
🌿🌿🌿
Dua minggu kemudian...
Kalau kata mahasiswa tingkat akhir, tidak ada yang lebih bisa mengacak hidup kalian selain skripsi. Kinan sangat menyutujuinya, dosennya yang rewel tidak karu-karuan membuat Kinan harus merevisi hingga ketiga kalinya hanya untuk bab tiganya. Siapa lagi kalau bukan Pak Edy! Hidup dosennya itu bahkan tidak bisa tenang jika tidak mengganggu mahasiswanya dengan kata revisi.
Pasal satu Dosen selalu benar dan tidak bisa di bantah, pasal kedua jika dosen salah maka mahasiswa harus ingat pasal pertama. Yang artinya, Dosen tidak akan pernah salah sampai hari Kiamat tiba! Huh, Sudah hampir satu jam Kinan menunggu Pak Edy di rumahnya yang letaknya begitu jauh dari kampus.
Namun Siapa sangka Dunia ini terlalu sempit? Pak Edy menyuruhnya menunggu lima belas menit lagi di rumahnya karena dia masih harus mengajar di kampus. Kalau tahu begitu seharusnya Kinan berangkat telat saja. Hal yang ingin dia beritahu bukan itu sebenarnya, ketika sedang bosan menunggu dosennya, Kinan malah bertemu dengan Arga —keponakkan dosennya yang sekaligus merangkap sebagai teman sekampus kakaknya dulu saat kuliah di Universitas Depok—.
"Nggak menyangka lho aku bisa ketemu kamu di rumah pamanku," Senyum tidak lepas dari bibir Arga ketika Kinan membalas kembali senyumnya.
Arga Dramawan, pria dengan badan yang cukup tegap dengan tinggi lebih pendek enam centi dari Samudra, bermata hitam pekat, dan sosok yang begitu dewasa kontras dari raut wajahnya, mungkin karena umurnya yang kini hampir duapuluh enam tahun membuat Arga terlihat lebih macho dibanding dia semasa menginjak perguruan tinggi.
Semua orang pernah jatuh cinta, tak terkecuali Kinan yang dulu sempat naksir Arga saat SMA. Jauh sebelum mengenal Samudra dalam hidupnya. Dulu Arga memang suka sekali bertandang ke rumahnya saat masih satu fakultas kedokteran dengan kakaknya. Interaksi mereka dulu membuat lumayan banyak perasaan cinta monyet Kinan dengan tidak tahu diri berkembang. Namun perasaannya langsung dia hilangkan ketika Arga memilih kuliah di Surabaya untuk mengambil spesialisnya, sedangkan kakaknya malah mengambil di Jepang.
"Aku kaget lho, Ternyata Bang Arga bersaudara dengan Pak Edy." Kinan tidak mengekspetasi sama sekali bahwa Arga ternyata keponakkan si kutu kupret Edy.
Dari keperawakannya jika di perhatikan secara seksama tidak ada unsur kemiripan yang terlihat. Pak Edy yang berkulit agak kelam sama sekali tidak mirip dengan Bang Arga yang memiliki kulit begitu bersih dan sawo matang hampir mendekati putih. Bukan hanya soal kulit dari segi ketampanan saja, Pak Edy jelas kalah tampan dari keponakannya.
"Om Edy menikah dengan Tanteku yang beradik kakak dengan papa, wajar saja jika kita tidak mirip sama sekali."
Kinan hanya mengangguk-angguk manut. Dia sekarang baru paham ternyata Pak Edy bukan berasal satu darah dengan bang Arga.
"Gimana kabar Galih?" tanya Arga menyesap kopi di hadapannya dengan tatapan yang sama sekali tidak lepas dari Kinan.
Ngomong-ngomong tentang Galih, Kinan jadi teringat dia belum menghubungi kakak satu-satunya itu. Otw kena marah ini mah. Terakhir kali dia tidak menghubungi Galih saja kakaknya itu sudah mau mengobrak- abrik jepang di sana, ralat —maksudnya mengobrak-abrik kamar apartemennya yang di Jepang—.
"Baik, Abang masih di Jepang buat lanjutin spesialis bedahnya." jelas Kinan sesekali melihat jam di tangannya.
katanya lima belas menit, ini sudah hampir dua puluh menit kenapa dosennya itu tidak kunjung datang juga. Sebuah pesan menarik perhatian Kinan ternyata itu dari Samudra.
Samudra : Sudah selesai bimbingannya, sayang?
__ADS_1
Kinan mengetikkan balasan kepada Samudra, berkutat sementara dengan ponselnya tidak berniat mengabaikan Arga sebenarnya.
Kinan : Belum 😩 masih di tahan Pak Edy.
Sembari terkikik membalasnya. Akhir-akhir ini memang hubungan Kinan dengan Samudra mulai membaik. Sejak keputusannya malam itu yang meminta untuk mengakhiri hubungan dengan Samudra dan membuat cowok itu murka di kamarnya membuat Kinan perlahan-lahan mengalah sedikit demi sedikit. Dia mencintai Samudra hanya saja sikap posesifnya semasa pacaran membuat Kinan harus menggerutu sepanjang hubungannya.
"Oh iya, Bang Arga kenapa di Jakarta dan bukan di Surabaya?" Tanya Kinan penasaran.
Setaunya untuk melanjutkan kejenjang berikutnya setelah strata satu seperti spesialis begitu membutuhkan waktu kurang lebih dua tahun lamanya. Kenapa bang Arga tidak di Surabaya sekarang?
"Sedang liburan semester aku."
"Galih bakal pulang nggak ke Indonesia saat kamu wisuda?" imbuh Arga lagi kali ini memperhatikan wajah Kinan dengan serius.
Jepang—Indonesia bukanlah tempat yang dekat, perjalanan dari sana menuju ke sini bisa saja menghabiskan waktu sembilan jam. Kinan juga belum cerita kapan tepatnya dia akan di wisuda kepada keluarganya. Skripsinya yang nggak kelar-kelar memutuskan harapannya untuk di wisuda gelombang pertama, akhir bulan oktober nanti. Dilihat dari kesibukkan Galih juga sepertinya abangnya itu tidak akan datang ke acara wisudanya.
"Nggak tahu, Doain aja bang. Skripsiku saja belum kelar, suruh Pak Edy dong langsung Acc. Bang Arga kan keponakannya," Bujuk Kinan dengan ekspresi yang lucu membuat Arga gemas sendiri di tempatnya.
Dibalik tubuh kecil Kinan, Seorang pria dengan perawakan hampir setara dengan ayahnya mengaggetkannya dengan suara tegas. Siapa lagi kalau bukan Pak Edy?
Dosennya meletakkan tas hitam yang biasa dibawanya ke meja tanpa berniat masuk dulu menyambut sang istri. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu keluar setelah mendengar suara suaminya.
Kinan tersenyum canggung, sedangkan Arga malah mentertawai Kinan. Kemudian tidak lama setelahnya bab tiga yang tadi malam sudah di ketiknya sudah berada di tangan Pak Edy. Dosennya sibuk membaca sedangkan istrinya menaruh beberap kue sebagai kudapan yang di suguhkan di meja.
"Kinan sudah punya pacar belum?" Sembari menaruh kue-kue mata Anaya tidak lepas dari Kinan.
"Bang Arga juga lagi nyari pasangan nih buat di ajak serius." lirik Anaya dengan mata jahil yang mengedipkan sang keponakkan.
Jadi selama ini bang Arga masih jomblo? semenjak putus dari Rayya sepertinya hubungan percintaan cowok itu sama sekali belum terjalin lagi. Tapi maaf sekali, saat kini Kinan sangat mencintai Samudra, dia juga sudah tidak memiliki perasaan apapun dengan Arga sekarang.
"Apasih Tan," Bantah Arga membuat Anaya terkikik pelan.
"Sudah Tante," jawab Kinan kalem.
Ntah mengapa saat mendengar jawaban Kinan reaksi Arga seperti seseorang yang menunjukkan raut kecewa. Namun cowok itu langsung mengganti raut wajahnya cepat-cepat takut Kinan menyadarinya.
__ADS_1
"Yah, sayang banget dong." Suara Anaya dibuat sesedih mungkin.
"Bang Arga mah kurang gercep kalau kata anak jaman Now. Keduluankan, Kinan udah diambil orang deh jadinya." lanjutnya.
Wajah Arga sudah tidak tahu mau dibawa kemana. Tantenya yang meledeki seperti itu membuat Arga sedikit malu menatap Kinan. Apalagi dia melihat Kinan sedikit risih dengan pernyataan Tantenya. Mungkin karena pacarnya?
Empat tahun tidak bertemu dengan Kinan, membuat Arga tidak percaya cewek yang dulu sempat menyatakan rasa cintanya kepadanya kini sudah memiliki pacar. Kira-kira siapa pacar Kinan? mungkinkah kenalan Galih juga?
"Sudah lumayan bagus, tidak ada yang harus di revisi sejauh ini. Kamu bisa melanjutkan bab selanjutnya." Pak Edy melepas kacamatanya
Kinan menghadapkan wajahnya kearah Pak Edy. "Makasih, Pak." Tutur Kinan mengambil kemari kertas skripsi yang di sodorkan dosennya.
Kinan langsung merapihkan barang-barangnya setelah siap dia berpamitan kepada kedua suami istri itu. Sebagai bentuk hormatnya, Kinan tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya kepada Arga.
"Ga, anter Kinan pulang sekalian. Kasihan anak gadis pulang sendiri," perintah Edy.
Dia ingin menolak namun situasi tidak mendukungnya. "Nggak usah repot-repot, Pak."
"Nggak ngerepotin kok, aku juga mau bertemu Tante Mira. Sudah lama nggak silaturrahmi," Arga sudah berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan halaman. Pada akhirnya dengan kekhawatiran yang besar. Kinan masuk ke dalam mobil Arga.
Dalam hati dia merapalkan doa, Kinan berharap Samudra tidak akan mempermasalahkan hal ini. Mobil bergerak menuju rumah Kinan. Sesaat setelah sampai, Kinan langsung turun dengan Arga yang kini ikut turun juga.
Ekspetasi tidak selalu sesuai dengan realita. Di depan rumahnya, Samudra sudah menunggu Kinan untuk berkencan hari ini. Mata Samudra menatap tajam Arga, membuat Kinan meneguk ludahnya sendiri.
🌿🌿🌿
TBC
Pindah haluan nggak nih ke bang Arga?
Pilih : Kinan 💗 Samudra atau Kinan 💗Arga ?
__ADS_1