
aku berhasil mendapat kekuatan yang sangat luar biasa bernama warrior of light. pedangku pun bisa ku kendalikan dan mengeluarkan cahaya yang begitu terang.
dan tepat di depanku saat ini adalah sebuah Monster hitam raksasa berbentuk beruang berwarna merah setinggi 3 meter. makhluk itu di sebut Daemon.
cakarnya begitu besar dan panjang bagaikan sebuah pedang yang siap mencabik dan mengoyak apapun yang ada di depannya.
monster itu langsung menerjang ku dan aku sudah siap memasang kuda-kuda untuk menangkis serangannya serta menebasnya. dia mengeluarkan cakarnya dan langsung mengayunkannya ke arahku. aku melompat ke atas menghindari serangan itu. setelah itu saat di udara aku berputar seperti gangsing dan langsung menebas tangan monster itu. tangan monster itu putus dan dia mengerang kesakitan.
akan tetapi tak berselang lama tangan itu tumbuh lagi dari tubuhnya. serta setelah itu bekas tangan yang putus berubah jadi butiran debu dan terbang ke langit.
dari belakangku seorang bocah laki-laki berwajah cantik berteriak padaku.
"tuan R Daemon hanya akan mati kalau di tebas kepalanya. atau kalau terkena sihir cahaya yang sangat terang." kata bocah itu.
"baiklah Momo" jawab ku
aku langsung berlari ke arah monster Daemon itu. aku melompat tepat di depannya yang masih memulihkan diri dan langsung mengincar kepalanya. aku melakukan jurusku yang sebelumnya jurus tebasan berputar. akan tetapi makhluk itu berhasil menghindar.
dari pengelihatanku sih sebenarnya Health Point makhluk itu tetap berkurang kalau terkena tebasanku. tapi sepertinya jika aku bisa mengenai kepalanya itu akan menjadi serangan kritikal yang efeknya sangat besar.
semakin aku menyerang makhluk itu level job ku sebagai warrior of light terus naik. dan aku mendapat skill baru yaitu langkah cahaya dan tebasan cahaya.
aku mencoba menggunakan langkah cahaya. kakiku mulai bersinar dan kecepatan ku naik 2x lipat. dengan kecepatan ini aku mencoba mengecoh monster itu dengan berjalan melalui dinding rumah yang mengelilingi. dan ketika mendapat sudut yang tepat. di titik buta itu aku langsung menggunakan skill ke 2 ku yaitu tebasan cahaya.
saat aku mengaktifkan skill tebasan cahaya pedangku mulai bercahaya sangat terang. saat ku ayunkan pedangku. cahaya itu meluncur seperti sayatan berbentuk bulan sabit. dan ketika cahaya itu mengenai monster Daemon. cahaya itu memberikan efek seperti membakar tubuh makhluk itu.
aku terus melakukan skill tebasan pedang cahaya dan menghasilkan banyak serangan jarak jauh berupa sayatan bulan sabit. sayatan itu terus mengenai makhluk Daemon itu dan terus membakarnya. serta terus mengurangi health Point makhluk itu.
dan di saat healt Point makhluk itu sisa 10% makhluk itu pun kehilangan tenaga dan tak bisa bergerak. inilah kesempatanku. aku langsung melompat ke arahnya dan langsung mengincar kepala makhluk itu lagi. aku mengeluarkan skill pedang berputar dan tepat langsung mengenai kepala makhluk itu. tapi tak ku sangka kepala makhluk Daemon lebih keras dari bagian tubuh yang lain.
di saat yang sama untuk menambah kekuatan pedangku. aku mengeluarkan skill selanjutnya yaitu tebasan cahaya. tapi kali ini aku menggunakan cahayanya sebagai pendorong pedangku. dengan sedikit mengerahkan tenaga. aku terus mendorong pedangku dengan skill pedang cahaya ku sedikit demi sedikit aku berhasil melukai makhluk itu dan berhasil menebas leher beserta kepalanya hingga putus.
kepala makhluk itu terbang dan tubuhnya pun ambruk. setelah itu monster itu pun lenyap dan berubah menjadi butiran debu yang terbang ke langit.
setelah mengalahkan monster Daemon raksasa itu aku langsung menuju ke tempat Lana. terlihat di sudah terlihat sadar dan sudah lebih baik lagi. dia menggunakan sihir penyembuh agar lukanya semakin hilang dan membaik.
setelah Lana benar-benar pulih aku kemudian menanyakan kemana semua orang pergi.
"Lana apa kamu tahu kemana semua orang pergi?" Tanyaku
__ADS_1
"tenang saja R desa ini sudah memiliki protokol keamanan yang sangat bagus. jika ada serangan seperti ini. mereka membangun bunker bawah tanah untuk bersembunyi jika ada serangan." jawab Lana.
"kalau memang seperti itu kenapa masih ada banyak korban jiwa. aku sudah melihat mereka mereka di bunuh secara sadis" tanyaku lagi.
"ya.. aku juga inginnya semua orang selamat. tapi yang namanya serangan mendadak. aku dan warga lainnya juga tidak bisa menjamin semuanya akan aman." jawab Lana.
Lana kemudian menunjukkan salah satu jalan ke bunker bawah tanah lewat salah satu rumah warga. mungkin Shiva juga ada di sana. jadi aku berinisiatif untuk menuju ke tempat itu.
aku menitipkan Mia dan Jack yang masih pingsan kepada Momo agar tidak kabur kemana-mana. aku mengajak Lana untuk memanduku di bawah tanah karena hanya dia dan para warga yang tau di mana lokasi bunker.
kami membuka salah satu pintu di salah satu rumah warga. pintu itu berada di lantai. dia tertutup oleh sebuah sihir penyembunyi jadi orang yang bukan warga asli desa tidak akan bisa melihatnya.
baru aku dan Lana ingin memasuki pintu bawah tanah. tiba-tiba tanah bergetar seperti gempa. dari balik pintu aku melihat banyak sekali Daemon di bawah tanah. bahkan salah satunya ada yang melompat ke arahku. cuma dengan cepat aku menebasnya.
setelah itupun aku membuka jalan dan bergegas masuk ke bawah tanah menuju para warga yang berada di bunker.
***
sementara itu seorang peri wanita. sedang berlari bersama anak kecil di sampingnya dan juga seorang bapak-bapak. sementara itu banyak sekali monster berwarna hitam berbentuk tikus seukuran kelinci yang mengejar mereka dari belakang. peri kecil itu terus melindungi kedua orang itu dengan sihir esnya dengan cara menutup jalan yang sudah di lalui mereka.
cuma hal itu hanya menghambat para monster hitam yang di sebut Daemon itu. mereka yang jumlahnya banyak bisa dengan mudah menjebol dinding es yang di buat sang peri. sang peri juga berusaha menyerang mereka dengan sihir es berupa tombak es. dia melempar sihir itu ke para Daemon. tapi sayangnya kekuatan sihir itu tidak mempan ke mereka. sihirnya hanya menembus tubuh para Daemon tersebut. dan tidak memberikan efek apapun ke mereka.
mereka terus berlari dan berlari mengikuti arahan dari si bapak-bapak. hingga sampai ke suatu tempat. tempat itu seperti ruangan yang tertutup tembok besi yang sangat padat. lebar tembok depannya sekitar 50 meter dan tinggi ruangan sekitar 5 meter. memang lebih tinggi di bandingkan dengan jalan yang sebelumnya di lalui mereka yang hanya setinggi 3 meter. di tengah tengah ruangan itu ada sebuah pintu kecil untuk masuk ruangan itu.
"hey kenapa ini? kenapa kalian tidak masuk ke bunker?" tanya bapak-bapak ke salah satu warga.
"kami tidak bisa membuka pintu bunker pintunya terlalu berat." jawab salah satu warga.
bapak-bapak yang sebelumnya bersama dengan peri mencoba mendekati pintu bunker. setelah dia mengecek ternyata bukan pintu bungker yang terlalu berat untuk ternyata pintu itu terkunci.
"hey. apa kalian tidak ingat untuk selalu membawa kunci yang di berikan oleh suster Lana?" tanya bapak-bapak ke warga.
para warga terlihat kebingungan dan saling memalingkan wajah. kemudian salah satu warga menjawab.
"kami terlalu panik dengan serangan yang mendadak jadi kami tidak membawa kunci bunker sama sekali. terus bagaimana denganmu?" tanya warga
"eee... yah aku juga melakukan kesalahan yang sama dengan kalian." jawab si bapak-bapak.
semua orang semakin panik dan saling menyalahkan. setelah itu karena kesal si peri berteriak.
__ADS_1
"aku bisa membantu kalian membuat kuncinya dengan sihir es ku. tapi aku butuh waktu kurang lebih sekita 10 menit." kata peri itu.
sang peri mengeluarkan sihir es kemudian membentuk sebuah bongkahan es yang berbentuk bola dan berkata ke bapak-bapak yang sebelumnya bersamanya.
"tuan bisakah kamu mendekatkan ini ke lubang kunci. bongkahan es ini akan membentuk kunci dari kunci bunker tersebut. cuma prosesnya membutuhkan waktu kurang lebih 10menit bahkan lebih tergantung tingkat kesulitan kunci tersebut."
"baiklah aku mengerti" jawab sang bapak
orang itu langsung mendekatkan bongkahan es tersebut ke lubang kunci bunker. es itu kemudian mencair dan masuk ke lubang kunci. es itu seperti hidup dia berusaha untuk mencari celah untuk membuka pintu bunker.
tapi tak berselang lama tiba-tiba terjadi sebuah getaran. ya, itu bukan gempa bumi melainkan sebuah segerombolan Daemon yang sedang menuju tempat persembunyian para warga.
"sial, mereka menemukan kita. kalian semua fokuslah untuk membuka pintu bunker itu dan fokuslah untuk bertahan. aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menghalang para Daemon itu!." teriak si peri.
sang peri langsung menuju jalan masuk ke bunker dia langsung mengeluar kan sihir es dan membuat tembok yang sangat tebal. untuk menghalang para Daemon yang berbentuk tikus.
hanya berselang beberapa saat setelah tembok itu terbentuk. tiba-tiba tembok itu seperti di gempur oleh sesuatu yang sangat besar dan membuatnya langsung retak seketika. retakananya semakin cepat menyebar dan semakin membuat tembok es tebal itu semakin hancur.
namun sang peri tidak menyerah walau sudah terlihat kelelahan karena sudah membentuk tembok es yang setebal itu dia terus mempertahankan temboknya dan terus memperbaikinya demi menahan para monster Daemon agar tidak menyentuh para warga.
sekitar 5 menit berlalu. dan peri itu sudah terlihat sangat lelah. temboknya semakin terdorong ke belakang waktu demi waktu. dan para warga juga semakin panik. sementara itu sang peri juga terlihat sudah tidak kuat lagi menahan para monster.
"ayolah tubuhku bertahanlaaaaahhh.!! teriak sang peri.
mungkin sekitar 8 menit berlalu tubuh peri yang kecil itu benar-benar tidak bisa menahan beban lagi. sementara itu belum ada perkembangan dari para warga. sepertinya pintu bunker belum terbuka sama sekali.
sang peri Sudah mencapai batas tembok esnya pun hancur terkena gempuran para monster. sang peri terlempar dan tersungkur ke tanah. sementara itu monster Daemon yang berbentuk tikus dengan jumlah ratusan langsung menerjang masuk menuju para warga. mereka hanya bisa pasrah dan terpojok.
para tikus daemon itu melewati sang peri begitu saja dan langsung menuju para warga. sang peri tidak bisa apa apa dan hanya bisa berteriak meminta bantuan dan berharap keajaiban akan datang.
"seseorang siapapun tolong!!" terikan lemah dari sang peri
tiba-tiba terdengar suara pria yang samar-samar dari kejauhan.
"langkah cahaya" itulah yang di katakan pria itu
sekelebat cahaya tiba-tiba melewati sang peri kemudian menarik peri itu dan langsung menyusul para tikus daemon sebelum mereka berhasil menyentuh para warga. pria itu meletakkan sang peri dekat dengan warga.
para tikus daemon yang kaget menghentikan langkah mereka. sepertinya mereka tau kalau pria berambut putih yang membawa pedang bercahaya itu sangat berbahaya bagi mereka.
__ADS_1
"kau tak apa-apa Shiva?. terimakasih sudah mempertahankan para warga. sekarang giliranku untuk membasmi para monster Daemon itu kamu beristirahatlah" kata pria itu
sang peri terlihat senang sekali dengan kedatangan pria itu dia pun berkata "aku serahkan semua padamu tuan R"