NEET

NEET
Chapter 1 : Teman Masa Kecil


__ADS_3

Terlahir sebagai anak orang kaya memang impian banyak orang. ya, itulah diriku pas masih kecil. ya... mungkin sekitar umur 5 tahunan.


namaku adalah Arya, yah sepeti yang ku bilang di awal. aku adalah anak dari seorang pengusaha kain yang lumayan besar di salah satu pusat perbelanjaan di ibu kota. yah dia sangat sibuk bekerja. karena itu juga aku jarang bertemu dengannya dan lebih dekat dengan ibuku.


ibuku adalah ibu rumah tangga seperti kebanyakan ibu rumah tangga pada umumnya. dia selalu terlihat luar biasa di mataku. membuat sarapan setiap pagi, merapikan rumah, selalu ada di sisiku, dan selalu mengajariku banyak hal.


pagi itu adalah pagi yang cerah dan matahari juga tidak terlalu menyengat. aku sedang sarapan di meja makan bersama ibuku. dia membuatkanku nasi yang di atasnya ada telur dadar kemudian di olesi dengan kecap. makanan yang sederhana memang. tapi itu adalah makanan favoritku di pagi hari.


"teett!!!... teett!!" suara bell rumahku berbunyi.


ibuku berdiri kemudian menuju ke depan rumah. dia membukakan pintu dan di situ berdiri seorang wanita. lebih tepatnya dia juga masih seumuran denganku saat itu. sekitar 5 tahunan juga.


ya, anak itu bernama Lana. aku pertama kali bertemu dengannya saat di ganggu anak - anak lain. aku memang cengeng banget pas masih kecil. sedikit - sedikit nangis. kena ini nangis, kena itu nangis. dan saat di ganggu anak - anak lain aku juga hanya menangis. nah saat itu Lana datang menolongku dan karena itu dia jadi temanku sampai sekarang. rumah kami juga lumayan dekat jadi aku sering juga bermain bersama dia. ya memang cuma dia temanku satu satunya saat itu.


"Alya.. ayo main!!!" ajak Lana


"iya sebental" sahutku sambil mempercepat makanku.


aku langsung bergegas makan dan langsung menuju pintu depan. setelah itu aku langsung bersalaman dan mencium tangan ibuku untuk pamit bermain "Alya main dulu ya Bu.."


"iya, jangan jauh - jauh tapi" jawab ibuku.


aku dan Lana pun berangkat jalan kaki. sepanjang jalan kami mengobrol banyak sekali. tentang berbagai hal. iya, Lana memang gadis yang sangat aktif dan juga ceria. beda denganku yang cengeng ini.


kami berjalan bukan ke tempat bermain. ataupun ke taman. tapi lebih ke tempat yang sangat rahasia. tempat yang kami temukan beberapa hari yang lalu. tempat yang kita jadikan tempat rahasia kita berdua. setelah beberapa menit berjalan kita akhirnya sampai.


tempat itu adalah gedung sekolah tua yang sudah di tinggalkan. banyak anak - anak yang menjauhi gedung itu karena mereka bilang tempat itu angker. tapi aku dan Lana malah membuat nya sebagai tempat bermain.


walaupun ini gedung sekolah tua yang terdiri 3 kelas dan satu kantor. tempat ini masih sangat kokoh. bahkan meja dan kursi yang di tinggalkan dari gedung sekolah ini masih bagus. paling ada beberapa yang rusak. bahkan di sini kalian masih bisa menemukan banyak kapur dan alat tulis. kami sering sekali menghabiskan waktu bermain sekolah - sekolahan di sini. kadang bermain petak umpet, kejar kejaran, masak - masakan dan masih banyak lagi.


Tidak terasa kami bermain hari sudah semakin sore dan saatnya kami pulang. di perjalanan pulang sambil berjalan Lana tiba - tiba bertanya.


"Alya, besok kan kita sekolah, kamu sudah siap - siap belum?"

__ADS_1


sambil sedikit salah tingkah aku menjawab pertanyaannya.


"A, aku sudah membeli banyak hal, aku sudah membeli buku, kotak pensil yang keren berbentuk mobil dan tas yang ada lodanya. pokoknya banyak hal yang sudah di belikan ayahku."


"waahh!! kelen, enak ya kamu, kalau aku..."


Lana sedikit terdiam dan raut mukanya sedikit berubah.


"kalau kamu bagaimana Lana?" tanyaku.


"eee... ada deh pokoknya, yang penting aku sudah siap. oh ya, Alya besok kita berangkat sekolah Sama - sama yuk. aku tunggu di lumahku ya.. kan kamu jalang ke rumahku" jawab Lana


mendengar kata - kata itu aku senang sekali. sampai mukaku merona merah dan aku bingung mau berkata apalagi.


kami pun pulang ke rumah masing - masing. setelah itu aku langsung mandi dan di malam harinya seperti biasa aku bercerita keseharian ku ke ibuku. dia sangat antusias mendengarnya. sampai tak berselang lama aku mengantuk dan ibu pun menyuruh tidur. tapi karena kepikiran kata kata Lana sore tadi aku jadi tidak bisa tidur nyenyak.


pagi harinya


setelah mandi, ganti baju dan sarapan aku langsung bergegas berangkat ke sekolah. aku langsung berlari keluar memakai tasku dan berpamitan dengan ibuku. walau sebenarnya ada yang ingin ibuku katakan tapi aku tidak mempedulikannya. karena aku juga sudah tidak sabar.


aku langsung bergegas berlari menuju ke rumah Lana yang jaraknya tidak jauh dari rumahku. hanya beda sekitar 5 rumah. tapi setelah aku sampai di depan rumahnya. tidak seperti yang ku bayangkan. banyak orang berkumpul di depan rumah. dan di salah satu tiang rumah Lana pun ada disempatkan sebuah bendera kuning. karena saking polosnya diriku di masa itu aku langsung melewati orang orang itu. dan tepat di depan pintu rumah Lana aku berteriak memanggilnya.


"Lana... ayo belangkat sekolah belsama!!. kamu sudah janji kan?" teriakku


aku terus memanggil dan memanggil Lana tapi tidak ada jawaban. yang ada hanya orang - orang yang melihatku dengan tatapan sedih. seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku tapi tidak tega.


kemudian seseorang keluar dari dalam rumah itu. seorang bapak - bapak berbadan besar dengan kumis yang agak tebal. memakai sarung dan peci serta baju lengan panjang warna putih. ya, itu adalah ayahnya Lana. dia pun berjongkok di depanku dan menepuk pundakku kemudian berkata.


"eee.. kamu pasti Arya kan. temannya Lana?" tanya bapak itu.


"i,iya om, Lananya ada?" tanyaku.


"oh, maaf nak Lana tadi sudah berangkat duluan dengan ibunya. katanya ingin datang paling awal ke sekolah." jawab bapak itu.

__ADS_1


setelah itu ibuku tiba - tiba muncul dia langsung menarikku dari kerumunan orang-orang itu. dan langsung mengantarkan ku ke sekolah tanpa berkata sepatah katapun.


sesampainya di sekolah bersama ibuku, aku langsung di ajak ke salah satu kelas di situ aku pun memilih tempat duduk dan duduk di bangku tengah bagian depan. aku melihat sekeliling dan masih tidak ada Lana di sana.


aku ingin bertanya ke ibuku. tapi aku tidak berani. dan ku pikir mungkin dia di kelas yang lain.


ibuku setia menungguku di hari pertama sekolahku ini. dia menungguku sampai aku pulang. tapi di saat pulang pun aku tidak melihat Lana dimana pun. saat perjalanan pulang juga begitu aku masih tidak melihat dia. dan ketika lewat depan rumahnya kerumunan orang sudah pergi. dan ku lihat rumah Lana juga terlihat tidak ada orang.


hari berikutnya aku kerumah Lana lagi dan hasilnya masih sama saja. aku tidak bisa bertemu dia. ketika ku tanya ke orang tuanya jawabanya selalu sama. dia sudah berangkat duluan.


aku tidak mengerti apa yang terjadi, kenapa Lana seperti menghindari ku? apa Lana membenciku? atau mungkin ada yang salah denganku? aku terus mempertanyakan itu. dan terus menerus ke tempat Lana mengajaknya berangkat sekolah bersama bermain bersama. tapi hasilnya tetap sama aku tetap tidak bisa menemuinya.


mungkin sudah seminggu berlalu. aku masih tidak menyerah dan terus menanyai di mana Lana?. sampai akhirnya orang tua Lana lelah dan memberikanku sebuah surat. dia berkata ini dari Lana untukku. yang di tulis oleh ibunya melalui kata-kata yang di ucapkan oleh Lana. di hari terakhir kami bermain bersama.


aku menerima surat itu. kemudian langsung pulang. karena belum terlalu pintar membaca aku pun menyuruh ibuku untuk membacakannya. surat itu tertulis.


"terimakasih sudah menjadi teman terbaikku Arya, mungkin setelah kamu menerima surat ini kita tidak bisa bermain lagi seperti dulu. tapi kamu jangan bersedih. ya..."


aku yang benar - benar masih polos tidak mengerti apa maksudnya itu.


"Lana kenapa Bu? apa dia membenciku? kok dia tidak mau bermain denganku lagi?" tanyaku ke ibu.


ibuku dengan hati-hati berkata. "Lana sudah pergi nak ke tempat yang jauuuuhh sekali di suatu tempat. dia tidak membencimu hanya saja dia butuh waktu yang lama untuk kembali. dia menyuruhmu untuk tidak bersedih. agar dia juga tidak sedih di sana."


"terus kapan dia akan kembali Bu?" tanyaku lagi


"entahlah nak, mungkin suatu hari nanti." jawab ibuku.


di saat itu aku percaya begitu saja dan terus menunggu kembalinya Lana suatu hari. aku terus menunggunya hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun juga mulai berlalu sampai aku beranjak SD dan kemudian sampai hampir SMP. aku membaca lagi surat dari Lana dan aku baru menyadari.


Lana bukan pergi ke suatu tempat yang jauh disana. melainkan dia sudah meninggal. penyebab meninggalnya sampai sekarang belum tau karena terlalu mendadak dan juga terlalu aneh. tapi aku sudah berjanji kepada diriku untuk tidak terlalu memikirkannya.


ya tapi teman masa kecilku itu selalu ku kenang di hatiku dan tidak akan ku lupakan sebagai penyemangat hidupku.

__ADS_1


__ADS_2