My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 19


__ADS_3


🌸🌸🌸


Janji adalah sebuah hal yang harus ditepati. Tak heran jika Samudra kini  menepati janjinya  untuk  mengerjakan  apa yang diminta Kinan  tadi sore. Samudra sudah duduk dengan punggung  yang menyandar  ke sofa bersamaan dengan  laptop yang ada di atas meja. Sejak kecil Samudra yang memang begitu pintar terlihat tidak kesulitan sama sekali dengan skripsi Kinan.


Kinan mengambil sebuah novel berjudul Satu Atap yang kemarin di belinya dengan Samudra di pinggir bawah dekat ujung kiri sofa, Novel yang dibeli ketika mereka mencari buku penunjang skripsinya.


Kinan tidak bisa untuk tidak melihat bagaimana Samudra mengetik dengan sepuluh  jarinya, suara yang ditimbulkan dengan perpaduan jari dan keyboard mengundang Kinan untuk berdecak kagum, Dia bahkan sampai lupa bagian apa yang tadi dibaca nya barusan. Seketika Kinan merasa malu bersanding dengan Samudra yang  benar-benar memiliki  otak cerdas sekali.


"Samudra, aku masakin nasi goreng lagi aja ya?" tanya Kinan menutup bukunya. "Gimana Mau?"Lanjutnya ketika tidak menerima tanggapan dari Samudra.


Ketika bekerja dengan perut kosong, tentu saja tidak akan konsentrasi. Nutrisi penting untuk tubuh agar otak bekerja maksimal. Karena jika energi Samudra maksimal, siapa tahu cowok itu akan membantu skripsinya hingga selesai dia bahkan tidak akan menolak kalau dikerjakan Samudra.


"Aku nggak lapar." Rasa lapar Samudra sepertinya tidak muncul kembali setelah tadi siang dia makan nasi goreng. Namun Kinan heran mengapa pria itu makan sedikit sekali. Tetapi karena malas memaksa Samudra Kinan mengiyakan saja dia kemudian hendak berdiri sebelum dia ingat ingin menanyakan beberapa hal terhadap Samudra.


Dan kebetulan Samudra juga kini menyuruhnya duduk di sampingnya.


"Sayang, duduk di sini!" Samudra menepuk salah satu sisi sofa mengintruksikan dia ingin Kinan berada di sampingnya.


"Kamu mau nanya apa?" Samudra meninggalkan pekerjaannya dia mmemfokuskan dirinya kepada Samudra. Kinan terlampau terkejut mengetahui Samudra yang langsung to the point terhadapnya.


"Hah? Kamu tahu dari mana aku mau nanya ke kamu? Perasaan aku belum bilang deh, Dra." Dia memang belum bilang, namun kelihatannya Samudra memiliki indra keenam hingga mampu membaca seluruh isi pikiran gadis itu.


"Dari wajah kamu saja sudah kelihatan kalau kamu mau nanya." Seru Samudra.


Mimik wajah Kinan memang sedikit mudah terbaca. Apalagi bagi Samudra, yang sudah bersama gadis itu selama empat tahun. Samudra sudah cukup tahu ekspresi seperti apa saja yang dikeluarkan Kinan. "Memang wajah aku kayak gimana? Pasti jelek ya?" ujarnya pesimistis.


"Cantik. Bidadari aja kalah kalau dibandingin kamu." ucapnya dengan tampang datar mengundang tawa gemuruh dari Kinan.


"Apasih Dra, kok malah jadi sok gombal gini." Ucapnya disela-sela tawa gadis itu.


Samudra memang tidak pernah mengungkapkan kata-kata manis pada Kinan namun perlakuannya membuat Kinan paham bahwa laki-laki itu lebih menyukai memberi bukti dari pada mengumbar janji yang tidak tentu arahnya.


Tangan Samudra terulur mengusap kantung bawah mata Kinan, membuat Kinan menghentikkan tawanya sejenak. "Aku baru sadar, kantung mata kamu besar. Kamu sering begadang?"

__ADS_1


"Tergantung—"Ucap Kinan sambil berpikir. "Beberapa kali aku bergadang buat nyelesein skripsiku." Jelas Kinan. Dia memang akhir-akhir ini sering begadang karena skripsi. Tidak mungkin dia hanya mengerjakan skripsi siang-siang saja. Mau diwisuda kapan dirinya kalau begitu caranya? Terlebih itu bukan universitas punya nenek moyangnya. Cerita dia bukan novel picisan yang hidup mewah. Dia harus hidup berdasarkan realita


"Kamu nggak aku bolehin buat begadang-begadang! Skripsi kamu udah aku selesaikan sampai bab lima." Ucap Samudra kembali mengusap kantong mata Kinan.


Loh menyeleseikan sampai kesimpulan dengan waktu secepat itu? Astaga kalau tahu Samudra begitu pintar lebih baik sedari dulu Kinan meminta bantuan Samudra. Tapi terdengar agak munafik memang.


"Kenapa kamu selesaikan sampai habis?" gerutu Kinan mmenentang sikap Samudra yang seenaknya. Walaupun dia sendiri keenakkan.


"Aku terlalu malas lihat kamu yang lama menyelesaikannya. Semakin cepat selesai, maka semakin bagus kan? Aku jadi akan lebih cepat mengikat kamu ke hubungan yang pasti yakni pernikahan." ucap Samudra menyipitkan matanya.


Pernikahan memang tujuan Samudra dari dulu ketika menjalin hubungan dengan Kinan. Dia juga terlalu malas menunda-nundanya. Samudra benci jika Kinan masih hanya berstatus pacar saja, dia ingin lebih dari itu.


Kinan tidak menjawabnya, Dia menggigit bibir bawahnya. Mungkin hal yang diucapkan Samudra akan membuat beberapa orang bergembira namun tidak dengan Kinan yang sekarang terlalu dilema dengan keputusannya.


Melihat Kinan yang diam karena ucapannya Samudra menempelkan tubuhnya kepada Kinan tertidur diatas pelukan gadis itu.



"Kamu mau nanya apa?" Tanya Samudra.


"Nggak jadi, aku lupa." Kekeh Kinan menampilkan raut bingung nya.


Kinan berdehem setelah beberapa menit berlalu dengkuran halus Samudra sudah teratur. Kinan ikut terbaring ke alam mimpi Samudra melupakan percakapannya lewat mimpi. Kedua tangannya di genggam erat Samudra, mereka tertidur di atas sofa dengan ditemani bintang - bintang malam.


🌿🌿🌿


Seorang suster masuk ke dalam ruangan berukuran 4 x 4 kurang lebih. Menggunakan seragam khasnya membawa beberapa peralatan bersama dokter Andy yang selalu menangani Amara untuk saat ini. Senyum dokter itu terbit ketika Amara ikut tertawa di hadapannya.


"Selamat Pagi, Nona Amara. Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanyanya dengan melakukan beberapa ritual dokter. Andy menyuntik Amara mengambil beberapa sampel darah untuk kelanjutan terapinya. Kelihatannya dia akan menggunakan cara operasi sumsum tulang kalau memang diperlukan.


"Lebih baik dari yang kemarin, Dok." Ucapnya. Beberapa orang suster masuk membawa makanan yang selalu di siapkan setiap paginya. Ibundanya berdiri menjamu makanan tersebut.


"Oh iya, Dok. Saya terlalu bosan untuk berada di rumah sakit. Bolehkah saya keluar sesekali?" Tanya Amara dengan wajah berharap penuh.


Dokter Andy paham betul pastinya bagaimana perasaan Amara yang terkekang di rumah sakit. Dia saja yang menjadi dokter dan dapat mengitari rumah sakit ini kadang terlalu letih dan capek setiap harinya. Bagaimana dengan gadis ini yang hanya terbaring pasti akan merasa jenuh.

__ADS_1


"Boleh, namun ada beberapa hal yang harus di perhatikan. Kamu tidak boleh terlalu kecapekan ya, selain itu saya tidak menyarankan untuk berjalan lebih baik menggunakan kursi roda." Jelas Dokter Andy membuat Amara mengangguk samar.


"Amara, saya punya undangan untuk kamu. Sebuah undangan yang dikirim pihak universitas pelita harapan agar kamu mendatangi acara mereka." Dokter Andy mmengeluarkan sebuah surat dengan amplop berwarna putih dengan hiasan para penderita kanker yang sedang tersenyum membuat hati Amara tersentuh.


"Undangan tentang apa Dok?" tanyanya.


"Tentang Motivasi Penderita Kanker, saya harap kamu mau mendatanginya. Selain itu kamu juga bisa bertukar pikiran dengan mereka yang pesimis untuk sembuh." ucap Dokter Andy kemudian menyerahkan Amplop putih itu ke tangan Amara yang langsung di sambut oleh gadis itu.


"Tentu Dok, terimakasih." Dokter Andy mengangguk dia cukup senang gadis itu masih tersenyum. Terakhir kali dia melihat Amara begitu merintih kesakitan. Dokter Andy memang tidak mempunyai anak, dia menganggap Amara seperti anaknya sendiri. duapuluh tahun menikah namun dia belum di berikan kepercayaan oleh Yang Maha Esa untuk memiliki momongan. Tapi setidaknya dia sangat mencintai istrinya, ada atau tanpa adanya anak.


"Saya pamit ke luar, Jangan lupa untuk selalu rutin meminum obatmu." Ucap Dokter Andy lalu keluar setelah bundanya mengucapkan terimakasih pula.


Bundanya kemudian menghampiri Amara membawa semangkuk bubur sehat. Pelan-pelan menyuapinya dengan begitu telaten. "Setelah ini minum obat dan tidur." perintah bundanya.


"Baik Bun."


Suara pintu berdecit pelan, mengundang mata Amara untuk melihatnya dia pikir ayahnya akan masuk namun ternyata salah. Itu adalah Calvin dengan beberapa buah di tangannya, dan sebuah bunga untuk mengganti isi Vas yang ada di kamar gadis itu.


"Nak Calvin baru datang ? Silahkan duduk sayang." Ucap Bundanya kemudian menggeser bangku di dekatnya agar cowok itu dapat duduk. Calvin tersenyum seketika melihat Amara dengan wig yang kemarin di belinya. Wig warna hitam dengan rambut panjang sebahu. Terlihat cocok pada dirinya.


"Makasih Tan," Calvin mencoba memberi respon positif dari ucapan bunda Renata.


"Vin," panggil Amara yang kini terlihat senang sambil memamerkan sebuah surat putih yang diberikan dokter Andy.


"Kenapa?" Jawab Calvin kemudian.


"Temani aku ke acara seminar ini yuk di Universitas Pelita Harapan!" Dengan bangganya Amara mengucapkannya , berbeda dengan Calvin yang kini sedang tersentrum jutaan watt listrik. Maksudnya? Amara akan mengunjungi universitas Pelita harapan begitu?


Calvin tidak akan seterdiam ini kalau Samudra tidak menuntut ilmu di sana. Apakah ini sudah takdir mereka? seberapapun usaha Samudra untuk menjauh dari Amara. Tuhan selalu akan mempertemukan keduanya tanpa sadar mungkin ini kesempatan mereka menyelesaikan apa yang tertunda.


"Vin, kok diam saja? Mau temani aku kan?" Tanya Amara.


"Eh? Iya, Ra." putus Calvin.


🌿🌿🌿

__ADS_1


TBC



__ADS_2