
๐ธ๐ธ๐ธ
Semua penyakit pasti ada obatnya. Itu yang dipercayai Amara untuk saat ini ketika dia benar-benar fokus mengikut kemoterapi yang sudah dirancang baik oleh rumah sakit. Dia ingin sembuh dan memulai hidupnya seperti dulu kala. Tanpa beban dan rasa sakit yang menggerogoti.
Setiap harinya memang terasa pahit bagi Amara. Sejak Samudra masih memperdulikan dirinya. Dengan naif Amara mengubah pemikirannya bahwa dia harus sembuh untuk mengembalikan Samudra ke tangannya. Mengunci hati pria itu untuk dirinya seorang saja.
Namun apa yang terjadi dengan hatinya ketika mata tajam milik Calvin membuat jantungnya berdetak kencang. Baru kali ini ketika tangan Calvin menyentuh sudut bibir gadis itu timbul sesuatu perasaan yang tidak dia pahami. Walau sedikit tapi Amara dapat merasakannya.Hari ini Calvin datang seperti biasanya menyuapi Amara makan dan membantu apapun yang diinginkan gadis itu. Keduanya saling bertatapan dan terdiam. Calvin yang menyadari bahwa tangannya yang tidak sopan langsung menarik diri untuk tidak menyentuh Amara sedikit pun.
"Di bibir kamu ada nasi. Jadi aku ingin membersihkannya. Maaf berlaku nggak sopan," jelas Calvin walaupun Amara tidak meminta penjelasan cowok itu sedari tadi.
Tentu saja Amara merasa canggung saat ini. Dia menahan napas sejenak kemudian menghembuskannya perlahan. Demi menetralkan paru-parunya yang kurang akan pasokan oksigen.
"Makasih," cicitnya pelan lantas meminum air di gelas yang terletak di atas nakas hingga tandas.
Rasanya tenggorokkannya menjadi lebih kering karena situasi ini. "Aku mau makan sendiri saja,Vin. Kamu nggak keberatan kan?" tanya Amara ketika Calvin menyodorkan sendok penuh dengan lauk pauk di hadapannya.
"Kamu keberatan kalau aku bantu nyuapin kamu?"
Menolak disaat situasi ini sangat tidak memungkinkan bagi Amara ketika melihat mata Calvin menukik begitu tajam. "Aku nggak keberatan. Tapi kelihatannya kamu kerepotan nyuapin bayi besar kayak aku." Amara berusaha untuk menolak pria itu dengan menggunakan kata-kata yang tidak menyakiti hati Calvin.
"Bahkan untuk nyuapin kamu aja, sekarang aku dilarang, Ra?" lirih Calvin meletakkan piring yang ada di tangannya ke atas nakas.
Amara menggigit bibirnya mengusir rasa bersalah karena telah berkata begitu. Sungguh dia bukan melarang Calvin, hanya saja dia merasa canggung dengan pria itu. Calvin hanya temannya dan sebatas itu tidak lebih. Tapi melihat perilaku cowok itu yang masih peduli dengannya membuat Amara harus bertindak tegas. Tidak ada teman seperti mereka saat ini. Terlebih lagi dia masih menginginkan Samudra. Bagaimana dia bisa bersama Samudra jika Amara masih berdekatan dengan pria dihadapannya kini?
"Aku nggak melarang kamu, Vin. Hanya saja aku merasa canggung dengan apa yang kamu lakukan."
"Kita bahkan sudah berteman hampir empat tahun. Kenapa kamu baru merasakan keberatan hari ini? Apa ini semua karena Samudra?Sebelum-sebelumnya kamu biasa saja kok dengan apa yang aku lakukan."
"Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan Samudra."
"Lantas, Kenapa kamu terlihat menjauhiku setelah Samudra datang kembali ke sini?"
__ADS_1
Dia tidak bisa berlaku seperti dulu. Jangan samakan Amara yang lalu dengan sekarang karena gadis itu benci untuk dibandingkan walau itu masih menggunakan dirinya.
"Vin, aku udah pernah bilang sama kamu. Kita hanya teman dan nggak bakalan bisa lebih." tutur Amara mengalihkan matanya menatap jendela kaca rumah sakit.
Calvin mendengus mendengarnya. Teman? dan hanya akan sebatas itu. Seharusnya dia sadar untuk tidak menemui gadis didepannya. Kenapa dirinya bisa begitu bodoh tetap berdiri paripurna di hadapan Amara yang kini telah dia hancurkan masa depannya tanpa rasa malu sedikit pun.
Dia terkekeh dengan suaranya terdengar pedih. Amara tahu Calvin kecewa mendengar apa yang dia katakan. Namun sebagai seorang wanita dia harus memberikan kepastian untuk Calvin. Dia tidak bisa terus mengulur waktu. Mencegah Calvin menemui kebahagiannya sendiri. Dia tidak mau menahan pria itu.
"Apa memang nggak ada ruang buat aku sedikitpun di hati kamu, Ra?"
Amara terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan bahwa perasaannya sepenuhnya di dominasi Samudra. Walau jantungnya pernah berdetak lebih cepat beberapa kali karena lelaki ini. Tapi Amara yakin seribu persen bahwa dia masih menginginkan Samudra untuk kembali bersamanya.
"Aku mencintai kamu. Dulu, esok, hingga detik ini. Perasaan aku ke kamu nggak pernah berubah. Tapi kamu selalu nolak aku! Aku nggak bisa menjamin akan mencintai kamu kedepannya, Ra."
"Maka kamu harus berhenti detik ini juga, Vin. Sudah Aku bilang bahwa hanya Samudra yang aku cinta. Rasa cintaku kepada Samudra sama seperti kamu yang mencintai aku. Bedanya hanya aku akan terus mencintai Samudโ." Bibirnya dibungkam pria yang ada di hadapannya. Calvin sama sekali tidak memberi ruang untuk Amara berbicara sekalipun.
Entah mengapa Calvin begitu kesal mendengar penjelasan gadis itu. Dia tahu bahwa perasaan Amara akan selalu berujung kepada Samudra. Tapi dia tidak ingin mendengar itu dari bibir Amara sama sekali.
PLAKKK!
Tetapi Calvin yang buta dengan emosi membuat dia tetap menahan tengkuk gadis yang ada di hadapannya. Lagi. Amara menampar Calvin lebih kuat dari sebelumnya. Namun hasilnya nihil, cowok itu benar-benar menjadi gila. Dan Amara tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Dia ketakutan dan berharap seseorang menyelamatkannya.
Calvin bisa merasakan sebuah air mata yang jatuh mengenai pipinya. Dia tidak menangis. Lantas ini milik siapa? Jelas Amaralah pelakunya. Gadis itu kembali menangis karena Calvin. Padahal dulu dia sudah berjanji untuk menjaga air mata milik gadis itu. Akhirnya, Calvin dengan terpaksa melepaskan pagutan mereka.
Cowok itu menunduk dalam. "Maafin akโ"
"KELUAR DARI SINI. AKU BENCI KAMU!" teriak Amara mengejutkan Calvin ketika melihat mata gadis itu memerah menahan tangis.
Calvin mencoba memegang tangan gadis itu. Dia merasa bersalah karena hal ini. Namun itu memang di luar kendalinya. Tubuhnya refleks mendekatkan diri dengan Amara.
"Ra, aku nggak bermaksud untโ"
"AKU BILANG KELUAR SEKARANG!" teriak Amara lagi.
__ADS_1
Calvin berdiri dari kursinya melihat Amara yang sama sekali tidak ingin melihatnya. Dia benar-benar menyesal melakukan hal itu. Andai saja waktu dapat di putar kembali.
"Maafin aku, Ra. Aku hanya nggak suka kalau kamu mengatakan masih mencintai Samudra di depanku. Aku manusia biasa dan bisa cemburu sewaktu-waktu. Aku pergi. Kamu jangan lupa untuk makan." ujar Calvin sebelum benar-benar pergi dari hadapan Amara.
Selepas kepergian Calvin tangis Amara pecah mendengar nada kesedihan dibalik suara itu. Sebenarnya siapa yang dia cintai? Samudra atau Calvin? mengapa hatinya begitu sakit mendengar Calvin berkata seperti itu.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
TBC
**BABANG CALVIN SEDIHH BANGETT YAWW? AHH PEN PELUKKK ๐ซ๐ซ
SEBENARNYA HATI KAMU TUH MILIK SIAPA SIH, RA?
CALVIN ATAU SAMUDRA?
DUHH. BINGUNG AKU TUH.
YANG IKUT BINGUNG SAMA HATI AMARA SIAPA AJA NIH? KOMEN YUK DIBAWAH.
SIAPA UDAH GAK SABAR NUNGGU KINAN KETEMU AMARA? COBA KOMEN DIBAWAH.
REAKSI KINAN PERTAMA KALI KETEMU AMARA KAYAK GIMANA YA KIRA-KIRA?
OH YA, MAIN TEBAK-TEBAKKAN YUK. CERITA INI HAPPY ENDING APA SAD ENDING? WKWKWKW ๐
JANGAN LUPA STAY SAFE EVERYONE. AKU BAKALAN BERUSAHA UNTUK RAJIN UPDATE AGAR MENEMANI KEBOSANAN KALIAN YANG #DIRUMAHAJA. JANGAN LUPA UNTUK MEMBERIKAN LIKE KOMEN DAN VOTE UNTUK CERITA INI.
salam,
Melni ๐บ**
__ADS_1