
setelah ku rasa aman. aku dan Lana langsung menuruni tangga menuju ke bawah tanah. tak lupa kami menutup kembali pintu menuju bawah tanah. aku masih bingung kenapa para Daemon-daemon itu bisa masuk ke bawah tanah? padahal untuk masuknya saja harus memakai sihir tertentu. atau mungkin para Daemon punya kemampuan lain?. semua itu masih jadi pertanyaan bagiku selama menuruni tangga ke bawah tanah.
tinggi ruangan jalur bawah tanah ini lumayan lega dengan tinggi kurang lebih sekitar 3 meter dan di bagian atasnya terdapat kristal-kristal yang bercahaya yang berfungsi sebagai penerangan. aku penasaran berapa puluh tahun ya kira-kira untuk membangun ini ruang bawah tanah seperti ini kalau di dunia nyata? karena ini dunia virtual dan sekaligus game sepertinya untuk membuat hal seperti ini dengan cepat bukanlah hal yang mustahil.
"ayo R ikuti aku. dan jangan jauh-jauh dariku agar kamu tidak tersesat" ajak Lana sambil menunjuk sebuah arah. sepertinya itu jalan menuju bunker bawah tanah.
aku mengikuti Lana dari belakang. selama beberapa menit kami berjalan kami belum bertemu Daemon lagi. cuma sepanjang jalan ada yang aneh. ada bekas-bekas es yang hancur sepanjang jalan seperti habis melawan sesuatu. aku langsung berpikir kalau itu pasti Shiva. jadi aku dan Lana langsung bergegas menuju ke bunker persembunyian.
kami berlari secepat mungkin untuk segera mencapai tempat yang kami tuju. dan ternyata dugaanku benar. sekitar 5 menit kami berlari. dari kejauhan terlihat banyak sekali Daemon berbentuk tikus seukuran kelinci yang jumlahnya banyak sekali. sementara itu tepat di depan makhluk-makhluk itu ada sebuah tembok es yang menghalangi dan berusaha untuk mereka hancurkan.
"R, ayo cepat di depan adalah bunker tempat persembunyian. kalau kita tidak bergegas aku takut mereka akan menyerang para warga!" kata Lana yang sudah terlihat panik.
benar sekali tak berselang lama tembok es yang tebal itu hancur. aku langsung bergegas mengejar para daemon itu. mungkin di depan mereka ada banyak penduduk yang membuat mereka tertarik.
"Lana tunggu di sini, aku akan menyusul para daemon itu dan akan ku urus mereka semua." kataku.
"tidak, aku akan bertarung bersamamu R, mereka warga desaku. aku juga harus berjuang membantu mereka." kata Lana
"baiklah kalau begitu akan ku bukakan jalan untukmu" jawab ku.
aku mengunus pedangku sementara Lana mengeluarkan tongkat saktinya. setelah itu aku langsung menggunakan jurus langkah cahayaku untuk mempercepat gerakanku. aku menerjang para Daemon-daemon itu dan menebasnya satu persatu untuk membuka jalan bagi Lana.
tepat di jalur aku berlari ada Shiva yang terlihat sudah kelelahan dan tidak berdaya. aku langsung menariknya dan membawa ke tempat yang lebih aman. bersama warga. yang masih berada di depan pintu bunker. sepertinya mereka kesusahan untuk masuk ruangan itu.
sementara itu para daemon menghentikan langkahnya setelah melihat ku. sepertinya mereka tau kalau aku ini berbahaya. mungkin. hehe.
tapi ternyata dugaanku salah. mereka berhenti bukan karena takut kepadaku. tapi mereka melakukan hal yang lebih merengerikan. ya, mereka berkumpul dan bergabung membentuk satu bentuk daemon yang baru berupa tikus setinggi 2 meter yang sangat mengerikan. dari ratusan tikus mereka membentuk tikus rakasasa menjadi sekitar 10 tikus daemon.
"walah, walah, walah.. sepertinya ini akan merepotkan." pikirku.
para tikus daemon raksasa itu langsung menyerangku secara bersamaan. aku berhasil menghindar. tapi ternyata itu hanya pengalihan mereka tetap mengincar para warga. yang tak berdaya.
sekitar 5 tikus daemon menjauhkan ku dari para warga dan yang lainnya menyerang warga. aku kuwalahan melawan ke 5 tikus daeomon. sementara itu beberapa warga sudah berlarian. dan berteriak ketakutan karena mereka para daemon.
salah satu daemon ingin menyerang warga tapi dari jauh seseorang wanita yang membawa tongkat mengeluarkan sebuah sihir. wanita itu adalah Lana. akhirnya dia berhasil menyusulku.
"aerora!!" itulah mantra sihir yang di gunakan Lana.
setelah mengatakan itu sebuah pusaran angin yang lumayan besar berhasil mengenai para Daemon dan berhasil mendorong mereka mundur.
Lana terus menggunakan sihirnya dan mengarahkan para Daemon agar menuju ke arahku. dengan sekuat tenaga aku menghadang ke sepuluh Daemon itu dan menghalang mereka agar tidak mendekati warga.
"hey kalian para warga cepatlah buka pintu bunker itu, aku sudah tidak bisa menahan mereka lagi.!!" teriakku ke warga.
"sabar kami masih menunggu sihir es ini agar bisa membuka kunci bunker." jawab salah satu warga.
"itu terlalu lama, tangkap ini!!" Lana berteriak dan melemparkan sesuatu. dia melemparkan sebuah kunci ke para warga kemudian setelah itu dia berbalik membantuku melawan para Daemon.
salah satu warga berhasil menangkap kunci itu dan langsung berlari menuju pintu bunker. dia membuka pintu bunker dengan kunci itu dan hasilnya berhasil.
"horee..berhasil!!" teriak para warga.
"baguslah!!" sahutku
__ADS_1
"ayo.. semuanya tarik pintu bunker bersamaan!!" kata salah satu warga.
aku menahan para Daemon selama mungkin agar warga bisa masuk bunker. tapi ketika pintu bunker sedikit terbuka. sebuah asap hitam muncul dari balik pintu. asap itu mengandung hawa yang tidak menyenangkan dan sangat mengerikan.
belum sampai terbuka semuanya pintu tersebut. sesuatu mendobrak dari dalam pintu. itu adalah sebuah tangan hitam raksasa yang keluar dari dalam bunker.
dobrakan tangan itu membuat para warga kaget dan terpental karenanya. setelah itu sebuah makhluk hitam raksasa berusaha ingin keluar dari tempat itu.
"ke, kenapa bisa ada Daemon di tempat itu?!!" teriak Shiva.
gara-gara hal itu banyak warga yang terluka terkena serangan Daemon raksasa itu. sementara itu Shiva dengan sisa tenaganya menahan makhluk itu agar tidak keluar bunker.
aku berpikir bagaimana makhluk itu bisa masuk bunker. tapi setelah ku pikir saat sebelumnya ada Daemon yang bisa keluar dari bawah tanah. bukan tidak mungkin mereka bisa menembus bunker itu.
kami terkepung oleh para Daemon. dan aku juga bingung harus melakukan apa. tapi yang paling terlihat frustasi di sini adalah Lana. dia yang berada di sampingku berbisik sebuah kata-kata.
"R, tolong tahan para Daemon-daemon di depanmu untukku sementara. aku tidak tahu lagi harus bagaimana? aku tidak ingin para warga terluka lagi. aku terpaksa harus melakukan ini." bisik Lana kepadaku.
"ba, baiklah akan ku usahakan semampuku". jawabku.
Lana. gadis yang berambut hitam panjang dengan tanduk di kepalanya dan juga telinga yang runcing. tiba-tiba melepas tanduknya. yang selama ini adalah sebuah bando. setelah bando itu di lepas rambutnya berubah menjadi hijau dan sebuah kekuatan sihir yang sangat besar keluar dari dalam tubuhnya.
"seperti yang kau tau sebelumnya R. aku ini adalah Elf, bahkan mungkin Elf terakhir di dunia ini. mungkin setelah ini aku akan di benci semuanya. tapi tolong berjanjilah padaku. kamu tidak akan membenciku." kata Lana kepadaku.
dia berjalan ke depan ku dan menyentuh salah satu Daemon. makhluk itu terlihat sangat ketakutan setelah melihat Lana yang dalam mode seperti itu. setelah itu Lana mengatakan sebuah mantra.
"reset" mantra yang di katakan Lana
setelah mengatakan itu daemon yang di sentuh Lana berubah jadi sekumpulan data berbentuk angka pemrograman. kemudian setelah itu para daemon lenyap seketika tanpa bekas sedikitpun.
aku hanya terperanga melihat kekuatannya dan masih kepikiran tentang sihir "reset" apa benar itu kekuatan sihir? bukannya itu salah satu perintah komputasi untuk menghilangkan data dan mengembalikan ke kondisi normal? aku ingin menanyakan semua itu ke Lana. tapi aku tidak berani melakukannya.
setelah itu Lana mendekati Shiva yang menahan daemon dari dalam bunker. dia menyuruh Shiva untuk mundur. dan kemudian Lana menyentuh Daemon yang ada di bunker itu dan berkata
"maaf aku harus melakukan ini padamu".
setelah itu Daemon raksasa itu pun lenyap.
setelah itu Lana terduduk lemas tak berdaya kehabisan tenaga.
"yeaaaaahhh!!! kamu berhasil Lana!!" teriakku dari jauh senang karena Lana sudah berhasil mengalahkan semua Daemon.
"kamu hebat Lana" kata Shiva yang berada di belakang Lana. yang sedang terbang dalam keadaan lemas.
namun berbeda dengan ku dan Shiva yang memberi selamat ke Lana. para warga malah terlihat ketakukan.
dari kejauhan aku melihat Lana menyembunyikan wajahnya yang berlinang air mata. Shiva pun menyadari hal itu dia terbang mendekati Lana dan memegang pundaknya.
"kamu tak apa Lana?" tanya Shiva.
tiba-tiba seseorang melempar batu dan tepat mengenai kepala Lana. sehingga membuat kepalanya berdarah.
"siapa yang melakukan itu?!!" teriak Shiva.
__ADS_1
"kamu!.. warna rambut hijau itu dan telinga runcing itu?!!.. kamu ternyata selama ini adalah Elf yang terkutuk itu suster Lana?!!" teriak para warga.
kemudian para warga mengambil batu dari reruntuhan jalur bawah tanah dan juga bunker yang berserakan selama pertarungan kami.
mereka melemparkan batu-batu itu ke Lana dan mengeluarkan semua hujatan mereka.
"pergi kamu Elf terkutuk!"
"iya, semua ini salahmu tahu!"
"karena kamu desa kami yang damai hancur di serang para manusia dan para Daemon.!"
"ini semua pasti terjadi karena mereka mencarimu dan menemukanmu di desa ini!!"
begitulah hujatan mereka para warga yang terdiri dari banyak ras seperti manusia setengah hewan, manusia biasa, dan makhluk lainnya. tapi hanya Lana lah satu-satunya elf di situ. pantas saja selama ini dia lebih memilih berpenampilan seperti ras iblis daripada harus berpenampilan seperti ras Elf.
situasi ini entah mengapa mengingatkanku akan masa laluku di dunia nyata dan itu membuatku muak. aku langsung menggunakan langkah cahaya untuk mempercepat gerakan ku dan menghentikan lemparan batu warga sebelum mengenai Lana.
aku menangkap semua batu-batu kecil yang di lemparkan para warga itu dan menghancurkannya tepat di hadapan mereka. aku yang sudah kesal berteriak di hadapan mereka.
"Kaaaaliaaaaaannn!!! apa ini balasan kalian atas apa yang sudah di lakukan Lana kepada kalian?. dia ini sudah susah payah menyelamatkan kalian dan kalian malah melakukan ini padanya. apa kalian tidak punya hati, hah?!!" teriakku
walau aku sudah berkata begitu mereka tetap melemparkan batu ke diriku, Lana dan juga Shiva. mereka terus menghujat kami.
"pergi kalian dari tempat kami!"
"kami tidak butuh bantuan kalian!"
"pergi kalian!!"
aku yang sudah tidak tahan dengan lemparan batu mereka dan cacian mereka sangat marah mendengarnya. kemudian aku pun mengeluarkan aura kekuatan yang membentuk shockwave yang membuat mereka terpental. aku mengangkat pedangku dan berpikir untuk menebas mereka semua dengan pedangku. tapi sebelum aku melangkah Lana menahan kakiku.
"tidak usah R, aku sudah siap menerima semua ini. kamu tidak perlu menyia-nyiakan tenagamu untuk meladeni mereka. aku juga tidak mempermasalahkan ini dan lebih memaafkan mereka." kata Lana
"tapi kan?" sahutku.
"sudahlah, ayo kita pergi dari sini." jawab Lana.
aku menerima pendapat Lana. tapi sebelum aku pergi aku menatap warga dengan penuh kebencian dan berkata.
"baiklah, aku, teman-teman ku, dan Lana akan pergi dari sini. jika itu membuat kalian puas!!. aku tidak tau ada dendam apa kalian terhadapnya. tapi ku harap kalian tidak menyesal melakukan ini." teriakku ke warga.
aku langsung menarik Lana agar berdiri setelah itu menggendongnya karena dia sudah tidak kuat berjalan lagi kemudian meninggalkan para warga. sedangkan Shiva mendarat di atas kepalaku dan beristirahat di sana. kemudian setelah itu tanpa mengatakan apapun lagi aku pergi meninggalkan para warga yang tidak berperasaan itu.
aku keluar dari bawah tanah lewat pintu terdekat yang di tunjukan Lana. kemudian aku menemui Momo yang masih dalam wujud singa raksasa. serta membawa Jack dan Mia bersamaku. dari situ ku lihat kalung belenggu Jack dan Mia sudah lepas. sepertinya Momo berhasil melepaskan kalung belenggu itu.
Kami semua naik ke punggung Momo. aku menyuruhnya untuk pergi dari desa tanpa memberitahukan alasannya.
kami pun pergi walau belum tahu tujuan selanjutnya. kami tetap melakukan perjalanan. mumpung matahari masih menjulang tinggi di atas langit. semoga di pemberhentian selanjutnya semuanya akan lebih baik lagi.
ctt penulis:
Silakan dukung cerita ini melalui link berikut : trakteer.id/rubiyantoryubi.
__ADS_1
terimakasih sudah membaca ceritaku.