NEET

NEET
Chapter 45 : Selamat Tinggal Kawan


__ADS_3

R dan Gilgamesh akhirnya berteman kembali. mereka mulai bekerja sama untuk menghadapi musuh selanjutnya. yaitu Jena dan Jeni dua anak kecil bersaudara dan seorang pemanah bernama Juna.


mereka adalah anggota 5 panglima perang. karena Gilgamesh sudah di anggap berkhianat dia pun jadi musuh mereka.


sebelumnya Gilgamesh sempat terkena salah satu panah Juna. panah itu terlihat seperti panah biasa jadi tidak terlalu berefek untuk. Gilgamesh.


"kamu tak apa Gil?" tanyaku


"ya, aku tidak. apa-apa ini hanya luka kecil" jawab Gilgamesh.


sebelum pertarungan di mulai. R dan Gilgamesh di berikan waktu untuk mengatur strategi. sekalian juga memulihkan diri


R bertanya kepada Gilgamesh bagaimana kekuatan mereka bertiga tapi dia juga kurang tahu. tapi yang pasti si pemanah. memiliki serangan jarak jauh. bahkan dia masih bisa melihat targetnya dalam kabut tebal sekalipun.


dan untuk yang kedua bocah bersaudara dia tidak tahu kekuatan mereka.


"baiklah kalau begitu Gil. aku akan melawan si pemanah. soalnya aku sudah pengalaman dengan mereka. dan aku juga sudah bersiap menghadapi pemanah itu." kata R


"baiklah kalau begitu kedua bocah itu aku yang urus." jawab Gilgamesh.


***


setelah mengatur skill tree ku. aku langsung menerjang si pemanah bernama Juna. aku mengatur skill tree ku untuk berfokus ke kecepatan. jadi aku lebih fokus ke kekuatan warrior of light ku.


dengan langkah cahaya aku mempercepat gerakanku lagi. tapi Juna terlihat seperti sudah tau gerakan ku. dia mulai menembakkan panahnya. saat pertama tertembak. hanya satu anak panah yang mengarah ke arahku. namun setelah semakin dekat anak panah panah itu menyebar dan memperbanyak diri.


aku sedikit kaget namun. dengan reflek aku langsung membuat pedang dengan cahaya yang di padatkan.


dengan kedua pedang dan dengan susah payah aku menangkis. namun kecepatanku masih kurang cepat. beberapa anak panah masih menggoresku dan membuat luka padaku.


setelah itu Juna pun semakin menjauh dariku dan terus menjaga jarak dariku.


aku masih bingung bagaimana cara meningkatkan kecepatan menangkis ku. karena jika aku menggunakan lacrima api. aku memang bisa menggunakan perisai dan kapak. tapi karena senjata itu terlalu berat jadi kecepatanku akan menurun.


"jangan berpikir kamu bisa mendekatiku. panahku tidak akan membiarkanmu sampai menyentuhku."


Juna pun menembakkan anak panahnya lagi. seperti di awal. anak panah yang di tembakkan cuma satu tapi setelah dekat denganku. anak panah itu berubah menjadi ratusan buah.


aku terus menangkisnya dengan pedangku namun percuma. panahnya terlalu banyak dan masih banyak yang mengenaiku.


tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di depan mataku. notifikasi itu menyaranku untuk menggunakan lacrima es peninggalan Shiva.


kalau ku pikir lagi. senjata sabit ini memang sangat berguna selain kecepatannya tinggi. dia memiliki serangan area yang bisa membuat dinding es dan menahan anak panah.


aku pun langsung mengeluarkan lacrima es dari inventori ku dan memasangnya di pedangku. seketika pedangku berubah menjadi sabit dewa kematian.


tak berselang lama ratusan panah pun datang lagi aku langsung mengayunkan sabitku dan membuat sebuah badai salju untuk melindungi ku.


setelah anak-anak panah itu terbelokkan aku pun dengan cepat bergerak dan menerjang langsung ke arah Juna.


aku berada tepat langsung di depannya sekarang. Juna terlihat kaget dan berusaha menghindar. tapi itu sia sia. sabitku bisa memanjang dan menjangkaunya. namun Juna tetap bisa menghindari seranganku.


walaupun begitu seranganku sedikit mengenai tubuhnya. baju yang Juna pakai sobek dan seranganku sedikit melukai tubuhnya.


tapi dengan cepat seorang anak kecil perempuan muncul di belakang Juna. anak kecil itu adalah Jena. dia dengan cepat menyembuhkan luka Juna dengan sihir yang terlihat seperti sihir healing. setelah itu dia pun menghilang lagi.


ya, ku pikir aku sudah punya kesempatan melawan balik. tapi ternyata kerja sama mereka bertiga lumayan hebat.


setelah terkena serangan kelihatanya Juna mulai sedikit marah dan mulai serius. dia mengeluarkan anak panah berbentuk aneh dengan ujung berwarna putih yang terlihat kenyal sepertinya marshmellow.


dia pun dengan cepat langsung menembakkan anak panah itu ke arahku. seperti biasa anak panahnya berubah menjadi banyak. tanpa ragu aku mengayunkan sabitku dan mengenai salah satu anak panah aneh itu.


anak panah itu pun meledak dan mengeluarkan cairan putih lengket yang seperti permen karet. cairan itu begitu banyak mengenaiku hingga aku tidak bisa bergerak.


aku berusaha melepaskan diri dari cairan lengket putih itu namun sangat susah.


tak berselang lama. puluhan anak panah datang lagi ke arahku. anak panah itu menancap di sekitar ku.


"bib,bib,bib"


anak panah itu mulai berbunyi dan tak berselang lama satu persatu mereka meledak dan menghujaniku dengan ledakan.


yang lebih mengerikan lagi. cairan lengket ini ternyata mudah terbakar dan akan langsung terbakar setelah terkena sedikit saja api.


sudah terkena ledakan. diriku pun terbakar juga. aku mengerang kesakitan. namun seolah punya pikiran sendiri lacrima es ku langsung aktif dan menyelamatkan ku dari terbakar.


lacima api ku pun tiba-tiba keluar dari inventori. dia menyerap api yang ada di sekelilingku. perpaduan panas dingin ini membuat kepulan asap hitam yang sangat tebal.


setelah itu kedua lacrima itu langsung mendekati pedangku dan langsung masuk ke cekungan yang ada di gagang pedangku.


pedangku memang bisa menggunakan kekuatan 2 bola lacrima sekaligus tapi aku belum mencobanya sama sekali.


seketika pedangku berubah menjadi sebuah panah berkekuatan api dan es.


anak panah peledak dari Juna pun di tembakkan lagi. tanpa pikir panjang aku langsung menarik tali panahku dan seketika anak panah dari es terbentuk dan muncul.


baru kali ini aku menggunakan senjata jarak jauh di game. kebanyakan aku lebih suka menggunakan senjata jarak dekat seperti pedang, tombak, dan masih banyak lagi.


tapi dengan kekuatan Jack yang basic jobnya seorang Hunter hal itu membuatku lebih mudah menguasai anak panah ini.


aku pun mengarahkan panah ini langsung ke puluhan anak panah yang mengarah ke arahku. sekalian mengarahkannya ke Juna.


anak panah ku lepaskan dan melesat. tembakan anak panah itu menciptakan sebuah badai es dan api yang sangat besar yang langsung memporak porandakan semua serangan dan benda yang ada di depannya.


serangan besar itu juga membuat Juna panik dan seketika langsung mengenainya. hingga membuatnya terpental dan membentur tembok menara.


setelah serangan besar itu mengenai Juna. dia pun langsung terkapar dan terlihat seperti pingsan.


setelah serangan besar itu kedua bola lacrima langsung terlepas dari pedangku dan membuat pedangku kembali ke wujud biasa.


aku pun mendekati Juna untuk memastikan kalau aku berhasil menyerangnya.

__ADS_1


saat ku lihat Juna sudah tergeletak pingsan. namun ada yang aneh di sini. harusnya dengan serangan sebesar itu Juna akan mendapat banyak Luka. tapi kali ini lukanya seolah hilang.


dan tepat sekali. itu hanya sebagai ke pura puraan semata. setelah aku sudah dekat dengan Juna. dia pun langsung melempar anak panah ke arahku dan merubahnya jadi puluhan anak panah.


anak panah itu beberapa mengenaiku. dan seketika aku langsung mendapat notifikasi "high poison" hingga membuatku tidak bisa bergerak sementara.


"hebat kamu masih bisa bertahan setelah terkena anak panah racunku. biasanya mereka akan mati seketika jika terkena anak panah sebanyak itu." kata Juna


aku tidak bisa menjawab apa-apa saat ini karena tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak


***


sementara itu Gilgamesh menghadapi kedua anak kecil bersaudara yaitu Jena dan Jeni. dari yang terlihat di situ Gilgamesh hanya menyerang Jeni. sementara Jena berada di tempat yang aman jauh dari serangan Gilgamesh. serta sedikit membatu Juna sang pemanah saat dia terluka melawan R.


Gilgamesh menggunakan kekuatan penuhnya untuk menyerang Jeni. tapi serangannya sama sekali tidak bisa mengenai anak kecil itu.


Jeni dengan mudah mengetahui semua gerakan dan juga serangan Gilgamesh. seolah dia bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan.


namun bukan hanya menghindar saja Jeni juga memiliki serangan yang mengerikan. dia bisa mengeluarkan makhluk asap padat berwarna putih. yang menyerupai hantu terbang dari mulutnya.


makhluk itu seperti memiliki pikiran sendiri. makhluk itu terus mengejar Gilgamesh. dan saat Gilgamesh memukulnya. makhluk itu pun meledak.


walaupun ledakannya tidak terlalu besar tapi tetap membuat susah Gilgamesh.


karena punya pikiran sendiri juga. makhluk putih itu bisa menghindari serangan Gilgamesh dan akan meledakkan dirinya di saat Gilgamesh lengah.


semakin lama pertarungan semakin menurun kekuatan Gilgamesh. cahayanya pun semakin redup. gerakan Gilgamesh semakin melambat dan tubuhnya mulai terengah-engah.


bisa jadi itu karena luka yang dia terima. namun kalau hanya luka ringan tidak mungkin Gilgamesh sampai seperti itu.


setelah menerima beberapa serangan lagi Gilgamesh mulai ambruk. dia mulai terduduk tak berdaya dengan tubuh besar dan cahanya yang mulai redup. dan dia mulai tidak bisa bergerak.


Jeni pun menghampiri Gilgamesh. dia menepuk-nepuk pundak Gilgamesh yang sudah tidak bisa bergerak. Jeni pun menggeser sedikit armor Gilgamesh.


dari balik Armor itu. tubuh lebam ungu mulai tampak. lebam ungu itu menyebar dari bekas serangan anak panah yang berasal dari Juna.


ya, itu adalah lebam karena racun yang kadarnya sangat tinggi. sangat beruntung Gilgamesh masih bisa bertahan dan tidak langsung mati seketika.


dengan terengah-engah. Gilgamesh berusaha berdiri dan ingin menyerang Jeni lagi.


"tidak usah memaksakan diri seperti itu tuan besar. kamu tidak akan bisa mengalahkan ku karena aku bisa melihat apa yang akan terjadi beberapa detik bahkan menit ke depan." kata Jeni


"pantas saja seranganku tidak ada yang bisa mengenaimu." Gilgamesh berkata seperti itu sambil tetap berusaha berdiri namun tubuhnya sama sekali sudah tidak bisa bergerak.


begitu juga dengan R. terlihat dia juga terkena racun yang sama dengan Gilgamesh bahkan lebih banyak. namun dia terlihat masih berusaha ingin bergerak dan mengalahkan lawannya di depan.


***


aku melihat dari kejauhan Gilgamesh sudah terkapar tidak bisa bergerak. sementara itu tubuhku juga kaku. efek racun ini masih membutuhkan sedikit waktu untuk menghilang.


aku memang kebal terhadap racun karena kekuatan Jack yang ku pinjam. namun jika kadar racunnya setinggi ini tetap membutuhkan waktu untuk menyembuhkan diri.


terlihat anak kecil di depan Gilgamesh sudah bersiap mengeluarkan serangan terakhirnya dan begitu juga di depanku. Juna juga sudah mengarahkan panahnya tepat di depanku.


terpaksa aku harus menggunakan kekuatan itu. kekuatan Ghoul tingkat tinggiku. walaupun sebenarnya kekuatan ini akan ku gunakan untuk melawan raja Hart. namun karena terpojok jadi terpaksa ku gunakan.


aku mulai berkonsentrasi aku menggunakan kekuatan Ghoul ini. karena tidak ada Lana. aku tidak mau menggunakan kekuatan ku terlalu banyak. agar masih bisa ku kendalikan.


aku mulai menggunakan 5% dari kekuatan ghoulku. aura merah seperti asap mulai keluar dari tubuhku. dan semua status negatifku seketika lenyap.


melihat auraku Juna mulai ketakutan. dia langsung menembakku tanpa pikir panjang. namun aku bisa menangkap panah itu dengan sekejap mata dan melemparnya kembali ke Juna dengan kecepatan tinggi. namun Juna berhasil menghindarinya. setidaknya lumayan untuk mengalihkan perhatiannya.


setelah itu aku menuju ke Gilgamesh dan langsung muncul tepat di depan Jeni si bocah.


Jeni terlihat sangat terkejut saat melihat ku. dia mulai sedikit mengeluarkan kekuatannya. namu aku dengan cepat menendang bocah itu dan dia pun tepental ke arah Juna. hingga membuat mereka berdua bertubrukan.


setelah itu dengan cepat adik Jeni yaitu Jena. langsung menghampiri mereka berdua dengan kecepatan yang terlihat begitu cepat. kemudian langsung menyembuhkan Juna dan juga Jeni.


setelah itu aku langsung menarik tubuh besar Gilgamesh menjauh dari mereka bertiga ke tempat yang lebih aman.


setelah itu aku menyenderkan Gilgamesh ke salah satu tiang di menara langit.


Gilgamesh terlibat kesakitan. aku membuka armornya dan saat itu juga aku terkaget. sekujur tubuh Gilgamesh mengalami lebam sampai membuat kulitnya berwarna ungu.


aku memang bisa menyembuhkan diri sendiri. tapi aku tidak bisa menyembuhkan orang lain. andai Lana ada di sini.


aku mencoba menggunakan obat bernama antidote di dalam inventori ku. aku meminumkannya ke Gilgamesh. namun obat itu tidak berefek apapun pada Gilgamesh. satu satunya cara adalah mengambil skill salah satu orang di sini yang memiliki kekuatan penyembuhan.


"jangan khawatir kan aku kawan. fokuslah dengan musuh yang ada di depanmu." kata Gilgamesh.


"baiklah kalau begitu". jawabku.


setelah itu anak panah beracun dengan cepat menusuk punggung ku. efek racunnya langsung membuat tubuhku sedikit mati rasa. namun perlahan menghilang karena skill anti racunku. setelah itu aku langsung mencabut panah itu.


"bagaimana kamu bisa bertahan dengan racun anak panahku? padahal itu racun tingkat tinggi."


"itu rahasia." jawabku.


aku kemudian mengeluarkan kekuatan Ghoul ku lagi sekitar 10%. asap merah menyelimutiku dan ketiga orang dari 5 panglima perang bersiap dengan seranganku.


di situ terlihat Jeni begitu ketakutan. begitu juga dengan Jena.


"kakak, apa kamu merasakannya? orang itu kekuatannya mengerikan." kata Jena


"i, iya aku tahu itu." jawab Jeni


Juna yang melihat kedua bersaudara itu ketakutan terlihat panik.


"hey, Jeni kamu bisa melihat gerakan yang akan dia lakukan selanjutnya kan?"


"entahlah, aku tidak bisa melihat apapun. yang ku lihat hanya kegelapan" jawab Jeni.

__ADS_1


"iya, itu karena penglitanmu tidak bisa mengikutiku"


seketika aku langsung muncul di depan Jeni. aku bersiap menendang Jeni. tapi Juna menahan tendanganku dengan panahnya yang membuat dia terpental.


setelah itu sebuah Medan waktu berbentuk lingkaran yang mengurung aku, Jeni, dan Jena.


Medan waktu itu adalah kekuatan Jena. dia bisa membuat Medan waktu dengan jarak sekitar 50 meter di sekitar nya yang akan memperlambat musuh.


Jena segera menyelamatkan Jeni. tapi kekuatan perlambat itu tidak berpengaruh padaku. kekuatanku masih terlalu besar dan masih bisa bergerak cepat walaupun di Medan waktu.


tapi kecepatanku yang menurun itu berhasil di lihat oleh Jeni sehingga mereka berdua berhasil menghindari seranganku.


setelah itu tiba-tiba ribuan anak panah mengarah kepada ku. itu adalah serangan Juna. dengan sangat cepat aku berhasil menghindari serangan itu dan kemudian muncul di belakang Juna. aku kemudian memukul tengkuk lehernya.


saat aku memukul leher belakang Juna ada sensasi seperti sebuah besi yang menghalangi. besi itu berwarna transparan jadi agak tidak. terlalu kelihatan kalau di lihat sekilas. tapi jika di rasakan ada benda seperti kalung di leher Juna.


apa mungkin kelima panglima perang ini juga bernasib sama seperti ku dulu yang di jadikan prajurit budak?. yang di paksa mematuhi raja Hart demi keinginannya.


setelah ku pukul Juna langsung terpental dan membentur tanah dengan keras aku langsung menghampirinya setelah itu.


Juna terlihat sangat ketakutan melihatku dengan aura merah yang masih mengelilingiku. dengan keadaan duduk dengan tangannya dia terus berusaha mundur dariku. dia melemparkan kerikil kerikil kecil kepadaku. pertama hanya sedikit tapi setelah mendekatiku kerikilnya langsung bertambah banyak.


mungkin itu sihir Juna. sihir pelipat ganda. mungkin jika aku bisa melepas belenggunya dia bisa jadi temanku.


"to, tolong jangan mendekat" kata Juna


"hey tenanglah kawan aku akan menolongmu." jawabku.


aku teringat kalau kalung pengekang itu lemah terhadap sihir listrik. jadi aku Langsung saja menggunakan ilmu beladiri tangan kosong ku yang berelemen petir.


dengan cepat aku langsung melesat ke arah Juna dan menyambar gelang di lehernya dengan kekuatan petirku.


kalung itu pun lepas. namun, yang terjadi terhadap Juna sangat mengerikan. pertama ku kira dia akan tersadar. dan mungkin bisa menjadi sekutuku. tapi bukan itu yang terjadi.


tubuh Juna seketika langsung menua. setelah kalung itu lepas dari tubuhnya. badannya semakin keriput dan kurus. setelah itu seketika langsung meninggal. setelah itu dia pun menjadi butiran debu dan terbang ke langit.


semua orang tercengang termasuk diriku. aku merasa bersalah. karena melakukan. hal yang mengerikan seperti itu terhadap Juna.


"apa yang kamu lakukan pada kak Juna?!!!" teriak Jeni


Jeni terlihat marah padaku. dia langsung mengeluarkan makhluk putih peledak dari mulutnya dalam jumlah yang sangat banyak. dan langsung mengarahkannya ke arahku.


dengan mudah aku menghindari serangan itu dan langsung berdiri di belakang Jena dan Jeni.


aku pun memegang pundak mereka berdua dan berkata.


"jangan melakukan apapun atau kalian akan mati sia-sia seperti teman kalian itu. sebenarnya aku tidak berniat membunuh teman kalian. aku hanya ingin menghilangkan belenggu di lehernya." kataku.


"belenggu?" tanya Jena dan Jeni.


"iya, kalung transparan yang ada di leher kalian." jawabku.


"oh.. maksudmu ini."


Jena dan Jeni pun memegang leher mereka dan membuat kalung transparan itu mengeluarkan wujudnya. yang berupa kalung besi dengan sebuah batu berwarna merah tepat di tengahnya.


"ini bukan belenggu. ini adalah alat yang menompang hidup kami selama ini. iya memang kami harus jadi budak dari raja Hart. tapi setidaknya dengan kalung ini. kami jadi berumur panjang."


jadi kalung yang mereka pakai berbeda denganku dulu yang berfungsi memperbudak dengan paksa. aku sangat kasihan pada mereka berdua namun aku juga butuh kekuatan mereka berdua untuk menyelamatkan Gilgamesh. jadi demi hal itu aku terpaksa melakukan ini.


"apa yang terjadi jika kalian membantu musuh?" tanyaku.


"kami akan mati seketika" jawab Jeni.


"baiklah kalau begitu, terpaksa aku harus melakukan ini. dan maaf soalnya aku membutuhkan kekuatan kalian untuk menolong temanku."


aku pun langsung mengeluarkan skill Glutoni dari punggungku. makhluk itu langsung menelan Jena dan Jeni dengan cepat. dan akupun mendapatkan kakuatan mereka berdua.


aku sudah sangat senang dan lega karena berhasil mendapatkan kekuatan kedua bocah itu. setelah itu aku segera menuju ke tempat Gilgamesh berada.


aku melihat Gilgamesh masih bersandar dan terduduk di salah satu tiang penyangga menara Langit. kepalanya tertunduk ke bawah terlihat begitu lemas dan tak bertenaga. tubuhnya yang kekar pun menyusut menjadi pria kerempeng.


armor yang melindungi Gilgamesh pun mulai lepas dari tubuhnya bajunya pun mulai kedodoran.


aku bergegas segera menghampiri Gilgamesh.


saat itu juga harapanku untuk menyelamatkan dia sirna. racun yang berasal dari anak panah Juna sudah menyebar seluruhnya di tubuh Gilgamesh.


tubuh Gilgamesh yang sudah kering kerempeng sudah penuh dengan lebam berwarna ungu. bahkan dia sudah tidak sadarkan diri dan tidak bernafas lagi. health poinya juga sudah mencapai nol. bahkan aku sama sekali tidak sempat mendengarkan permintaan terakhirnya.


pertama aku mencoba menyembuhkannya dengan kekuatan yang ku peroleh dari Jena. yaitu memundurkan waktu. tapi percuma saja. health poin Gilgamesh tetap nol. dan tubuhnya tetap menjadi butiran debu yang melayang.


selanjutnya aku mencoba menelan Gilgamesh dengan Glutoni setidaknya ku pikir kekuatan Gilgamesh bisa di wariskan kepadaku. namun hal itu tetap tidak bisa ku lakukan. karena skill ku ini juga tidak bisa memakan makhluk yang sudah proses berubah ke butiran debu.


akhirnya aku hanya pasrah sambil menahan sedih karena sudah gagal menyelamatkan temanku lagi.


"maaf aku tidak bisa menyelamatkan mu kawan."


hanya itu yang bisa ku katakan. dengan berat hati aku harus terus maju. setidaknya masih ada Lana yang harus ku bantu dan ku selamatkan.


pintu keluar menara pun terbuka dan aku langsung menuju ke sana. aku langsung keluar dari menara Langit. dan tepat di hadapanku adalah sebuah kawah gunung berapi yang masih aktif. tepat di hadapanku ada Lana.


tampang sedih terlihat dari raut wajahnya. sepertinya dia juga kehilangan orang yang penting baginya saat pertempuran sama sepertiku.


tubuh Lana pun bersimbah darah. tapi bukan darah dari tubuhnya. melainkan dari orang yang sedang sekarat di depannya. orang itu adalah Jean. pemimpin dari 5 panglima perang.


apa Lana yang melakukan itu?


dan ada satu lagi yang kurang. di mana Momo?


dan saat ku perhatikan lagi. Lana juga memakai armor silver yang sudah hancur dan mulai menjadi butiran debu. seolah armor itu adalah makhluk hidup.

__ADS_1


yang pasti di sini pertempuran hebat antara Lana dan Jean sudah terjadi.


__ADS_2