
πΈπΈπΈ
Degup jantung nya tidak berhenti untuk berteriak - teriak dari tadi. Rasanya Kinan ingin membuang wajahnya sejauh mungkin agar tidak berjumpa dengan Samudra. Dia benar-benar merasa menjadi gadis yang begitu agresif. Bisa-bisanya Kinan memiliki inisiatif mencium Samudra begitu? Dia benar-benar refleks, dan tidak disangka tubuhnya malah melakukan hal yang memalukan.
Samudra diam di tempatnya ketika Kinan beranjak pergi, cukup lama dia terdiam menyentuh bibir bawahnya yang kini tertarik ke atas akibat tidak dapat menahan rasa bahagia sedari tadi. Samudra menaiki undakan tangga, menghampiri Kinan.Hingga akhirnya, disinilah Samudra berdiri di depan pintu kamar gadisnya, pintu yang di beri lapisan cat warna coklat yang terbuat dari kayu jati.
"Sayang, buka pintunya." Sekali, Kinan tidak menyahutnya. Dia masih sibuk berdiri di belakang pintu dengan napas yang tersengal-sengal akibat aliran darahnya yang tidak teratur.
"Nggak mau," tolak Kinan dengan posisi membelakangi pintu masuk.
Samudra mengetuk pintunya lagi.Satu detik, dua detik, hingga detik-detik jarum jam berjalan meninggalkan waktu, Kinan tidak kunjung membiarkan Samudra untuk menemuinya.
"Kinan, buka pintunya!"
Kinan terus menggeleng mencegah pintu untuk terbuka kala Samudra menggoyangkan grendel pintu ke atas dan bawah.
"Buka atau aku dobrak pintunya?" Mendengar tawaran Samudra yang akan mendobrak pintu kamarnya, membuat Kinan was-was sendiri.
Kinan dilanda panik ketika suara Samudra terdengar jauh, dan semakin menghilang. Apakah Samudra benar-benar akan mendobrak pintunya? Secepat kilat Kinan keluar dari kamar, memutuskan keluar detik itu juga.
Mata mereka saling bertemu, membuat Kinan semakin dilanda rasa malu yang begitu besar. Dia menghalangi pandangannya ke arah lain, yang penting Kinan tidak melihat Samudra saat ini.
Wajahnya sudah tidak tahu akan di taruh di mana saat ini walau Samudra hanya menatapnya dengan pandangan biasa. Samudra menggenggam tangannya, menarik tubuhnya mendekat ke arah mereka. Menahan tangan Kinan untuk tidak menutupi wajahnya yang memerah.
"Hebat banget, Aku lagi marah bisa-bisanya kamu nyium aku. Kamu pikir aku bakalan luluh? Siapa yang ngajarin kamu jadi nakal begini?" tanya Samudra dengan alis yang terangkat mengejek, menyudutkan Kinan.
Aura Samudra benar-benar tidak dapat Kinan tebak. Padahal cowok yang diciumnya beberapa menit yang lalu itu sedang menahan rasa senang yang membuncah di dalam dirinya. Bisa-bisanya pria itu bertingkah sok cool begitu!
"Mang ujang," Kinan menjawab asal pertanyaan Samudra.
"Aku nggak bercanda," kesal Samudra menyentil dahi gadisnya dengan pelan.
"Ouch! Sakit." rintih Kinan mengusap dahinya yang sebenarnya tidak sakit-sakit banget. Dia sengaja melebay-lebaykannya agar Samudra tidak mengungkit masalah itu lagi. Masalahnya dengan Arga.
Melihat Kinan yang merintih kesakitan Samudra tetap cuek. Gagal maning, Gagal maning, Samudra bahkan masih mempertahankan mode marahnya.
__ADS_1
"Duh sakit banget, Dra. Duh-duh, harus di operasi nih kayaknya dahi aku, kalau nggak nanti bisa geger otak." Ucap Kinan dengan nada lebay. Dia menempelkan wajahnya di dada Samudra, berharap Samudra bersimpati padanya. Namun hasilnya Samudra tidak peduli sama sekali.
Kinan mengintip dari celah matanya, dia mendongak ke atas melihat reaksi Samudra yang kini mengambil telpon miliknya bersiap menelpon dokter pribadi rumahnya yakni Om nya sendiri.
"Halo Om," sapa Samudra ketika panggilannya sudah tersambung.
"Iya, Dra?"
"Om bisa dateng kesini nggak?Pacar Samudra butuh di operasi."
Diujung Sana Davin kebingungan mendengarkan ucapan keponakannya, memangnya Kinan sakit apa? Mungkinkah terjadi kecelakaan? Tetapi mengapa suara Samudra tidak terdengar khawatir sama sekali?
"Lho? Memangnya Kinan kenapa, Dra?"
"Katanya geger otak, Om, gara-gara Samudra sentil." Diujung sana Om Davin tertawa terbahak - bahak. Teori gila mana itu, geger otak disebabkan karena menyentil dahi seseorang? Dasar pasangan anak muda jamam sekarang, banyak gayanya.
Kinan buru-buru merebut telpon Samudra dengan cepat, "Samudra bercanda doang, Om. Jangan dipercaya! Kinan tutup ya, maaf mengganggu Om." Gadis itu mematikan telpon Om Davin secara sepihak, menggenggam telpon itu dengan gemas.
"Aku kan cuma bohong-bohongan saja, kamu ngapain telpon Om Davin segala?" gerutu Kinan memukul dada bidang Samudra pelan.
"Tadi kamu bohongin aku?" tanya Samudra dengan tatapan polosnya membuat Kinan memanyunkan bibirnya kembali.
πΏπΏπΏ
Mereka sedang kencan. Namun kencan versi Samudra yaitu berdua di rumah saja seperti saat ini. Samudra bukan tipikal cowok romantis yang akan mengajak pacarnya jalan-jalan ke sebuah taman hiburan. Dia tidak menyukai keramaian. Menurutnya, berdua bersama Kinan saja sudah cukup untuk menghabiskan Harinya saat ini.
Setelah pria itu makan nasi goreng buatan Kinan, Samudra langsung duduk diam di sofa panjang bersama handphone lengkap dengan permainannya. Dia terlihat serius. Sampai-sampai Kinan merasa iri dengan I-phone itu yang kini lebih dipilih Samudra ketimbang dirinya. Pada akhirnya Kinan lebih memilih untuk meneruskan pengetikan skripsinya. Dia berbaring di atas karpet dengan sebuah laptop.
Kinan menempelkan pulpen ke bibirnya sesekali tampak berpikir keras mencari ide untuk menunjang faktor saham perusahaan yang sedang ia audit datanya. Beberapa kali dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal kehabisan ide dan kata-kata. Pada akhirnya dia menutup laptopnya, kemudian melihat Samudra yang masih fokus dengan game handphone nya.
Kinan menelusupkan dirinya ke dalam pelukan Samudra. Dia begitu letih untuk berpikir tentang skripsinya.
Samudra terkejut ketika Kinan menempelkan tubuhnya, di letakkan handponenya tadi lalu beralih ke arah Kinan yang kini sedang memegang rambutnya. Samudra mengecup puncak kepala gadisnya dengan pelan.
"Kenapa berhenti ngerjain skripsinya?" tanya Samudra dengan pandangan mengarah kebawah.
__ADS_1
Samudra memang sengaja mengalihkan dirinya dengan bermain tadi agar tidak mengganggu Kinan untuk melanjutkan skripsi gadis itu. Tapi melihat Kinan sekarang yang malah berhenti dan laptop yang sudah dimatikan, tak ayal membuat Samudra penasaran.
"Aku nggak ngerti nentuin modal yang dikeluarkan perusahaan, padahal sudah di beritahu semua variabelnya." papar Kinan.
Dia memang berhenti karena bingung rumus apa yang harus dia masukkan kedalam ms.excel tadi. Kinan yang tersadar Samudra pasti bisa melakukannya, kini tersenyum manis. kalau kata orang ada udang di balik batu begitulah perumpaan Kinan saat ini.
"Bolehkan minta bantuan kamu?" cicit Kinan, Samudra menggeleng tidak percaya dengan gadisnya yang kalau mau dengan sesuatu baru bersikap manja.
"Hmm," Samudra mengangguk. Setelahnya Samudra kembali fokus dengan gamenya lagi. Kinan tidak terlalu mengerti dengan apa yang dimainkan Samudra, yang dia tahu hanya ada suara tembakan di sana.
Tangan Samudra meliuk -liuk gesit memenangkan permainan di dalam handphone nya. Merasa di perhatikan Samudra tersenyum geli. "Kamu mau ikut main juga?"
Ikut bermain bagaimana? dia saja tidak tahu permainan apa yang dimainkan Samudra, dan tentunya dia pasti tidak akan bisa.
"Nggak mau, aku nggak bisa main begituan." Kinan menggelengkan kepalanya di atas dada Samudra.
"Terus kenapa lihatin aku intensif banget?"
Kinan tidak sadar bahwa Samudra mengetahui dia melihat cowok itu sedari tadi. Kinan sempat terpesona dengan Samudra, bulu matanya yang indah, ditambah garis rahang wajahnya yang tegas membuat pria itu terlihat sempurna di mata Kinan. Benarkah cowok ini pacarnya?
"Hmmm, Dra, Lebih penting mana game mu apa aku?" Kinan sendiri tidak tahu mengapa dirinya menanyakan hal itu. Seketika pertanyaan itu melintas dalam otaknya, ketika Samudra benar-benar melihat handphonenya dan mengacuhkan dirinya.
Apa mungkin Kinan cemburu dengan handphone?
Cukup lama Samudra terdiam, dan tiba-tiba suara benda persegi panjang itu sudah terbaring di dekat meja kayu rumah mereka. Samudra melemparnya begitu jauh hingga menciptakan bunyi yang begitu keras. Kinan terkejut kala melihat Ponsel berlogo apel itu sudah tidak berdaya. Remuk.
"Samudra, kenapa kamu lempar?" Nada suara Kinan melengking kaget, sedangkan yang di teriaki malah terkekeh pelan.
"Kamu tanya aku, pertanyaan yang gak bermutu sama sekali. Aku bahkan bisa beli berjuta ponsel yang aku mau, bermain game setiap hari yang aku suka. Tapi kamu belum tentu bersamaku seumur hidup Kinan, kamu nggak bisa di beli dengan apapun. Beraninya kamu membandingkan dirimu dengan ponsel!" ucap Samudra panjang lebar.
Kinan terdiam mendengarnya, aliran darahnya yang cepat memaksa jantungnya untuk berdetak tak sesuai batas normal. Samudra menariknya mengecup dahi Kinan pelan.
"You are my whole world, I can't breathe if you not around."
πΏπΏπΏ
TBC
__ADS_1