My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 13


__ADS_3


🌸🌸🌸


Bibirnya  benar -benar  sudah di kuasai  Samudra. Kinan kewalahan, untuk  bernapas saja dia sangat sulit, Samudra  melakukannya dengan  lembut namun  sedikit intensif membuat Kinan tidak mampu  mengimbangi.


Melihat  Kinan yang kehabisan  napas, Samudra  akhirnya  melepaskan bibirnya  dari bibir Kinan. Ciuman  mereka  bahkan hanya berlangsung dalam waktu tiga menit dan lucunya Kinan sudah terlihat  seperti seorang  penderita  asma  yang membutuhkan  banyak pasokan  udara. Dia butuh  oksigen  untuk memenuhi  paru-parunya yang di renggut  oleh Samudra.


Jarak  keduanya  masih terlalu  dekat, namun tidak menutup kemungkinkan Kinan untuk sedikit bernapas  sejenak.


Samudra  tertawa pelan merasa  gemas dengan  gadisnya, di tangkupnya  wajah  Kinan dengan  kedua tangannya memegang pipi gadis itu.


"Sayang kamu bakal  mati kalau nggak  bernapas  kayak  tadi," Samudra menempelkan dahi mereka, membuat  Kinan tidak mampu menahan  aura panas di tubuhnya yang kini pelan-pelan menjalar  ke pipinya, membuat  rona  merah timbul  di sana.


Kinan memang  menahan  napas sejak  ciuman itu berlangsung. Katakan  dia bodoh karena  sudah menginjak  hampir dua puluh  satu tahun masih begitu  amateur dengan hal yang dilakukan  mereka.


Bagaimana  tidak? Ini ciuman  ketiganya  bersama Samudra. Tidak mungkin dia langsung menjadi pandai. Dia masih terlalu  polos, dan lugu  akan masalah  ini. Sejenak  Kinan merasa malu, karena bisa-bisanya menghitung  kejadian ciumannya.


"Dra, aku malu banget," Kinan  menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Samudra mengusap-usap rambut Kinan dengan gemas, tingkah Kinan yang seperti ini mengingatkan Samudra dengan Amara.


Dia tidak mau melihat Samudra, wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Samudra tersenyum kecil namun hatinya juga sendu. Dia merasa bersalah terhadap Kinan karena di sela-sela ciuman mereka, beberapa kali Samudra memikirkan Amara. Dia seakan mengubah mindset nya bahwa di hadapannya ini adalah Amara. Saat Samudra menyadarinya, dia melepas ciuman mereka, sekaligus menyadari Kinan yang tidak bernapas sejak ciuman yang Samudra mulai.



Dering telpon menghentikkan kegiatan keduanya, Samudra memeriksa ponselnya ternyata dering itu bukan berasa dari ponselnya, melainkan ponsel Kinan.


"Halo," sapa Kinan kepada seseorang di sana.


Belum sempat Nissa membalas sapaan kakak tingkatnya, ponselnya sudah berada di tangan Samudra.


"Maaf kak, saya Nissa yang kemarin, mau tanya kak Samudra ada berubah pikiran nggak kak?"


Tampaknya gadis ini sangat mengganggu Kinan, bahkan bahasa manusia saja dia tidak mengerti.


"Lo suka ganggu cewek gue, ya?"

__ADS_1


"Dra, apaansih, jangan kasar gitu, kasihan." Kinan merebut ponselnya membuat Samudra menatap sebal.


"Sa—Saya,"


Kinan merasa kasihan ketika Nissa menjadi tergagu begitu setelah mendengar pertanyaan Samudra.


"Samudra mau jadi pengisi seminar kok, kamu tenang saja ya." ucap Kinan membuat Nissa tak percaya. sebucin itu kah kakak tingkatnya jika berhubungan dengan Kinan Zetira Bilqis.


Spontan Nissa langsung berteriak bahagia membuat Kinan menggeleng tak percaya. Sepenting itukah arti Samudra untuk mengisi acara kegiatan mereka?


"Makasih banyak ,Kak," ucapan itu terus diulang Nissa.


"Santai saja," Samudra meraih telpon Kinan kembali ke tangannya. Mematikan sambungan kemudian beralih menatap Kinan lamat-lamat.


"Memangnya aku sudah menyetujuinya?"


"Eh?"


Samudra memang tidak mengatakan iya, namun yang di lakukannya tadi tiga menit yang lalu. Bukankah itu tanda bahwa dia menyetujuinya. "Tadi baru tiga menit Kinan, Kamu masih punya hutang dua menit sama aku." imbuh Samudra.


"Kenapa cewek suka ngambekkan sih?" gerutu Raka.


Raka duduk dengan gusar, dia sudah membujuk untuk minta maaf kepada Nadhira. Bukannya mendapatkan jawaban maaf, Raka malah di lempar dengan bantal dan di suruh keluar. Raka ganteng ini salah apa Tuhan?


"Kamu pacaran sama Ayunda, Ka?" Tanya Kinan menyimpang dari apa yang di tanyakan Raka.


"Kalau iya, memangnya kenapa? Ayunda cantik, cocoklah sama gue,"


Raka melihat Nadhira yang keluar dari kamarnya. Namun bukannya ke arah ruang televisi, gadis itu malah menuju jalan ke ruang dapur. Matanya sempat bersibobrok dengan mata Nadhira. Ternyata apa yang dipikirkan Nadhira benar saja, cowok itu sudah punya pacar. Untuk apa juga dia masih memikirkan tentang Raka. Jelas saja cowok itu kan memang playboy dari lahir, dia bahkan tidak bisa memanage perasaannya sendiri.


"Cantik tidak menjamin kenyamanan, Ka. Seharusnya kamu tahu itu, aku rasa kamu sudah dewasa untuk menentukan pilihan. Kalau kamu suka sama Nadhira, kejar dia. Jangan biarkan dirimu kecewa suatu saat nanti,"


Ucapan itu bukan untuk Samudra tetapi mengapa kalimat terakhir yang di ucapkan gadisnya malah seakan cocok untuk dirinya. Jangan biarkan dirimu kecewa suatu saat nanti, Benarkah Samudra merasakan sebuah kekecewaan saat melepas Amara? Tiba-tiba saja pikiran itu menghantuinya seperti kaset rusak yang terus berbunyi berulang-ulang.


Raka mencondongkan dirinya ke depan, "Gimana kalau gue suka lo Nan? Apa berhak gue perjuangin lo?" tanya Raka menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Ngomong apaan lo?" Tatapan Samudra menusuk, sudah siap membunuh Raka malam ini.


Itu hanya sebuah perkataan namun mengapa jiwa Samudra begitu terusik dengan pertanyaan Raka.


Sedetik kemudian Raka langsung terkekeh, "Yaelah, Canda doang Dra, serius amat dah."


Kinan tidak mengambil pusing dia berdiri dari duduknya, Menurutnya Raka memang suka mempercandakan hal sepele yang sebenarnya mengartikan banyak hal membuat sang penafsir malah terjebak dalam kesalah pahaman.


"Kamu sebenarnya suka nggak sih sama Nadhira?"


"Kalau dibilang suka dalam hal membawa perasaan, jawaban gue nggak. Gue bukan suka tapi sayang, gue sayang dia layaknya adek gue sendiri,"


"Cowok seperti kamu ini memang harus di musnahkan, memberikan harapan namun hanya bisa menjatuhkan. Nadhira nggak pantas buat kamu," kesal Kinan.


Raka tidak mengerti dengan ucapan Kinan, memangnya harapan apa yang sudah Raka berikan kepada sepupu Samudra itu. Dia hanya bertindak layaknya seorang teman kepada Nadhira. Mengapa jawaban Kinan membuat Raka merasa Nadhira menyukainya? Huh, tidak mungkin, gadis itu saja selalu marah-marah jika bertemu dengan Raka.


"Aku ke atas," Kinan melirik Samudra yang mengangguk kemudian menghampiri Nadhira yang membawa sebuah gelas berisikan air putih.


Nadhira mendengar semua yang dikatakan Raka. Hatinya sakit mendengarnya. Tapi kenapa harus sakit? Dia bukan siapa-siapa cowok itu. Terlebih lagi Dia tidak menyukai Raka juga. Memangnya siapa yang mau menjadi adik dari cowok itu, jadi adik saja tidak sudi apalagi menjadi pacarnya.


"Gue nggak peduli meski lo temen gue Ka, lo emang bercanda tapi gue terganggu dengan ucapan lo." desis Samudra.


Raka tersenyum manis, "Bercanda doang, bos."


Samudra sama sekali tidak tersenyum menanggapi Raka. Namun suasana mendadak diam ketika Raka mengutarakan pertanyaan yang membuat Samudra berada mengernyitkan dahi dengan sangat dalam.


"Gue lihat lo sangat mencintai Kinan, dra. Kalau suatu saat lo nyesel dengan pilihan lo sendiri, yang memutuskan meninggalkan Amara. Apa lo bakal lepasin Kinan gitu aja?"


"Maksud lo apa?"


🌿🌿🌿


TBC


__ADS_1


__ADS_2