
perjalan di dalam kerangkai besi ini terasa lama sekali. aku tidak tau sudah berapa jam berlalu. aku berusaha menghubungi Shiva tapi dia hanya menjawab kalau kita sedang ada di benua iblis. aku tidak tau apa tujuan mereka membawaku dan tahanan lain ke benua iblis. bukankah yang namanya benua iblis itu tempat berbahaya?
ku lihat dari celah jendela penjara bergerak. hari sudah mulai malam dan kami pun tiba-tiba berhenti. pintu penjara pun di buka oleh seseorang. orang itu salah satu kusir mereka menyuruh kami untuk keluar orang-orang yang satu tempat denganku mematuhi mereka tanpa bicara apapun. aku bingung kenapa mereka begitu patuh padahal mereka tidak di rantai tapi tetap sih masih di beri kalung. dan demi keamanan aku menuruti saja mereka.
para kusir menyuruh kami untuk berbaris. ada sekitar 10 gerobak penjara yang terparkir. masing-masing gerobak terdiri dari 10 orang bersenjata lengkap seperti tentara. senjata mereka bervariasi. mulai dari pedang, panah, gada besi, tongkat sihir dan masih banyak lagi.
salah satu kusir mengelilingi kami. dengan menggunakan pengeras suara dia membacakan sebuah mantra. aku tidak tau bahasa apa yang mereka ucapkan tapi mantra itu membuat kepalaku pusing. kepalaku makin berputar-putar dan kesadaran ku mulai hilang. tapi seseorang berteriak kepadaku dalam pikiranku
"kuatkan dirimu Arya, jangan terpengaruh!!"
"shi, Shiva apa itu kamu? apa yang harus ku lakukan?" tanyaku dalam pikiran.
keringat dingin mengalir dari tubuhku. orang orang di sekitarku semakin larut dalam mantera itu. mereka seperti zombie yang terlihat siap memangsa apa saja yang ada di depannya. pikiranku juga mulai gelap dan kesadaran ku hilang lagi.
tak berselang lama kesadaran ku mulai pulih hanya kesadaran ku. tubuhku rasanya tidak bisa bergerak. di saat ini aku sedang berbaris dengan para pasukan lain di sebuah hutan. hutan ini hawanya tidak begitu menyenangkan sangat mencekam, dingin dan penuh dengan rawa-rawa. tepat di depan hutan tersebut ada sebuah desa kecil yang terlihat tenang dan damai.
aku ingin keluar dari kerumunan ini dan ingin kabur saja. tapi tubuhku tidak mau bergerak. aku berusaha keras untuk bergerak tapi tetap saja tidak mau bergerak. hingga suatu aba-aba dari salah satu pasukan yang menjadi kusir terdengar.
"SERAAAAAAANG!!!!"
tubuhku langsung berlari kedepan dan menarik pedang yang ada di punggungku. kami yang berjumlah sekitar seratus pasukan langsung menyerang ke desa kecil itu. di dalam desa kecil itu banyak warga yang tidak tau apa-apa berhamburan dan berlarian melihat kami.
desa yang Kami serang ini adalah desa para manusia setengah binatang. dan tepat di depanku ada anak-anak manusia binatang yang sedang bermain-main di gelapnya malam. tanpa pandang buluh tubuhku menebas mereka semua tak terkecuali.
aku yang sadar dan tidak bisa menggerakkan tubuhku merasa sedih dan juga frustasi melihat pembantaian ini. satu persatu manusia binatang kami bunuh dan kami tebas. aku tidak tau apa tujuan Kami di paksa melakukan ini. aku merasa sangat tersiksa karena ini.
tubuhku hanya tau menebas dan menerjang mereka para manusia hewan saja. aku ingin menghentikannya tapi tubuhku tidak mau menuruti ku.
"hentikan, sudah hentikaaan!! aku tidak mau melakukan ini lagi!!" teriakku dalam hati tapi apa dayaku. aku tidak bisa berbuat apa-apa.
seminggu berlalu dan kejadian itu terus berlanjut ke beberapa desa berikutnya yang kami singgahi. pembantaian demi pembantaian terus berlanjut. mungkin sudah lebih dari 5 désa para manusia hewan yang sudah kami bantai dan kami bakar tanpa pandang bulu.
aku semakin frustasi dan hatiku semakin hancur melihat hal ini. tanganku semakin kotor dengan darah setiap harinya karena pembantaian ini.
suatu hari di sebuah hutan sebelum pembantaian di mulai ke desa selanjutnya. kami para pasukan tahanan di istirahatkan di desa terdekat. tubuh kami bergerak sendiri dan mencari pohon terdekat untuk bersandar.
para pasukan kusir pun melantunkan mantra lagi untuk membuat kami terhipnotis dan menjadi boneka mereka. aku hampir kehilangan lagi kesadaran ku. Tiba-tiba seekor kucing berwarna putih keabu-abuan mendekatiku. mungkin kucing itu adalah hewan asli hutan ini. atau mungkin peliharaan warga yang lepas.
__ADS_1
dia menggosok-gosokkan badannya ke tubuhku. rasanya nyaman saat dia menggosokkan badannya ke tubuhku. sedikit demi sedikit entah kenapa akhirnya aku bisa menggerakkan badanku terutama tanganku. aku berusaha meraih kucing itu untuk mengelusnya. mungkin karena bau darah dari tanganku yang masih menempel dia langsung melompat kearahku dan menggigit tanganku.
sontak tubuhku seperti tersengat listrik kesadaran ku mulai kembali dan aku bisa menggerakkan tubuhku lagi. namun belum sepenuhnya tubuhku ku gerakan kucing itu di tendang oleh salah satu penjaga. dia terlempar cukup jauh dan membentur pohon terdekat. kucing itu langsung berlari kencang setelahnya sambil terhuyung-huyung kesakitan.
hari sudah mulai gelap dan tubuhku mulai bisa bergerak. penjagaan para kusir terlihat semakin renggang. aku meraba-raba leherku. kalung pengikat masih menempel di leherku akan tetapi lampu indikator yang biasa menyala merah di bagian tengah kali ini tidak menyala. apa mungkin indikatornya mati? pikirku. tapi sayangnya aku masih tidak bisa melepaskan kalung tersebut.
di gelapnya malam para kusir meyiapkan barisan untuk serangan berikutnya. di saat mereka sibuk menyiapkan barisan aku menyelinap keluar dan masuk ke desa terlebih dahulu.
desa ini begitu tenang dan damai kenapa mereka membantai desa yang tidak tau apa-apa seperti ini. aku berlari terhuyung-huyung masuk ke desa tersebut. salah satu warga setengah hewan dan manusia yang sedang berpatroli melihatku dan menghampiriku.
"kamu tidak apa-apa nak? tubuhmu penuh dengan darah. apa yang terjadi?" tanya orang itu
"p,p,pak ce, cepat pergi dari desa ini sebelum terlambat" kataku sambil terengah engah.
"apa maksudmu nak?"
tak berselang lama setelah mengatakan itu tiba-tiba seseorang berteriak
"bersiaaaap!! ada serangan!!"
orang-orang pasukan tahanan mulai masuk desa dan menyerang desa.
"tetap di sini nak, situasinya sepertinya berbahaya". suruh orang itu.
"tidak, aku masih bisa membantu pak, aku juga punya senjata." jawabku
"baiklah terserah kamu saja" kata orang itu.
benar saja pasukan tahanan dengan cepat sudah membunuh beberapa warga dan menghancurkan beberapa rumah. aku berusaha menghentikan mereka. aku menerjang pasukan berpedang dan berusaha menghentikan mereka.
karena aku tidak bisa ilmu pedang apapun aku hanya menyerang mereka asal-asalan. pertama aku hanya berusaha untuk membuat mereka pingsan dengan memukul mereka sekeras mungkin menggunakan barang-barang yang ada di sekitarku sambil menghindari serangan mereka. aku tidak ingin membunuh mereka dengan pedang di punggungku karena mereka juga sebenarnya tidak bersalah.
"kalian semua sadarlah!! kalian seharusnya tidak melakukan ini!!" teriakku ke pasukan tahanan
setelah ku pukul berkali-kali dengan berbagai barang seperti balok kayu, batu dan sebagainya. mereka tidak pingsan sama sekali. memang benar tubuh mereka ambruk tapi mereka terus bangkit dan bangkit lagi seperti zombie.
aku dan para penjaga desa terus di pukul mundur. untunglah serangan para pasukan itu cukup asal-asalan jadi aku bisa menghindari mereka dengan cukup mudah.
__ADS_1
tak berselang lama para warga dan penjaga desa semakin terkepung oleh pasukan tahanan. desa sudah semakin hancur. api menjalar kemana-mana. dan warga desa termasuk aku semakin terkepung.
aku tidak tau harus berbuat apa. karena aku juga masih lemah. job tidak punya, skill juga tidak ada. dan aku juga tidak ingin membunuh para pasukan itu.
serangan terakhir pun di mulai dari para pasukan tahanan. dari kejauhan panah berterbangan. satu persatu mengenai para warga. dan membuat mereka terluka bahkan sampai meninggal. aku juga terkena banyak serangan. dan juga sayatan. serta banyak panah juga yang menusuk tubuhku.
health Point ku semakin berkurang dan mungkin tersisa sekitar 20%. di saat yang sama sesuatu bersinar dari punggung tangan kananku. sebuah lambang berbentuk bunga teratai berwarna putih bersinar terang.
"apa ini?" pikirku.
setelah ku ingat-ingat Shiva pernah memberitahuku. untuk membantuku dia meminjamkan kekuatannya jika health Point ku sudah di bawah 30%. mungkin ini yang dia maksud.
"semuanya!! dengarkan aku!! mu,mungkin kalian belum mengenalku. tapi ku mohon berlindung di belakangku. aku punya rencana. menghentikan mereka."
aku menahan tangan kananku sambil menyuruh para warga untuk berlindung di belakangku. mereka ada yang mendengarkan dan langsung menurutiku karena terpaksa. ada juga yang tidak mau mendengarkan.
tangan kananku semakin bersinar. hawa dingin tiba-tiba keluar dari tubuhku dan mengelilingi para warga. membuat sebuah dinding kabut yang mengelilingi mereka. tak berselang lama kabut dingin itu seperti terhembus angin kencang. mereka menyebar ke seluruh desa mengenai para pasukan tahanan dan warga yang tidak mau mendengarkan ku.
dengan cepat kabut itu menyapu semua pasukan tahanan. mereka semua membeku seketika. bahkan api yang membakar desa pun ikut membeku. sihir es yang sangat mengerikan. dia membekukan segala yang dia lewati dengan begitu cepat.
karena kekuatan ini aku selamat dan warga desa yang selamat berusaha melarikan diri dari desa. mereka berhamburan lari keluar desa menyelamatkan diri. sementara aku tidak bisa bergerak sama sekali. karena mengeluarkan sihir ini rasanya tubuhku juga kaku seperti es.
setelah ku pikir semua ini selesai ternyata masih belum. warga yang ku kira berhasil keluar desa. justru itu malah jadi. perangkap bagi mereka. di luar desa ternyata pasukan yang lebih kuat sudah menunggu untuk menangkap mereka dan mengurung mereka. pasukan yang terdiri dari para kusir tahanan dan pasukan tahanan yang tersisa yang tidak terkena kekuatan Shiva.
"kenapa!! padahal aku sudah mengeluarkan seluruh kekuatanku. tapi aku masih tidak bisa melindungi mereka. kenapa!!!" teriakku dalam hati
para pasukan itu menghampiriku dengan mempersiapkan senjata mereka. mereka mendekatiku perlahan namun pasti. aku masih tidak bisa bergerak dan semangatku sudah hilang karena melihat para warga yang harusnya bisa ku lindungi akhirnya malah Terbunuh dan terkurung oleh orang-orang itu.
aku sudah berpikir mungkin sebaiknya aku mati saja. setidaknya itu lebih baik untuk membayar semua kesalahan yang ku buat dan juga menghapus semua dosaku karena aku juga sudah membunuh warga yang tidak bersalah.
aku sudah pasrah saat itu. para pasukan juga sudah mengayunkan pedang mereka bersiap untuk memenggalku. tapi di saat yang sama tiba-tiba seekor singa raksasa setinggi 5 meter berwarna putih keabu-abuan mendarat di depan ku seperti petir yang menyambar dari langit. dia menyapu para pasukan yang tepat di depanku dengan cepat dan membuat mereka terpantal cukup jauh.
para pasukan pemanah juga menghujani monster singa itu dengan banyak panah mereka tapi itu sama sekali tidak berpengaruh kepadanya. dengan cepat pula singa itu itu membawa tubuhku kemudian melompat dan berlari menjauh dari desa itu. dia membawaku lumayan jauh ke sebuah bukit yang lumayan berumput dan membaringkan diriku di situ.
tak berselang lama aku terbaring singa itu mulai menyusut dan mengecil. sangat kecil sampai ukuran sebuah kucing. saat itu lah aku menyadari bahwa itu adalah kucing yang ku temui saat di hutan sebelumnya. yang membuatku sadar kembali dari hipnotis para penjahat itu. ku kira dia sudah kabur entah kemana ternyata malah menyelamatkan ku lagi.
"ternyata itu kamu ya?.. syukurlah kamu tidak apa-apa kucing kecil. hehe" setelah mengatakan itu aku pun pingsan.
__ADS_1