My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 23


__ADS_3


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Putaran roda itu selalu dinikmati oleh Amara kala beradu dengan lantai. Dia sudah sampai di Gedung Graha, Amara menghirup udara segar yang selama ini tak pernah dia rasakan semenjak di rumah sakit. Matanya melirik banyak orang yang berlalu-lalang.


Amara merasakan perih ketika melihat seorang anak kecil berumur 7 tahun yang sama sekali sudah tidak memiliki rambut. Persis sepertinya. Bedanya dia kini mengenakan wig panjang berwarna coklat, untuk menutupi kepalanya. Untuk mengelabui orang-orang?


Gadis itu memperhatikan bagaimana anak kecil itu tersenyum memancarkan senyum pipit yang hanya timbul di pipi kirinya. Bercanda dengan sang ibu, dan bergurau dengan kakak nya. Air mata Amara menetes, gadis sekecil itu harus menanggung beban, seperti dirinya. Melihat anak kecil itu yang seakan menghargai setiap detik yang dilalui membuat Amara menjadi malu pada dirinya sendiri yang tidak menghargai jalan hidupnya.


"Kita udah telat sepertinya, Vin. Apa masih boleh masuk ya?" Amara memutar kepalanya menghadap Calvin walaupun agak kesulitan.


"Nggak ada Pak Maman kok, kamu nggak bakal dihukum kalau telat," Gurau Calvin mengundang tawa dari Amara.


Pak Maman merupakan wakil kesiswaan di sekolahnya, menghukum orang merupakan pekerjaan guru itu. Amara menjadi salah satu sasarannya kala dia terlambat bangun saat sedang ospek. Entah anugerah atau penghukuman, saat itu pertama kalinya dia bertemu mata teduh itu.


Samudra yang membelanya di hadapan semua orang, cowok itu langsung menerjam Pak Maman tak terkecuali beberapa senior. Anehnya, semua tampak tunduk seakan cowok itu memiliki otoriternya sendiri. Sedangkan Pak Maman karena tidak ingin berhubungan dengan Samudra, dia memutuskan Amara untuk membersihkan lantai pinggir kolam renang sekolah.


Disana Samudra mengajaknya kenalan, dan tanpa aba-aba mengklaimnya sebagai pacarnya. Amara tenggelam dalam pikirannya, dia merindukan saat-saat itu dimana awalnya dia begitu menolak Samudra.


"Vin," panggil Amara.


Calvin berdehem menyambut panggilan itu, langkahnya terus berjalan menuju pintu G,tempat yang sudah dikhususkan bagi para penderita kanker.


"Aku kangen masa SMA, ketika Dinul dan Danang sibuk memainkan gitar di belakang kelas dengan tawa candanya bersama Raka. Serta kamu yang selalu mengusili Samudra ketika dia membaca. Seandainya aku bisa kembali ke masa itu." Amara memandang kosong apa yang terlihat di depannya.


"Kalau aku ngomong ke doraemon, dia bakalan pinjemin aku mesin waktu nggak ya, Vin?" Canda Amara tak luput kekehan diakhir ucapannya.


Calvin terdiam, dia mengacak rambut hitam itu, memberhentikan kursi roda. Mengambil handphonenya lalu mencari di kolom penelusuran, sebuah gambar kartun mirip kucing berwarna biru itu sudah muncul di layar handphonenya.



"Hai, aku doraemon!" Calvin menjepit kedua hidungnya, lalu berbicara dengan suara melengkingnya.


Amara terbahak-bahak, bukannya mirip doraemon suaranya malah terdengar seperti kodok yang merintih. Dia benar-benar tertawa kala Calvin malah memperagakan bibirnya membentuk huruf u diakhir kalimat.


"Hai doraemon, Aku Amara, boleh nggak minjem mesin waktu kamu?" jawab Amara mengikuti kegilaan Calvin.


"Boleh, tapiโ€” mesin waktuku lagi di service. lain kali ya," ucap Calvin dengan nada sedihnya.


"Haha, Yah," Amara pura-pura ikut bersedih mendengarnya.


"Jangan sedih! nanti aku ajak kamu ke sekolah kita dulu,"


"Benarkah?Janji?" Amara menyodorkan jari kelingking kanannya sebagai bentuk sumpah mereka.


"Janji," Calvin menautkan kelingkingnya.


Gambar doraemon memang terlihat menarik, namun gaya perawakan Calvin lah yang membuat Amara tidak berhenti untuk tertawa. Mereka berhenti di depan pintu masuk, setelah itu Calvin langsung mengisi daftar hadir terlebih dahulu agar kami dapat memasuki ruangan.

__ADS_1


"Tunggu di sini, sebentar." ucap Calvin meninggalkan Amara tidak jauh dari stan pengisi daftar hadir.



Beberapa orang masuk ke dalam ruangan, memudahkan Amara melihat sedikit interior ruangan gedung di sana. Keramaian membuat cewek itu tersenyum senang, sudah lama dia tidak menghadiri acara ramai bersama khalayak umum.


Dorongan itu menyadarkan Amara bahwa Calvin sudah mengisi daftar hadir di sana, mereka memasuki pintu masuk. Seorang pria yang terlihat lebih muda darinya dengan pin yang melekat dengan tulisan Duta Universitas mengiring Amara dan Calvin untuk mendapatkan sebuah tempat yang strategis.


"Itu seminar dari Fakultas Bisnis dan Manajemen. Kami sangat berterimakasih untuk perwakilannya, sekarang kita akan beralih ke Fakultas Pertanian, Kita sambut Kak Dewa angkatan 50 dari fakultas pertanian." Ucap pengisi acara tak lama seorang pria tegap berbadan dengan kulit agak kecoklatan datang menghampirinya.


Amara berada di antara kerumunan orang menyaksikan acara seminar tersebut bersama Calvin yang sudah tenggelam dengan ponselnya. Hampir dua jam sudah mereka disini. Sesi terakhir adalah foto-foto. Amara sudah memposisikan dirinya untuk berada di antara anak-anak kanker lainnya. Setelah itu mereka berkeliling sekedar menghirup udara segar, hingga akhirnya Calvin memutuskan agar Amara menatap pemandangan di taman tak jauh dari gedung Graha.


Seorang anak kecil manis sedang menangis sendiri di tepi danau. Sesekali melempar batu di tangannya yang dia ambil tak jauh dari pohon tempat dia berteduh.


"Aku beli minum dulu untuk kamu, tunggu disini, dan jangan kemana-mana." perintah Calvin.


Anggukan Amara seiring dengan langkah Calvin yang perlahan meninggalkannya di sana. Amara menggerakkan kursi rodanya menuju anak kecil tersebut yang gaya rambutnya saja bahkan lebih unik darinya.


"Hai, Si Rambut kepang dua," panggil Amara membuat sang empu yang merasa disebut menolehkan matanya.


Anak kecil itu diam ketika sosok Amara semakin mendekat. Amara berusaha menggapai beberapa batu yang ada di depannya. Lalu, ikut melemparkan batu itu ke danau lebih jauh dari sang anak kepang dua tersebut.


"Danau memang merupakan tempat yang bisa membuat hati kita menjadi tenang. Pemandangan yang indah, serta lemparan batu yang menimbulkan suara riak air dapat merelaksasi." ucap Amara tiba-tiba.


Dia menatap teduh mata bulat hitam yang kini seakan tidak mengerti dengan ucapannya.


Anak kecil itu sama sekali tidak menggubris Amara. Dia tetap saja melempar batu dengan sangat jauh lewat tangan mungilnya.


Sesekali anak kecil itu melirik Amara."Nabila," balasnya dengan angkuh gaya anak kecil seperti biasanya. Keduanya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kenapa sih aku nggak disayang mama dan papa?" gerutunya.


Amara mulai paham kemana arah pembicaraan anak ini. Tentang permasalah rasa sayang yang dia rasakan. Amara menatap Nabila dengan senyum tipisnya membiarkan anak kecil itu bercerita.


"Aku ngerasa papa dan mama itu nggak adil. Dia selalu memprioritaskan Puput melulu. Bahkan kak Tiara juga selalu marahin aku kalau misalnya Puput kecapekan. Mereka nggak sayang aku!." Kepalanya mendongak menatap Amara.


Perlahan tapi pasti Amara mengulurkan tangannya menyentuh rambut kepala Nabila, mengusapnya dengan pelan.


"Setiap orang tua pasti menyayangi anaknya. Nabila selalu di suapi mama makan kan? Nabila juga selalu diantarkan papa pergi sekolah?"


Nabila mengangguk membenarkan hal itu.


"Itu tandanya mama dan papa sayang sama Nabila." Amara mencuil hidung gadis itu.


"Benarkah?"


Amara mengangguk antusias. "Tentu, Mama dan papa pasti sedang kebingungan mencari Nabila kesana-kemari."


"Tapi kenapa Puput terus yang di perhatiin?" tanyanya sewot.

__ADS_1


"Karena Mama dan Papa tahu, Nabila lebih kuat dari pada Puput. Mereka ingin Nabila mandiri, menjadi anak pintar ke depannya." jelas Amara membuat perasaan Nabila sedikit lebih baik dari sebelumnya.


"Nabila," Panggil seseorang anak kecil yang duduk di bangku kursi roda. Anak kecil yang sempat dia irikan.


Merasa terpanggil dia mengarahkan wajahnya kearah suara yang memanggil namanya. Nabila melihat adiknya yang mendorong kursi rodanya sendiri.


"Puput?" Tanyanya memastikan.


"Kamu kemana saja? Mama sama Papa khawatir mencari kamu. Ayo Pulang!" Puput mendorong rodanya agar bergerak menuju pepohonan itu.


Amara melirik Nabila yang kini menatapnya penuh minat. "Terimakasih kak udah dengerin curhatan Nabila. Nabila pergi dulu ya, Bye." anak kecil itu berlari menuju kursi roda saudaranya.


"Pergi dulu ya, Kak."


"Bye,"


Mereka pergi meninggalkan Amara di sana sendirian, beberapa kali Nabila membalikkan badannya untuk melambaikan tangan kepada Amara. Sepeninggalan Nabila dan Puput dia hanya memandang Danau itu dengan matanya. Merekam kejadian yang terjadi hari ini, ketika waktunya sudah tidak banyak lagi mungkin.


"Danau kalau kamu mendengarkan hatiku, aku mau meminta satu permintaan saja. Aku ingin bertemu genangan air yang lebih luas dari mu, yakni Samudra!" Batin Amara dalam hatinya.


Derap langkah membuat Amara memutar kembali kursi rodanya.


"Memangnya membeli air minuโ€”" Amara tidak bisa meneruskan kalimatnya ketika permintaan sedetik yang lalu terealisasikan di depan matanya.


Pria jangkung itu berdiri dengan tatapan tajam, menatapnya, memakunya, hingga Amara tidak bisa bergerak di tempatnya.


itu Samudra!


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


TBC



**Siap menuju Konflik gaiss? Gimana perasaan kalian saat tahu Samudra ketemu Amara? Menurut kalian Samudra bakal ngapain?


A. Mukul Calvin yang selama ini nggak bilang rahasia penting tentang Amara?


B. Mutusin Kinan karena Samudra masih cinta Amara?


Dan menurut Kalian Kinan bakalan ngapain jika tahu Samudra ketemu dengan Amara mantan masa lalu yang masih di sayang?


A. Pergi dari kehidupan Samudra gitu aja?


B. Merelakan Samudra jadi milik Amara selamanya. Lantas Kinan mundur secara teratur?


Salam,


Melni**

__ADS_1


__ADS_2