
πΈπΈπΈ
Jangan harap Samudra akan membiarkan Kinan menghabiskan waktunya dengan Nadhira saat Samudra ada di sampingnya. Karena pada akhirnya Kinan juga tidak bisa full bermain dengan Nadhira. Cowok itu sengaja mengajak Raka untuk mengalihkan perhatian Nadhira terhadap Kinan. Samudra memang benar-benar gila, Berduan dengan Nadhira saja tidak boleh, apalagi Kinan berhubungan dengan pria lain.
Kalau kata orang tidak semua berjalan sesuai rencananya. Itulah yang dialami Nadhira ketika Raka malah ikut meningap di rumahnya. Semua rencananya dengan Kinan hancur berantakan. Mereka bukannya nonton drama korea malah beralih ke film horor dengan Raka duduk persis di sampingnya.
Nadhira kesal, namun tidak bisa mencegah Raka untuk bertandang di rumahnya. Karena pria itu mendapat dukungan dari Samudra dan Ibunya. Suara dengan musik yang creepy membuat Nadhira mulai ketakutan. Diliriknya Kinan yang kini sudah menutup telinga dan menutup matanya ke dada Samudra. Terlihat romantis jika di perhatikan secara seksama. Melihat mereka rasanya jiwa kejombloannya merintih.
Padahal tadi Kinan yang begitu semangat memilih film horror untuk mereka tonton, kenapa malah cewek itu yang jadi takut sendiri.
"Kalau takut bahu gue siap nampung nih," ucap Raka menepuk - nepuk bahu kanannya pelan.
Nadhira mendelik kesal ketika sebelumnya Raka mencoleknya. "Gak butuh!" Acuh Nadhira kembali memfokuskan dirinya terhadap film di depannya. Jawaban yang didapatnya membuat Raka tertawa pelan.
"Aku matikan aja ya?" Samudra melihat Kinan yang kini sudah menggelung ketakutan.
"Nggak, Aku masih mau nonton."
"Kamu saja sudah takut begitu," kesal Samudra melihat Kinan yang kini sudah semakin menyurukkan wajahnya ke tubuhnya .
Kinan mencueki Samudra dengan mata sesekali melihat televisi di depannya.
Tidak ada satu wanita pun yang berani menonton Horror sebenarnya. Walau ada, mmungkin hanya sepersekian persen. Kinan salah satu orang yang memberanikan diri saja, padahal aslinya mah dia juga takut jika berhubungan dengan yang namanya setan.
Bunyi suara semakin menakutkan, apalagi ketika seorang anak semakin masuk ke dalam hutan untuk mencari temannya. Kinan tidak mau mendengarkannya, namun dia juga penasaran apa yang akan terjadi. Jika kalian suka menonton horror pasti akan paham bagaimana rasa tidak mau menonton bercampur dengan rasa penasaran.
Anak kecil tersebut jatuh di depan sebuah rumah tua, ketika matanya melirik ke atas sebuah tiang yang tersengga, Dia terkejut. Bukan hanya anak kecil itu yang terkejut melainkan Nadhira dan Kinan juga berteriak histeris.
Raka dan Samudra melihat keduanya dengan pandangan geli, ketika kuntilanak yang menurut mereka tidak seram sama sekali membuat gadis disamping mereka ketakutan. Kinan semakin memeluk erat Samudra, membuat cowok itu berdecak kesal.
Sedangkan Nadhira kini tidak menyadari sudah merelungkan tangannya ke lengan Raka dengan mata yang terpejam.
"Jangan takut gue di sini," bisik Raka.
Otaknya mendadak blank saat melihat kuntilanak tadi. Ketika suara Raka menginterupsi Nadhira baru sadar jika tangannya kini menggengam Raka dengan erat.
__ADS_1
"Gβ gue nggak sengaja," Nadhira melepaskan relungan tangannya, bergeser, berniat menjauhi Raka.
"Sengaja juga nggak masalah, malah gue senang."
Ucapan Raka memang membuat jantungnya sedikit bertalu. Tapi Nadhira tidak mau mengambil hati, dia sudah tahu bahwa Raka hanya main-main saja dengan ucapannya.
Adegan demi adegan berlalu dengan cepat, selain karena Nadhira sudah tidak fokus menontonnya rasanya dia jadi tidak setakut itu dengan tayangan di depannya. Tidak terasa film di hadapannya sudah selesai. Dilain sisi Kinan teringat dengan pesan Nissa dua hari yang lalu tentang Samudra yang akan mengisi seminar fakultas.
Kemarin Nissa memang mendesaknya lebih tepatnya memohon dengan wajah mendung, membuat Kinan sedikit kasihan dengan gadis cilik itu.
"Kamu beneran nggak mau ikut seminar fakultas?" Fokus Samudra teralihkan ketika ingin mengetik sebuah pesan kepada driver ojol untuk memesan makanan.
"Kamu ngapain nanya itu?"
"Nggak apa-apa. Kemarin Nissa chat aku, dia bilang pilihan dari BEM cuma kamu,"
Dalam hidupnya tidak pernah sama sekali Samudra ikut campur dengan masalah organisasi. Entah itu mengisi Seminar atau ikut menjadi pemimpin di sana. Samudra bukanlah tipe orang yang menyukai keramaian.
"Aku nggak mau ikut acara begituan." kesal Samudra.
"Di sana nanti ada acara motivasi para penderita kanker," Kinan berharap dengan ucapannya Samudra bisa sedikit memiliki rasa kasihan.
Mengapa Kinan harus bersusah - susah membujuk Samudra? padahal dia bukan anggota BEM. Mungkin karena rasa kasihan yang dimilikinya kepada anak cewek itu. Dua hari lalu saat sebelum pulang dari kampus, Kinan memang tidak sengaja mendengar Nissa di marahi oleh ketua divisi acaranya, yakni teman sekelasnya, Faris.
Kinan menghela napas, "Kasihan Dra, gadis yang kemarin minta kamu itu, dia di marahin sama Faris, ketua devisi acaranya. Karena kamu nggak mau ngisi seminar,"
Inilah sifat Kinan yang paling dibenci Samudra, dia terlalu memiliki rasa iba terhadap seseorang, membuat Samudra kadang merasa kesal. Mendadak sebuah pikiran melintas di kepala Samudra jika suatu saat Kinan mengetahui tentang Amara dan rasa yang dimilikinya. Mungkinkah Kinan akan menyerahkan Samudra begitu saja untuk wanita lain? memikirkannya saja membuat Samudra tidak rela sendiri.
"Kalau kamu nggak mau, anggap saja kamu lagi nolongin dia." imbuh Kinan.
"Kamu suka banget nolong orang ya?"Kesal Samudra ketika nada Kinan menunjukkan perhatiannya kepada orang lain.
Melihat tatapan Kinan yang sedikit memelas membuat Samudra merasa kasihan dengan gadis nya. "Kalau aku ikut, imbalan apa yang aku dapat?"
"Kok pakai imbalan segala?" protes Kinan.
"Aku ini orang bisnis sayang, kamu nyuruh aku tapi nggak kasih apa-apa. Ngapain juga aku ikut." sewot Samudra.
__ADS_1
"Aku kasih ice cream ?" tawar Kinan dengan wajah cerahnya.
Samudra geleng - geleng kepala mendengarnya. "Kamu kira aku anak kecil!" gerutunya.
Kinan memutar otaknya mencari jawaban yang bisa membuat Samudra menyetujuinya.
"Terus kamu mau apa dong?" Cemberut Kinan.
Samudra tampak berpikir sebentar, kemudian dia menyeringai, kok perasaan Kinan tidak enak begini jadinya Melihat Samudra menampilkan raut seperti itu.
Suara bergedubuk membuat keduanya Melihat kebawah sofa. Nadhira sudah tergeletak memegang kakinya dengan Raka yang menatap gadis itu khawatir.
Tadi Raka memang membercandakan Nadhira, dia menakut-nakuti Nadhira hingga cewek itu jatuh dari sofa sekarang Raka merasa begitu bersalah.
"Gue cuman bercanda doang,"
"Bercanda lo nggak lucu!" Dhira berdiri dengan kaki tertatih-tatih menuju kamarnya. Raka mulai panik, kemudian mulai menyusul.
"Kamu ngapain Dhira Ka?" tanya Kinan sebelum Raka pergi.
"Ngambek, bentar ya, Nan."
Kinan hendak berdiri menghampiri Nadhira, Namun Samudra mencegah nya, "Urusan Raka, jangan ikut campur."
Benar yang dibilang Samudra, tidak selamanya kita bisa ikut campur pada urusan orang lain. Mungkin Raka dan Nadhira butuh ruang untuk berbicara berdua. Dan hal itu harus dipahami oleh Kinan. Tiba - tiba Samudra menariknya, dan memotong jarak di antar mereka.
"Give me Five minutes Kiss, I'll give you what you want." bisik Samudra di hadapan bibir Kinan.
Belum sempat menjawab, Samudra sudah menempelkan bibir mereka. Mata Kinan membulat besar.
πΏπΏπΏ
TBC
Vote dan komen jangan lupa π
__ADS_1