My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 28


__ADS_3


🌸🌸🌸


Dua minggu kemudian


"Saya putuskan kamu ikut sidang skripsi yang tahap pertama, jangan lupa skripsi yang sudah saya tanda tangani kamu buat rangkap empat. Tiga untuk Bapak Prof. Adi dan sisanya arsip kampus. Dan.. Satu lagi simpan untuk pribadi kamu. Semoga sukses sidangnya Kinan, saya yakin kamu pasti bisa." Ucap Dosen pembimbingnya yang kini menyerahkan lembar pernyataan yang sudah di tandatangan.


Kinan tersenyum bangga ketika mengambil berkas itu. Dia tidak menyangka empat tahun terasa begitu cepat berlalu. Padahal baru saja kemarin rasanya dia ikut PPSMB bersama mahasiswa yang lain. Time flying so fast, begitu pula dengan hubungannya. Tidak terasa mereka sudah berpacaran sejak lama.


"Terimakasih, Pak Edy. Tanpa bantuan bapak mungkin saya tidak bisa menyelesaikan skripsi saya dengan baik. Sekali lagi terimakasih untuk bantuannya." Kinan membungkukkan badannya sebagai rasa hormat. Sungguh tanpa adanya dosen pembimbing dia mana bisa menyelesaikan skripsinya. Walau dia beberapa kali kena marah setiap kali revisian, namun itukam memang sudah resiko yang harus dijalani Kinan. Mana ada abad ke 20 tidak mengalami pahitnya mengerjakan skripsi?Dia kan tidak sepintar Samudra, yang otaknya bisa dikatakan tanpa celah kesalahan.


"Sama-sama, saya juga ikut senang kamu mampu menyelesaikannya dengan baik. Sesekali jangan lupa mampir ke rumah saya, lagi pun Arga juga sering menanyai kamu, katanya dia titip salam." Lagi-lagi Kinan hanya tersenyum samar dan mengangguk sebagai tanda balasan ala kadarnya.


"Tentu, Pak, salam kembali untuk bang Arga ya."


Pak Edy lantas mengangguk, setelah itu Kinan kemudian keluar dari ruangan dosennya. Samudra yang sejak tadi sudah berada di depan pintu menunggu Kinan menatap laki-laki tua itu dengan sinis, Dia kesal mendengar ucapan Kinan yang seolah peduli pada lelaki lain.


"Maksudnya apaan pake salam-salaman segala dikira lagi lebaran," gerutu Samudra sambil menarik tas panda Kinan ke pundaknya lagi, seperti kemarin-kemarin. Samudra terus saja mengoceh sepanjang jalan karena hatinya begitu kesal.


Penyakit cemburunya kumat lagi deh, Kinan menelan ludahnya susah payah, mencoba tersenyum ketika memasuki lantai lift yang dingin. Samudra menatap tajam lantai yang tidak bersalah itu membuat Kinan juga ikut memandangnya dengan iba.


"Formalitas aja, Dra. Kamu kan tahu bang Arga kenal aku, jadi nggak salah dong buat dia—"


"Jadi maksud kamu dia boleh gitu kasih salam-salam buat kamu yang notabenenya pacar aku?" Samudra malah semakin sinis mendengar ucapan Kinan.


Akhirnya Kinan memilih untuk bungkam saja dari pada harus menghadapi emosi Samudra lebih lanjutnya. Namun Samudra malah semakin mengoceh tidak jelas, dan Kinan hanya mendengarkan saja ucapannya.


"Kamu dengerin aku nggak sih, Nan? Pokoknya Aku nggak terima dia sok akrab sama kamu, pake titip salam segala sok kegantengan. Padahal lebih ganteng aku dari pada dia." gerutuan Samudra semakin bertambah.


Kinan hanya mengangguk sambil tersenyum, sudah hapal dengan gaya Samudra yang akan terus menggerutu sepanjang jalan jika dia cemburu.


Entah mengapa dua minggu belakangan ini Samudra tampak tidak seperti biasanya. Dia semakin menempel dengan Kinan dan membatasi ruang gerak Kinan untuk berinteraksi dengan lelaki. Bedanya kali ini lebih parah dari pada yang sebelum-sebelumnya.Sampai-sampai lelaki itu bahkan rela menunggui Kinan di depan toilet jika memang diperlukan. Ditambah lagi emosi Samudra yang lebih cepat kambuh meski hanya karena masalah kecil.


"Aku ngambek," ujar Samudra berhenti di depan mobilnya mengundang perhatian orang-orang.


Astaga haruskah bilang-bilang kepadanya bahwa lelaki ini sedang mengambek. Kinan menatap bergantian orang-orang yang kini ikut melihat Samudra berdiri tak jauh dari mobil sport nya. Tampak semua orang saling berbincang dan berbisik-bisik melihat mereka membuat Kinan mau tak mau harus menghampiri pria itu.


"Samudra, jangan sekarang ngambeknya ya. Di mobil aja dong, malu dilihatin banyak orang tuh. Ya?" Kinan mengalah menunjukkan puppy eyes miliknya agar Samudra tidak bertingkah sekarang.

__ADS_1


Samudra melengos tidak mau menatap wajah Kinan, dia memalingkan wajahnya dengan ekspresi yang membuat Kinan ingin mencakar wajah mulus pria itu.


"Aku nggak peduli, pokoknya aku lagi kesal sama kamu." tutur cowok itu melipat kedua tangannya bertingkah dengan gaya sok cool yang membuat Kinan semakin ingin menerkamnya.


"Kan aku udah bilang, itu cuman bentuk formalitas aja. Masa harus banget di perpanjang gini masalahnya." Kinan malah terpancing emosi melihat Samudra yang lama-kelamaan menjadi nyolot.


"Kamu nggak suka aku perpanjang masalah ini, gitu?" Kinan mengangguk antusias dan aura devil langsung dikeluarkan Samudra lewat senyumannya yang mematikan. "Yaudah, cuman ada satu cara, kamu bujuk aku supaya nggak ngambek lagi. Gimana?" Tawar Samudra membuat Kinan mati kutu di tempat.


Membujuk pria itu? bagaimana caranya? Kinan mendengus malas ketika menyadari bahwa Samudra ternyata menjebaknya. Dia pasti ingin Kinan bertingkah layaknya anak manja di hadapannya kini.


"Kamu pasti sengaja ngelakuin ini?" Kinan mulai berpikir buruk terhadap Samudra terbukti dari tatapan matanya yang memicing.


"Nggak tuh, aku emang lagi ngambek, nggak dibuat-buat." bantah Samudra.


Kinan kemudian mengambil ponselnya mengetik di laman pencarian bagaimana membujuk bayi besar seperti Samudra. Beberapa kali Samudra sempat mengintip apa yang dilakukan Kinan namun pria itu cepat-cepat mengalihkan matanya saat Kinan menangkap netra Samudra yang mencuri pandang.


Satu kali Kinan berdehem menetralkan degup jantungnya. Dia kemudian menarik ujung baju Samudra pelan, menatap mata lelaki itu.


"Sa—ehm—" Kinan kembali berdehem kemudian meremas ujung baju Samudra. "Sa—Sayang jangan ngambek lagi dong," cicitnya yang hampir tidak terdengar. Samudra menahan tawanya kala mendengar suara pelan itu.


"Apaan tuh nggak ikhlas banget, ulang coba!" ujar Samudra diselingi tawanya berniat mengerjai Kinan.


"Kalau ikhlas ngomongnya nggak pelan kayak gitu, Kinan. Kamu sama sekali nggak ngebujuk aku kalau kayak gitu caranya." balas Samudra sengit.


Kinan menghembuskan napasnya pelan, menarik oksigen kedalam paru-parunya tanpa batas. Dia kemudian menempelkan wajahnya ke dada bidang Samudra kemudian menggerakan wajahnya seakan mengusap dada bidang cowok itu. "Sayang jangan ngambek dong," ucapnya cepat.


Melihat itu Samudra tertawa kencang, rambut Kinan yang berantakan semakin membuat Samudra tak bisa mengendalikan tawanya. Sedang Kinan merasa malu ditempatnya. Dia kemudian langsung beranjak masuk ke mobil penumpang membuat Samudra merasa bersalah.


"Sayang, maaf, aku nggak sengaja, abisan kamu lucu banget tadi." ucap Samudra ketika duduk bersebelahan dengan Kinan yang kini merapikan rambutnya.


"Sini aku bantu rapikan ya?" Samudra menyentuh rambut Kinan, namun cewek itu langsung memberi pelototan tajamnya.


"Nggak usah aku bisa sen—" Samudra menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Kinan meraih rambut gadis itu merapikannya.


Kemudian cowok itu tetap saja mempertahankan posisinya, memberikan samudra kenyamanan tersendiri. Samudra mendongak menatap mata Kinan dia kemudian menunduk bersalah.



"Maaf aku emang sengaja nyuruh kamu kayak gitu." ucap Samudra dengan mata sendunya, "Soalnya kamu nggak pernah mau manggil aku sayang kecuali saat aku marah, makanya aku manfaati keadaan, Maaf." imbuh Samudra.

__ADS_1


Kinan terpaku mendengarnya. Dia memang jarang sekali, ralat, sangat jarang malah memanggil cowok dipelukannya kini dengan panggilan sayang. Menurutnya itu terdengar menjijikan dan alay. Siapa sangka panggilan itu sangat berarti bagi Samudra? Hal yang kita anggap biasa mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang luar biasa dan langka.


Gadis itu hanya diam tak mampu membalas, hingga deringan telpon Samudra mengusik posisi mereka. Samudra mengambil ponselnya dan sebuah notifikasi pesan muncul di sana. .


Calvin : Amara drop lagi, gadis itu nyebut nama lo terus. Bisa lo kesini?


(14.23 P.M)


Calvin : Kalau lo nggak ke sini gua bakal biarin Kinan tahu tentang Amara beserta penyakitnya.


(14.44 P.M)


Samudra tersentak ketika mendapat pesan itu. Sialan Calvin mengancamnya. Dia pasti menggunakan ancaman ketika Samudra memeluk gadis itu ditaman kemarin. Dia melihat Kinan yang kini tengah menatapnya dalam.


"Pesan dari siapa, Dra?" tanya Kinan.


Samudra kemudian memasukkan ponselnya kembali ke kantong celananya. Kemudian kembali memeluk gadis itu dengan erat. "Dari papa, Hari ini aku harus ke kantor buat ngurus beberapa investor asing. Kamu nggak papa kan kita batalin makan malamnya hari ini?" ucapnya.


"Nggak apa-apa, kamu selesaikan aja dulu masalah kantor." Kinan tersenyum manis membuat Samudra merasa brengsek karena telah menipunya.


Dipelukan gadisnya Samudra benar-benar merasa bersalah. Namun dia tidak bisa langsung memberitahu Kinan masalah Amara. Dia harus menyelesaikan perkaranya dengan Amara hingga cewek itu tidak bergantung padanya lagi. Samudra tidak berniat seperti ini namun keadaan Amara yang ia tahu semakin jauh dari kesembuhan harus dia bantu. Lagi pun Samudra percaya jika Kinan mengetahui Amara, pasti gadis itu akan merelakannya begitu saja. Maka dari itu Samudra tidak ingin itu terjadi, biar saja dia menyelesaikan masalahnya dengan Amara. Hingga mata cewek itu terbuka untuk Calvin.


Setelah mengantarkan Kinan kembali ke rumahnya. Samudra kembali membuka ponselnya mengetikkan pesan kepada Calvin.


Samudra : Kalau Kinan tahu tentang Amara, lo orang pertama yang bakal gue kirim ke neraka.


(14.58 P.M)


Samudra : Gue otw.


(14.59 P.M)


🌿🌿🌿


TBC


Pertanyaan : Apakah yang dilakukan Samudra adalah tindakan benar?


Jawab di bawah 👇👇

__ADS_1



__ADS_2