NEET

NEET
Chapter 10 : Reuni tak terduga


__ADS_3

hari itu ku pikir aku akan mati. tapi akhirnya aku berhasil juga keluar dari pelatihan yang bagaikan neraka itu.


di hari-hari pertama aku dengan susah payah berhasil melewati ujian melawan para monster dan di enam hari berikutnya aku berhasil bertahan hidup dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada di dungeon itu.


levelku naik lumayan tinggi ke level 25 dan status ku juga semakin kuat. aku juga mendapat berbagai skill. seperti memasak crafting tahan terhadap racun dan masih banyak lagi. cuma yang ku bingung kan aku masih tidak bisa mengangkat pedang ARK yang di berikan oleh Momo. aku masih belum mengerti apa yang di perlukan untuk mengendalikan pedang itu. aku hanya bisa memanfaatkan beratnya saja untuk senjataku. selain itu aku masih tidak bisa mengayunkannya sama sekali.


hal itu adalah kesalahan fatalku karena di hari terakhir musuh tidak terduga muncul monster tengkorak raksasa berbentuk seperti kelabang dengan ratusan tangannya yang berbentuk runcing setajam pedang yang siap mencabik-cabik apa saja yang ada di depannya. dan yang lebih mengerikan lagi monster ini berada di level 50.


di awal aku berusaha menebasnya dengan pedang buatanku sendiri dari item drop yang ku dapat dari monster sebelumnya. cuma hal itu sia-sia pedangku langsung hancur begitu mengenai tubuh monster itu yang begitu keras. dengan cepat monster itu langsung menyerangku dengan tulang-tulangnya yang begitu keras. serangannya langsung mengenai tubuh bagian belakangku. membuat tubuhku berasa hancur lebur.


aku pun terlempar lumayan jauh dan membentur dinding dungeon. health Point ku langsung berkurang sangat banyak dan menyisakan sekitar 5%. dari total nyawaku. setelah aku jatuh ke tanah aku berusaha untuk bergerak tapi tubuh bagian bawahku berasa mati rasa.


aku sesegera mungkin cepat meminum potion yang sudah ku racik sendiri dari berbagai bahan. health poinku bertambah dan seluruh luka fisikku mulai sembuh.


karena level dan serangan monster tengkorak itu terlalu brutal aku lebih memilih bersembunyi di bebatuan sampai waktu latihan selesai. aku terus berpindah pindah dari pengawasannya agar tidak terkena serangan yang lebih fatal lagi.


beberapa menit sebelum latihan berakhir monster tengkorak raksasa itu terlihat sangat marah. tak berselang lama dia terdiam dan tiba-tiba dungeon bergetar. monster tengkorak rakasasa itu tubuhnya mulai retak dan hancur.


pintu keluar dari dungeon pun muncul karena ku pikir monster itu sudah menyerah aku langsung lari saja menuju ke arah pintu keluar itu. namun hal itu hanya jebakan semata.


saat aku berlari tiba-tiba mata kananku buta. seperti terkena sayatan benda tajam. iya benar benda itu adalah potongan tubuh monster tengkorak itu. potongan tubuh mereka berterbangan dan mengelilingi pintu keluar untuk menghalangiku.


aku sudah tidak bisa berpikir lagi saat itu bahkan Mata ku yang buta dan rasanya sangat menyakitkan aku tidak bisa merasakannya lagi. yang ku pikirkan hanya aku ingin keluar dari tempat ini.


aku masih terus menerjang para pecahan tengkorak itu. sedikit lagi aku mencapai pintu keluar aku meraihnya dengan tangan kiriku. tapi dengan cepat tangan kiriku terpotong oleh para tengkorak. aku tetap ingin menerjang maju tapi kemudian setelah itu giliran kaki kananku yang di potong. aku berteriak merintih kesakitan saat itu. namun entah kenapa aku masih beruntung.


gelang ARK ku tiba-tiba bersinar dan menarikku keluar dari dungeon dengan paksa. setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi.


***


sensasi hangat menyengat tubuhku. pancaran sinar matahari terasa begitu hangat dari balik kelopak mataku. dan sensasi empuk di bawah tubuhku ini berasa begitu nyaman.


aku membuka mataku perlahan. namun yang terlihat hanya sebagian bagian kiriku. sedangkan bagian kanan ku masih buram. tubuhku juga masih lemas.


aku mencoba merasakan semua tubuhku dan ternyata masih lengkap tidak ada yang kurang. dalam hati aku bersyukur sekali. soalnya yang ku ingat terakhir kali tubuhku sudah tercabik-cabik oleh monster yang sangat menyeramkan.


setelah beberapa saat aku terbaring aku baru menyadari kalau aku berada di dalam sebuah ruangan. ruangan yang tidak terlalu besar sekitar 3x4 meter. bertembok kan kayu dan dengan suhu yang lumayan hangat. di sampingku ada meja dan di atasnya ada lilin aroma terapi serta buah-buahan. dan sebuah bangku kecil di sana.


aku menopang tubuhku dengan tangan kananku dan berusaha duduk di atas kasurku. entah kenapa walaupun aku bisa merasakan kalau anggota tubuhku lengkap tapi aku masih tidak ada tenaga untuk menggerakkannya. dan saat ku lihat ternyata tangan kiriku terlihat begitu kurus di bandingkan dengan tangan kananku begitu juga kaki kananku.


di saat aku berhasil duduk tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan perlahan. di balik pintu itu terlihat sosok wanita memakai baju suster berambut hitam dengan telinga panjang dan runcing. serta ada sebuah tanduk berwarna merah. dia membawa nampan yang di atasnya ada baskom yang di sampirkan handuk kecil di pinggirnya. dia melihatku dan terlihat kaget.


"waah!! kamu sudah sadar seharusnya kamu jangan bergerak dulu!!" wanita itu langsung menghampiriku dia menaruh nampannya di atas bangku kecil di samping kasurku.


saat dia menatapku wajahnya begitu jelas dan juga sangat tidak asing bagiku. wajah yang begitu menawan. dan juga terlihat sama persis dengan teman masa kecilku. (baca chapter 1). aku tidak yakin mukanya saat dewasa akan seperti wanita ini atau tidak tapi wajah itu benar-benar mirip dengannya.


entah kenapa tubuhku bergerak sendiri dan menyebut nama teman kecilku itu.


"La.. Lana!!"


aku langsung melompat dan memeluk wanita itu. dan membuatnya terjungkang kebelakang. air mataku berlinang rasanya aku ingin mengungkapkan seluruh keluh kesah ku setelah melihat muka Lana kembali.


muka wanita itu memerah dan berusaha ingin melepaskan pelukanku.


"tu, tuan. tolong lepaskan aku. dan kenapa tuan bisa tahu namaku?." kata wanita itu.


"tidak, tidak akan!! aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi Lana. apa kau tahu betapa beratnya hidupku setelah kamu meninggal. entah kamu saat ini nyata atau tidak di dunia ini. aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi." teriakku sambil menangis tersedu sedu.


"mungkin tuan salah orang.. aku bukan orang yang tuan kira." kata wanita itu sambil tetap ingin melepaskan pelukanku.

__ADS_1


akhirnya karena pelukanku terlalu erat. wanita itu membisikan sebuah mantra "Aero" itulah yang dia katakan.


sebuah bola angin mendorongku dan membuatku terpental membentur atap kemudian jatuh ke kasurku lagi. tubuhku berasa sakit sekali tapi kesadaran ku masih terjaga.


wanita itu langsung berdiri dan menendang kasurku dengan kaki kanannya. kakinya berada di atas kasurku. setelah itu dia mengeluarkan sebuah tongkat dari balik lengan panjang baju susternya. dan menodongkannya ke arahku.


wajahnya yang pertama terlihat menawan dan kalem berubah drastis menjadi seperti monster. dia mempelototiku dan terlihat sangat marah. dengan nada tinggi dia berkata kepadaku.


"hey tuan.. aku tidak peduli kamu sedang kesakitan atau tidak dan aku juga tidak peduli dari mana kamu tau namaku. kalau kamu tidak mau mendengarkanku. dan melakukan itu lagi padaku. aku akan langsung membunuhmu." kata wanita itu.


"i, iya Bu." jawabku sambil ketakutan. tidak ku kira ternyata sifatnya juga sama persis dengan Lana yang ku kenal.


setelah itu dengan cepat dia berubah menjadi wanita yang kalem dan imut lagi. dan mulai meninggalkan ruangan dan berkata kepadaku dengan nada yang imut.


"baiklah tuuaan.. aku akan meninggalkanmu sementara untuk mengambil makanan. kamu jangan ke mana-mana ya. dan aku juga akan memanggil teman-temanmu ke sini."


"i, iya silakan" kataku.


tak berselang lama wanita suster itu atau bisa ku panggil Lana di dunia ini kembali bersama teman-temanku yaitu Shiva dan Momo. mereka terlihat bahagia melihatku sadar karena sudah 1 Minggu aku pingsan kata mereka.


saking senangnya mereka berdua berdua langsung melompat ke atas kasurku. menindihku. ya memang berat tapi setidaknya melihat mereka senang aku juga ikut senang.


sementara itu Lana dunia NEET membawakan ku makanan. dan perlahan menyuapiku. dia masih dalam mode kalemnya. sungguh melihatnya membuatku terkenang kenangan masa lalu bersama Lana teman masa kecilku


sehari setelah aku sadar berlalu. dan pemulihanku di mulai aku di bawa ke luar ruangan perawatan untuk melemaskan otot-otot ku dan untuk memulai latihan berjalan. Lana menuntunku untuk keluar dari ruanganku walau dengan susah payah dia tetap membopongku dan kemudian mendudukanku ke sebuah kursi roda. setelah itu Lana pun mendorongku.


kami berjalan sebentar dan keluar ruangan. tak ku sangka aku selama ini di bawa ke desa kecil yang begitu damai. kehidupan di sini penuh dengan keceriaan berbagai ras manusia hidup damai di sini. banyak anak-anak berlarian. para orang tua yang penuh keceriaan. sudah lama aku tidak melihat pemandangan melegakan seperti ini.


Lana terus mendorongku dengan kursi roda. dia juga termasuk orang yang terkenal di sini. dia begitu terkenal di desa ini dan orang-orang menyapanya dengan Ramah. saat ku tanya salah satu warga dia mengatakan. kalau Lana lah penyalamat mereka dia adalah perawat terbaik di desa ini. bahkan ada yang bilang kalau dia sudah hidup selama ratusan tahun. hal itu membuat ku lega karena dia benar-benar orang baik. dan membuatku sedikit mengingat sesuatu.


1 bulan berlalu dan perawatan berjalan lancar aku sudah pulih kembali dan bisa bergerak bebas lagi. serta aku juga mulai memegang pedang. dan berlatih pedang lagi. hubunganku dengan teman-teman dan warga desa juga semakin akrab hari demi hari.


"selamat pagi tuan R. sepertinya anda sudah pulih total. pagi-pagi begini sudah latihan." sapa Lana


"eh Lana. sudah ku bilang kan panggil aku R saja. jangan pakai kata tuan. biar lebih akrab." jawabku


"iya, iya. maaf aku lupa. ayo kita istirahat dulu. tidak baik kalau pagi hari tidak sarapan." kata Lana.


aku langsung beristirahat dan duduk makan makanan buatan Lana di bawah pohon ceri yang rindang ini di pagi hari. kami makan sarapan bersama berupa Nasi dan sup bersama. dan saling mengobrol kan hal hal yang menyenangkan.


"hey. tu, eh maksudku R. apa masih ada bagian tubuhmu yang berasa sakit atau masih susah di gerakan.?" tanya Lana


"e.. itu gimana ya. tubuhku sekarang rasanya sudah luar biasa. perawatanmu benar-benar yang terbaik Lana." jawabku


muka Lana langsung memerah dan terlihat menyembunyikan rasa senangnya mendengar perkataan ku. aku pun melanjutkan kata-kataku


"tapi.. masih ada sedikit masalah. mata kananku sampai sekarang masih belum bisa melihat dengan jelas. tapi aku sudah terbiasa dengan itu."


"maaf, kekuatanku belum bisa sampai ke tahap itu." kata Lana.


kami pun melanjutkan obrolan dan sepintas aku mengingat sesuatu yang mengganjal di hatiku selama sebulan bertemu Lana dunia NEET ini.


"hey Lana. aku mau bertanya sesuatu. kepadamu. tapi tolong jangan tersinggung ya.. emm.. begini.. dari penampilanmu itu.. aku penasaran apa benar itu penampilan aslimu. dan em.. kamu ini sebenarnya bangsa elf kan? kenapa kamu berpenampilan agar terlihat seperti bangsa iblis?. dan 1 lagi.. kamu juga seorang white mage. yang memiliki level lumayan tinggi." tanyaku


belum selesai aku bertanya Lana langsung menerjang ku dan menutup mulutku itu membuatku terjungkal dari dudukku dan membuatku terbaring. sementara itu Lana berada di atasku menahan tubuhku.


"dari mana kamu bisa tau kalau aku ini bangsa elf ha?... ku peringatkan kepadamu jangan pernah beritahu siapapun tentang ini. kami semua yang berada di sini akan terkena masalah." ancam Lana


"hmmmppp.. hmmmpp.. " kataku yang mulutnya tertutup.

__ADS_1


Lana melepaskan tangan kecil dan lentiknya dari mulutku. dan akhirnya aku bisa berbicara.


"ma, maaf Lana aku tidak bermaksud demikian. aku tidak bermaksud melihat statusmu dengan mataku." kataku.


"status?" tanya Lana.


"i,iya aku juga tidak tahu mataku bisa melihat semua informasi orang-orang di sini mulai dari pekerjaannya sampai rasnya. hanya saja aku tidak tahu nama mereka." jawabku panik.


mendengar kata-kata ku Lana mulai meneteskan air mata. dan terlihat begitu senang.


"hiks.. hiks..tak ku masih ada orang sepertiku di dunia ini". katanya sambil menangis


"orang sepertimu? apa maksudmu?" tanyaku


Lana mengusap air mata dan berkata. "tidak, tidak bukan apa-apa. aku hanya asal bicara. ingat jangan beritahu siapapun tentang kemampuanmu. soalnya itu skill langka yang hanya di miliki seorang pla.. eh maksudku orang istimewa."


"o..oke baiklah". jawabku.


tak berselang lama Momo dan Shiva berlari dan terlihat terengah engah mencariku.


"R gawat R!!!" teriak Shiva dan Momo.


mereka berdua melihat kami dengan posisi saling tumpang tindih langsung berperasangka buruk.


"hey.. ada serangan tau kenapa kalian malah bermesraan di bawah pohon dasar bodoh.!!" teriak Shiva.


aku dan Lana pun salah tingkah dan langsung berdiri. memalingkan wajah satu sama lain dengan muka memerah.


di saat aku dan Lana ingin menghampiri Shiva dan Momo. tiba-tiba sebuah panah menancap tepat di depan kami. panah itu kemudian mengeluarkan bunyi "pip... pip.. pip."


"Lana awas!!" teriakku


aku yang menyadari kalau itu bom langsung menarik Lana menjauh.


dan tepat dugaan ku panah itu langsung meledak setelah beberapa detik di tanah. walau kami berhasil menghindar serangan berikutnya datang. suara wanita terdengar dan dia mengucapkan sebuah mantra.


"Fira!!"


sebuah bola api besar dan sangat banyak menghampiri kami berdua serangan yang sangat mendadak.


dengan cepat tiba-tiba sihir es melindungi kami. sihir ini adalah sihir milik Shiva. karena benturan es dan api asap tebal pun tercipta. mengelilingi kami. pandangan kami semakin menyempit.


saat aku dan Lana mencoba kabur dengan memanfaatkan kabut asap. Tiba-tiba sebuah panah meluncur dan tepat mengenai kaki Lana. Lana pun terjatuh. aku yang melihat hal itu langsung kembali ke Lana dan melindunginya.


dari kepulan asap itu seorang pria dan wanita muncul. yang pria adalah seorang hunter berambut kuning dan memakai ikat kepala bandana. yang satunya wanita berambut panjang berwarna coklat. dan mereka adalah orang yang pernah ku lihat sebelumnya.


"Jack? Mia? itu kalian kan? kenapa kalian melakukan ini?" teriakku


"serahkan wanita itu entah siapapun kamu. kalau tidak aku akan membunuhmu." kata Jack


"oo.. tidak semudah itu.." dengan percaya diri aku menodongkan pedang kayuku ke arah Jack.


"aku juga tidak akan menyerahkan diri semudah itu." dari belakang Lana tiba tiba berdiri dan mencabut panah yang menancap di kakinya kemudian mengeluarkan sihir yang bersinar berwarna hijau dari tangannya. sihir itu menyembuhkan lukanya dengan cepat.


kemudian Lana memunculkan sebuah tongkat dengan kekuatannya. dan bersiap memasang kuda-kuda untuk bertarung.


begitu juga Jack dan Mia mereka juga bersiap untuk bertarung.


jangan lupa dukung cerita ini melalui Link berikut : https://trakteer.id/rubiyantoryubi

__ADS_1


__ADS_2