wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Samudra tersenyum kecil namun hatinya juga sendu. Dia merasa bersalah terhadap Kinan karena di sela-sela ciuman mereka, beberapa kali Samudra memikirkan Amara. Dia seakan mengubah mindset nya bahwa di hadapannya ini adalah Amara. Saat Samudra menyadarinya, dia melepas ciuman mereka, sekaligus menyadari Kinan yang tidak bernapas sejak ciuman yang Samudra mulai.
Dering telpon menghentikkan kegiatan keduanya, Samudra memeriksa ponselnya ternyata dering itu bukan berasa dari ponselnya, melainkan ponsel Kinan.
"Halo," sapa Kinan kepada seseorang di sana.
Belum sempat Nissa membalas sapaan kakak tingkatnya, ponselnya sudah berada di tangan Samudra.
"Maaf kak, saya Nissa yang kemarin, mau tanya kak Samudra ada berubah pikiran nggak kak?"
Tampaknya gadis ini sangat mengganggu Kinan, bahkan bahasa manusia saja dia tidak mengerti.
"Lo suka ganggu cewek gue, ya?"
__ADS_1
"Dra, apaansih, jangan kasar gitu, kasihan." Kinan merebut ponselnya membuat Samudra menatap sebal.
"Sa—Saya,"
Kinan merasa kasihan ketika Nissa menjadi tergagu begitu setelah mendengar pertanyaan Samudra.
"Samudra mau jadi pengisi seminar kok, kamu tenang saja ya." ucap Kinan membuat Nissa tak percaya. sebucin itu kah kakak tingkatnya jika berhubungan dengan Kinan Zetira Bilqis.
Spontan Nissa langsung berteriak bahagia membuat Kinan menggeleng tak percaya. Sepenting itukah arti Samudra untuk mengisi acara kegiatan mereka?
"Makasih banyak ,Kak," ucapan itu terus diulang Nissa.
"Santai saja," Samudra meraih telpon Kinan kembali ke tangannya. Mematikan sambungan kemudian beralih menatap Kinan lamat-lamat.
"Memangnya aku sudah menyetujuinya?"
"Eh?"
Samudra memang tidak mengatakan iya, namun yang di lakukannya tadi tiga menit yang lalu. Bukankah itu tanda bahwa dia menyetujuinya. "Tadi baru tiga menit Kinan, Kamu masih punya hutang dua menit sama aku." imbuh Samudra.
"Kenapa cewek suka ngambekkan sih?" gerutu Raka.
Raka duduk dengan gusar, dia sudah membujuk untuk minta maaf kepada Nadhira. Bukannya mendapatkan jawaban maaf, Raka malah di lempar dengan bantal dan di suruh keluar. Raka ganteng ini salah apa Tuhan?
"Kamu pacaran sama Ayunda, Ka?" Tanya Kinan menyimpang dari apa yang di tanyakan Raka.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Ayunda cantik, cocoklah sama gue,"
Raka melihat Nadhira yang keluar dari kamarnya. Namun bukannya ke arah ruang televisi, gadis itu malah menuju jalan ke ruang dapur. Matanya sempat bersibobrok dengan mata Nadhira. Ternyata apa yang dipikirkan Nadhira benar saja, cowok itu sudah punya pacar. Untuk apa juga dia masih memikirkan tentang Raka. Jelas saja cowok itu kan memang playboy dari lahir, dia bahkan tidak bisa memanage perasaannya sendiri.
"Cantik tidak menjamin kenyamanan, Ka. Seharusnya kamu tahu itu, aku rasa kamu sudah dewasa untuk menentukan pilihan. Kalau kamu suka sama Nadhira, kejar dia. Jangan biarkan dirimu kecewa suatu saat nanti,"
Ucapan itu bukan untuk Samudra tetapi mengapa kalimat terakhir yang di ucapkan gadisnya malah seakan cocok untuk dirinya. Jangan biarkan dirimu kecewa suatu saat nanti, Benarkah Samudra merasakan sebuah kekecewaan saat melepas Amara? Tiba-tiba saja pikiran itu menghantuinya seperti kaset rusak yang terus berbunyi berulang-ulang.
Raka mencondongkan dirinya ke depan, "Gimana kalau gue suka lo Nan? Apa berhak gue perjuangin lo?" tanya Raka menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Ngomong apaan lo?" Tatapan Samudra menusuk, sudah siap membunuh Raka malam ini.
Itu hanya sebuah perkataan namun mengapa jiwa Samudra begitu terusik dengan pertanyaan Raka.
Sedetik kemudian Raka langsung terkekeh, "Yaelah, Canda doang Dra, serius amat dah."
Kinan tidak mengambil pusing dia berdiri dari duduknya, Menurutnya Raka memang suka mempercandakan hal sepele yang sebenarnya mengartikan banyak hal membuat sang penafsir malah terjebak dalam kesalah pahaman.
"Kamu sebenarnya suka nggak sih sama Nadhira?"
"Kalau dibilang suka dalam hal membawa perasaan, jawaban gue nggak. Gue bukan suka tapi sayang, gue sayang dia layaknya adek gue sendiri,"
"Cowok seperti kamu ini memang harus di musnahkan, memberikan harapan namun hanya bisa menjatuhkan. Nadhira nggak pantas buat kamu," kesal Kinan.
Raka tidak mengerti dengan ucapan Kinan, memangnya harapan apa yang sudah Raka berikan kepada sepupu Samudra itu. Dia hanya bertindak layaknya seorang teman kepada Nadhira. Mengapa jawaban Kinan membuat Raka merasa Nadhira menyukainya? Huh, tidak mungkin, gadis itu saja selalu marah-marah jika bertemu dengan Raka.
"Aku ke atas," Kinan melirik Samudra yang mengangguk kemudian menghampiri Nadhira yang membawa sebuah gelas berisikan air putih.
Nadhira mendengar semua yang dikatakan Raka. Hatinya sakit mendengarnya. Tapi kenapa harus sakit? Dia bukan siapa-siapa cowok itu. Terlebih lagi Dia tidak menyukai Raka juga. Memangnya siapa yang mau menjadi adik dari cowok itu, jadi adik saja tidak sudi apalagi menjadi pacarnya.
"Gue nggak peduli meski lo temen gue Ka, lo emang bercanda tapi gue terganggu dengan ucapan lo." desis Samudra.
Raka tersenyum manis, "Bercanda doang, bos."
Samudra sama sekali tidak tersenyum menanggapi Raka. Namun suasana mendadak diam ketika Raka mengutarakan pertanyaan yang membuat Samudra berada mengernyitkan dahi dengan sangat dalam.
"Gue lihat lo sangat mencintai Kinan, dra. Kalau suatu saat lo nyesel dengan pilihan lo sendiri, yang memutuskan meninggalkan Amara. Apa lo bakal lepasin Kinan gitu aja?"
"Maksud lo apa?"
🌿🌿🌿
TBC
__ADS_1