My Possesive Prince

My Possesive Prince
My Possesive Prince | Part 14


__ADS_3


🌿🌿🌿


"Tidak tepat janji, pantatnya bisulan!" Dinul terus merapalkan kalimat itu saat Samudra dan Raka sudah duduk sekitar lima menit di hadapannya. Sedangkan Danang hanya mengangguk-angguk layaknya orang disko membuat Dinul ingin menenggelamkan temannya itu di rawa-rawa.


"Waduh, serem amat, kalau gua bisulan nggak bisa berak nanti." Ucap Raka melebih-lebihkan sekaligus tampang yang tidak menyangka sama sekali Dinul akan berucap seperti itu.


"Mohon Maaf ya Pak, siapa yang kemarin janji buat karokean bareng? Tau-taunya malah ngegebet Nadhira di rumahnya Samudra." gerutu Dinul.


Kemarin saat mereka kumpul-kumpul memang Raka menjanjikan untuk pergi karokean dari pada tidak punya kesibukkan di malam minggu lebih baik menghabiskan waktu dengan teman-teman. Maka dari itu Raka mengajukan rencana karokean. Tetapi karena kemarin Samudra mengajaknya untuk menginap dia jadi melupakan Dinul dan Danang.


"Yaudah maaf sih gue lupa," Raka menundukkan kepalanya sok merasa bersalah.


"Kalau semuanya bisa di selesaikan dengan maaf. Maling udah lama keluar dari penjara," cibir Dinul bersidekap dada seperti wanita PMS —Premenstrual Syndrome— atau yang sering di singkat sebagai Perempuan Menjadi Singa yang sukanya marah-marah tidak jelas bedanya Dinul bukan Singa melainkan macan yang siap menerkam Raka detik itu juga.


"Bener tuh, Polisi jadi nggak punya kerjaan lagi." Timpal Danang menyahut tidak jelas selagi masih punya mulut untuk bicara.


Samudra geleng-geleng kepala melihat ketiganya. Diantara mereka yang paling tidak banyak bicara yaitu Samudra, mungkin semua orang juga tahu. Entah karena apa? mungkin pita suara Samudra terlalu mahal jika digunakan, kecuali, untuk Kinan tentunya.


"Padahal kita udah nunggu di SCBD ya Nang, kek orang bego?" Dinul meminta Danang mendukungnya lewat tatapan mata yang seolah mengejek Raka.


Danang menggeleng tidak setuju, membuat Dinul menampilkan raut semaput ingin mencakar wajah Danang. "Lo doang yang bego, gue mah ngga."


Kalau sudah idiot dari lahir nampaknya tidak bisa dirubah. Setidaknya itu yang Dinul tahu kala berteman dengan Danang. Cowok lalalolo yang sayangnya kalau dihadapkan dengan mata kuliah lebih pintar dari pada hal beginian.


Di tempatnya Raka tertawa terbahak-bahak memegang perutnya yang kini seperti digelitik seratus bidadari. Punya teman bego seperti Danang ini memang menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Beberapa detik setelahnya Dinul mendengus sebal.


"Dasar, Dadot —Rada idiot! bukannya dukung gue." umpat Dinul.


Suasana kantin tampak ramai dengan lalu lalang mahasiswa dari kalangan junior hingga senior. Raka berhenti mmenertawai Danang, beralih kepada Samudra yang hanya diam mmemperhatikan mereka.


"Kelar wisuda lo bakal ngapain Dra?" Mendadak hanya pertanyaan itu yang mampu di keluarkan Raka.


"Langsung kerja di perusahaan Om Bian lah," Bukan Samudra yang menjawab tapi malah Dinul yang mengeluarkan suara sok tahu dengan masa depan Samudra.


Papanya memang sudah sejak lama menyuruh Samudra untuk menggantikannya. Ditambah mamanya yang merengek meminta Samudra untuk tinggal di rumah mereka yang letaknya cukup jauh dari kampus. Alasan Samudra tinggal di rumah Nadhira yaitu karena rumah tante Sekar lumayan dekat dari rumah Kinan membuat Samudra setidaknya lebih mudah mengintai Kinan dari jarak dekat. Karena hanya berbeda beberapa komplek saja.


Tetapi untuk menjadi direktur di perusahaan Papanya bukanlah sesuatu yang begitu di harapkan Samudra. Dia memang masuk fakultas bisnis untuk bekerja di sebuah kantor tapi Samudra tidak begitu berminat dengan posisi direktur.

__ADS_1


"Mungkin," jawab Samudra.


Semuanya mengangguk tanda mengerti. Setelah tamat dari kuliah Raka sendiri bingung dengan apa yang akan dilakukannya setelah ini, jangankan Raka, Dinul saja juga tidak tahu akan berbuat apa. Sedang Danang tidak usah di tanya lagi, memikirkan masa depan saja dia tidak sepertinya.


Melihat kafe diujung sana di depan kantin membuat Raka mendadak mendapat ide cemerlang. "Kelar Kuliah buat usaha bareng yuk.Cafe kecil-kecilan aja," ajaknya dengan tatapan meyakinkan.


"Gaslah, gue mah ngikut sama Danang. Ya nggak?" Dinul menyenggol Danang yang


menunjukkan aura setuju tak luput dengan anggukan kepalanya.


"Lo ikut nggak, Dra?" tanya Raka beralih menatap Samudra.


"Ikut," pendek,jelas,singkat. Pesan dari Kinan membuat Samudra pamit dari sana.


Samudra : Kamu dimana? (12.30 P.m)


Kinan : Di Perpustakaan sama Nadhira. (13.10 P.m)


🌿🌿🌿


Kinan sudah mengetik beberapa lanjutan untuk bab tiga skripsinya di rumah setelah memutuskan untuk pindah ke perpustakaan kampus agar lebih mudah mendapatkan beberapa buku untuk mmenunjang analisis dan hasil pembahasannya.


"Raka beneran nembak lo, Yu?" Si rambut keriting yang memakai baju kotak-kotak bertanya dengan antusias.


Sedang yang di tanya malah tersipu malu-malu. Kinan melihat tiga orang wanita itu kini sedang membelakangi Nadhira. Suara mereka yang kencang pasti membuat Nadhira salah paham kembali dengan Raka.


Nadhira memang tidak memberi tahu bahwa dia menyukai Raka. Namun dari gelagatnya menghadapi Raka semua orang tahu ada reaksi cinta diantara keduanya.


"Jangan ngomong kenceng-kenceng dong," Ucap Ayunda melirik kiri dan kanannya membuat Kinan mendengus malas, meliriknya dengan tatapan jijik sekali.


Nadhira mengacuhkan mereka menaruh beberapa buku di lantai dekat Kinan duduk. "Aku keluar dulu, mau beli minuman." ucap Nadhira sudah keluar sebelum Kinan mengatakan setuju.


Nadhira berjalan dengan terburu-buru hingga menabrak Samudra yang tidak jauh dari hadapannya. Mata Nadhira melirik Samudra yang kini memandangnya dengan dahi berkerut dalam menambah aura ketampan cowok itu.


"Maaf, Dra." ujarnya kemudian pergi dari hadapan Samudra.


Ada apa dengan sepupunya? Samudra melihat Kinan yang kini menatap kepergian Nadhira. Cowok itu berjalan mendekat, beberapa mahasiswi berdecak kagum melihat Samudra dengan setelan kemeja putih dipadukan sweater hitam dengan celana Khaki berwarna biru dongker.


__ADS_1


(Kira - kira kayak gini Style-an Samudra )


"Nadhira kenapa?" Tanya Samudra ketika sudah sampai di hadapan Kinan.


Kinan menggeleng pelan, mendongak melihat mata Samudra yang teduh itu. "Katanya mau beli Minuman, padahal kita bawa minum se tupperware." Ucapnya menunjuk tupperware yang berada di dekat hand bag nya yang berwarna cream.


Entah lupa atau bagaimana ssebelum ke perpustakaan Kinan memang selalu membawa air dimanapun ia berada. Tampaknya ucapan Ayunda membuat Nadhira sedikit linglung dan butuh waktu sendiri sampai tidak sadar alasan yang dia gunakan malah terlihat seperti orang galau.


"Belum selesai bab tiganya?" tanya Samudra duduk di samping Kinan menatap laptop yang kini sedang dipangku gadis itu.


"Sedikit lagi, masih ngurus data survei saham perusahaannya." Kinan kembali fokus dengan layar dihadapannya.


Melihat Kinan seperti ini saja rasanya Samudra ingin memberhentikan waktu. Malam itu setelah pertanyaan Raka tentang keputusannya meninggalkan Amara menjadi sebuah penyesalan, entah mengapa mengganggu Samudra hingga dia harus begadang sampai jam tiga malam.


Jika suatu saat nanti dia dihadapkan dengan pilihan antara Amara dan Kinan. Hatinya sudah menentukan pilihan. Sudah hampir dua puluh menit berlalu tapi Nadhira tidak kunjung kembali, memangnya kantin begitu jauh ya dari perpustakaan seingat Kinan hanya membutuhkan waktu lima menit saja kok.


Rambut Kinan berjatuhan ketika dia harus melirik ke bawah untuk membaca buku di sana. Tangan Samudra terulur menyelipkan rambut gadisnya ke belakang telinga Kinan.


"Dra, banyak orang malu." bisik Kinan melihat Samudra yang kini sudah bersender di bahu kirinya.


"Aku ngantuk, sayang." Samudra langsung memejamkan matanya mengabaikan protes dari Kinan.


Pasrah dengan keadaan akhirnya Kinan membiarkan Samudra menyandera bahunya. Hanya dibutuhkan sepuluh menit pria itu sudah tertidur. Semengantuk itukah Samudra?


Kinan melanjutkan pengetikkannya, sesekali menatap Samudra. Wajahnya yang tampan membuat Samudra begitu sempurna seperti dewa yang dipahat tanpa cela.



Kinan tersenyum melihat bibir Samudra, tiba-tiba dia merasa malu. Bibir ini yang kemarin menyentuhnya dengan lembut, membuat Kinan mabuk kepayang sendiri. Tanpa sadar Kinan menyentuh bibir Samudra dengan tangannya.


"I love you like you love me, Samudra." ucap Kinan.


🌿🌿🌿


TBC



**VOTE DULU GUYS SAMA KOMEN, SEMAKIN BANYAK SEMAKIN SEMANGAT NIH LANJUTINNYA. WKWK. MAAP AGAK MAKSA.

__ADS_1


pilih Happy Ending atau Sad ending atau Gantung Ending? komen coba di bawah**.


__ADS_2