My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 34


__ADS_3


🌸🌸🌸


"Wajah lo ngenes amat dah,Nang.Kayak kekurangan asupan mamah muda." Gurau Raka menepuk bahu Danang pelan.


Dinul yang sedang memakan coklatnya tersedak sendiri. Dia memang sengaja menampilkan lagak makannya seperti para artis yang sedang menilai sebuah makanan. Tujuan untuk membuat Danang melirik ke arahnya.


"Gimana nggak ngenes bosque. Lo lihat tuh, temen lo yang nggak punya akhlak. Makan coklat sendiri-sendiri aja, pen gua cubit lambungnya."


Dinul tertawa keras mendengarnya. Dia hari ini mendapat coklat cukup banyak. Dia memang jomblo tapi kualitas ketampanannya jauh lebih baik dari Danang. Ibarat kata ya, Danang itu adalah besi berkarat sedangkan Dinul emas batangan. Jadi tidak heran beberapa gadis memberinya coklat di Hari penuh kasih sayang ini.


"Jahat lo jadi temen Nul. Seharusnya lo pikirin gimana rasanya jadi Danang?"


"Emang dah. Cuman lo doang yang paling baik, Ka. Ngomong-ngomong coklat lo banyak tuh."Ucap Danang dengan wajah tersenyumnya.


"Kenapa emang?"


"Bagilah buat gue. Lo kan orang yang arif,bijaksana, dermawan, dan rajin menabung. Pasti nggak pelit kayak Dinul." Puji Danang.


"Maksud lo apa? Gue tadi udah niat ngasih lo coklat ye, badak. Kurang dermawan apa lagi gue?"


"Lo ngasih coklat yang abis lo jilat, kutil kuda. Jelas gue ogah nerimanya. BAU JIGONG!" gerutu Danang.


Raka tertawa keras mendengar keduanya yang bertengkar. Danang menendang tulang kering Dinul membuat dia meringis kesakitan.


"Maaf, Nang. Nih coklat buat pacar gue. Nggak ada jatah buat jomblo berkarat kayak lo!" ujar Raka bertos ria dengan Dinul.


"Heh. Gue lihat-lihat lo lebih nggak punya akhlak dari Dinul. Dasar teman lucknut lo berdua!" ujarnya. .


Mereka tertawa lagi terkecuali Danang yang kini wajahnya sudah berubah masam. Dalam hati dia benar-benar menggerutu karena tidak memiliki pacar sehingga saat hari kasih sayang tiba. Terlihat jelas bahwa dia manusia terjomblo di muka bumi.


"Waduh, berasa truck banget kemana-mana gandengan boss. Nggak bakal hilang juga kali kalau nggak digandeng sekali." ejek Dinul memakan coklatnya hingga tandas ketika melihat Kinan yang berjalan ke arah mereka dengan tangan digenggam Samudra.


"Iri banget lo ****** fir'aun. Pikirin tangan lo yang hampir berkarat nggak ada yang gandeng. Ya nggak Dra?" ujar Danang membela Samudra.


"Lo juga pikiran tangan lo yang udah kayak lumut." balas Dinul nyolot.


Sedangkan Kinan yang berada di tengah mereka kini tertawa kecil. Sedang Samudra hanya berwajah datar saja. Padahal dialah objek yang sedang mereka bicarakan. Tapi memang dasarnya Samudra yang tidak peduli lingkungan sekitar dia hanya diam saja.


"Kalian berdua harus sama-sama mikir." ucap Kinan kalem.

__ADS_1


Keduanya sama-sama melongo. Danang dengan tampang bodohnya, sedangkan Dinul yang menghentikan suapan coklat berikutnya yang ada di tangannya. Jangan tanya Raka yang kini sudah menepuk meja dengan tampilan mengejek. Lalu mengacungkan kedua jempol kepada Kinan. "Setuju banget sama lo, Nan. Jomblo kayak mereka emang harus disuruh mikir, soalnya nyampah doang di muka bumi."


"Baru punya pacar dua minggu aja udah sombong banget lo." Kesal Dinul melemparkan kulit kacang yang ada di sana.


"Jelas dong. Setidaknya gue setingkat lebih atas dari pado lo kaum-kaum jomblo."


"Mulut lo pen gua lakban biar diem." timpal Danang bersekutu dengan Dinul memojokkan Raka.


Kinan menunduk malu ketika melihat reaksi tidak mengenakkan dari kedua orang itu. "Aku salah ngomong ya?" tanya Kinan ke arah Samudra.


Samudra menatap tajam kedua temannya itu. "Nggak kok. Nggak salah! Yang salah itu mereka. siapa suruh jomblo?"


"Yang kayak begini nih, Nang.Bukannya nggak punya akhlak. Tapi akhlaknya ketinggalan di rumah." gerutu Dinul melirik Samudra sekilas.


Untuk menyudahi perdebatan ini pada akhirnya Kinan berdiri dari kursinya. Dia hendak memesankan makanan untuk mereka. Setidaknya itu yang bisa dia gunakan agar tidak ada ejek-mengejek di antara mereka.


"Kalian mau makan apa? Biar aku yang bantu pesenin." tawar Kinan melirik satu persatu anggota disana.


Samudra berdecak kesal. Dia agak tidak menyukai ketika Kinan sebagai gadisnya harus memesankan makanan untuk orang lain. Tapi dia tidak ingin memperpanjang masalah itu.


"Serius nih, Nan? Gue sate ayam sama jus jeruk deh."


"Gue nasi goreng. Minumnya es teh manis tapi nggak dingin dan jangan pakai es batu, ya." Ujar Danang dengan semangat.


"Lo mesen es teh manis tapi nggak dingin. Ngajak berantem lo ya? Dimana-mana kalo es teh itu, pasti dingin. Itu namanya lo mesen teh manis doang."


"Yaudah iya, teh manis satu, Nan." sewot Danang.


"Gue nggak usah dipesenin," timpal Raka.


Sebelum ke kampus dia memang sudah makan di rumah. Dan dia masih terlalu kenyang untuk makan di kantin ini. Tujuan dia kesini hanya untuk bertemu Ayunda dan memberikan coklat. Hanya itu dan tidak lebih.


"Kamu?" tanya Kinan menatap Samudra.


"Terserah kamu saja." Kinan mengangguk setelah itu pergi dari hadapan mereka.


Sepeninggalan Kinan mereka saling bertatapan ke arah Samudra. Sedang yang ditatap hanya berlaga santai. Jujur saja hari ini tumben sekali Samudra kita nongkrong cantik bareng mereka setelah perkara Amara yang lalu.


"Apaan?"


ketiganya menggeleng kencang kemudian mencoba sibuk dengan apa yang bisa mereka lakukan. Raka yang mengetuk-ngetuk meja. Dinul yang lanjut memakan coklat. Kemudian Danang yang menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal sama sekali.

__ADS_1


"Oh ya, Dra.Masalah Amara lo udah bilang ke Kinan?" tanya Raka mulai memberanikan diri.


"Gue nggak mau bilang."


"Kenapa?" tanya mereka serempak seperti trio macan.


"Lo nggak bisa nutupin masalah Amara lama-lama, Dra. Kalo lo terus bohongin dia nanti masalah bakalan tambah rumit. Karena lo tahu kan, sepandai-pandai tupai melompat pasti bakal jatuh juga." ucap Dinul sok puitis.


"Gue nggak mau Kinan ngerasa empati sama Amara. Lo tahu kan gimana kondisi cewek itu sekarang?"


Ketiganya mengangguk. Samudra benar dia tidak bisa gegabah begitu saja mengenalkan Amara dengan Kinan. Karakter Kinan yang lembut dan peduli pada orang lain pasti bisa dimanfaatkan amara untuk menarik Samudra kembali ke pelukannya.


"Masalah Amara waktu itu. Kita benar-benar minta maaf Dra.Sebenernya Kita nggak mau nyembunyikan itu dari lo. Tetapi keadaan yang nuntut. " ujar Danang.


"Gue ngerti. Begitu juga gue sekarang dengan Kinan. Disaat yang tepat gue bakalan ngasih tahu dia. Tapi nggak sekarang, karena gue takut."


Kinan datang dengan beberapa pesan makanan menaruhnya disana. Mereka semua langsung diam dengan kedatangan gadis itu. "Ngomongin apa?"


"Danang katanya mau operasi plastik biar mirip oppa-oppa korea. Dia frustasi gara-gara nggak laku." jawab Dinul.


"Seriusan?"


"Boong itu. Kutil kuda lo percaya!"


🌿🌿🌿


TBC



**Jangan lupa VOTE SAMA KOMENNYA YA. SOALNYA AKU SENENG KALAU BACA KOMEN KALIAN πŸ˜‚ BERASA DIHARGAI BANGET GITU CERITA YANG AKU BUAT. PADAHAL MAH CERITANYA MASIH BANYAK KEKURANGAN πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


OH IYA KALIAN LEBIH SUKA AKU UPDATE SEKALIGUS LANGSUNG BANYAK TAPI LAMA ATAU SEDIKIT-SEDIKIT TAPI MINIMAL 2 HARI SEKALI?


KOMEN DONG DIBAWAH MAU TAU PENDAPAT KALIAN☺


JANGAN LUPA BUAT STAY SAFE YA. KALAU NGGAK PERLU -PERLU AMAT KELUAR JANGAN KELUAR DULU. KITA HARUS BANTU PEMERINTAH UNTUK MEMINIMALKAN KASUS COVID 19 INI DENGAN CARA TETAP BERDIAM DIRI DI RUMAH DAN MEMBACA CERITA SAMUDRA DAN KINAN πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


MAAP PROMOSI πŸ˜₯


Salam,

__ADS_1


Melni**.


__ADS_2