
sudah beberapa hari berlalu setelah pertarungan kami di atas gunung salju. dan sekarang gunung itu sudah tidak tertutup salju lagi. melainkan menjadi gunung indah penuh bunga yang bertebaran.
kota pun mulai di bangun lagi. mulai dari membangun beberapa rumah warga dan juga bangunan-bangunan yang lain.
namun anehnya wabah penyakit tidak menghilang walaupun Azazel sudah di kalahkan. aku masih bingung apa penyebab wabah ini? dan dalam beberapa hari ini aku juga masih penasaran.
pagi ini aku bangun seperti biasanya. aku langsung bersiap dan menuju ke luar istana untuk membantu pembangunan kota lagi.
di sana ada Gilgamesh yang sedang mengangkat balok-balok kayu yang lumayan besar.
yah, dengan tubuh sebesar itu akan sangat mudah untuk membawa kayu-kayu besar.
"hey Blank. dasar pemalas jam segini baru bangun." sapa Gilgamesh.
"iya, iya aku segera bekerja."
aku juga membantu membawakan beberapa kayu dan juga bahan bangunan. untuk di kumpulkan ke rumah yang sedang di bangun.
kali ini yang kami bangun ulang adalah gedung pusat kesehatan kota ini.
aku tidak terlalu banyak membantu proses pembangunan. karena hampir semua prosesnya di lakukan oleh tukang bangunan yang handal.
saat aku sedang menyusun bata. Gilgamesh melihat wajahku. dia memperlihatkan wajah yang menunjukan kasihan kepadaku.
"Blank. wajahmu semakin pucat saja. apa kamu baik-baik saja?" tanya Gilgamesh.
"iya, aku baik-baik saja. aku hanya belum makan saja pagi ini."
entah kenapa setelah pertarungan melawan Azazel. aku tidak bisa merasakan makanan.
aku menyadari ini saat merayakan pesta kemenangan kami. saat itu banyak jamuan makanan. orang-orang memakan makanan itu dengan lahap. dan begitu menikmatinya.
namun aku tidak bisa merasakan apapun. karena ku pikir hal ini aneh. aku memeriksakan ini ke dokter di kota.
kata dokter tersebut. mungkin hanya efek dari pemulihan tubuh akibat pertarungan.
aku sedikit lega mendengar pernyataan itu. tapi entah kenapa semakin ke sini hal ini semakin parah.
semakin hari. rasa makanan biasa semakin menjijikkan. bahkan beberapa hari ini aku belum makan sama sekali. mungkin itu yang membuat wajahku pucat.
dan yang aneh lagi. saat aku berada di kerumunan orang-orang. aku mencium bau yang sangat sedap dan enak dari mereka. kadang hal itu membuatku terlena dan ingin menggigit mereka. namun aku menahan hasrat itu bahkan sesekali sampai keringat dingin.
"Blank... Blank... Blank!!" teriak Gilgamesh
"eh, apa?"
"kamu melamun lagi kawan. ada apa?" tanya Gilgamesh
"ti, tidak. aku hanya kepikiran Thena. apa dia sudah keluar dari kamarnya?"
pagi harinya setelah pertarungan itu Thena mengurung diri di kamarnya. kami mencoba membujuknya. tapi dia hanya berkata kalau hanya ingin sendiri untuk sementara.
tapi menurutku ini sudah terlalu lama juga. dan tentang pengurungan Diri di kamar ini entah kenapa berasa tidak asing bagiku.
seperti diriku pernah mengalami hal serupa. tapi entah di mana.
sore harinya setelah membantu para warga aku kembali ke istana perutku semakin lapar saja. namun aku tidak bisa makan apapun.
aku yang penasaran sore itu juga pergi menemui Thena di kamarnya. saat aku berada di depan kamar Thena. pintunya tertutup rapat.
"tok, tok, tok."
aku mengetuk kamar Thena namun tidak ada jawaban. aku pun kembali mengetuknya agak keras dan masih tidak ada jawaban.
akun mulai merasa aneh akan hal ini. aku terus mengetuk dan mengetuk tapi tetap tidak ada jawaban.
karena khawatir akupun mendobrak paksa pintu itu.
"BRAKKK!!"
pintu kamar Thena terbanting sangat keras karena tendangan ku. saat aku masuk ruangan Thena. ruangan itu agak gelap dan remang-remang.
di sana ada Thena sayang sedang duduk dengan rambutnya yang panjang dan berantakan.
"Thena? kamu tak apa?"
saat aku mendekatinya dia terus bergumam.
"jangan.. tolong jangan mendekat... menjauh lah dariku.. aku tidak mau mendengarnya lagi... keluargaku tidak mungkin seperti itu... menjauh dariku.. menjauh dariku... menjauh dariku... menjauh dariku...menjauh dariku."
ya "menjauh dariku" kata-kata itu terus di ucapkan Thena dengan nada yang begitu ketakutan. seolah seseorang terus membisikan kata-kata aneh di kepalanya.
bahkan dia sepertinya tidak menyadari diriku walaupun aku mendobrak pintunya dengan keras.
aku berusaha menyentuh Thena. namun dengan cepat Thena malah menarikku. aku pun terjerembab jatuh ke kasur tempat tidur Thena.
Thena kemudian memelukku dengan erat dan tidak mau melepaskannya. tubuh Thena gemetaran dan ketakutan.
"tolong aku blank"
bisik Thena di telingaku. suaranya begitu lemah dan agak serak.
"sebenarnya apa yang terjadi padamu Thena?"
"aku.. aku..."
__ADS_1
belum sempat Thena menjelaskan tiba-tiba tombak cahanya menembus tubuhku. darah segar pun mengalir dari balik bajuku bahkan sampai mengenai baju Thena. dan kemudian setelah itu. Thena langsung menendangku hingga aku terlempar dari kasur Thena.
dengan tombak cahaya yang masih tertancap di dadaku aku mencoba berdiri.
namun tak berselang lama Thena berdiri dari kasurnya dan kemudian berjalan kearahku. hawanya tidak seperti Thena yang ku kenal. tampak seperti orang lain.
aku menggunakan kekuatan mataku dan benar saja di statusnya dia bukan lagi Thena.
"Azazel" itu yang tertulis di keterangannya.
padahal ku pikir kami bertiga sudah mengalahkannya. tapi kenapa dia bisa berada di tubuh Thena?.
"biar aku yang menjelaskannya saja nona. kamu tidur saja di dalam tubuh ini sementara." kata Azazel.
"Azazeeell!! kenapa? kenapa kamu bisa mengendalikan tubuh Thena?." kataku.
aku pun mencabut tombak cahaya yang ada di tubuhku dan langsung mennyerangkannya ke Azazel.
namun aku seketika menghentikan serangan itu.
"kenapa? kamu tidak berani menyerang tubuh ini karena tubuh ini tubuh temanmu?"
aku pun menjatuhkan tombak cahaya itu dan langsung menyerah begitu saja.
"baiklah aku kalah. jadi apa tujuanmu Azazel."
"tubuhmu" kata azazel
"apa tubuhku?" tanyaku
apa yang di inginkan Azazel dari tubuhku? apa istimewanya tubuhku?. oh ya sih memang tubuhku bisa beregenerasi? tapi apa hanya itu saja?
"apa yang kamu mau dari tubuhku?" tanyaku.
"baiklah akan ku ceritakan siapa sebenarnya dirimu. Blank. atau bisa ku bilang Arya. si gamer genius R."
"eh.. apa?"
Azazel yang masih menggunakan tubuh Thena mulai menceritakan diriku. aku masih tidak percaya dengan ceritanya. soalnya terdengar aneh.
Azazel berkata aku bukan dari dunia ini. Azazel tidak tahu detailnya seperti apa. soalnya dia berkata hanya bisa melihat ingatanku secara samar-samar.
tapi dia tahu kalau aku pernah bertemu seseorang yang dia benci juga. seseorang berambut biru dan berarmor emas.
Azazel berkata kalau orang itu yang menghapus ingatanku. dan juga yang sudah mengurung tubuh besar Azazel yang ku lawan. di bawah tanah gunung bersalju.
"aku tidak percaya padamu Azazel" kataku.
Azazel yang mengendalikan tubuh Thena kemudian mendekatiku dan memegang kepalaku. sebuah lingkaran sihir muncul di depan mataku dan seketika. sekelebat ingatan masuk ke dalam pikiranku.
ingatan itu membuat kepalaku sakit. tak berselang lama Azazel melepas tangannya dari kepalaku. tapi aku masih mengerang kesakitan.
iya, Azazel benar. dia tidak berbohong. aku di kenal sebagai R. sang gamer jenius.
tapi apa tujuan ku di dunia ini? bahkan orang yang pernah ku temui juga aku tidak tahu?
"dan siapa kamu sebenarnya Azazel?."
Azazel pun bercerita jika dia biasa di sebut seorang dewa penghancur. tapi bukan berarti dia dengan suka hati akan menghancurkan dunia.
memang sih dia mempunyai kekuatan penghancur bersekala besar dan memiliki sebuah kutukan.
tapi kekuatan kutukan itu hanya bersekala kecil dan itu juga berasal dari wadahnya yang sebelumnya.
untuk kutukan bersekala besar seperti wabah di kota dia berkata kalau bukan karenanya.
Azazel melanjutkan ceritanya bahwa sekitar seratus tahun yang lalu dia merasakan sesuatu yang aneh di kota ini. walaupun kotanya terlihat kecil namun ada sesuatu yang sangat mengerikan dan bisa mengancam dunia. di kota kecil itu.
makanya dia datang ke tempat ini untuk menghancurkan makhluk itu. akan tetapi seseorang dengan rambut biru dan armor emas tiba-tiba muncul.
dia berkata kalau pria berarmor emas itu adalah penguasa dunia ini. dan menganggap Azazel sebagai penghalang. akhirnya dia pun mengurung tubuh Azazel di dalam kristal di atas gunung.
namun Azazel berhasil berpindah wadah ke binatang dan akhirnya sampai ke sebuah robot milik seorang profesor.
Professor itu akhirnya membantu Azazel dan kemudian selama sisa hidupnya dia membuat banyak robot kesatria armor untuk mencari keberadaan Azazel.
saat sudah menemukan tubuhnya. Azazel yang ada di dalam tubuh robot kecil sangat senang. dia kembali lagi ke gunung di mana tempat dia terkurung.
namun sudah banyak hal yang berubah. kota kecil yang sebelumnya dia singgahi sekarang menjadi kota yang lumayan besar. namun dia masih merasakan. sesuatu yang aneh di kota ini.
serta kristal yang mengurung Azazel hanya bisa di hancurkan dengan kekuatan matahari. sehingga memakan banyak proses sampai saat ini.
"apa yang membuatmu merasakan hal aneh di kota ini?" tanyaku
"hey, kamu ini memiliki kekuatan mata Libra kan? seharusnya kamu bisa merasakan keberadaan makhluk itu. atau mungkin kekuatan matamu itu masih lemah?"
"beritahu aku lebih tepatnya di mana makhluk mengerikan yang kamu maksud itu berada?" tanyaku lagi.
Azazel hanya menunjuk ke bawah lantai istana.
apa mungkin di bawah tanah istana ini? soalnya kalau ku ingat lagi. memang ada ruangan aneh yang di segel di ruangan penjara bawah tanah. tapi aku hanya berpikir itu hanya sebuah ruangan biasa. soalnya tidak ada penjaganya.
ketika aku masih berpikir Azazel yang mengendalikan tubuh Thena mengulurkan tangannya padaku.
"hey nak. jadilah wadahku. dengan kekuatan kita berdua. kita akan menghancurkan makhluk itu."
__ADS_1
"bagaimana jika kamu berbohong?"
"aku tidak berbohong. kerajaan ini hanya kedok semata."
namun tiba-tiba getaran gempa terjadi. getarannya lumayan besar dan mengguncang istana. namun tidak sampai membuat kehancuran.
"a, apa itu?" tanyaku ke Azazel.
"sial. sudah di mulai. proses kebangkitan."
Azazel mengulurkan tangannya lagi.
"ayo R sudah tidak ada waktu lagi. makhluk itu mengkonsumsi daya hidup manusia di sini. jika kita tidak menghentikannya maka dia akan mengkonsumsi seluruh tempat ini. bahkan dunia ini"
karena aku sudah tidak punya pilihan aku langsung meraih tangan Azazel. lebih tepatnya tangan Thena. namun kesadaran Thena tiba-tiba kembali.
"ja, jangan lakukan itu Blank"
seketika aku menghentikan tanganku. aku baru teringat kenapa aku harus menjadi wadah Azazel jika aku bisa memakannya dengan kekuatan Glutony ku. aku bisa menggunakan kekuatannya dan itu akan lebih menguntungkan.
namun jika aku melakukan itu aku sama saja harus memakan Thena. bagaiman dengan keluarganya nanti? pasti mereka akan membenciku.
sementara itu aku melihat Thena sangat kesakitan. menahan kepribadian Azazel yang memberontak di tubuhnya.
sementara itu dari tadi aroma tubuh Thena sangat harum di hidungku. seperti steak daging kualitas tinggi yang menggelitik hidungku. aku ingin memakannya.
"lakukan Blank. makan aku!!!"
"kamu yakin Thena?"
"lakukan saja!! aku, aku sudah tidak tahan dengan semua ini.."
dengan terpaksa aku pun mengeluarkan Glutony dari dalam diriku. benda berbentuk cacing besar yang siap menelan apa saja.
"maafkan aku Thena."
Thena hanya menjawab ku dengan senyuman dan air mata. tanda bahagia.
aku menelan Thena dengan cepat agar tidak menimbulkan rasa sakit baginya.
saat proses penelanan. Thena mengatakan sesuatu padaku. cuma karena kata-kata katanya begitu pelan aku jadi tidak tahu dia berkata apa. ku harap itu bukan suatu yang penting.
tubuh Thena sudah ku telan sepenuhnya. aku pun mengembalikan Glutony kedalam tubuhku.
entah kenapa setelah penelanan itu dadaku berasa sakit. berasa diriku harus kehilangan lagi. orang yang penting bagiku. aku berusaha meneteskan air mata. tapi hal itu tidak mau keluar dan yang ku rasa hanya rasa sakit dan sakit di dadaku yang begitu menusuk.
tiba-tiba ku dengar suara seorang pria dari luar kamar Thena.
"apa yang kamu lakukan Blank?"
pria itu adalah Gilgamesh yang dalam mode pria kurus. dia terlihat begitu ketakukan melihatku. yang sebenarnya sedang bersimbah darahku sendiri.
"di, dimana Thena Blank. dimana adikku?! kenapa kamu bersimbah darah seperti itu?!. jawab aku dasar sialan!!"
bagaimana ini apa yang harus ku lakukan. aku sudah menelan Thena dan tubuhku malah semakin lapar.
saat aku melihat Gilgamesh aku ingin memakannya. tapi aku harus menahannya. walau liurku menetes aku harus menahannya. aku tidak boleh memakan temanku lagi.
"hé.. hé.. hé.. huahahahha. lagi... aku ingin lagi... aku ingin memakan manusia lagi..!!!"
aku tertawa terbahak-bahak di depan Gilgamesh. berpura-pura kalau aku lah penjahatnya.
"apa mungkin.. kamu.. kamu sudah memakan adikku Thena ya?!!"
Gilgamesh yang sangat marah tiba-tiba merubah tubuhnya ke bentuk pria berotot lagi. tidak ku sangka walaupun sudah malam dia bisa berubah lagi. apa mungkin karena kekuatan amarah.
Gilgamesh Langsung menyerangku dan aku pun menghindari nya. aku melompat melewati Gilgamesh. sambil memunggunginya aku berkata kepada Gilgamesh.
"iya.. aku sudah memakan Thena sekarang kekuatannya jadi milikmu."
"beraninya kaauu!!!"
Gilgamesh pun berbalik dan melancarkan pukulan kepadaku lagi.
dengan cepat aku menggunakan kekuatan Thena dan menyelubungi tangan ku dengan sihir cahaya.
aku pun menahan pukulan Gilgamesh. dengan tanganku yang terbalut pelindung cahaya. akupun memukul balik Gilgamesh dan mambuatnya terpental. dan membentur tembok kamar Thena.
karena tidak bisa menahan kekuatannya di malam hari Gilgamesh. berubah lagi ke wujud pria kurus. aku mendekatinya dan berkata.
"kamu lihat kan? ini kekuatan Thena. aku sudah menelannya. tapi ada alasannya aku melakukan ini."
"a, apa itu.?" tanya Gilgamesh.
"aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. waktuku sangat sempit."
aku pun langsung mengaktifkan kekuatan mata Libra milik Azazel. kekuatan mata ini luar biasa bahkan aku bisa melihat aliran mana dengan jelas. dan ada satu aliran mana yang aneh yang mengarah ke bawah istana ini.
"Gil... kamu boleh membenciku dan dendam padaku karena hal ini. jika kamu ingin jawabannya carilah aku. aku akan menjelaskan semuanya saat kita bertemu lagi suatu saat."
aku pun menggunakan langkah cahaya ku dan bergerak dengan sangat cepat menuju arah aliran mana yang aneh itu.
dari kejauhan ku dengar Gilgamesh berteriak padaku.
"aku tidak akan memaafkankanmu Blaaank!! aku pasti akan mencarimu dan menemukanmu. setelah itu aku akan membunuhmu sialaaaaaann!!."
__ADS_1
itu lah yang ku dengar. maafkan aku Gilgamesh. aku tidak bisa menjelaskan situasinya sekarang. suatu hari saat kita bertemu lagi. aku akan menjelaskan semuanya kepadamu.
aku juga pasti akan menghentikan pandemi di kotamu ini.