NEET

NEET
Chapter 17 : Saudagar Misterius


__ADS_3

tak ku sangka perjalanan selama lima hari kita berjalan dengan aman aman saja. ya, sebenarnya tidak juga sih. sepanjang perjalan kelompok kami melawan banyak monster juga. tapi itu kami gunakan untuk menaikkan level.


sekarang level kami ada di level 35. dan level job ku baru di level 5. beberapa skill juga sudah ku kuasai termasuk aku juga skill tree ku. namun kelihatannya dari kelompokku yang peduli tentang level dan kenaikan kekuatan hanya aku. mungkin karena dari mereka semua hanya aku playernya jadi maklum saja kalau hanya aku yang mengerti tentang level dan berbagai peningkatan di dunia NEET ini. sementara mereka hanya menganggap kenaikan level sebagai hasil kerja keras mereka.


karena ku pikir hari masih siang. aku, Jack, Mia, dan Lana. melanjutkan berburu monster. sedangkan Shiva dan Momo. mengumpulkan item drop dari monster yang kami buru untuk perbekalan. dan para monster ini juga menghasilkan uang. walaupun sedikit setidaknya bisa untuk jaga jaga kalau terjadi sesuatu.


"hey R, matahari sudah mau terbenam. apa masih jauh lagi desa para Dwarf (manusia kerdil)?" tanya Jack


aku yang terlalu fokus dengan berburu hewan sampai kelupaan kalau kita Harus ke desa Druid untuk mencari informasi tentang lokasi kristal element angin.


"oh, iya aku lupa Jack. sebentar"


aku membuka peta lagi dan ternyata tidak jauh lagi.


"tinggal melewati hutan ini. kita bisa sampai ke desa Dwarf Jack"


tak berselang lama berjalan. kami pun sampai ke desa Dwarf. desa itu dekat dengan danau. dan di tengah danau tersebut ada sebuah pulau kecil yang terdapat pohon besar di tengahnya. di desa Dwarf itu terlihat ada banyak menara kincir angin. tapi kincir angin tidak berputar sama sekali. kalau di pikir-pikir memang aneh desa yang dekat dengan danau biasanya anginnya selalu berhembus kesana kemari. tapi di desa ini anginnya begitu tenang bahkan tidak ada hembusan sama sekali.


kami pun menuju gerbang masuk. di depan gerbang itu ada seorang bapak-bapak yang benar-benar tidak terlalu tinggi. mungkin tingginya hanya sepinggang ku. dia menghadang kami masuk ke dalam desa.


aku pun menunjukkan lisensi petualang ku ke orang tersebut.


"ooh.. kalian seorang petualang ya?" tanya si bapak penjaga


"iya kami petualang, kebetulan sedang mencari tempat menginap di desa. dan kami juga mendapat quest di sekitar sini." jawabku.


sang bapak penjaga terdiam sebentar dan menghela nafas agak kecewa setelah mendengar kata-kata ku.


"begini nak, kami saja untuk makan sekeluarga kesusahan. apalagi kalau menerima tamu dari luar." kata bapak penjaga.


"bisa bapak jelaskan lebih detail tentang apa yg terjadi?" sahut Lana terlihat semangat akan hal ini.


namun bapak penjaga tetap diam tanpa kata dan tetap menyuruh kami untuk pergi. kami tetap memaksa agar bisa masuk ke desa. cuma itu sia-sia saja.


namun di saat yang sama kami berdebat dengan bapak penjaga. tiba-tiba di dalam desa tak jauh dengan pintu masuk terjadi sebuah ledakan.


ledakan itu menimbulkan kepulan asap yang terlihat jelas dari luar desa.


"hah? apalagi itu. pasti ini kerjaan si Think lagi."


bapak penjaga itu berbalik untuk mengecek apa yang terjadi namun karena masih ada kami di pintu gerbang dia kelihatan bingung.


"kalian jangan kemana-mana ya. tetap di sini. aku masih ada urusan dengan kalian" pesan bapak penjaga.


bapak penjaga itu pun masuk ke desa dan mengecek situasi. kami pun ikut bapak penjaga dengan santainya.


"hey, kenapa kalian malah mengikutiku.. ah, sudahlanh. sudah terlanjur ini." kata bapak penjaga yang sudah pasrah dan sepertinya sudah lelah berdebat dengan kami.

__ADS_1


kami pun berjalan dan mengikuti bapak penjaga sekaligus melihat apa yang sedang terjadi. banyak sekali orang berkumpul di sekitar kepulan asap itu.


dan saat ku lihat dari balik kerumunan orang. terlihat seorang gadis kecil berambut kuning berkuncir dua sedang menangis terisak-isak di depan sebuah mesin. mesin itu berebentuk kendaraan sepeti mobil. tak ku sangka di dunia fantasy seperti ini ada sebuah kendaraan yang seperti mobil.


"kenapa bisa begini, aku sudah yakin kalau aku sudah memperbaiki. dan sudah mengetesnya berkali-kali." kata gadis itu.


di depan gadis itu. seorang pria bermata sipit dan di samping kiri dan kanan nya ada dua orang berbadan besar. mungkin itu adalah pengawalnya. wajah pria bermata sipit itu terlihat sangat marah terhadap gadis kecil itu.


"hey, hey, hey.. kau tahu kan aku sudah membayar mahal untuk kendaraan ini. gajimu kerja di toko ini tidak akan cukup. untuk menggantinya." kata pria sipit itu dengan sombongnya.


saat ku lihat sekitar memang terlihat aneh sih. mereka bilang desa Dwarf adalah desa pengrajin senjata dan desanya mekanik. tapi yang ku lihat di sini. hanya ada satu toko mekanik di desa ini. dan jika karyawannya seburuk itu bisa berbahaya kalau aku mencari perlengkapan di sini.


setelah itu seorang kakek-kakek keluar dari kedai itu dan meminta maaf. kepada si pria sipit. tapi pria itu tetap kekeh meminta ganti rugi. sepertinya dia pemilik toko itu.


"hey paman. siapa orang bermata sipit itu?" tanyaku kepada penjaga gerbang.


"pria itu seorang saudagar kaya. yang tinggal di sebelah desa kami. kamu lihat rumah mewah di sebelah Utara desa. ya itu rumah pria itu. pria itu sangat licik. dia dan pendahulunya memberikan kami pinjaman uang dan memberikan kami tugas yang sangat mustahil. dan jika kami berhasil dia akan membayar kami dua kali lipat dari modal. tapi jika tidak bisa kami harus mengembalikan modal kami 2 kali lipat dengan bunga yang sangat tinggi. dulu banyak sekali toko pengrajin di desa ini tapi karena dia semua merugi dan harus gulung tikar mereka juga tiba-tiba menghilang seketika dan kami juga tidak tau kemana perginya mereka." jawab paman penjaga.


"ooh.. seperti itu?" lanjutku.


"iya seperti itu, eh kenapa aku menjawab pertanyaan mu orang asing."


pak penjaga pun menyuruhku untuk pergi lagi. tapi kegaduhan semakin menjadi dari toko pengrajin itu.


"tolong tuan Felix beri aku kesempatan lagi untuk kami. toloong.. berikan kami satu kesempatan." terlihat kakek pemilik toko bersujut dan memohon kepada pria sipit yang bernama Felix itu.


dua orang penjaga berbadan besar di samping Felix mendorong kakek itu dan berusaha masuk ke toko. tapi sebelum masuk toko gadis Dwarf menghalangi.


"jangan berani-berani menyentuh tokoku ya!" kata gadis itu sambil menghalangi pintu depan agar tidak masuk ke tokonya.


dengan mudahnya dia di dorong oleh penjaga. dan jatuh tersungkur ke tanah. namun sepertinya dia tidak menyerah. dia mengeluarkan sebuah sarung tangan kulit dari kantongnya. sarung tangan itu di bagian luarnya ada sebuah kabel di jari-jarinya. sedangkan di bagian tengahnya ada sebuah kristal hijau berbentuk setengah lingkaran.


dia memakai sarung tangan itu dan langsung menyentuh salah satu penjaga Felix. penjaga itu pun terkena sengatan listrik yang cukup kuat sehingga pingsan.


sedangkan penjaga yang satunya dia langsung mengepalkan tangan dan langsung mengarahkan pukulan ke gadis itu. aku yang melihat hal itu dan tidak tega melihatnya aku langsung menggunakan langkah cahaya dan menahan serangan pengawal itu. aku seketika Langsung membanting pengawal itu dan dia langsung terbanting ke tanah.


"to, tolong maafkan aku" kata pengawal.


"hey, hey, hey.. siapa kamu? beraninya ikut campur urusanku ya." kata Felix.


"oh aku hanya kebetulan petualang yang sedang lewat." jawabku.


Felix terlihat sangat marah sekali dengan ku. dia mengepalkan tinjunya dan menggertakkan giginya tanda sangat kesal.


"terus apa maumu?" tanya Felix.


"perkenalkan dulu namaku R. aku tidak mau berurusan dengan masalahmu. aku hanya sedang mencari mekanik atau setidaknya pengrajin untuk keperluanku saja. dan ku lihat hanya dia satu-satunya mekanik di desa ini. sayang kalau harus kamu tutup juga tokonya." jawabku

__ADS_1


"jadi?" sahut Felix


"hmm.. setidaknya berilah anak ini kesempatan untuk memperbaiki lagi mesinmu itu." jawabku lagi.


tiba-tiba dari balik kerumunan warga Lana menghampiri ku dengan wajah marah.


"R kamu ini ya bisa tidak. jangan mengurusi masalah orang lain?"


sambil mengatakan itu Lana menjewer kupingku dengan kencang. Untung dia masih memakai tudungnya jadi orang tidak menyadari siapa dia sebenarnya.


"adu Du duh, sakit Lana.!" teriakku yang telinganya masih di tarik Lana.


setelah itu Nana menengok ke arah Felix dan meminta maaf. kemudian melepaskan jewerannya dari telingaku. aku yang masih tidak terima dengan perlakuan Felix terhadap keluarga pengrajin ini masih terus meneruskan argumenku.


"bagaimana? tuan Felix atau siapalah namamu mau memberikan kesempatan kepada keluarga pengrajin ini?." tanyaku lagi.


"menyingkir dari hadapanku, aku tidak pernah menerima apa itu kesempatan ke dua. gagal ya gagal!." jawab Felix dengan tegas dan semakin marah.


gadis Dwarf yang masih tersungkur di tanah menarik tanganku dan berkata.


"tu, tuan lebih baik kamu jangan membuat orang itu marah." kata gadis itu


"tenang saja aku pasti ba.."


tak sampai selesai kata kataku tiba-tiba bogem mentah mendarat di wajahku dan aku pun terpental masuk ke dalam bengkel tempat gadis Dwarf bekerja. tubuhku pun membentur barang-barang yang ada di dalam sana dan seketika aku langsung tidak sadarkan diri.


saat ku tersadar suasana langsung hening. dan di depanku ku lihat teman temanku yang sedang menenangkan gadis Druid. sedangkan tubuhku masih tertindih dengan barang-barang toko


namun di sampingku ada Lana yang sedang menyembuhkan lukaku dengan sihirnya.


"aku kan sudah bilang hati-hati. kamu selalu saja begini. membahayakan dirimu." kata Lana


"sebenarnya aku sudah merasa aneh dengan pria itu. cuma aku tidak bisa membaca statusnya dengan kekuatanku. tak kukira sekuat ini" jawabku yang masih terbaring lemas.


Jack, Mia, Shiva dan Momo berusaha menghibur gadis Dwarf. mereka menceritakan kepadaku juga apa yang terjadi setelah aku pingsan.


yang terjadi adalah orang bermata sipit yang bernama Felix itu membawa kakek sang gadis Dwarf. gadis itu bilang jika seseorang dari desa sudah di bawa oleh pria itu dia tidak akan mungkin kembali lagi. dia juga tidak tahu apa yang akan di lakukan orang itu kepada kakeknya. akan tetapi dia meminta bantuanku untuk menyelamatkan kakeknya malam ini.


aku yang penasaran dengan orang itu menerima permintaannya. dan teman-teman juga tidak segan membantu dia.


setelah itu kami keluar dari bengkel. dan ternyata hari mulai gelap. kami di ajak sang gadis Dwarf untuk datang ke rumahnya dan mendiskusikan serta mempersiapkan sesuatunya untuk kedepannya.


aku tidak tahu apa yang ada di balik rumah saudagar kaya yang bernama Felix itu yang pasti ini masih menjadi sebuah misteri.


ctt penulis:


terimakasih sudah membaca ceritaku, silahkan bisa dukung saya melalui link berikut : trakteer.id/rubiyantoryubi

__ADS_1


__ADS_2