My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Posessive Prince | Part 41


__ADS_3


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


University of Pelita, Libraryโ€” 11:00 a.m


Ruangan ini sangat besar dengan banyak buku yang bertumpuk. Semua tertata rapi dan sangat indah. Harum buku lama hingga buku yang baru membuat Kinan tersenyum. Dia mengambil beberapa buku, dan di taruh di tangan Samudra. Apalagi gunanya seorang pacar jika tidak dimanfaatkan seperti saat ini? Salahkan pemikiran Kinan yang begitu jahat karena telah memanfaatkan Samudra.


"Bukunya Harry Clinton kayaknya cocok buat dijadiin panduan. Ini juga deh," Kinan menaruh buku tebal itu ke tangan Samudra. Hampir lima buku dan semuanya begitu tebal. Kira-kira jika dilihat dari kertas berwarna kecoklatan itu mungkin ada tiga ratus halaman lebih yang dimuat buku-buku tersebut. Tapi anehnya Samudra sama sekali tidak menunjukkan aura keberatan dengan buku-buku Kinan. Mungkin karena pria ini memang rajin berolahraga sehingga buku yang Kinan pilih tidak begitu berdampak besar pada tenaganya. Lengan Samudra memang sangat kokoh. Ototnya tidak begitu tampak namun Kinan tahu bahwa pria itu tidak lemah. Lagipun memang sedari dulu Kinan tidak bisa membaca ekspresi Samudra. Jika memang keberatan, pria itu sudah pasti menyembunyikan ekspresi itu lewat wajah dinginnya. Mau bagaimana lagi? Samudra memang sudah ditakdirkan lahir dengan ekspresi yang sulit untuk dibaca.


"Udah?" tanya Samudra ketika Kinan malah fokus menatap lengannya. Kinan tersentak kaget dan sedikit gugup mengetahui dia ketahuan melihat Samudra dengan intens.


"Udah, kita ke sana yuk, aku nggak bawa laptop." jawab Kinan sambil menunjuk kesebuah ruangan komputer yang terletak di bagian ujung sebelah barat bagian perpustakaan.


Di sini perpustakaannya tergolong cukup unik dan besar. Ketika ruangan komputer dan audio tidak disatukan mereka terpisah. Ruang audio terletak di bagian selatan dengan beberapa rak buku yang memuat mengenai majalah dan beberapa koran. Selain itu, ruangan membaca juga di sediakan di bagian timur. Agar memudahkan orang mencari buku-buku hiburan dengan rak yang di penuhi karya novelis. Pada akhirnya, Kinan duduk mengambil salah satu tempat bangku di paling ujung dengan diikuti Samudra yang ikut duduk di sebelahnya.



Hari ini Kinan memang tidak membawa macbooknya , jadi sangat terpaksa dia harus menggunakan fasilitas perpustakaan. Kini Kinan sudah fokus dengan monitor di depannya sedangkan Samudra membaca buku yang tadi diambil Kinan untuk menghilangkan kebosanannya.


"Kenapa pertanyaannya susah banget sih?"


Kinan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mendengar helaan nafas gadisnya, Samudra lantas menoleh cepat melihat Kinan. Semua orang tahu betapa kadar kepekaan Samudra lebih tinggi dari apapun jika menyangkut kekasihnya.


"Ada apa?" tanya Samudra menutup buku yang tadi dia baca, menaruhnya di samping meja.


"Bingung aku tuh! masa aku harus cari tahu variabel dasarnya, sih. Aku udah buat skripsi. Tapi harus ikut kelas brivat pajak segala dan buat makalah? Kenapa jurusan akuntansi sesusah ini?" desah Kinan.


Samudra tersenyum tipis dan tidak menyela ucapan gadisnya. Sebisa mungkin dia ingin menjadi pendengar yang baik untuk Kinan.


"Aku bahkan nggak ngerti ngitungin PP 23 sebagai patokan pembayaran omset 4,8 milyar, Dra." Kinan begitu frustasi dengan pertanyaan seputar pajak yang harus dia jawab pada lembar makalahnya.


"Mana coba sini?"

__ADS_1


"Pertanyaan nomor lima. Kamu ngerti nggak?" Samudra mengambil mouse kecil itu kemudian membaca pertanyaannya lebih spesifik. Kinan tersenyum ketika tangan lihai Samudra sudah berseluncur di keyboard komputernya.Kinan berdecak kagum dengan kemampuan otak Samudra yang sangat luar biasa. "Kamu pinter banget sih!"


"Apapun yang nggak kamu ngerti, tanya aku aja." Kemudian Samudra hanya tersenyum lebar sembari mengacak rambut gadisnya pelan.


"Dra,iihhh." Kinan membenarkan rambutnya yang berantakan. Sebuah deringan telfon yang sangat berisik itu membuat Kinan memusatkan perhatian ke ponselnya. Ternyata dering itu bukan berasal dari miliknya namun milik Samudra. "Ponsel kamu bunyi tuh," tunjuk Kinan kearah ponsel Samudra.


"Biarin aja, nggak penting."


Kinan mengernyitkan dahi ketika telfon itu kembali bunyi lagi. "Angkat aja dulu, siapa tahu penting, dra."


Samudra menghela napas kesal, dia sudah tahu itu pasti Calvin โ€”sepupu brengseknya. Dengan setengah hati dan perintah dari Kinan. Samudra mengangkat telfonnya.


"Halo, sepupuku tersayang."


Dibawah kursi, samudra mengepalkan tangannya. "Bisa lo gak ngusik gue? satu hari aja!"


"Grandpa bisa denger kan? Samudra gak mau ngajarin Calvin." ujar pria di ujung sana.


"Samudra!" Dapat Samudra dengar bahwa itu adalah suara grandpanya. Dunia pasti sudah membercandai Samudra. Mengapa Calvin jadi seperti anak manja begini. Dia memang pintar mengusik simpati orang lain.


"Kamu belum ngajarin Calvin dari pagi, Samudra. Grandpa nggak mau tahu. Kamu harus pulang, Sekarang!" ucap kakek tua itu sebelum mematikan telfonnya.


Samudra mendesah lelah, memangnya cowok itu tidak bisakah belajar sendiri. Dia tahu Calvin itu pintar, dia tidak sebodoh itu. Sial, mengapa semakin kesini waktunya bersama Kinan jadi sempit.


"Kenapa?" tanya Kinan dengan alis yang membentuk bulan sabit.


"Grandpa, nyuruh aku pulang."


"Oh, Yaudah." Pikir Samudra gadisnya akan marah setelah mengetahui jawabannya. Namun ternyata Kinan tampak biasa saja dan mengerti.


"Sayang, maaf! Aku harus pergi," Samudra berdiri dari bangkunya kemudian mengecup kening gadis itu. Sedang Kinan mengangguk mengerti.


"Dah," Kinan melambaikan tangannya ketika Samudra bergerak menjauh, dan cowok itu ikut membalasnya. Dia sedikit sedih melihat kepergian cowok itu. Karena, baru kali ini Kinan di tinggal sendiri seperti tadi. Dia tidak pernah diabaikan Samudra. Mengapa rasanya Samudra semakin jauh dari dirinya? Dia ada namun rasanya keakraban mereka tidak seperti dulu.

__ADS_1


Kinan sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Dia mengambil ponselnya, lantas menelfon abang kesayangannya.


"Abang, jemput Kinan di depan kampus!" tegasnya.


Galih yang diujung sana langsung mengernyit heran ketika langsung di perintah seperti itu. "Bukannya lo sama Samudra?"


"Samudra ada urusan mendadak sama grandpanya. Abang tolong jemput Kinan."


Diujung sana Galih tertawa menyebalkan."Kan udah gue bilangin, pasti cowok lo selingkuh! Mana ada cowok ninggalin pacarnya. Alesan aja palingan gara-gara grandpa. Hati-hati loh dek!" ujar Galih sok tahu. "Putus aja udah. Mending sama temen gue, Arga." imbuhnya.


so to the rry โ€”Sorry Kinan terlalu percaya Samudra. Cowok itu mana mungkin main belakang. Dia itu lelaki gentlemen. Lagi pula dia tidak mau dengan Arga, karena hatinya sudah betul-betul tertambat Samudra.


"Kinan tunggu lima belas menit!"


Gadis itu kemudian mematikan ponselnya. Dia memang tidak sopan sebagai adik. Bukan apa-apa, itu dikarenakan Kinan males berdebat dengan sang kakak. Sedangkan di rumah galih sudah mencak-mencak sendiri.


"Aku bukan bonekamu, bisa kau suruh-suruh! Dengan seenak maumu." umpatnya dengan menyanyikan lagu yang sedang trending di Indonesia sembari mengambil kunci mobil yang tergelatak di atas meja.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


TBC



HOLAAAAAA, KEMBALI LAGI SAMA AKUU.


MAAP UPDATENYA NGARET. DIKARENAKAN AKU NUNGGU VOTE PART SEBELUMNYA ๐Ÿ˜ญ AKU RADA SEDIH VOTE KEMARIN SEDIKIT DARI PADA YANG PART-PART SEBELUMNYA. JADI AGAK SEDIKIT INSECURE SAMA PART SEBELUMNYA ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


TAPI AKU BALIK LAGI DENGAN PART YANG GAK JELAS. LAIN KALI AKU BAKAL KURANGIN ALUR YANG BERTELE-TELE DEHHH. SOALNYA AGAK NGEBOSENIN TAKUTNYA.


DANNNNNNNNN, INFOO PENTINGNYA INII BAKALAN ENDING BEBERAPA PART LAGI. JANGAN KANGEN YAA SAMA SAMUDRA DAN KINAN ๐Ÿ˜ญ


BERHARAP KALIAN NGGAK BOSEN SAMA CERITA AKUUU ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


Salam,


Melni istri sah Samudra wkwkwk โค


__ADS_2